LOGINAku tidak bisa tidur.Itu bukan hal yang aneh. Aku sudah terbiasa berbaring terjaga selama berjam-jam setelah Lucy tertidur. Itulah bagian dari hari ketika tidak ada lagi yang harus kulakukan. Semua pikiran yang dengan sabar menunggu saat aku menyibukkan diri akhirnya menuntut perhatianku.Biasanya aku bisa mengatasinya dengan mendengarkan musik, membaca buku, menggambar sketsa di meja makan, atau sekadar berbaring dalam gelap sambil mengatur napas hingga pikiranku kembali tenang.Namun malam ini, semuanya gagal.Lucy tidur di sampingku, seperti yang dulu dia lakukan saat bayi. Sekarang kami tinggal di apartemen dengan dua kamar. Dia sudah punya kamar sendiri dan biasanya tidur di sana. Namun setiap Sabtu malam, hampir selalu sekitar tengah malam dia akan menyelinap ke tempat tidurku, seolah dipandu oleh naluri yang sudah lama berhenti kupertanyakan.Dia meringkuk menghadap ke samping, satu tangan terbuka di dekat dagunya, napasnya teratur dan tenang, sementara aku hanya berbaring tele
Ada sesuatu yang terus mendorong dari balik pintu itu. Aku tidak menginginkannya.Aku langsung menyadarinya dan aku tidak menginginkannya.Aku tahu apa yang akan terjadi setiap kali kubiarkan bagian dari diriku itu keluar dari tempat yang selama ini kukunci rapat. Aku sudah punya buktinya. Satu malam di musim panas saat usiaku 19 tahun, yang kemudian diikuti tujuh tahun penuh penyesalan.Aku segera menekannya kembali. Aku menguncinya sekuat tenaga. Wajahku tetap datar saat memperhatikan Lucy dan Aiden melanjutkan dongeng mereka, di sela-sela suara karakter Aiden yang kacau dan koreksi Lucy yang tak ada habisnya.Aku terus meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja. Pintu itu masih tertutup. Semuanya masih berada di tempat yang seharusnya.Namun, pintu itu sudah retak.Aku bisa merasakan retakan itu, tak peduli sekeras apa pun aku berusaha menahannya. Ada sesuatu yang telanjur lolos sebelum aku sempat menyadarinya, dan sekarang aku tidak bisa memasukkannya kembali.Saat mereka mulai
Sudut Pandang Rosie:Rencanaku sebenarnya sederhana. Setelah makan malam selesai, aku dan Lucy akan langsung pulang.Memang itu rencananya sebelum kami datang. Makan malam bersama, menghabiskan sedikit waktu bersama, dan Lucy bisa melihat kedua orang tuanya berada di ruangan yang sama dengan akur.Setelah itu, kami akan pulang ke rumah. Sederhana, jelas, tanpa hal-hal yang membuat semuanya menjadi rumit.Bahkan aku sengaja membawa mobil sendiri supaya bisa pulang kapan pun. Tanpa perlu menunggu siapa pun, tanpa harus membicarakan kapan malam itu berakhir.Ternyata ... Lucy punya rencana lain. Meja makan sudah dibereskan, atau lebih tepatnya, dibereskan oleh Aiden. Dia menolak tawaranku untuk membantu. Sikapnya tegas tetapi tetap sopan.Aku akhirnya hanya berdiri sebentar di ambang pintu dapur. Aku tidak tahu harus melakukan apa sementara dia mencuci piring.Sementara itu, Lucy sudah duduk santai di sofa ruang tamu. Seperti biasa, dia bisa merasa betah hampir di mana saja.Aku menghampi
"Aku akan masak spageti."Sesaat, suasana menjadi hening."Oke," jawab Rosie akhirnya. "Sabtu, jam 6 sore.""Semuanya akan kusiapkan."Telepon pun terputus. Sabtu itu aku menghabiskan waktu jauh lebih lama dari yang seharusnya untuk membersihkan apartemen.Padahal apartemen itu sudah bersih, tetapi tetap saja kubersihkan lagi dari awal. Setelah itu aku pergi berbelanja.Aku membeli semua bahan untuk membuat saus bolognese, roti yang masih segar, dan jus apel dengan merek yang Lucy pernah bilang dia sukai saat kami mengobrol soal bekal makan siang sekitar tiga minggu sebelumnya.Itu salah satu hal kecil yang entah bagaimana terus kuingat. Aku pun tidak pernah benar-benar memikirkan alasannya.Aku menata meja makan dengan rapi. Tiga set peralatan makan tanpa lilin. Lampu utama saja sudah pas.Tepat pukul 6 sore, bel pintu berbunyi. Lucy masuk lebih dulu. Dia begitu bersemangat sampai mulai bercerita sebelum benar-benar masuk ke apartemen.Dia langsung mengoceh tentang perjalanan tadi, la
Sudut Pandang Aiden:Aku mengajaknya lewat pesan pada Jumat malam.Belakangan aku sadar, beberapa percakapan memang berjalan lebih baik kalau Rosie punya waktu membaca pesanku terlebih dulu dan memikirkan jawabannya tanpa harus menghadapiku langsung.Pesanku singkat.Aku bilang ada sesuatu yang ingin kutanyakan, sesuatu yang berada di luar jadwal kunjungan kami seperti biasanya. Kutanya apakah dia punya waktu sekitar sepuluh menit untuk berbicara.Kurang dari satu jam kemudian, dia menelepon balik. Lebih cepat dari yang kuduga.Mungkin rasa penasarannya lebih besar daripada keinginannya untuk mengabaikan pesanku."Aku ingin mengundang Lucy makan malam di apartemenku," kataku. "Bukan ke taman atau museum seperti biasanya. Cuma makan malam. Sesuatu yang biasa dilakukan keluarga pada umumnya."Suasana hening sesaat. Tidak lama, tetapi cukup jelas."Nggak." Jawabannya tegas."Oke."Suasana hening lagi. Kali ini berbeda. Aku bisa merasakan dia mengira aku akan membantah.Keheningan itu tera
Dinding itu benar-benar menarik. Sangat menarik. Saking menariknya, aku terus menatapnya.Susan bertanya kepada Aiden apakah masih ada yang ingin dia tambahkan.Aiden menggeleng. "Nggak. Menurutku, itu sudah menggambarkan Rosie dengan tepat."Akhirnya Susan meletakkan pulpennya dan menatap kami berdua.Meski aku masih terpaku pada dinding, aku bisa merasakan tatapannya mengarah kepadaku. Aku memaksa diri mengalihkan pandangan kembali ke ruangan.Ke kursi Susan, ke jendela, ke meja kecil tempat buku catatannya berada. Ke mana saja, asal bukan ke arah Aiden."Terima kasih," kata Susan. "Kalian menjawab dengan jujur. Memang itulah tujuan latihan ini."Dia menatapku beberapa saat. "Rosie, aku memperhatikan sesuatu. Kamu lebih banyak menggambarkan tindakan dan perilaku Aiden. Bahwa dia bisa diandalkan, cara dia memperlakukan Lucy, komitmennya menjalankan semua kesepakatan yang sudah kalian buat.""Semua itu adalah pengamatan yang nyata." Dia berhenti sejenak. "Tapi kamu nggak pernah berbica







