LOGINSudut Pandang Rosie:Pesan dari rekan kerjaku masuk pada Kamis pagi, saat aku sedang punya waktu luang untuk mempersiapkan pelajaran.Sarah mengajar kelas 3. Ruang kelasnya hanya berjarak dua pintu dari ruang seni. Dia mengirimkan sebuah tangkapan layar tanpa penjelasan apa pun.Itu bukan kebiasaan Sarah. Biasanya, dia selalu menjelaskan sesuatu terlebih dahulu, bahkan sering kali menambahkan komentarnya sendiri. Jadi, pesan tanpa konteks seperti ini sudah cukup membuatku merasa tidak nyaman.Aku membuka tangkapan layar itu. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya aku memahami apa yang kulihat.Itu adalah sebuah akun media sosial. Foto profilnya buram. Nama penggunanya terdiri dari beberapa kata yang langsung kukenali.Itu namaku, nama asli yang tidak pernah kugunakan di sekolah. Namaku sengaja dirangkai dengan beberapa kata hingga menjadi sebuah pertanyaan.Unggahan pertama di akun itu adalah sebuah foto. Foto diriku yang sedang berdiri di dekat jendela apartemen.Aku langsung mengena
Sudut Pandang Aiden:Tawa Rosie adalah sesuatu yang jarang kudengar.Aku masih mengingatnya. Selama bertahun-tahun, tawa itu sesekali muncul kembali dalam ingatanku, seperti kenangan tertentu yang begitu lama kita bawa sampai akhirnya lupa bahwa sebenarnya kita tidak pernah benar-benar melepaskannya.Rosie bukan orang yang mudah tertawa, apalagi sering. Mungkin itu yang membuat tawanya terasa begitu tulus. Bukan tawa ringan dari seseorang yang bisa tertawa karena apa saja, melainkan tawa yang pecah begitu saja, tanpa ditahan, persis seperti yang kuingat dari tujuh tahun lalu.Sejak kami bertemu lagi, baru kali ini aku benar-benar mendengar tawanya seperti itu.Pandangan kami bertemu di atas kepala Lucy. Kami sama-sama lupa apa yang seharusnya kami lakukan saat itu. Pada saat yang sama, Lucy memandang kami bergantian.Ekspresinya menunjukkan kepuasan khas yang selalu muncul setiap kali sesuatu yang selama ini dia yakini akhirnya terbukti benar."Aku tahu kalian saling suka," katanya.Di
Sudut Pandang Aiden:Rasanya keterlaluan kalau kami sudah sampai sejauh ini, lalu melewatkan kedai es krim itu begitu saja.Kedai kecil di ujung jalan, tak jauh dari sekolah, sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Tempatnya sederhana, dengan menu tulisan tangan dan kursi-kursi yang modelnya tidak sama. Kalau musim panas tiba, antreannya bahkan bisa sampai mengular ke trotoar.Memasuki musim gugur, antreannya memang tak sepanjang biasanya, tetapi kedai itu tetap ramai. Lucy langsung melihatnya dari tempat parkir saat kami berjalan menuju mobil.Dia berhenti begitu saja.Aku tahu tatapan itu. Setiap kali Lucy menginginkan sesuatu, dia biasanya akan berhenti sejenak sambil menyusun cara terbaik untuk menyampaikannya."Gimana kalau kita beli es krim?"Kemudian, dia mulai menjelaskan. Menurutnya, pameran seni adalah acara istimewa. Acara istimewa tentu harus dirayakan dengan sesuatu yang istimewa. Es krim adalah sesuatu yang istimewa. Jadi, kalau dipikir-pikir baik-baik, tidak ada alasan yang
Aku merasakan tangan Aiden menggenggam tangan Lucy, sementara Lucy menggenggam tanganku. Untuk pertama kalinya, aku berhenti memikirkan bagaimana kami terlihat di mata orang lain.Lukisan Lucy dipajang di antara dua karya teman sekelasnya. Sebuah lukisan keluarga yang dibuat dengan cat air. Tiga sosok dengan mata cokelat, masing-masing memiliki perpaduan warna yang dibuat dengan begitu teliti.Lucy berdiri tepat di depannya dan terdiam. Kemudian, tubuhnya sedikit menegak.Aku tahu ekspresi itu.Bangga. Benar-benar bangga. Kebanggaan yang muncul ketika seseorang berhasil menciptakan sesuatu dengan tangannya sendiri, berani menunjukkannya kepada orang lain, dan percaya bahwa karyanya layak untuk dilihat. Aku tahu perasaan itu. Belakangan ini aku juga pernah merasakannya, meski dalam hal yang jauh lebih sederhana.Namun, melihat perasaan itu terpancar jelas di wajah putriku terasa berbeda."Bagus banget," ujar Aiden.Dia benar-benar memperhatikan lukisan itu. Bukan sekadar memujinya sebag
Sudut Pandang Rosie:Lucy sungguh tidak main-main soal memilih gaun.Sejak menerima undangan itu, dia sudah memikirkan apa yang akan dikenakannya. Kamis sore, dia menggelar tiga gaun di atas kasur dan memandanginya dengan saksama, seolah sedang menentukan keputusan paling penting dalam hidupnya.Gaun merah muda langsung disingkirkannya karena ada noda di dekat keliman yang sampai sekarang belum berhasil aku hilangkan. Gaun biru sebenarnya masih bisa dipertimbangkan, tetapi pada akhirnya perhatiannya selalu kembali pada gaun beludru biru tua.Jadi, gaun beludru itu pilihannya.Dia bahkan bersikeras mengenakan sepatu dengan gesper kecil dan kaus kaki putih. Setelah itu, dia duduk di tepi bak mandi, sementara aku mengepang rambutnya. Menurutnya, dua kepang adalah satu-satunya gaya rambut yang pantas untuk acara sekolah sepenting ini.Aku mengepang rambutnya serapi mungkin, memastikan kedua kepangnya sama rata. Setelah selesai, Lucy memeriksa hasilnya di cermin dari dua sudut berbeda sebel
Dia sudah mencari tahu cat warna apa yang harus dicampurkan, juga menyiapkan meja kecil tempat Lucy melukis, lalu duduk di sampingnya sambil membaca buku, bahkan membantunya mencampurkan warna.Malam itu, aku meneleponnya. Dia mengangkatnya pada dering kedua."Pameran seninya dua minggu lagi," kataku. "Kamis malam nanti. Ada karya Lucy yang dipajang. Dia benar-benar ingin kamu datang.""Aku nggak akan melewatkannya," jawabnya."Ini untuk Lucy," tegasku segera. "Aku ingin kita sama-sama jelas soal itu.""Aku tahu."Aku menelepon hanya untuk menyampaikan informasi. Itu sudah kulakukan, jadi sebenarnya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Urusan kami sudah selesai."Dia mencampurkan warna cokelat dengan sedikit merah," kataku kemudian. "Untuk mata di lukisannya, katanya kamu yang mengajarinya."Suasana hening menyelimuti kami."Warna cokelat di kotak cat airnya kurang pas," jelasnya. "Terlalu kusam. Mata Lucy nggak seperti itu.""Nggak." Aku mengakuinya, "Memang nggak.""Dia menghabiska







