LOGINSudut Pandang Aiden:Senin pagi, penyelidikku menelepon untuk memberikan informasi tentang alamat IP yang kami cari.Saat ini, aku sedang duduk di meja dapur dengan secangkir kopi di depanku. Di sampingnya ada kontrak Durand yang seharusnya diambil Marcus pada hari Rabu. Setelah melihat panggilan masuk, aku langsung menyingkirkan semua dokumen itu.Sepanjang hari itu, aku tidak menyentuhnya lagi.Akun yang sudah dihapus itu ternyata dibuat dari perangkat tertentu di lokasi tertentu.Penyelidikku punya kenalan di perusahaan media sosial itu, seseorang yang pernah berutang budi secara profesional kepadanya.Tepat sebelum akun itu dihapus secara permanen, orang itu berhasil mendapatkan metadata saat akun itu dibuat. Dari alamat IP yang ditemukan, mereka berhasil melacak lokasinya ke sebuah hotel yang jaraknya hanya enam blok dari apartemen Rosie.Itu bukan hotel tempat Elena menginap, melainkan hotel lain. Ukurannya lebih kecil.Hotel seperti itu tidak memiliki sistem keamanan seketat Gra
Sudut Pandang Rosie:"Aku tahu."Suasana hening sejenak sebelum dia melanjutkan, "Beberapa jam ke depan, keadaan mungkin akan semakin buruk sebelum akhirnya membaik. Jadi, kamu harus siap menghadapinya.""Seburuk apa?""Akun seperti ini biasanya cepat menarik perhatian karena memang sengaja dibuat untuk memancing reaksi. Malam ini, jumlah pengikutnya mungkin akan bertambah banyak. Komentarnya juga."Jempolku masih menggantung di atas tombol tangkapan layar. Aku mulai menyimpan semuanya dengan teliti. Profil akun itu, semua unggahan dan komentar yang ada."Dia tahu jendela unitku yang mana," kataku. "Dia tahu rute yang biasa kulewati ke sekolah. Dia tahu Lucy sekolah di mana dan biasanya bermain di mana saat jam istirahat."Suaraku tetap tenang. Bahkan aku sendiri sedikit terkejut bisa setenang itu. "Dia mengawasi kami.""Aku tahu," jawabnya pelan. "Aku tahu, Rosie.""Kamu bilang sedang mengumpulkan bukti untuk kasus ini." Aku mengingatkannya, "Katamu, kamu masih butuh lebih banyak bukt
Sudut Pandang Rosie:Pesan dari rekan kerjaku masuk pada Kamis pagi, saat aku sedang punya waktu luang untuk mempersiapkan pelajaran.Sarah mengajar kelas 3. Ruang kelasnya hanya berjarak dua pintu dari ruang seni. Dia mengirimkan sebuah tangkapan layar tanpa penjelasan apa pun.Itu bukan kebiasaan Sarah. Biasanya, dia selalu menjelaskan sesuatu terlebih dahulu, bahkan sering kali menambahkan komentarnya sendiri. Jadi, pesan tanpa konteks seperti ini sudah cukup membuatku merasa tidak nyaman.Aku membuka tangkapan layar itu. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya aku memahami apa yang kulihat.Itu adalah sebuah akun media sosial. Foto profilnya buram. Nama penggunanya terdiri dari beberapa kata yang langsung kukenali.Itu namaku, nama asli yang tidak pernah kugunakan di sekolah. Namaku sengaja dirangkai dengan beberapa kata hingga menjadi sebuah pertanyaan.Unggahan pertama di akun itu adalah sebuah foto. Foto diriku yang sedang berdiri di dekat jendela apartemen.Aku langsung mengena
Sudut Pandang Aiden:Tawa Rosie adalah sesuatu yang jarang kudengar.Aku masih mengingatnya. Selama bertahun-tahun, tawa itu sesekali muncul kembali dalam ingatanku, seperti kenangan tertentu yang begitu lama kita bawa sampai akhirnya lupa bahwa sebenarnya kita tidak pernah benar-benar melepaskannya.Rosie bukan orang yang mudah tertawa, apalagi sering. Mungkin itu yang membuat tawanya terasa begitu tulus. Bukan tawa ringan dari seseorang yang bisa tertawa karena apa saja, melainkan tawa yang pecah begitu saja, tanpa ditahan, persis seperti yang kuingat dari tujuh tahun lalu.Sejak kami bertemu lagi, baru kali ini aku benar-benar mendengar tawanya seperti itu.Pandangan kami bertemu di atas kepala Lucy. Kami sama-sama lupa apa yang seharusnya kami lakukan saat itu. Pada saat yang sama, Lucy memandang kami bergantian.Ekspresinya menunjukkan kepuasan khas yang selalu muncul setiap kali sesuatu yang selama ini dia yakini akhirnya terbukti benar."Aku tahu kalian saling suka," katanya.Di
Sudut Pandang Aiden:Rasanya keterlaluan kalau kami sudah sampai sejauh ini, lalu melewatkan kedai es krim itu begitu saja.Kedai kecil di ujung jalan, tak jauh dari sekolah, sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Tempatnya sederhana, dengan menu tulisan tangan dan kursi-kursi yang modelnya tidak sama. Kalau musim panas tiba, antreannya bahkan bisa sampai mengular ke trotoar.Memasuki musim gugur, antreannya memang tak sepanjang biasanya, tetapi kedai itu tetap ramai. Lucy langsung melihatnya dari tempat parkir saat kami berjalan menuju mobil.Dia berhenti begitu saja.Aku tahu tatapan itu. Setiap kali Lucy menginginkan sesuatu, dia biasanya akan berhenti sejenak sambil menyusun cara terbaik untuk menyampaikannya."Gimana kalau kita beli es krim?"Kemudian, dia mulai menjelaskan. Menurutnya, pameran seni adalah acara istimewa. Acara istimewa tentu harus dirayakan dengan sesuatu yang istimewa. Es krim adalah sesuatu yang istimewa. Jadi, kalau dipikir-pikir baik-baik, tidak ada alasan yang
Aku merasakan tangan Aiden menggenggam tangan Lucy, sementara Lucy menggenggam tanganku. Untuk pertama kalinya, aku berhenti memikirkan bagaimana kami terlihat di mata orang lain.Lukisan Lucy dipajang di antara dua karya teman sekelasnya. Sebuah lukisan keluarga yang dibuat dengan cat air. Tiga sosok dengan mata cokelat, masing-masing memiliki perpaduan warna yang dibuat dengan begitu teliti.Lucy berdiri tepat di depannya dan terdiam. Kemudian, tubuhnya sedikit menegak.Aku tahu ekspresi itu.Bangga. Benar-benar bangga. Kebanggaan yang muncul ketika seseorang berhasil menciptakan sesuatu dengan tangannya sendiri, berani menunjukkannya kepada orang lain, dan percaya bahwa karyanya layak untuk dilihat. Aku tahu perasaan itu. Belakangan ini aku juga pernah merasakannya, meski dalam hal yang jauh lebih sederhana.Namun, melihat perasaan itu terpancar jelas di wajah putriku terasa berbeda."Bagus banget," ujar Aiden.Dia benar-benar memperhatikan lukisan itu. Bukan sekadar memujinya sebag







