로그인Ketika aku pertama kali membuka mata, pandanganku agak mengabur. Aku tidak bisa melihat apapun dengan jelas untuk beberapa saat, dan yang bisa aku lihat hanyalah cahaya yang menyilaukan di sekitar. Tak jelas bentuknya, tak karuan seolah terlalu menstimulasi.“L—Leiya?”Jantungku mulai berdetak dengan panik ketika suara yang begitu familiar itu terdengar jelas ditelinga. Itu adalah suara yang selalu aku dengar setiap saat di ambang bawah sadarku. Itu adalah suara dari orang yang telah sabar menungguku. Aku mengerjapkan mata, sangat berharap penglihatanku yang berkabut segera hilang sehingga aku bisa melihat sosoknya dengan jelas. Kebahagiaan segera menerpaku ketika secara perlahan aku bisa melihatnya dengan jelas.Disanalah ia, pria berambut biru yang kukenal menatapku dengan kedua mata terbelalak lebar. Manik matanya berkilauan karena rasa tidak percaya, bibirnya yang terpatri sempurna terbuka dalam hembusan napas tanpa suara. Meskipun ekspresinya tercengang, tetapi ia masih sangat ta
Jarrel memulai dengan menceritakan bagaimana ia bertemu dengan perempuan bernama Leiya dan apa yang ia rasakan saat pertama kali melihatnya secara tak sengaja. Kemudian diceritakannya pula bagaimana ia susah payah menyeret gadis itu kembali hingga mengeluarkan sejumlah uang agar mereka bisa bersama, dan setelahnya ia merayu gadis itu agar jatuh cinta kepadanya. Betapa antusias Jarrel menceritakan pula bagaimana ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Leiya. Kedekatan yang membuat Jarrel mulai melupakan pekerjaannya dan menyeret gadis malang itu untuk pergi liburan mendadak, bahkan tak segan pula Jarrel juga merinci bagian dimana ia akhirnya menyampaikan perasaannya. Perasaan yang telah ia miliki secara verbal kepada Leiya agar gadis itu mengetahuinya.“Wanita yang mereka ingin aku nikahi itu berasal dari keluarga kaya yang memiliki salah satu perusahaan pelayaran yang terbesar di Jepang. Orangtuaku bilang dia gadis yang paling cocok dan sempurna untukku karena kedudukannya. Te
Tiga kata yang keluar dari mulutnya seketika membuatku tergugah dan memiliki keinginan kuat untuk meninggalkan tempat ini. Aku ingin merobek lautan serba putih yang aku tempati, untuk mendatanginya, memeluknya, mengatakan padanya bahwa tidak ada hal yang perlu ia cemaskan lagi sekaligus memberikan lelaki itu ketenangan sebisaku dibandingkan ia harus terus merasakan rasa sakit yang lebih jauh. Demi Tuhan, aku telah berada dalam titik ingin membebaskannya dari kesengsaraan berkepanjangan. Tetapi bagaimana caranya aku bisa melarikan diri? Bagaimana aku bisa mencapai kebebasan dan keluar dari dimensi kosong ini? Aku sama sekali tidak bisa melihat sedikitpun celah untuk keluar dari sini. Tinggal di tempat yang sunyi, senyap, tiada apa pun seperti ini sungguh menyiksa, dan aku mulai berpikir bahwa mungkin aku sebenarnya berada di dalam neraka sambil mendengarkan baritone indah dari pria itu sebagai hukuman untukku.Aku pikir ia tipikal orang yang biasanya pemurung dan hal-hal kecil saja bis
Saat aku membuka mata, hal pertama yang bisa aku lihat hanyalah warna putih dan taka ada yang bisa kudengar melainkan hanya keheningan. Apa yang bisa kurasakan… entahlah. Bahkan dalam situasi ini pun aku masih bertanya karena sejatinya… tidak ada. Tidak ada apa-apa. Aku tidak bisa merasakan apa pun.Situasi ini adalah kali pertama yang kurasakan, seperti aku terjebak dalam sebuah ruangan serba putih yang tidak berujung dan tak memiliki sudut, seperti aku melayang di sebuah ruang hampa, hanyut dalam ketiadaan.Apa yang telah terjadi?Dimana aku?Kenapa aku ada disini?Sialnya sepanjang aku menggali memori di kepala, tak ada satupun yang bisa membantuku. Aku tidak begitu ingat pastinya.Aku mencoba menata ulang segalanya, mencoba mengingat siapa diriku atau apa yang terjadi sebelum aku terbangun disini, tetapi tidak ada apapun. Aku tidak bisa mengingat apapun.Mengapa aku tidak bisa mengingat apa-apa?Aku memejamkan kedua mataku lagi, berharap bisa menemukan kegelapan tetapi warna putih
Kami buru-buru masuk ke dalam mobil jaguar milik Jarrel yang tak jauh dari tempat kami, begitu pun juga Zayel yang kembali ke mobilnya sendiri. Ada riak gelombang kecil antara tuan dan anak buah untuk beberapa saat sebelum mereka berpisah untuk tujuan masing-masing. Zayel bilang ia perlu kembali ke tempatnya untuk menyelesaikan masalah yang orangtua Jarrel sebabkan, sementara aku dan Jarrel akan kembali ke rumah peristirahatan. Aku menghela napas lelah tetapi disaat yang sama juga penuh kelegaan ketika tubuhku sepenuhnya telah bersandar pada bantalan kursi yang lumayan empuk. Setelah melewati hari yang begitu sesak dan penuh dengan drama, tiba-tiba saja aku merasa sangat mengantuk sekarang. Aku tahu betul kalau Zayel akan secara praktis melakukan semua pekerjaan selagi kami bisa beristirahat dan bersantai. Tetapi ayolah, menunggu dalam kondisi tidak tenang dan penuh kegugupan sangat menguras tenaga. Aku jadi merasa lelah sendiri hingga ingin tidur, tetapi aku tidak bisa begitu saja me
Aku memberi Jarrel tatapan seolah-olah ia sudah gila. Tentu saja demikian karena ia baru saja mengatakan sesuatu yang gampang macam permisalan ia menyukai warna pink, suka dengan keindahan kupu-kupu dan menganggap pelangi adalah mukjizat, menggemaskan, dan …“A—Apa yang barusan kau katakan?” Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus merespon ini, pada akhirnya secara refleks aku menemukan diriku sendiri bertanya kepadanya lagi.Jarrel terdengar menggumamkan sumpah serapah sebelum menatap tajam padaku lagi. “Aku ingin menikahimu, Yaya,” ulangnya dengan memberikan penekanan pada setiap katanya dan berkat hal itu aku akhirnya bisa memahami dan memasukan kata-kata manis nan indah itu ke dalam pikiranku sendiri.Oh …Jadi ia ingin menikah denganku.Jadi benar Jarrel mengatakan hal itu.Astaga!Aku hanya bisa menatapnya lagi dengan kedua mata terbelalak kaget dan mulut yang terbuka lebar lantaran terlalu terkejut meski bisa dibilang terlalu terlambat untuk itu. Ya, bagaimanapun juga sosok







