LOGIN“Ah! pinggangku sakit.” Adalah kalimat yang berulang kali aku rapalkan bak mantra sebagai bentuk dari mengeluarkan rasa frustasi yang ada. Ranjang yang tengah kutiduri adalah saksi bisu yang menyaksikan seluruh rangkaian peristiwa sehingga aku berada dititik ini. Aku sudah menduga sejak semula bahwa hal menyebalkan ini sudah pasti akan terjadi. Istilahnya belum pula aku beristirahat dengan benar, Jarrel malah menambah jumlah sesi bercinta kami hingga aku kehilangan hitungan lantaran digempur habis-habisan tanpa henti. Tentu saja rasa sakit yang aku rasakan pun terakumulasi lebih banyak lagi lagi. Namun aku tidak mengira bahwa rasanya akan jadi semenyiksa ini. Tapi perlu digarisbawahi bahwa bukan berarti aku menyesalinya, hanya saja rasa sisa-sisa dari pertempuran kami cukup bisa dikatakan membunuhku perlahan.Jarrel sebagai si pelaku, malah menyeringai sambil berbaring dengan nyaman di posisinya. Bajingan itu bahkan malah terkesan puas atas hasil perbuatannya dan tidak terlihat peduli
Memang tolol benar aku, jelas tantangan selalu bekerja pada Jarrel. Pria itu sudah pasti sekarang punya ambisi untuk memuaskanku lagi. Jiwa kompetitifnya pun akan ikut menyala otomatis selepas mendengar kalimat terakhir dariku tadi. Lihat saja kemilau dari dua bola matanya yang dipenuhi dengan idealisme yang berkilatan. Aku dengan mudah bisa menangkap ekspresinya yang keras dan kuat. Persona yang selalu lelaki itu pakai sehari-hari untuk bergaul di lingkungan sosial. Aku tanpa sadar membasahi bibirku sendiri ketika ada tensi yang mulai kuat di antara kami.“Oh… itulah yang memang sedari tadi ingin kudengar darimu, Yaya.”Aku yang sudah basah di bawah sana hanya bisa menantikan kegilaan pria itu lagi. Sebetulnya Jarrel tidak perlu pembuktian apapun, karena lelaki itu memang sudah sengklek sejak semula. Malah ini adalah moment dimana aku menabrak aturan dan nilai-nilai moralku sendiri. Membangkang dari pada sosok wanita konservatif yang klise dan membosankan dimata orang.Aku menonton b
Aku jadi penasaran tetapi tak bisa berpikir jernih karena setiap kali Jarrel menekan permukaan klitorisnya, maka gugur pula sisi kewarasan di dalam kepala. Yang tersisa hanya fokus pada geli-geli sedap yang dihantarkan oleh pria itu hingga menjalar sepanjang tulang belakang sebelum pecah di dalam otak.Hanya butuh waktu yang singkat untuk memicu madu di dalam tubuhku. Namun Jarrel selalu saja melahapnya dengan lumat cepat, tak bisa membiarkan mulutnya kosong dari jus cinta yang keluar dariku.Aku menggelinjang ketika Jarrel menyapu atas bawah, bolak-balik daging kecil kaya sel saraf yang kurasa sudah membengkak karena ulahnya. Sensasi luar biasa, bagai kebahagiaan yang tumpah ruah ke seluruh saluran dalam tubuhku. Aku cepat-cepat menangkup mulutku sendiri karena desahan yang keluar cukup memenuhi ambang batas kata ‘berisik’. Riskan terdengar oleh orang lain.Namun upayaku sia-sia, karena Jarrel baru saja mengarahkan jari tengah dan jari manisnya pada bukaan rekah di bawah sana, melesa
Mulut Jarrel terasa begitu hangat dan basah. Lidahnya yang bertekstur memutar-mutar area sekeliling puncak. Perlahan mendekat, lalu mendorong kecil untuk kemudian menarik dan menghisap. Mengembuskan desah rendah, aku memandangi Jarrel dengan celah di bibirnya. Alisnya saling dekat dan memunculkan kerut di kening. Pria itu menyeringai tipis sambil menjetik-jentik. Satu tangan berkelana di puncak yang lain, memilin lembut dengan ibu jari dan telunjuk.“Oh… Jarrel,” satu desah lolos di detik yang sama ketika pelupuk mataku terasa memberat. Aku membusungkan sedikit tubuhku seakan meminta Jarrel menelan semuanya.“Aku bisa berlama-lama disini, kalau itu yang kau mau,” sahut Jarrel sebelum melahap yang sebelah bergantian. Memanjakanku dengan kulum lezat dan pijat jemari. Terkadang ia menggigit main-main, menggesekan gigi pada area yang membuatku mengernyit dan merintih secara tertahan dalam kondisi telapak yang satu mendarat di belakang kepalanya, sementara yang lain menutup mata putus asa.
Beribu pertanyaan berjejer rapi di otakku, tetapi tidak satu pun dapat meluncur keluar. Sebab cara Jarrel menatapku sekarang begitu intens. Begitu dalam, tajam, dan lekat, seolah-olah sedang mengurai isi hatiku dengan telanjang. Punggung jemari si pria mengusap batang hidungku, menyingkirkan sehelai rambut yang tersangkut di bulu mata. Kemudian menangkup pipiku. Aku terbuai oleh seberapa menakjubkannya cara ia menyentuhku.Perlahan, paras Jarrel yang dipahat dengan tangan Maha Terampil mendekat. Ia hanya berhenti dua detik untuk memberikan kesempatan jika aku betulan tak mau. Namun di persimpangan itu, aku malah sibuk berdiri diantara hujan bisik larangan yang memenuhi otak frontalku. Sebelum bibir atas Jarrel membentur bibirku. Lalu seperti ada sebuah kabut disana, aku tiba-tiba dilingkupi oleh ruang hampa dan kedap suara, tak dapat mendengar apapun kecuali tabuh jantungku sendiri. Semakin melabuh Jarrel ke bawah –mempertemukan seluruh milik kami berdua dengan begitu lembut— semakin
“Seperti apa?”Aku sempat terdiam beberapa saat sebelum mengolah kata. Aku menatapnya yang tampak sedang menuntut jawaban. “Membelikanku barang dari mini market, dan—dan… memperlakukanku dengan lembut? Kau tidak seperti ini sebelumnya padaku.”“Kenapa memangnya? kau tidak suka?” jawabnya sambil mengerutkan sebelah alis seolah apa yang aku katakan adalah hal yang aneh.“Bukannya kau pernah bilang bahwa bersikap lembut terhadap perempuan hanya membuatmu kerepotan?” sahutku cepat, teringat akan celetukannya di minggu-minggu pertama aku tinggal seatap dengannya ketika aku pernah bertanya mengapa ia jadi sangat kasar terhadap perempuan yang pernah ia tiduri sekali.“Ya, tapi aku tidak merasa kerepotan sekarang.”Mendadak isi pikiranku tumpah ruah semua. Aku tidak tahu apakah ia betulan bicara jujur dan tulus dari lubuk hatinya atau hanya menjawab sekenanya. Semua jadi terasa membingungkan. “Tidak masuk akal, aku juga perempuan.”“Kau memang perempuan, tapi kau berbeda. Aku suka melakukanny







