LOGINSetelah kurang lebih dua puluh menit bolak balik naik turun tangga sambil membawa barang-barangku sendiri, akhirnya aku bisa bernapas lega lantaran berhasil membawa semuanya ke kamar yang diperuntukan pria gila itu untukku. Sejujurnya ruangan tersebut jauh lebih besar dari milikku dirumah ibu. Bahkan dilengkapi dengan interior dan furniture yang mirip dengan fasilitas bintang lima yang terlalu takut untuk aku impikan dahulu.
Tiba-tiba saja aku merasa aneh dengan semua ini meski aku tahu betul bahwa aku seharusnya tidak merasa demikian. Namun faktanya danya sebuah dorongan kecil yang memaksaku mencipta senyuman. Sebuah ekspresi penuh kejujuran yang meski aku mencoba untuk tidak mengakui, tetapi jika dengan fasilitas begini aku bisa kerasan. Walau begitu, dengan rasa gengsi yang melebihi kejujuran. Aku masih punya sedikit sisa harga diri meski telah disogok gaji tiga kali lipat oleh si Jarrel yang mesum untuk tidak tergoda dengan semua yang pria itu berikan. Intinya adalah aku tidak boleh terlalu sumringah dan tetap berpegang teguh secara professional dan terhubung dengannya untuk sekadar pekerjaan.
Tak ingin terdistraksi dengan kenyamanan yang ada. Aku keluar dari kamar dan sekarang mulai melakukan tugas keduaku yakni mempersiapkan makanan untuk si tuan muda mesum yang sedang bersemedi di ruang kerjanya. Sembari melihat-lihat sisa bahan yang ada dikulkas, aku pribadi sebenarnya juga tidak mau merepotkan diri membuatkan pria itu kudapan istimewa. Namun alasan mengapa pria itu memintaku menyiapkan makanan pendamping pasti karena ia sudah sekarat dan aku tidak bisa membiarkan ia kelaparan saat bekerja. Jadi sebagai gantinya aku hanya membuatkan dia roti lapis sederhana dengan telur dan segelas jus jeruk sebagai pendampingnya.
Setelah selesai aku tanpa merasa perlu mengetuk pintu, aku masuk begitu saja ke dalam ruang kerjanya. Mahluk berambut biru itu tampak masih fokus dengan laptop di depan mukanya, dengan jemari tampak asyik mengetik dan tidak menghiraukan keberadaanku sama sekali ketika aku tiba. Namun ketika aku mendekat ke arah mejanya barulah ia menghentikan aktivitasnya sejenak dan melirik padaku sebelum menatap nampan yang berisi roti lapis dan jus jeruk yang aku buatkan untuknya. Detik itu aku bersumpah bahwa aku berharap ia berhenti memandangku seolah dia hendak menerkamku kapan saja.
“Ini makananmu,” kataku sebagai ungkapan pamungkas tersingkat yang bisa aku utarakan terhadapnya.
Ia menyeringai padaku sebelum merilik ke arah nampan yang aku bawa. “Jadi yang kau bisa cuma sekadar membuat roti lapis, ya?”
Aku menaikan bahu sambil buang muka sebelum menjawab ujarannya yang terus terang agak nyelekit barusan. “Aku tidak punya tenaga dan mood untuk membuatkanmu sesuatu yang enak karena aku capek mengangkut barang-barangku ke lantai atas. Mestinya kau bersyukur kubuatkan sesuatu, terserah kau mau memakan roti lapis yang kau remehkan ini atau mati kelaparan. Aku tidak peduli.”
“Jangan marah-marah begitu dong cantik, lagipula aku tidak bilang kalau aku benci makanan buatanmu,” katanya membalas dengan santai sembari bersandar di kursi putarnya.
Lalu didetik yang sama aku bisa merasakan bahuku sedikit merosot dengan kelopak mata yang tiba-tiba saja terasa begitu berat. Kurasa aku betulan lelah dan satu hal yang paling aku inginkan sekarang adalah mengurung diri dikamar baruku. Tetapi sialnya masih ada pekerjaan yang mesti aku selesaikan dan aku tidak bisa kabur dari itu.
Aku sempat menatap ke arah laptopnya yang menyala dan hampir menghela napas lega ketika mendapati sudah ada beberapa ratus kata yang berhasil terketik disana. Aku rasa dia betulan serius bekerja meskipun sikap dan pembawaannya terbilang tak serius dan main-main. Namun kini sepertinya aku mempelajari hal baru, yakni untuk tidak menjudge orang berdasarkan hanya dari covernya kan?
“Boleh aku tahu sudah sejauh mana naskahmu?” ujarku dengan mata yang fokus pada layar laptopnya.
“Hampir selesai sepertinya, aku cukup percaya diri bisa menyelesaikannya dengan tepat waktu,” sahut pria itu malas ketika aku bertanya soal pekerjaan.
Aku dengan hati-hati sedikit membungkuk untuk melihat lebih dekat ke layar laptopnya. Tetapi sungguh, begitu aku membaca paragraf pertama di sana, aku bisa merasakan ada banyak emosi yang bisa dia sampaikan lewat ketikannya. Terlalu sulit bagiku untuk percaya bahwa bajingan arogan macam Jarrel ini benar-benar bisa menulis novel romansa yang begitu bagus. Bahkan hanya dengan membaca sepenggal saja sudah membuatku ketagihan untuk mengetahui sisanya. Tanpa sadar aku membaca semuanya hanya dalam waktu singkat. Bukan karena membosankan, tetapi justru karena alur yang ditawarkan terasa begitu mengalir dan hidup.
“Wow, ini mengejutkan. Tampaknya yang satu ini cukup menjanjikan,” kataku memberi komentar. Terus terang itu adalah pujian paling tulus yang bisa aku berikan kepada Jarrel. Aku bahkan tidak merasa perlu memberikan pria itu saran tertentu untuk cerita buatannya lantasan sudah nyaris sempurna.
“Aku tidak akan memenangkan penghargaan sastra sialan itu jika karya buatanku tidak menarik sejak awal,” sahutnya dengan kalimat sarkas sambil terkekeh.
Aku memutar kedua mataku dengan sebal. Ya, Tuhan … kurasa dia benar-benar orang paling arogan yang pernah aku kenal. Jika arogansi dapat dipersonfikasi maka itu pastilah perwujudan dari sosok Jarrel itu sendiri.
“Ya, ya, terserahlah,” sahutku sambil kemudian menjauh dari layar.
Untuk beberapa saat aku bisa mencium aroma cologne yang sangat maskulin dari tubuh pria itu dan terus terang hal tersebut langsung membuat indera penciumanku terasa kacau. “Aku akan keatas, panggil saja aku jika kau butuh sesuatu,” kataku sebelum menutup pintu ruang dibelakangku. Itu adalah caraku kabur dari kegugupan yang terbilang cukup alami dibandingkan kesempatan lalu-lalu. Biar bagaimana pun menghadapi Jarrel bukan perkara mudah untukku.
Desahan lega keluar dari bibir ketika aku berhasil keluar dari kamarnya dan menjauhi aroma tubuh pria itu. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku merasa tubuhku panas hanya karena mencium aroma yang menguar dari tubuhnya itu.
Shit!
Kenapa sih aku sampai harus bereaksi berlebihan seperti itu sih?
Menggelengkan kepala adalah reaksi spontan yang aku perbuat untuk menjernihkan pikiran. Aku bahkan pergi ke dapur dan meneguk segelas air dingin dari dalam kulkas untuk memperbaiki kekacauan yang aku buat di alam bawah sadarku sebelum betulan naik ke kamarku. Mungkin saja tidur siang yang nyenyak akan membantuku berpikir lebih rasional. Terlebih aku memang sudah begitu kelelahan.
***
Aneh … ini sangat aneh. Aku bisa merasakan sesuatu yang sangat aneh di tubuhku ketika aku sedang tidur. Kucoba menggerakan tangan kanan untuk menggaruk perutku yang terasa gatal, tetapi aku tidak bisa melakukannya. Aku mengerutkan alisku dan sedikit menggigil ketika merasa tubuh bagian bawahku terasa dingin. Untuk percobaan kedua, kali ini aku berusaha menggerakan kedua tangan dengan normal, tetapi aku tidak bisa melakukannya. Seolah-olah keduanya terikat sesuatu dan posisinya ada di atas kepalaku. Terjerat sesuatu dan menggantung … menggantung … tunggu, menggantung?
Dengan tergesa aku membuka mata dan mendapati keterkejutan luar biasa yang bisa aku alami seumur hidupku ketika aku menyadari bahwa memang betul kedua tanganku berada dalam posisi terikat di atas kepala dengan kain—yang kurasa adalah dasi yang diikat kencang pada besi tempat tidur. Kepanikan langsung menyergap dalam diri. Aku benar-benar takut dan bingung dengan situasi ini apalagi ketika aku mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku menundukan kepala dan makin dibuat kaget saat bagian bawahku sudah tidak tertutupi oleh apa-apa. Benar-benar polos.
Sialan! Apa-apaan ini?
“A—apa yang terjadi? Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku dengan suara bergetar. Situasi ini terlalu mengagetkan untukku yang baru saja meraup kesadaran.
Ketika kebimbangan hadir, saat itu pula pintu kamarku dibuka dari luar memunculkan sosok pria dengan rambut biru dan seringai khasnya.
“J—Jarrel ….” Aku menyebut namanya sambil menatap dirinya kaget dan tentu saja dipenuhi rasa takut dan malu.
Kilatan rasa lapar terlihat dari kedua sorot matanya, dan hal itu pula yang memunculkan terlalu banyak pikiran buruk di kepala. Persetan! Situasi ini terlalu mencengangkan hingga aku tidak bisa memproses segalanya dengan benar. Bibirnya sekali lagi menciptakan sebuah seringai sempurna ketika kedua mata kami bertemu. “Kau sudah bangun rupanya,” ucap pria itu dengan santai sambil mendekatiku.
Dalam situasi tersebut aku bisa mendengar suara detak jantungku yang berdebar kencang tidak karuan di dada. Terlampau sangat keras dan menyakitkan di telinga. “Apa-apaan ini bajingan!” Aku dengan seluruh amarah menutut pada dirinya sambil melotot tajam dan berusaha berontak sekuat tenaga.
Seringai pria itu makin melebar, dia duduk di samping tempat tidur sambil meraih daguku dengan mudah, memaksaku untuk menghadapnya. “Sepertinya kau masih belum sadar posisimu ya, Yaya? Baiklah kurasa aku akan memberimu pelajaran tentang siapa yang berkuasa disini,” ucapnya yang tanpa basa basi langsung melahap bibirku begitu saja.
Soraya sedang menikmati cake-nya yang kedua saat menyadari tatapan lekat pemuda di hadapannya yang setidaknya menurutnya terlihat begitu intens. Alisnya terangkat bingung. Barulah ketika kunyahannya selesai, ia mengajukan tanya yang beberapa saat lalu bercokol di kepala. “Ada sesuatu di wajah saya, Chris?”Pemuda yang baru saja ditanya hanya menggelengkan kepala samar. Lalu melanjutkan menikmati kuenya sendiri yang beberapa saat lalu sempat ia hentikan hanya untuk menyahut singkat. “Tidak ada apa-apa.”Soraya sudah tidak lagi berada dalam umur peralihan antara remaja ke wanita muda dewasa yang akan dengan senang hati mengatakan ‘oh’ lalu tersenyum manja. Ia jelas perempuan matangan yang tidak suka dengan jawaban setengah-setengah yang tidak ada artinya seperti barusan. Entah sudah berapa kali pula pertanyaan kerap mendapatkan jawaban serupa saat mereka berdua tidak berada di lingkungan kerja. Karenanya, Soraya sudah hafal betul jawaban barusan itu pasti sedang berbalik dengan fakta ya
Soraya menatap layar komputer yang ada di hadapannya, dalam layar monitornya tersebut menampilkan beberapa review terkait tulisan yang dihasilkan oleh penulis di bawah naungannya. Untuk mempermudah pemantauan, ia memang membuat sebuah situs khusus untuk dapat secara langsung melihat antusiasme para pembaca sekaligus dapat melakukan survey yang tepat untuk tema terbaik yang bisa ia sarankan kepada para penulisnya guna menghasilkan profit besar dalam satu season. Pembuatan sebuah buku sendiri membutuhkan waktu yang tak sebentar, jadi ia ingin memastikan setiap buku yang ia terbitkan mendapatkan keuntungan besar yang bisa mengisi kas perusahaan sekaligus dompetnya pribadi.Lalu sepasang iris matanya yang cantik terhenti pada salah satu review yang ia rasa cukup menarik untuk ia resapi tiap kalimatnya.“Abraxas Cobalt benar-benar piawai menggunakan diksi. Saya sampai terlarut dalam cerita yang ia buat dan meskipun beliau adalah seorang pria tetapi ia bisa mencipatkan sudut pandang wanita
Sesuai prediksi, Chris tidak butuh terlalu banyak skenario lain untuk mengkonfirmasi kalau dugannya termanifestasi bukan dalam wujud khayalan. Awalnya ia memang senang karena hubungannya dengan sang atasan tidak memiliki ikatan jelas. Alias mereka saling memuaskan tanpa harus mengkhawatirkan soal kepemilikan dan rasa cemburu berlebihan. Namun bartu beberapa saat hal itu berlangsung, Chris malah berpikir bahwa mendapatkan benefit tanpa hubungan bisa sedemikian menyiksa. Terutama ketika ia tiba-tiba kerap dibayangi oleh pemikiran bahwa Bu Soraya bebas melakukan apapun dengan siapapun selain dirinya. Itu sungguh mengganggu.Ketika Bu Soraya sibuk menetralisir efek melayangnya setelah klimaks, wanita itu tiba-tiba saja telah memandangi Chris. Bola matanya bergulir dengan rute yang sama. Ke samping, turun ke bawah dan sedikit miring, lalu ke atas lagi seolah ia tengah mengukir segitiga dalam angan walaupun ujungnya pandangan mata wanita itu berhenti di bibirnya.Moment seperti ini kadang k
Kini inti kewanitaannya yang basah itu hanya berada satu mili dari tepi bibir sang pemuda. Jubah mandi yang wanita itu kenakan masih melekat, kendati memang hanya menutupi tubuh atas dan sebagian pinggulnya saja. Wangi sabun dan aroma khas yang memabukan miliknya mulai menyerbu begitu saja tanpa aba-aba. Dan melihat dari kondisinya Bu Soraya tampaknya tak punya niatan untuk sedikit pun mundur dari posisinya. Oh… Demi Tuhan, mengapa tiap kali ia mencoba untuk mengenyahkan semua hal tentang Bu Soraya, mengapa wanita itu selalu saja datang padanya disaat yang tidak tepat? Mengapa ia terkesan tak ingin Chris berhenti mendambanya tetapi juga tak terlihat serius untuk memperjelas hubungan mereka.Ketika hasratnya ditarik paksa oleh tingkah polah dan kemolekan tubuh si cantik jelita, maka mana mungkin Chris berani menolak untuk menyingkirkan tubuh montok atasannya ini untuk menghentikan permainan.Paha Bu Soraya terasa begitu hangat tatkala ia menemuk di pundak Chris. Deru napas si pemuda pu
“Merokok tengah malam begitu tidak akan membuat insomnia-mu sembuh asal kau tahu.”Ketika Chris menoleh, dari ranjang tempatnya berbaring ia bisa melihat banyak tubuh Bu Soraya tercetak gelap di lantai kamarnya yang sempit. Wanita itu kini bersandar di sisi pintu, dua tangan terlipat di dada dengan jubah mandinya menutupi tubuh yang beberapa saat lalu dibasuh oleh air hangat.Bahannya yang lembut dan mahal merengkuh luwes lekuk tubuh sang wanita. Bahkan dari balik tabir asap yang membatasi pandangan. Chris bisa melihat jubah itu seakan dikenakan asal-asalan. Memamerkan tulang selangka, lekuk dan lipatan kainnya merekah di sini dan disana. Ikatan tali di pinggang Bu Soraya menjuntai berlekuk-lekuk yang kalau Chris berniat, cukup dengan satu sentakan saja sudah bisa mengurai simpul longgar disana. Kulit Bu Soraya nyata-nyata terlihat lembab dan segar, nyala lampu yang hanya remang-remang menyiramkan warna hangat pada kulit dadanya.Saat Bu Soraya melangkah mendekat, kain jubah mandi yan
Chris dengar hari ini Abraxas Cobalt akan datang ke kantor untuk urusan pekerjaan, jadi ia pun tanpa disengaja malah terbagi fokus. Pekerjaannya tak selesai cepat seperti biasa, malah jadi memerlukan waktu yang tak sedikit. Karena sesekali perhatiannya juga tersita dengan beberapa kali melirik ke arah lorong atau pun ke pintu ruang kerja Bu Soraya. Ia sangat tahu bahwa sikapnya sekarang terlihat paranoia. Apa pula urusannya sampai perlu mengesampingkan pekerjaan hanya karena rekan bisnis bosnya datang berkunjung?Namun presensi seorang Abraxas Cobalt memang sedikit membuat maskulinitasnya terasa jauh dibawah. Pria itu adalah tipe orang yang bisa menyerukan apa maunya, mengatur segalanya, dan bisa mendobrak batas tanpa perlu memikirkan konsekuensinya. Selain perangainya, dari segi fisik pun ia tampan, bertubuh bagus, kaya, cerdas, dan seksi. Wajar bila Bu Soraya menaruh minat padanya dengan seluruh nilai positif itu.“Ah sial!”Chris mengacak rambutnya sendiri lalu bangkit dari kursi.







