Share

What The Hell?!

Author: Rucaramia
last update publish date: 2026-03-06 16:47:12

Setelah kurang lebih dua puluh menit bolak balik naik turun tangga sambil membawa barang-barangku sendiri, akhirnya aku bisa bernapas lega lantaran berhasil membawa semuanya ke kamar yang diperuntukan pria gila itu untukku. Sejujurnya ruangan tersebut jauh lebih besar dari milikku dirumah ibu. Bahkan dilengkapi dengan interior dan furniture yang mirip dengan fasilitas bintang lima yang terlalu takut untuk aku impikan dahulu.

Tiba-tiba saja aku merasa aneh dengan semua ini meski aku tahu betul bahwa aku seharusnya tidak merasa demikian. Namun faktanya danya sebuah dorongan kecil yang memaksaku mencipta senyuman. Sebuah ekspresi penuh kejujuran yang meski aku mencoba untuk tidak mengakui, tetapi jika dengan fasilitas begini aku bisa kerasan. Walau begitu, dengan rasa gengsi yang melebihi kejujuran. Aku masih punya sedikit sisa harga diri meski telah disogok gaji tiga kali lipat oleh si Jarrel yang mesum untuk tidak tergoda dengan semua yang pria itu berikan. Intinya adalah aku tidak boleh terlalu sumringah dan tetap berpegang teguh secara professional dan terhubung dengannya untuk sekadar pekerjaan.

Tak ingin terdistraksi dengan kenyamanan yang ada. Aku keluar dari kamar dan sekarang mulai melakukan tugas keduaku yakni mempersiapkan makanan untuk si tuan muda mesum yang sedang bersemedi di ruang kerjanya. Sembari melihat-lihat sisa bahan yang ada dikulkas, aku pribadi sebenarnya juga tidak mau merepotkan diri membuatkan pria itu kudapan istimewa. Namun alasan mengapa pria itu memintaku menyiapkan makanan pendamping pasti karena ia sudah sekarat dan aku tidak bisa membiarkan ia kelaparan saat bekerja. Jadi sebagai gantinya aku hanya membuatkan dia roti lapis sederhana dengan telur dan segelas jus jeruk sebagai pendampingnya.

Setelah selesai aku tanpa merasa perlu mengetuk pintu, aku masuk begitu saja ke dalam ruang kerjanya. Mahluk berambut biru itu tampak masih fokus dengan laptop di depan mukanya, dengan jemari tampak asyik mengetik dan tidak menghiraukan keberadaanku sama sekali ketika aku tiba. Namun ketika aku mendekat ke arah mejanya barulah ia menghentikan aktivitasnya sejenak dan melirik padaku sebelum menatap nampan yang berisi roti lapis dan jus jeruk yang aku buatkan untuknya. Detik itu aku bersumpah bahwa aku berharap ia berhenti memandangku seolah dia hendak menerkamku kapan saja.

“Ini makananmu,” kataku sebagai ungkapan pamungkas tersingkat yang bisa aku utarakan terhadapnya.

Ia menyeringai padaku sebelum merilik ke arah nampan yang aku bawa. “Jadi yang kau bisa cuma sekadar membuat roti lapis, ya?”

Aku menaikan bahu sambil buang muka sebelum menjawab ujarannya yang terus terang agak nyelekit barusan. “Aku tidak punya tenaga dan mood untuk membuatkanmu sesuatu yang enak karena aku capek mengangkut barang-barangku ke lantai atas. Mestinya kau bersyukur kubuatkan sesuatu, terserah kau mau memakan roti lapis yang kau remehkan ini atau mati kelaparan. Aku tidak peduli.”

“Jangan marah-marah begitu dong cantik, lagipula aku tidak bilang kalau aku benci makanan buatanmu,” katanya membalas dengan santai sembari bersandar di kursi putarnya.

Lalu didetik yang sama aku bisa merasakan bahuku sedikit merosot dengan kelopak mata yang tiba-tiba saja terasa begitu berat. Kurasa aku betulan lelah dan satu hal yang paling aku inginkan sekarang adalah mengurung diri dikamar baruku. Tetapi sialnya masih ada pekerjaan yang mesti aku selesaikan dan aku tidak bisa kabur dari itu.

Aku sempat menatap ke arah laptopnya yang menyala dan hampir menghela napas lega ketika mendapati sudah ada beberapa ratus kata yang berhasil terketik disana. Aku rasa dia betulan serius bekerja meskipun sikap dan pembawaannya terbilang tak serius dan main-main. Namun kini sepertinya aku mempelajari hal baru, yakni untuk tidak menjudge orang berdasarkan hanya dari covernya kan?

“Boleh aku tahu sudah sejauh mana naskahmu?” ujarku dengan mata yang fokus pada layar laptopnya.

“Hampir selesai sepertinya, aku cukup percaya diri bisa menyelesaikannya dengan tepat waktu,” sahut pria itu malas ketika aku bertanya soal pekerjaan.

Aku dengan hati-hati sedikit membungkuk untuk melihat lebih dekat ke layar laptopnya. Tetapi sungguh, begitu aku membaca paragraf pertama di sana, aku bisa merasakan ada banyak emosi yang bisa dia sampaikan lewat ketikannya. Terlalu sulit bagiku untuk percaya bahwa bajingan arogan macam Jarrel ini benar-benar bisa menulis novel romansa yang begitu bagus. Bahkan hanya dengan membaca sepenggal saja sudah membuatku ketagihan untuk mengetahui sisanya. Tanpa sadar aku membaca semuanya hanya dalam waktu singkat. Bukan karena membosankan, tetapi justru karena alur yang ditawarkan terasa begitu mengalir dan hidup.

“Wow, ini mengejutkan. Tampaknya yang satu ini cukup menjanjikan,” kataku memberi komentar. Terus terang itu adalah pujian paling tulus yang bisa aku berikan kepada Jarrel. Aku bahkan tidak merasa perlu memberikan pria itu saran tertentu untuk cerita buatannya lantasan sudah nyaris sempurna.

“Aku tidak akan memenangkan penghargaan sastra sialan itu jika karya buatanku tidak menarik sejak awal,” sahutnya dengan kalimat sarkas sambil terkekeh.

Aku memutar kedua mataku dengan sebal. Ya, Tuhan … kurasa dia benar-benar orang paling arogan yang pernah aku kenal. Jika arogansi dapat dipersonfikasi maka itu pastilah perwujudan dari sosok Jarrel itu sendiri.

“Ya, ya, terserahlah,” sahutku sambil kemudian menjauh dari layar.

Untuk beberapa saat aku bisa mencium aroma cologne yang sangat maskulin dari tubuh pria itu dan terus terang hal tersebut langsung membuat indera penciumanku terasa kacau. “Aku akan keatas, panggil saja aku jika kau butuh sesuatu,” kataku sebelum menutup pintu ruang dibelakangku. Itu adalah caraku kabur dari kegugupan yang terbilang cukup alami dibandingkan kesempatan lalu-lalu. Biar bagaimana pun menghadapi Jarrel bukan perkara mudah untukku.

Desahan lega keluar dari bibir ketika aku berhasil keluar dari kamarnya dan menjauhi aroma tubuh pria itu. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku merasa tubuhku panas hanya karena mencium aroma yang menguar dari tubuhnya itu.

Shit!

Kenapa sih aku sampai harus bereaksi berlebihan seperti itu sih?

Menggelengkan kepala adalah reaksi spontan yang aku perbuat untuk menjernihkan pikiran. Aku bahkan pergi ke dapur dan meneguk segelas air dingin dari dalam kulkas untuk memperbaiki kekacauan yang aku buat di alam bawah sadarku sebelum betulan naik ke kamarku. Mungkin saja tidur siang yang nyenyak akan membantuku berpikir lebih rasional. Terlebih aku memang sudah begitu kelelahan.

***

Aneh … ini sangat aneh. Aku bisa merasakan sesuatu yang sangat aneh di tubuhku ketika aku sedang tidur. Kucoba menggerakan tangan kanan untuk menggaruk perutku yang terasa gatal, tetapi aku tidak bisa melakukannya. Aku mengerutkan alisku dan sedikit menggigil ketika merasa tubuh bagian bawahku terasa dingin. Untuk percobaan kedua, kali ini aku berusaha menggerakan kedua tangan dengan normal, tetapi aku tidak bisa melakukannya. Seolah-olah keduanya terikat sesuatu dan posisinya ada di atas kepalaku. Terjerat sesuatu dan menggantung … menggantung … tunggu, menggantung?

Dengan tergesa aku membuka mata dan mendapati keterkejutan luar biasa yang bisa aku alami seumur hidupku ketika aku menyadari bahwa memang betul kedua tanganku berada dalam posisi terikat di atas kepala dengan kain—yang kurasa adalah dasi yang diikat kencang pada besi tempat tidur. Kepanikan langsung menyergap dalam diri. Aku benar-benar takut dan bingung dengan situasi ini apalagi ketika aku mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku menundukan kepala dan makin dibuat kaget saat bagian bawahku sudah tidak tertutupi oleh apa-apa. Benar-benar polos.

Sialan! Apa-apaan ini?

“A—apa yang terjadi? Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku dengan suara bergetar. Situasi ini terlalu mengagetkan untukku yang baru saja meraup kesadaran.

Ketika kebimbangan hadir, saat itu pula pintu kamarku dibuka dari luar memunculkan sosok pria dengan rambut biru dan seringai khasnya.

“J—Jarrel ….” Aku menyebut namanya sambil menatap dirinya kaget dan tentu saja dipenuhi rasa takut dan malu.

Kilatan rasa lapar terlihat dari kedua sorot matanya, dan hal itu pula yang memunculkan terlalu banyak pikiran buruk di kepala. Persetan! Situasi ini terlalu mencengangkan hingga aku tidak bisa memproses segalanya dengan benar. Bibirnya sekali lagi menciptakan sebuah seringai sempurna ketika kedua mata kami bertemu. “Kau sudah bangun rupanya,” ucap pria itu dengan santai sambil mendekatiku.

Dalam situasi tersebut aku bisa mendengar suara detak jantungku yang berdebar kencang tidak karuan di dada. Terlampau sangat keras dan menyakitkan di telinga. “Apa-apaan ini bajingan!” Aku dengan seluruh amarah menutut pada dirinya sambil melotot tajam dan berusaha berontak sekuat tenaga.

Seringai pria itu makin melebar, dia duduk di samping tempat tidur sambil meraih daguku dengan mudah, memaksaku untuk menghadapnya. “Sepertinya kau masih belum sadar posisimu ya, Yaya? Baiklah kurasa aku akan memberimu pelajaran tentang siapa yang berkuasa disini,” ucapnya yang tanpa basa basi langsung melahap bibirku begitu saja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Please

    Kami keluar dari keluar dari jacuzzi setelah dua jam berlalu untuk kembali ke kamar kami. Jarrel bilang ia sudah meminta pada pihak dapur membuatkan sesuatu untuk makan malam yang rencananya akan digelar di sun deck. Aku rasa pikiran laki-laki itu sudah terpusat pada seks menyenangkan di jacuzzi tepat di bawah sinar rembulan dan bintang malam hari, alih-alih menikmati makan malam romantis seperti pasangan pada umumnya.Namun, tentu saja sebelum itu betul-betul terjadi aku sudah mengatakan padanya bahwa itu sangat konyol dan aku tidak mau melakukannya di ruang terbuka. Meski ya, jauh di lubuk hati aku sedikit berdebar-debar membayangkan bahwa hal itu akan betul-betul terjadi. Terlepas dari apakah Jarrel akan menurutiku untuk tidak melakukannya atau akan memaksakan kehendaknya seperti biasa dengan aku yang akan berpasrah terhadap keadaan kami berdua nantinya. Lagipula aku memang pembohong yang buruk dan Jarrel tahu itu.Setibanya di kamar pria itu memilih langsung berbaring di ranjang.

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Saling Mencintai

    Jeda beberapa saat sampai ekspresinya berubah seakan ia baru menyadari sesuatu dan seringai khasnya kembali terbit membuat bulu kudukku berdiri. “Don’t tell me that you really are,” ujarnya jahil.Aku bisa merasakan seluruh wajahku terbakar karena malu dan berusaha untuk menghindari tatapannya. “T—tidak, aku tidak! aku hanya terkejut karena kau belum memberitahuku soal itu. Maksudku, yang kau lakukan hanyalah bersikap manis dan romantis ketika kau ingin bercinta dan kau menunjukan emosimu dengan tindakan tanpa kata-kata. Asal kau tau saja, aku terkadang selalu bertanya-tanya tentang motifmu. Kau harus mengatakannya juga, karena aku memerlukan itu. Karena kau tidak pernah mengatakan apa-apa, tentu saja aku jadi punya kekhawatiranku sendiri. Aku sering mengatakan kalau aku mencintaimu tetapi aku tidak pernah mendengarnya dari mulutmu dan umm…” Ah, tidak … aku mulai tergagap. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja aku katakan dan disaat yang sama aku malah bertingkah se

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Ketulusan Jarrel

    “Maafkan aku, Yaya. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak bermaksud menutupi ataupun berbohong padamu,” jelasnya, dari suaranya aku bisa mend begitu kental dengan rasa bersalah yang mendalam, sejenis nada yang tidak pernah aku dengar dari dia sebelumnya. “Aku tahu kalau apa yang aku lakukan itu sangatlah egois dan aku adalah lelaki brengsek yang menyembunyikannya darimu padahal kau berhak tahu. Tapi sungguh, Yaya, aku tidak pernah punya niat untuk menyakitimu sama sekali. Aku sungguh berpikir bahwa hal seperti ini tidak perlu kau ketahui karena hanya akan merusak hubungan kita. Lagipula aku sejak awal tidak pernah peduli tentang itu dan aku juga tidak suka mengetahui kalau kau mencemaskan hal yang aku tidak pernah pikirkan.”Aku sungguh dibuat terkejut oleh seluruh argument yang ia katakan. Demi Tuhan, aku benar-benar tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengambil sikap seperti ini. Memberiku penjelasan sembari memelukku seraya menyiramiku dengan penuh kasih sayang dengan cara bicaranya y

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Konfrontasi

    “Yaya?”Shit.Aku berbalik dan menyeka air mata sialan ini dari pipiku. Apa yang baru saja aku perbuat? Tiba-tiba saja aku malah menangis seperti orang bodoh didepannya, cara yang bagus untuk merusak moment di hari ulang tahunnya. Sekaligus menggagalkan rencanaku untuk tetap tegar hingga akhir. Aku menggigit bibir bawahku, mencoba meredakan seluruh amarah dan perasaan yang terlanjur menyeruak ke dalam dada. Ketegangan yang aku tahan-tahan kembali berputar di dalam diriku, padahal sejak aku tahu aku sudah cukup baik untuk menghindari gejolaknya. Ini semua salah Aiden. Jika saja aku tidak bertemu dengan dia tadi, dan dia tidak mengatakan hal-hal buruk kepadaku, aku pasti bisa … ah sial!“Ada apa? kenapa kau menangis?” Jarrel bertanya dengan nada suara yang begitu lembut, kekhawatiran serta keterkejutannya terlihat begitu jelas dan dalam.“Tidak, ada sesuatu dimataku tadi,” ungkapku mencoba berbohong sebisa mungkin, seiring dengan kuhapusnya air mata yang membuat mataku memerah untuk mem

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Jangan Terlihat Menyedihkan

    Setelah mendapatkan teguran dariku, akhirnya kedua mata Aiden kembali menatap wajahku, senyuman ramah tamahnya masih menempel di sana tanpa tahu malu. “Oh, aku tidak sadar kalau aku menatapmu terlalu lama, Nona Leiya. Tidak kukira kau akan cukup berani berkeliaran hanya dengan memakai pakaian dalam. Tapi jujur saja, aku menyukai apa yang sedang aku lihat darimu.”Kontan aku merasakan wajahku memanas dan perutku terasa mual. Shit! Pria itu benar-benar menyebalkan. Pantas saja Jarrel cepat panas dan banyak memakinya, rupa-rupanya karakter Aiden memang mengesalkan. Alih-alih bercengkrama dengannya lebih lama dan membuat emosiku kian meledak. Aku maju tanpa merasa perlu berbalik untuk segera membuka pintu suite-ku. Namun ketika aku hendak masuk ke dalam, sialnya sebuah tangan menempel dibahuku dan hal itu tentu menghentikan langkahku untuk kian masuk ke dalam kamar.Aku berbalik dan melihat Aiden berdiri begitu dekat denganku. Keterkejutan yang luar biasa langsung membuat seluruh indera d

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Deeptalk Soal Keluarga

    Ia tidak bergerak atau menunjukan tanda-tanda ketidaknyamanan, gangguan, atau apa pun itu. Namun karena yang aku sedang hadapi kini adalah Jarrel, pria yang cukup hebat dalam mengatur mimik wajahnya sedemikian rupa. Maka yang aku dapati ia berekspresi sangat santai lalu sisanya ia memilih diam saja. Demi Tuhan, hal itu membuatku sungguh kecewa dan sakit hati. Sepertinya ia tidak terlalu ingin menjawab pertanyaanku. Jadi alih-alih menanti yang tak pasti aku kemudian hendak meralat perkataanku kembali, sebelum akhirnya kudengar pria itu mendengus.“Aku sebenarnya tidak terlalu suka topik ini,” akunya jujur, lalu setelah itu ia menatapku lagi. “Karena dimataku, ayahku adalah orang yang brengsek. Dia ingin aku melakukan apa yang dia inginkan tanpa mempertimbangkan perasaanku. Dia hanya peduli pada uang. Dan bukan cuma dia, tapi ibuku juga tampaknya mencoba memaksaku melakukan kehendaknya. Itu sebabnya dia mengutus Aiden dan membuatku terganggu dengan itu. Dia memang punya spesialisasi di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status