LOGINBerhari-hari, hari masuk ke minggu, dan minggu masuk ke hitungan bulan. Chris secara berkala kerap mengunjungi Leiya di rumah sakit dan setiap kali ia datang menjenguk ia selalu menemukan Jarrel disana. Pria itu tampak sangat berbeda dari setiap kunjungan yang ia lakukan. Ia tampak seperti seorang pria putus asa yang melupakan caranya mengurus diri sendiri. Rambutnya sudah sangat panjang, dengan janggut tipis dan kumis yang tampaknya tak lagi dicukur sejak Leiya masuk ke rumah sakit. Ia benar-benar kehilangan semangat hidup. Seakan keberadaan Leiya di ranjang rumah sakit dalam kondisi ini sama dengan mematahkan arti hidup untuknya hingga ia kebingungan menentukan arah hidupnya sendiri.“Kau masih disini?” tanya pembuka yang seketika membuat pria itu melirik ke arahnya yang berada di ambang pintu. Rona matanya terlihat menerawang dan ekspresi wajahnya terlihat kuyu.“Kau datang lagi,” sahutnya lalu kembali menatap Leiya yang masih terbaring, Chris mendekat dan mendapati tangan pria itu
Ada pepatah bilang bahwa dunia itu berputar. Ada hal baik dan ada hal buruk. Serta yang buruk tak selamanya buruk, begitu pun sebaliknya. Dan kini… Chris mengalami sendiri arti dari perumpaan yang selalu ia anggap sebagai omong kosong belakang dahulu. Dibalik hal baik dalam urusan pribadinya (perkembangan hubungan romansanya dengan Bu Soraya) di sudut lain ternyata sahabatnya Leiya justru mengalami hal yang buruk. Ia mendapat kabar bahwa wanita itu mengalami kecelakaan. Bu Soraya adalah orang memberi tahunya tentang hal itu sehingga mereka berdua pun langsung bergegas pergi ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan sebenarnya.Mereka tiba di rumah sakit dengan Jarrel yang terlihat sangat terpukul. Pria itu duduk bersandar di ruang tunggu dekat ruangan tempat operasi sedang berlangsung. Kedua matanya menerawang dan ada jejak air mata yang tak kunjung mengering. Barangkali pria itu menangis berulang kali. Bu Soraya pun berupaya mengajaknya bicara tetapi lelaki itu tetap saja urung mengelu
Memahami jalan pikiran Bu Soraya sangatlah sulit. Setidaknya setelah insiden wanita itu mengaku cemburu atas pernyataan cinta yang ia dapati dari teman SMA-nya dahulu sama sekali tidak mempermudah apapun. Wanita itu masih saja misterius dan sulit ditebak. Walaupun begitu, Chris tetap bersyukur sebab ia sedikit tahu apa yang wanita itu rasakan terhadapnya. Ditengah hiruk pikuk kehidupan yang cukup sibuk dengan banyak hal, Bu Soraya merupakan wanita yang integritasnya terjaga. Yah, saking tingginya integritas yang ia miliki untuk perusahaannya, ia lupa menyisakan kejujuran untuk dirinya sendiri, pikir Chris.Bukan dengan sembarang Chris menyimpulkan hal tersebut, melainkan karena kehidupan Bu Soraya yang ia ketahui hanyalah kesibukan saat ia berada dikantor, dan sesekali memanggilnya untuk menghilangkan penat. Ia tidak pernah benar-benar tahu kehidupan pribadi wanita itu. Ya, kalau dipikir-pikir sih memang mereka tidak pernah berbagi kisah soal kehidupan.Meski dibeberapa kesempatan sej
Intan tak tahu pasti apa yang membuatnya secara nekat mendadak mengungkapkan hal yang selama ini ia rahasiakan. Mungkin karena ia tak tahan lagi karena selama ia mengenal Chris, ia hanya menjadi sosok pemerhati yang tak pernah cukup mendapatkan kesempatan memiliki atensi. Mungkin. Tapi… kemungkinan terbesar yang mendorongnya mengambil keputusan mendadak begini barangkali hanya karena ia melihat senyuman yang pemuda itu berikan kepadanya. Senyuman yang selalu membuatnya bersemangat untuk pergi ke sekolah. Senyuman dari seorang pria baik yang kerap menghiasi mimpi indahnya dulu… maupun sekarang.Beberapa saat berlalu begitu saja, seolah waktu hilang dan terbuang sia-sia. Keheningan melingkupi sekitar. Bahkan pemuda yang mendengar pengakuannya pun masih diam mematung di tempatnya. Tampak urung memberikan reaksi. Barangkali terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Satu tarikan napas—…ummmhh--dan sebuah suara maskulin terdengar memecah keheningan yang ada, keheningan yang beg
Chris dan Bu Soraya tidak pernah terikat dalam hubungan apapun. Camkan itu. Hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan di kantor dan juga saling memberi keuntungan dalam pemuasan hasrat. Sebata situ. Tidak lebih dari itu, meskipun pemikiran Chris kerap kali menggodanya untuk mengubah hal tersebut. Mau seberapa sering teman-temannya yang pernah memergoki ia dan Soraya keluar bersama menggodanya. Mau seberapa banyak rekan kerja di kantor mulai bertanya-tanya soal hubungan bos cantik mereka dengan Chris. Ia dan Bu Soraya tetap hanya dalam hubungan itu.Tidak lebih, tidak kurang. Itulah yang dikatakan oleh Bu Soraya kepadanya.Sekalipun ketika ada satu waktu ketika Chris memutuskan mengambil cuti, dan ibunya bertanya mau kemana ia dengan komentar tumben sekali pagi-pagi sudah rapi yang cuma bisa ia jawab dengan kekehan sambil lalu bahwa ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda, ia dan Bu Soraya tetap saja berada dalam hubungan itu. Ibunya sendiri hanya mampu menggelengkan kepala
Pemeriksaan pun dilakukan, semua tak banyak yang dikatakan oleh dokter tersebut tapi untuk beberapa alasan Chris merasa bahwa Jarrel mengenal dokter yang ia panggil untuk memeriksa kondisinya. Selagi menunggu pemeriksaan, tiba-tiba Chris mendapati ada pesan masuk dari Bu Soraya yang memintanya untuk bertemu.“Aku ingin lebih lama disini, tapi sepertinya ada panggilan mendadak yang perlu aku selesaikan,” ujar Chris sambil mengembalikan ponselnya ke dalam saku celana.“Tumben sekali, siapa yang memanggilmu?”“Bu Soraya.”“Jawaban yang tak terduga. Kupikir itu cuma akal-akalanmu saja supaya bisa menghindar dari introgasi lanjutan,” timpal Leiya sambil mendengus, Chris cuma bisa terkekeh.“Pikirkan sesukamu,” jawabnya pula sambil bangkit dari kursi diikuti dengan Dr. Ilya yang juga keluar dari kamar Jarrel.“Sudah bubar?” kata dokter tampan berkacamata tersebut yang membuat ia maupun Leiya langsung melirik padanya.“Oh sudah selesai? Bagaimana hasilnya?” ungkap Leiya yang bersungguh-sungg
“Terima kasih banyak, sobat. Aku berhutang banyak padamu,” ungkapku begitu menerima tas berisi barang belanjaan dari Chris. Kami saat ini sedang berada di depan pintu, dan sobat kentalku di kantor penerbit itu tiba di kediaman Jarrel dua jam setelah kupanggil ia untuk berbelanja kebutuhan kami. Ten
“Sudah cukup!”Kedua orang tua Jarrel langsung memusatkan perhatiannya padaku setelah aku menjerit frustasi dengan pertengkaran mereka. Aku menjauh dari Charlemagne dan bersandar pada dinding segera.“Ada apa, Leiya. Kenapa berteriak begitu?” Charlemagne bertanya dengan ekspresi polos.“Kau membuat
“Aku tidak takut dengan ancamanmu,” desisku memberinya jawaban pasti. Senyuman diwajah wanita itu melebar. “Aku juga dengar sesuatu soal adik perempuanmu. Aku ingin tahu apa yang akan mereka rasakan jika aku tiba-tiba mengeluarkannya dari sekolah dan tidak ada satu pun sekolah di negeri ini mau me
“Senang bertemu denganmu lagi, Nona Leiya,” sapanya dengan suara yang dalam dan rendah seperti biasa.Ada beribu pertanyaan hinggap dikepala terutama tentang bagaimana ia menemukanku atau bagaimana aku bisa berakhir duduk di dalam mobilnya meski memang secara tidak sengaja. Aku tidak tahu berapa la







