LOGINMulut Jarrel terasa begitu hangat dan basah. Lidahnya yang bertekstur memutar-mutar area sekeliling puncak. Perlahan mendekat, lalu mendorong kecil untuk kemudian menarik dan menghisap. Mengembuskan desah rendah, aku memandangi Jarrel dengan celah di bibirnya. Alisnya saling dekat dan memunculkan kerut di kening. Pria itu menyeringai tipis sambil menjetik-jentik. Satu tangan berkelana di puncak yang lain, memilin lembut dengan ibu jari dan telunjuk.“Oh… Jarrel,” satu desah lolos di detik yang sama ketika pelupuk mataku terasa memberat. Aku membusungkan sedikit tubuhku seakan meminta Jarrel menelan semuanya.“Aku bisa berlama-lama disini, kalau itu yang kau mau,” sahut Jarrel sebelum melahap yang sebelah bergantian. Memanjakanku dengan kulum lezat dan pijat jemari. Terkadang ia menggigit main-main, menggesekan gigi pada area yang membuatku mengernyit dan merintih secara tertahan dalam kondisi telapak yang satu mendarat di belakang kepalanya, sementara yang lain menutup mata putus asa.
Beribu pertanyaan berjejer rapi di otakku, tetapi tidak satu pun dapat meluncur keluar. Sebab cara Jarrel menatapku sekarang begitu intens. Begitu dalam, tajam, dan lekat, seolah-olah sedang mengurai isi hatiku dengan telanjang. Punggung jemari si pria mengusap batang hidungku, menyingkirkan sehelai rambut yang tersangkut di bulu mata. Kemudian menangkup pipiku. Aku terbuai oleh seberapa menakjubkannya cara ia menyentuhku.Perlahan, paras Jarrel yang dipahat dengan tangan Maha Terampil mendekat. Ia hanya berhenti dua detik untuk memberikan kesempatan jika aku betulan tak mau. Namun di persimpangan itu, aku malah sibuk berdiri diantara hujan bisik larangan yang memenuhi otak frontalku. Sebelum bibir atas Jarrel membentur bibirku. Lalu seperti ada sebuah kabut disana, aku tiba-tiba dilingkupi oleh ruang hampa dan kedap suara, tak dapat mendengar apapun kecuali tabuh jantungku sendiri. Semakin melabuh Jarrel ke bawah –mempertemukan seluruh milik kami berdua dengan begitu lembut— semakin
“Seperti apa?”Aku sempat terdiam beberapa saat sebelum mengolah kata. Aku menatapnya yang tampak sedang menuntut jawaban. “Membelikanku barang dari mini market, dan—dan… memperlakukanku dengan lembut? Kau tidak seperti ini sebelumnya padaku.”“Kenapa memangnya? kau tidak suka?” jawabnya sambil mengerutkan sebelah alis seolah apa yang aku katakan adalah hal yang aneh.“Bukannya kau pernah bilang bahwa bersikap lembut terhadap perempuan hanya membuatmu kerepotan?” sahutku cepat, teringat akan celetukannya di minggu-minggu pertama aku tinggal seatap dengannya ketika aku pernah bertanya mengapa ia jadi sangat kasar terhadap perempuan yang pernah ia tiduri sekali.“Ya, tapi aku tidak merasa kerepotan sekarang.”Mendadak isi pikiranku tumpah ruah semua. Aku tidak tahu apakah ia betulan bicara jujur dan tulus dari lubuk hatinya atau hanya menjawab sekenanya. Semua jadi terasa membingungkan. “Tidak masuk akal, aku juga perempuan.”“Kau memang perempuan, tapi kau berbeda. Aku suka melakukanny
Hal pertama yang aku dapati saat membuka kedua mataku adalah matahari sudah terbit dan bahkan bersinar dengan cerah. Sinar keemasannya memasuki celah tirai dari lantai hingga langit-langit, menandakan bahwa hari ini adalah yang baik. Aku melihat kesampingku dan menemukan bahwa aku sudah ditinggalkan sendirian di atas ranjang yang luas ini. Jarrel sudah tidak ada di tempat tidur, atau lebih tepatnya ia tidak ada dimana pun di kamar ini. Alisku langsung berkerut, untuk beberapa alasan aku merasa begitu kecewa dengan situasi yang aku dapati saat ini.Yah, aku tahu sangat murahan bila memikirkan hal-hal manis di situasi ini. Namun tetap saja aku tidak dapat menyangkal adanya pengharapan aku akan terbangun dalam kondisi Jarrel masih berada disampingku dengan tangannya yang melingkari tubuhku, memberiku kenyamanan, dan membuatku merasa begitu dicintai, tepat seperti situasi yang terjadi semalam. Tapi tampaknya pria itu betulan brengsek hingga ketulang sampai kemudian aku menyadari sesuatu y
Sinting memang. Bisa-bisanya ia bicara begitu sambil menekan miliknya dalam-dalam. Membuatku bisa merasakan mulut rahimku di dalam sana di kecup mesra.“Lalu setiap anak kita lahir, aku akan mengisimu lagi dan lagi. Membuatmu hamil lagi, sampai kau tidak punya waktu untuk memikirkan siapapun lagi selain aku.”Jarrel yang tidak mengeluar-masukan miliknya untuk menggosok dinding lubang milikku yang berkedut gatal. Pinggulnya justru berputar pelan dengan ritme tak menentu, mengaduk tak berarah, memastikan setiap sudut milikku bisa merasakan kehadirannya. Sesuatu yang tidak kuduga akan diberikan oleh lelaki itu untukku. Namun sisinya yang seperti ini justru malah membuatku hampir hilang akal. Penuh. Terlalu penuh.“Kau mau aku begitu, Yaya?”“Jangan melantur sialan—nggh!” Aku menggigit lidahku sendiri saat hendak mengutuknya, tak ingin ia mendengar eranganku lantaran aku mendapatkan klimaks. Aku meremas sofa yang menjadi alas kebejadan tingkah kami, tubuhku melenting tanpa bisa dicegah. M
“Sial. Aku sudah menunggu moment menggairahkan ini denganmu. Aku sangat bernafsu untuk mendorong benda ini ke dalam lubang sempitmu dan menidurimu tanpa alasan apapun, Yaya,” ujarnya dengan suara yang dalam dan rendah.Dalam kondisi biasa, terus terang aku akan merinding mendengar ujarannya yang kelewatan kotor. Tapi dalam situasi ini, justru malah sebaliknya. Entah bagaimana berkat dirty talk-nya aku malah semakin panas. Masih dalam pengaruh buaiannya, Jarrel meraih pergelangan dan memaksanya untuk terbuka lebar. Sejatinya aku memiliki keinginan yang kuat untuk memprotes, terutama saat merasakan adanya ketakutan yang menjalar ke belakang punggungku. Namun alih-alih berontak aku malah menahan diri dan menunggu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Meskipun aku sudah bisa membayangkan bagaimana akhir dari situasi ini.Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Jarrel buru-buru memposisikan dirinya untuk duduk diantara kedua kakiku yang terbuka dan mengarahkan miliknya menyentuh milikku. Uj







