LOGINHal pertama yang aku dapati saat membuka kedua mataku adalah matahari sudah terbit dan bahkan bersinar dengan cerah. Sinar keemasannya memasuki celah tirai dari lantai hingga langit-langit, menandakan bahwa hari ini adalah yang baik. Aku melihat kesampingku dan menemukan bahwa aku sudah ditinggalkan sendirian di atas ranjang yang luas ini. Jarrel sudah tidak ada di tempat tidur, atau lebih tepatnya ia tidak ada dimana pun di kamar ini. Alisku langsung berkerut, untuk beberapa alasan aku merasa begitu kecewa dengan situasi yang aku dapati saat ini.Yah, aku tahu sangat murahan bila memikirkan hal-hal manis di situasi ini. Namun tetap saja aku tidak dapat menyangkal adanya pengharapan aku akan terbangun dalam kondisi Jarrel masih berada disampingku dengan tangannya yang melingkari tubuhku, memberiku kenyamanan, dan membuatku merasa begitu dicintai, tepat seperti situasi yang terjadi semalam. Tapi tampaknya pria itu betulan brengsek hingga ketulang sampai kemudian aku menyadari sesuatu y
Sinting memang. Bisa-bisanya ia bicara begitu sambil menekan miliknya dalam-dalam. Membuatku bisa merasakan mulut rahimku di dalam sana di kecup mesra.“Lalu setiap anak kita lahir, aku akan mengisimu lagi dan lagi. Membuatmu hamil lagi, sampai kau tidak punya waktu untuk memikirkan siapapun lagi selain aku.”Jarrel yang tidak mengeluar-masukan miliknya untuk menggosok dinding lubang milikku yang berkedut gatal. Pinggulnya justru berputar pelan dengan ritme tak menentu, mengaduk tak berarah, memastikan setiap sudut milikku bisa merasakan kehadirannya. Sesuatu yang tidak kuduga akan diberikan oleh lelaki itu untukku. Namun sisinya yang seperti ini justru malah membuatku hampir hilang akal. Penuh. Terlalu penuh.“Kau mau aku begitu, Yaya?”“Jangan melantur sialan—nggh!” Aku menggigit lidahku sendiri saat hendak mengutuknya, tak ingin ia mendengar eranganku lantaran aku mendapatkan klimaks. Aku meremas sofa yang menjadi alas kebejadan tingkah kami, tubuhku melenting tanpa bisa dicegah. M
“Sial. Aku sudah menunggu moment menggairahkan ini denganmu. Aku sangat bernafsu untuk mendorong benda ini ke dalam lubang sempitmu dan menidurimu tanpa alasan apapun, Yaya,” ujarnya dengan suara yang dalam dan rendah.Dalam kondisi biasa, terus terang aku akan merinding mendengar ujarannya yang kelewatan kotor. Tapi dalam situasi ini, justru malah sebaliknya. Entah bagaimana berkat dirty talk-nya aku malah semakin panas. Masih dalam pengaruh buaiannya, Jarrel meraih pergelangan dan memaksanya untuk terbuka lebar. Sejatinya aku memiliki keinginan yang kuat untuk memprotes, terutama saat merasakan adanya ketakutan yang menjalar ke belakang punggungku. Namun alih-alih berontak aku malah menahan diri dan menunggu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Meskipun aku sudah bisa membayangkan bagaimana akhir dari situasi ini.Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Jarrel buru-buru memposisikan dirinya untuk duduk diantara kedua kakiku yang terbuka dan mengarahkan miliknya menyentuh milikku. Uj
“Tubuhmu ternyata jadi sesensitif ini begitu saat disentuh ya. Baru dijilat dan dimasukan satu jari saja sudah keluar deras.”“D—Diam—uuuuuunghh—” Demi Tuhan, aku sangat malu. Apalagi ketika tubuhku secara otomatis terhenyak dan tak dapat menahan lenguhan ketika Jarret mulai menekan dan menggaruk pada titik ternikmat di dalam sana.“Haaahh… Jarr—hnghh—Ah!”Aku tak tahan. Rasanya terlalu nikmat. Kedua netra tak lagi dapat fokus secara normal. Memejamkan mata malah memperburuk rasa. Pinggul naik turun sendiri mengikuti tempo jari sang maestro yang kelewat ahli. Suara becek semakin terdengar jelas kala tangan Jarrel mengusap klitorisnya dengan gerakan cepat.Aku yang kini diserang dari dua titik sensitif secara bersamaan hanya bisa merinding dan memejamkan mata dengan nikmat. Tak butuh lama sampai punggung melengkung ke atas, membusungkan dada dan memamerkan perutnya yang rata kepada Jarrel.“Jar— sudah… nghhh… stop… aku mau—" dengan mudah sekali lagi aku mendapati pelepasan.Tubuhku sud
Jantungku berdetak kencang karena aku tahu betul apa yang dia sedang maksudkan. Aku tersentak hebat ketika ia tiba-tiba saja sudah membungkuk dan membenamkan wajahnya di lekuk leherku. Lidahnya yang basah menyapu kulitku yang telanjang, membuatku kian gemetaran atas aksinya. Ia bahkan menanamkan ciuman basah di tepi rahangku, mulutnya yang terasa panas bergantian antara ciuman dan jilatan ketika ia turun di dadaku. Tangannya sendiri sibuk mengelus paha bagian dalam, memutuskan untuk masuk diantara kedua sela kaki dan akhirnya menyentuh sisi diriku yang paling sensitif. Ia menyentuh dan memainkannya lembut dengan gerakan naik dan turun.Aku kini tak lagi mampu menghentikan erangan dan rintihan yang serta merta keluar dari bibirku ketika mulutnya yang berbakat dan tangannya yang terampil menyiksaku dalam sebuah melodi kenikmatan. Aku berusaha keras untuk memandangnya, mengamati semua yang ia lakukan kepadaku secara penuh, tetapi sulit sekali rasanya untuk berpikir dan berkonsentrasi den
Aku mendengar diriku sendiri berkata demikian. Sedikit rasa takut dan juga sesal membayangi setelahnya. Betapa bodohnya aku yang sembarangan berucap.Kedua matanya kontan berbinar penuh nafsu begitu aku berkata demikian. Bibirnya yang melengkung mencipta sebuah seringai seksi yang langsung membuatku merinding. Aku benar-benar telah dibuat kacau olehnya, siapa pun bisa mengartikan apa yang aku katakan sebagai sebuah tantangan dan bagi Jarrel itu sudah seperti sebuah ajakan.Ia kemudian bangkit perlahan dari sofa dan menatapku dengan intensitas yang begitu mendalam. Tangannya mulai menyentuh ujung kemeja yang ia kenakan dan melepaskan benda itu dari tubuhnya sendiri, membuatku menyaksikan perutnya yang sempurna dan otot-otot keras yang terpahat indah disana yang mau tidak mau membuatku menelan ludah. Ini bukan pertama kalinya aku melihat Jarrel bertelanjang dada, tetapi situasi kali ini memaksaku berpikiran kotor.Pemandangan ini memanjakan kedua mataku dengan sebuah estetika dari setia







