공유

Pemaksaan

작가: Rucaramia
last update 게시일: 2026-03-06 16:46:52

Apa?

Apa yang baru saja di tanyakan?

Aku tahu bahwa cepat atau lambat pria kurang ajar ini akan mengatakan sesuatu yang tidak etis. Tapi aku betul-betul tidak mengira bahwa ia akan mengatakannya terlalu cepat seolah itu adalah kata magnetis. Sungguh, rasanya ingin sekali aku menarik cangkir kopi yang baru saja aku letakan kemudian aku guyurkan benda panas itu ke muka tampan Jarrel yang saat ini malah nyengir tak jelas. Sejujunya aku sangat tidak ingin menjawab pertanyaannya, dan aku yakin tidak perlu. Lagi pula tidak ada alasan bagiku atas hal itu.

Tapi…

Jika pria ini tahu bahwa aku belum pernah tersentuh oleh pria mana pun, sudah jelas bagaimana girangnya muka ia nanti. Maka dibandingkan menjawabnya dengan jujur, aku lebih suka memberi dia pelototan demi harga diri. “Aku tidak perlu menjawab pertanyaan bodoh semacam itu,” sahutku sambil dengan cepat segera keluar dari ruang kerjanya.

Aku bisa mendengar ia tertawa di dalam sana. Jenis tawa yang sama ketika ia mengolok-olok diriku dalam jangka waktu belum lama. Apakah aku sungguh dipekerjakan oleh orang ini untuk mengisi waktu luangnya untuk menggoda dan menghina? Persetan! Meskipun dia bertanya, aku menutup pintu dibelakangku dengan keras dan pergi ke ruang tamu dengan marah.

Aku benar-benar benci padanya!

Bahkan meski saat sedang marah dan berpikir untuk membakar rumah bos baruku. Ada saja hal yang mengganggu. Dering ponsel yang membuat aku nyaris meremukan benda itu. Kalau saja bend aitu adalah Jarrel, kurasa aku tidak perlu berpikir dua kali untuk itu. Tapi sayangnya ini bukan, jadi sebelum aku menerima panggilan aku mencoba menata ulang emosiku.

“Halo?” jawabku dengan suara yang sedikit jauh lebih tenang dari pada sebelumnya. Aku mengusahakan yang terbaik agar tidak terdengar kesal meski dibutuhkan upaya yang luar biasa besar untuk bisa terdengar netral.

“Kak Leiya!”

“Oh, Naya. Ada apa?” sahutku dengan lembut ketika mendengar suara adik perempuanku. Untung saja aku telah sedikit stabil sehingga bisa menyambut telepon darinya dengan cara yang lebih baik.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tiba-tiba saja rumah kita kedatangan banyak tamu, Kak. Ada beberapa pria berjas hitam di rumah kita dan mereka mengemasi semua barang-barangmu, Apa kakak terlibat hutang pinjaman online?” kata gadis itu disana dengan suara yang cemas dan khawatir.

“Apa?! Bagaimana bisa?” kedua mata terbelelak, shock adalah hal yang pertama keluar sebagai ekspresi. Tentu saja wajar bagiku untuk bereaksi demikian lantaran aku tidak punya hutang atas namaku dan hal-hal lain yang bisa membuatku terjerat dengan para pria berjas hitam. Jadi ketika Naya mengabariku hal seperti ini rasanya sudah seperti mimpi di siang bolong. “Mengapa mereka melakukan itu? mengapa mereka sembarang masuk rumah dan mengemasi barang-barangku? Kau tahu siapa mereka? apa mereka mencoba menyakitimu?”

“Mereka hanya bilang kalau mulai hari ini Kak Leiya akan tinggal bersama dengan seseorang yang bernama Jarrel.”

Aku merasa jantungku berhenti berdetak. Dalam kondisi masih sangat terkejut dan terlalu banyak emosi negatif yang ada di dalam diri, agaknya memperlambat otakku dalam memproses informasi. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dilakukan bajingan itu sampai berani-beraninya menggerebeg rumah orangtuaku segala?

***

Sialan betul kau, Laura Lubis!

Kalau saja tidak ada hukum anak durhaka di dalam budaya. Diam-diam aku selalu menolak fakta bahwa perempuan itu adalah ibu kandungku, perempuan yang seharusnya mendukungku, memberiku nasihat kebijaksanaan, atau minimal bertingkah dan berperan sebagai sosok ibu. Meledak sudah rasa yang kupendam sejak dulu. Aku benar-benar benci padanya, bahkan kini sampai dititik dimana aku ingin membunuhnya.

Kerutan di dahiku menjadi sepuluh tingkat lebih dalam ketika orang-orang berotot dengan jas hitam mulai membongkar beberapa kardus yang berisi barang-barang pribadiku. Situasi sekarang memaksaku untuk terikat, diperas, ditekan, serta di bebani untuk tetap tinggal bersama bosku yang adalah bajingan mesum atas persetujuan dari ibuku Laura Lubis. Perempuan yang dengan mudahnya menandatangani kontrak sebagai ibu kandungku untuk segala kekacauan kecil dirumah kami.

Ketika aku tahu dari Naya bahwa para pria besar itu menggerebeg rumah atas perintah dari Jarrel, aku segera pulang dengan kecepatan penuh dan memergoki mereka semua. Sungguh, aku menolak keras ketika aku dinyatakan harus tinggal bersama Jarrel selama 24/7 di rumah mahalnya untuk bekerja penuh waktu.

Aku tahu kalau pria itu memang membayar mahal jasaku, tetapi untuk tinggal bersamanya itu tidak ada di dalam kontrak! Aku jelas menolak tinggal bersamanya. Sebab dengan terus bersama pria mesum itu aku akan berada dalam situasi berbahaya setiap harinya. Namun yang lebih gila dari itu semua adalah fakta bahwa ibuku telah menerima sejumlah uang untuk memberikan persetujuan agar aku bisa tinggal dirumahnya. Bagaimana mungkin perempuan tua bangka itu tega menjualku seharga mobil keluaran terbaru begitu saja tanpa belas kasih sewajarnya ibu kepada anaknya? Perempuan tua tidak punya otak!

Informasi itu dengan cepat mendorongku untuk menghubungi ibuku agar ia mau membatalkan kontrak tersebut dan mengembalikan uang yang dia terima dari Jarrel. Tapi si tua bangka itu bahkan mengabaikanku dan tidak menerima telepon dariku sama sekali. Dan hal terakhir yang aku dengar dari perempuan itu adalah suara tawanya dan berkata bahwa ia akan membeli mobil baru dan berfoya-foya dengan uang yang diberikan Jarrel. Ia juga berkata bahwa seharusnya aku bersyukur karena ia memberikan izin, bahkan memintaku untuk mendekati Jarrel dan memeras uangnya untuk dinikmati bersama. Begitulah yang terjadi, dan mau tidak mau aku harus bersama si penulis mesum untuk beberapa waktu ke depan.

Aku harus menerima fakta bahwa aku baru saja di jual oleh ibuku dengan mudahnya kepada seorang iblis keparat hanya karena dia punya keinginan untuk membeli mobil dan menjadi orang kaya secara instan tanpa mau bekerja.

“Itu yang terakhir, bos,” ujar salah satu dari pria berjas hitam setelah ia meletakan sebuah kotak besar di ruang tamu.

Jarrel yang saat itu sedang duduk santai sambil merokok hanya mengangguk dan menyeringai penuh kesenangan melihat ekspresi wajahku yang sudah hancur berkeping-keping. Dia terlihat seribu kali lipat lebih menyebalkan dalam situasi ini. Aku harap bisa memukul dia sekarang juga.

“Bagus, kalian boleh pergi sekarang juga,” kata Jarrel menjawab dengan dingin seolah ia adalah seorang bos mafia. Ya, kurasa dia memang cocok dengan peran itu, tetapi aku tidak mau membawa khayalan liarku itu menjadi sebuah kenyataan.

Para pria besar itu membungkuk dan meninggalkan ruangan, agak menyeramkan juga ketika aku menyadari seberapa patuhnya para pria besar tadi kepada Jarrel. Mengapa mereka sepatuh itu pada pria yang ukuran tubuhnya saja lebih kecil dua kali lipat dari mereka? itu benar-benar omong kosong yang luar biasa.

Ketika pintu di tutup dan hanya tinggal kami berdua di ruangan tersebut. Aku mengambil waktuku lagi dan mengutuk dia. “Kenapa kau sampai melakukan hal segila ini?” tuntutku dengan kesal. Dia betulan membuatku marah hingga ke ubun-ubun.

“Sudah kubilang bahwa kau tidak akan bisa lari. Aku membayarmu agar kau bisa mengawasiku secara penuh dan memberiku inspirasi. Ini simbiosis mutualisme. Kau tidak perlu pulang pergi, dan aku mendapatkan apa yang aku mau darimu.”

“Aku bukan mainan yang bisa kau mainkan sesuka hati!”

“Hanya kau yang beranggapan seperti itu disini, sejujurnya aku tidak mengatakan itu,” balasnya santai.

“Tapi perbuatanmu jelas mengungkapkan bahwa anggapanku itu benar adanya,” desisku lagi.

Dia terkekeh dan berdiri dari sofa. Sambil menggaruk kepalanya, dia kembali ke ruangan kerja dan memberikan perintah lain alih-alih berdebat denganku. “Kau bisa mulai bekemas dan merapikan barang-barang itu. Kamarmu ada di lantai atas disebelahku dan oh ya, buatkan aku sesuatu yang enak untuk dimakan ya, aku sangat lapar setelah melihat kejadian ini.”

Aku hampir bisa merasakannya, seluruh pembuluh darah berkumpul di kepala. Menciptakan rasa berdenyut-denyut yang menggila. Bisa stress aku kalau begini terus. Bahkan bisa mati berdiri kena serangan darah tinggi jika terus terlibat dengan orang ini jika bersamanya lebih lama lagi.

Walau begitu, meski sambil mendengus kesal aku tetap mendekati salah satu kotak yang ada dan mencoba mengangkatnya. Tapi napasku langsung terengah lantaran kotak itu rupanya terlalu berat bak mengangkat seekor gajah. Dasar iblis! Bisa-bisanya ia menyuruhku memindahkan semua barang ini ke lantai atas, padahal aku seorang perempuan. Dasar bos sialan!

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Realisasi Fantasi Liar

    Ia hanya menertawakanku, mengabaikan tatapanku yang mematikan dan menyeretku menuju Jacuzzi di mana sebotol anggur merah dan dua gelas kosong telah menunggu. Jadi ia mengajakku untuk minum dulu sebelum melakukannya? itu bagus sekali. Karena aku memang merasa perlu alkohol ditubuh untuk menghilangkan kegugupan bodoh yang saat ini bersemayam di dalam dadaku.“Ayo kemari,” ajaknya sambil melepaskan kemeja dan celananya sendiri. Membuangnya ke lantai secara sembarangan. Kemudian dia juga melepaskan sandalnya dan membuat kekacauan kecil ketika ia dengan santainya melepas satu-satunya kain yang menempel di bagian bawah tubuhnya, memperlihatkan kejantanannya yang sudah setengah keras dan pantatnya yang bulat. Tenggorokanku mendadak terasa kering dan kurasa jantungku akan melompat keluar dari tenggorokanku, kurasa ekspresiku sekarang sudah seperti ikan yang keluar dari dalam air. Kalau Jarrel? Jangan ditanya. Ia malah dengan santainya masuk ke jacuzzi, duduk di tepi sambil menatapku penuh har

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Please

    Kami keluar dari keluar dari jacuzzi setelah dua jam berlalu untuk kembali ke kamar kami. Jarrel bilang ia sudah meminta pada pihak dapur membuatkan sesuatu untuk makan malam yang rencananya akan digelar di sun deck. Aku rasa pikiran laki-laki itu sudah terpusat pada seks menyenangkan di jacuzzi tepat di bawah sinar rembulan dan bintang malam hari, alih-alih menikmati makan malam romantis seperti pasangan pada umumnya.Namun, tentu saja sebelum itu betul-betul terjadi aku sudah mengatakan padanya bahwa itu sangat konyol dan aku tidak mau melakukannya di ruang terbuka. Meski ya, jauh di lubuk hati aku sedikit berdebar-debar membayangkan bahwa hal itu akan betul-betul terjadi. Terlepas dari apakah Jarrel akan menurutiku untuk tidak melakukannya atau akan memaksakan kehendaknya seperti biasa dengan aku yang akan berpasrah terhadap keadaan kami berdua nantinya. Lagipula aku memang pembohong yang buruk dan Jarrel tahu itu.Setibanya di kamar pria itu memilih langsung berbaring di ranjang.

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Saling Mencintai

    Jeda beberapa saat sampai ekspresinya berubah seakan ia baru menyadari sesuatu dan seringai khasnya kembali terbit membuat bulu kudukku berdiri. “Don’t tell me that you really are,” ujarnya jahil.Aku bisa merasakan seluruh wajahku terbakar karena malu dan berusaha untuk menghindari tatapannya. “T—tidak, aku tidak! aku hanya terkejut karena kau belum memberitahuku soal itu. Maksudku, yang kau lakukan hanyalah bersikap manis dan romantis ketika kau ingin bercinta dan kau menunjukan emosimu dengan tindakan tanpa kata-kata. Asal kau tau saja, aku terkadang selalu bertanya-tanya tentang motifmu. Kau harus mengatakannya juga, karena aku memerlukan itu. Karena kau tidak pernah mengatakan apa-apa, tentu saja aku jadi punya kekhawatiranku sendiri. Aku sering mengatakan kalau aku mencintaimu tetapi aku tidak pernah mendengarnya dari mulutmu dan umm…” Ah, tidak … aku mulai tergagap. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja aku katakan dan disaat yang sama aku malah bertingkah se

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Ketulusan Jarrel

    “Maafkan aku, Yaya. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak bermaksud menutupi ataupun berbohong padamu,” jelasnya, dari suaranya aku bisa mend begitu kental dengan rasa bersalah yang mendalam, sejenis nada yang tidak pernah aku dengar dari dia sebelumnya. “Aku tahu kalau apa yang aku lakukan itu sangatlah egois dan aku adalah lelaki brengsek yang menyembunyikannya darimu padahal kau berhak tahu. Tapi sungguh, Yaya, aku tidak pernah punya niat untuk menyakitimu sama sekali. Aku sungguh berpikir bahwa hal seperti ini tidak perlu kau ketahui karena hanya akan merusak hubungan kita. Lagipula aku sejak awal tidak pernah peduli tentang itu dan aku juga tidak suka mengetahui kalau kau mencemaskan hal yang aku tidak pernah pikirkan.”Aku sungguh dibuat terkejut oleh seluruh argument yang ia katakan. Demi Tuhan, aku benar-benar tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengambil sikap seperti ini. Memberiku penjelasan sembari memelukku seraya menyiramiku dengan penuh kasih sayang dengan cara bicaranya y

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Konfrontasi

    “Yaya?”Shit.Aku berbalik dan menyeka air mata sialan ini dari pipiku. Apa yang baru saja aku perbuat? Tiba-tiba saja aku malah menangis seperti orang bodoh didepannya, cara yang bagus untuk merusak moment di hari ulang tahunnya. Sekaligus menggagalkan rencanaku untuk tetap tegar hingga akhir. Aku menggigit bibir bawahku, mencoba meredakan seluruh amarah dan perasaan yang terlanjur menyeruak ke dalam dada. Ketegangan yang aku tahan-tahan kembali berputar di dalam diriku, padahal sejak aku tahu aku sudah cukup baik untuk menghindari gejolaknya. Ini semua salah Aiden. Jika saja aku tidak bertemu dengan dia tadi, dan dia tidak mengatakan hal-hal buruk kepadaku, aku pasti bisa … ah sial!“Ada apa? kenapa kau menangis?” Jarrel bertanya dengan nada suara yang begitu lembut, kekhawatiran serta keterkejutannya terlihat begitu jelas dan dalam.“Tidak, ada sesuatu dimataku tadi,” ungkapku mencoba berbohong sebisa mungkin, seiring dengan kuhapusnya air mata yang membuat mataku memerah untuk mem

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Jangan Terlihat Menyedihkan

    Setelah mendapatkan teguran dariku, akhirnya kedua mata Aiden kembali menatap wajahku, senyuman ramah tamahnya masih menempel di sana tanpa tahu malu. “Oh, aku tidak sadar kalau aku menatapmu terlalu lama, Nona Leiya. Tidak kukira kau akan cukup berani berkeliaran hanya dengan memakai pakaian dalam. Tapi jujur saja, aku menyukai apa yang sedang aku lihat darimu.”Kontan aku merasakan wajahku memanas dan perutku terasa mual. Shit! Pria itu benar-benar menyebalkan. Pantas saja Jarrel cepat panas dan banyak memakinya, rupa-rupanya karakter Aiden memang mengesalkan. Alih-alih bercengkrama dengannya lebih lama dan membuat emosiku kian meledak. Aku maju tanpa merasa perlu berbalik untuk segera membuka pintu suite-ku. Namun ketika aku hendak masuk ke dalam, sialnya sebuah tangan menempel dibahuku dan hal itu tentu menghentikan langkahku untuk kian masuk ke dalam kamar.Aku berbalik dan melihat Aiden berdiri begitu dekat denganku. Keterkejutan yang luar biasa langsung membuat seluruh indera d

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status