LOGINApa?
Apa yang baru saja di tanyakan? Aku tahu bahwa cepat atau lambat pria kurang ajar ini akan mengatakan sesuatu yang tidak etis. Tapi aku betul-betul tidak mengira bahwa ia akan mengatakannya terlalu cepat seolah itu adalah kata magnetis. Sungguh, rasanya ingin sekali aku menarik cangkir kopi yang baru saja aku letakan kemudian aku guyurkan benda panas itu ke muka tampan Jarrel yang saat ini malah nyengir tak jelas. Sejujunya aku sangat tidak ingin menjawab pertanyaannya, dan aku yakin tidak perlu. Lagi pula tidak ada alasan bagiku atas hal itu. Tapi…Jika pria ini tahu bahwa aku belum pernah tersentuh oleh pria mana pun, sudah jelas bagaimana girangnya muka ia nanti. Maka dibandingkan menjawabnya dengan jujur, aku lebih suka memberi dia pelototan demi harga diri. “Aku tidak perlu menjawab pertanyaan bodoh semacam itu,” sahutku sambil dengan cepat segera keluar dari ruang kerjanya.
Aku bisa mendengar ia tertawa di dalam sana. Jenis tawa yang sama ketika ia mengolok-olok diriku dalam jangka waktu belum lama. Apakah aku sungguh dipekerjakan oleh orang ini untuk mengisi waktu luangnya untuk menggoda dan menghina? Persetan! Meskipun dia bertanya, aku menutup pintu dibelakangku dengan keras dan pergi ke ruang tamu dengan marah. Aku benar-benar benci padanya! Bahkan meski saat sedang marah dan berpikir untuk membakar rumah bos baruku. Ada saja hal yang mengganggu. Dering ponsel yang membuat aku nyaris meremukan benda itu. Kalau saja bend aitu adalah Jarrel, kurasa aku tidak perlu berpikir dua kali untuk itu. Tapi sayangnya ini bukan, jadi sebelum aku menerima panggilan aku mencoba menata ulang emosiku. “Halo?” jawabku dengan suara yang sedikit jauh lebih tenang dari pada sebelumnya. Aku mengusahakan yang terbaik agar tidak terdengar kesal meski dibutuhkan upaya yang luar biasa besar untuk bisa terdengar netral. “Kak Leiya!” “Oh, Naya. Ada apa?” sahutku dengan lembut ketika mendengar suara adik perempuanku. Untung saja aku telah sedikit stabil sehingga bisa menyambut telepon darinya dengan cara yang lebih baik. “Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tiba-tiba saja rumah kita kedatangan banyak tamu, Kak. Ada beberapa pria berjas hitam di rumah kita dan mereka mengemasi semua barang-barangmu, Apa kakak terlibat hutang pinjaman online?” kata gadis itu disana dengan suara yang cemas dan khawatir. “Apa?! Bagaimana bisa?” kedua mata terbelelak, shock adalah hal yang pertama keluar sebagai ekspresi. Tentu saja wajar bagiku untuk bereaksi demikian lantaran aku tidak punya hutang atas namaku dan hal-hal lain yang bisa membuatku terjerat dengan para pria berjas hitam. Jadi ketika Naya mengabariku hal seperti ini rasanya sudah seperti mimpi di siang bolong. “Mengapa mereka melakukan itu? mengapa mereka sembarang masuk rumah dan mengemasi barang-barangku? Kau tahu siapa mereka? apa mereka mencoba menyakitimu?” “Mereka hanya bilang kalau mulai hari ini Kak Leiya akan tinggal bersama dengan seseorang yang bernama Jarrel.” Aku merasa jantungku berhenti berdetak. Dalam kondisi masih sangat terkejut dan terlalu banyak emosi negatif yang ada di dalam diri, agaknya memperlambat otakku dalam memproses informasi. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dilakukan bajingan itu sampai berani-beraninya menggerebeg rumah orangtuaku segala? ***Sialan betul kau, Laura Lubis!
Kalau saja tidak ada hukum anak durhaka di dalam budaya. Diam-diam aku selalu menolak fakta bahwa perempuan itu adalah ibu kandungku, perempuan yang seharusnya mendukungku, memberiku nasihat kebijaksanaan, atau minimal bertingkah dan berperan sebagai sosok ibu. Meledak sudah rasa yang kupendam sejak dulu. Aku benar-benar benci padanya, bahkan kini sampai dititik dimana aku ingin membunuhnya.Kerutan di dahiku menjadi sepuluh tingkat lebih dalam ketika orang-orang berotot dengan jas hitam mulai membongkar beberapa kardus yang berisi barang-barang pribadiku. Situasi sekarang memaksaku untuk terikat, diperas, ditekan, serta di bebani untuk tetap tinggal bersama bosku yang adalah bajingan mesum atas persetujuan dari ibuku Laura Lubis. Perempuan yang dengan mudahnya menandatangani kontrak sebagai ibu kandungku untuk segala kekacauan kecil dirumah kami.
Ketika aku tahu dari Naya bahwa para pria besar itu menggerebeg rumah atas perintah dari Jarrel, aku segera pulang dengan kecepatan penuh dan memergoki mereka semua. Sungguh, aku menolak keras ketika aku dinyatakan harus tinggal bersama Jarrel selama 24/7 di rumah mahalnya untuk bekerja penuh waktu. Aku tahu kalau pria itu memang membayar mahal jasaku, tetapi untuk tinggal bersamanya itu tidak ada di dalam kontrak! Aku jelas menolak tinggal bersamanya. Sebab dengan terus bersama pria mesum itu aku akan berada dalam situasi berbahaya setiap harinya. Namun yang lebih gila dari itu semua adalah fakta bahwa ibuku telah menerima sejumlah uang untuk memberikan persetujuan agar aku bisa tinggal dirumahnya. Bagaimana mungkin perempuan tua bangka itu tega menjualku seharga mobil keluaran terbaru begitu saja tanpa belas kasih sewajarnya ibu kepada anaknya? Perempuan tua tidak punya otak! Informasi itu dengan cepat mendorongku untuk menghubungi ibuku agar ia mau membatalkan kontrak tersebut dan mengembalikan uang yang dia terima dari Jarrel. Tapi si tua bangka itu bahkan mengabaikanku dan tidak menerima telepon dariku sama sekali. Dan hal terakhir yang aku dengar dari perempuan itu adalah suara tawanya dan berkata bahwa ia akan membeli mobil baru dan berfoya-foya dengan uang yang diberikan Jarrel. Ia juga berkata bahwa seharusnya aku bersyukur karena ia memberikan izin, bahkan memintaku untuk mendekati Jarrel dan memeras uangnya untuk dinikmati bersama. Begitulah yang terjadi, dan mau tidak mau aku harus bersama si penulis mesum untuk beberapa waktu ke depan. Aku harus menerima fakta bahwa aku baru saja di jual oleh ibuku dengan mudahnya kepada seorang iblis keparat hanya karena dia punya keinginan untuk membeli mobil dan menjadi orang kaya secara instan tanpa mau bekerja. “Itu yang terakhir, bos,” ujar salah satu dari pria berjas hitam setelah ia meletakan sebuah kotak besar di ruang tamu. Jarrel yang saat itu sedang duduk santai sambil merokok hanya mengangguk dan menyeringai penuh kesenangan melihat ekspresi wajahku yang sudah hancur berkeping-keping. Dia terlihat seribu kali lipat lebih menyebalkan dalam situasi ini. Aku harap bisa memukul dia sekarang juga. “Bagus, kalian boleh pergi sekarang juga,” kata Jarrel menjawab dengan dingin seolah ia adalah seorang bos mafia. Ya, kurasa dia memang cocok dengan peran itu, tetapi aku tidak mau membawa khayalan liarku itu menjadi sebuah kenyataan. Para pria besar itu membungkuk dan meninggalkan ruangan, agak menyeramkan juga ketika aku menyadari seberapa patuhnya para pria besar tadi kepada Jarrel. Mengapa mereka sepatuh itu pada pria yang ukuran tubuhnya saja lebih kecil dua kali lipat dari mereka? itu benar-benar omong kosong yang luar biasa. Ketika pintu di tutup dan hanya tinggal kami berdua di ruangan tersebut. Aku mengambil waktuku lagi dan mengutuk dia. “Kenapa kau sampai melakukan hal segila ini?” tuntutku dengan kesal. Dia betulan membuatku marah hingga ke ubun-ubun. “Sudah kubilang bahwa kau tidak akan bisa lari. Aku membayarmu agar kau bisa mengawasiku secara penuh dan memberiku inspirasi. Ini simbiosis mutualisme. Kau tidak perlu pulang pergi, dan aku mendapatkan apa yang aku mau darimu.” “Aku bukan mainan yang bisa kau mainkan sesuka hati!” “Hanya kau yang beranggapan seperti itu disini, sejujurnya aku tidak mengatakan itu,” balasnya santai. “Tapi perbuatanmu jelas mengungkapkan bahwa anggapanku itu benar adanya,” desisku lagi. Dia terkekeh dan berdiri dari sofa. Sambil menggaruk kepalanya, dia kembali ke ruangan kerja dan memberikan perintah lain alih-alih berdebat denganku. “Kau bisa mulai bekemas dan merapikan barang-barang itu. Kamarmu ada di lantai atas disebelahku dan oh ya, buatkan aku sesuatu yang enak untuk dimakan ya, aku sangat lapar setelah melihat kejadian ini.” Aku hampir bisa merasakannya, seluruh pembuluh darah berkumpul di kepala. Menciptakan rasa berdenyut-denyut yang menggila. Bisa stress aku kalau begini terus. Bahkan bisa mati berdiri kena serangan darah tinggi jika terus terlibat dengan orang ini jika bersamanya lebih lama lagi. Walau begitu, meski sambil mendengus kesal aku tetap mendekati salah satu kotak yang ada dan mencoba mengangkatnya. Tapi napasku langsung terengah lantaran kotak itu rupanya terlalu berat bak mengangkat seekor gajah. Dasar iblis! Bisa-bisanya ia menyuruhku memindahkan semua barang ini ke lantai atas, padahal aku seorang perempuan. Dasar bos sialan!Berhari-hari, hari masuk ke minggu, dan minggu masuk ke hitungan bulan. Chris secara berkala kerap mengunjungi Leiya di rumah sakit dan setiap kali ia datang menjenguk ia selalu menemukan Jarrel disana. Pria itu tampak sangat berbeda dari setiap kunjungan yang ia lakukan. Ia tampak seperti seorang pria putus asa yang melupakan caranya mengurus diri sendiri. Rambutnya sudah sangat panjang, dengan janggut tipis dan kumis yang tampaknya tak lagi dicukur sejak Leiya masuk ke rumah sakit. Ia benar-benar kehilangan semangat hidup. Seakan keberadaan Leiya di ranjang rumah sakit dalam kondisi ini sama dengan mematahkan arti hidup untuknya hingga ia kebingungan menentukan arah hidupnya sendiri.“Kau masih disini?” tanya pembuka yang seketika membuat pria itu melirik ke arahnya yang berada di ambang pintu. Rona matanya terlihat menerawang dan ekspresi wajahnya terlihat kuyu.“Kau datang lagi,” sahutnya lalu kembali menatap Leiya yang masih terbaring, Chris mendekat dan mendapati tangan pria itu
Ada pepatah bilang bahwa dunia itu berputar. Ada hal baik dan ada hal buruk. Serta yang buruk tak selamanya buruk, begitu pun sebaliknya. Dan kini… Chris mengalami sendiri arti dari perumpaan yang selalu ia anggap sebagai omong kosong belakang dahulu. Dibalik hal baik dalam urusan pribadinya (perkembangan hubungan romansanya dengan Bu Soraya) di sudut lain ternyata sahabatnya Leiya justru mengalami hal yang buruk. Ia mendapat kabar bahwa wanita itu mengalami kecelakaan. Bu Soraya adalah orang memberi tahunya tentang hal itu sehingga mereka berdua pun langsung bergegas pergi ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan sebenarnya.Mereka tiba di rumah sakit dengan Jarrel yang terlihat sangat terpukul. Pria itu duduk bersandar di ruang tunggu dekat ruangan tempat operasi sedang berlangsung. Kedua matanya menerawang dan ada jejak air mata yang tak kunjung mengering. Barangkali pria itu menangis berulang kali. Bu Soraya pun berupaya mengajaknya bicara tetapi lelaki itu tetap saja urung mengelu
Memahami jalan pikiran Bu Soraya sangatlah sulit. Setidaknya setelah insiden wanita itu mengaku cemburu atas pernyataan cinta yang ia dapati dari teman SMA-nya dahulu sama sekali tidak mempermudah apapun. Wanita itu masih saja misterius dan sulit ditebak. Walaupun begitu, Chris tetap bersyukur sebab ia sedikit tahu apa yang wanita itu rasakan terhadapnya. Ditengah hiruk pikuk kehidupan yang cukup sibuk dengan banyak hal, Bu Soraya merupakan wanita yang integritasnya terjaga. Yah, saking tingginya integritas yang ia miliki untuk perusahaannya, ia lupa menyisakan kejujuran untuk dirinya sendiri, pikir Chris.Bukan dengan sembarang Chris menyimpulkan hal tersebut, melainkan karena kehidupan Bu Soraya yang ia ketahui hanyalah kesibukan saat ia berada dikantor, dan sesekali memanggilnya untuk menghilangkan penat. Ia tidak pernah benar-benar tahu kehidupan pribadi wanita itu. Ya, kalau dipikir-pikir sih memang mereka tidak pernah berbagi kisah soal kehidupan.Meski dibeberapa kesempatan sej
Intan tak tahu pasti apa yang membuatnya secara nekat mendadak mengungkapkan hal yang selama ini ia rahasiakan. Mungkin karena ia tak tahan lagi karena selama ia mengenal Chris, ia hanya menjadi sosok pemerhati yang tak pernah cukup mendapatkan kesempatan memiliki atensi. Mungkin. Tapi… kemungkinan terbesar yang mendorongnya mengambil keputusan mendadak begini barangkali hanya karena ia melihat senyuman yang pemuda itu berikan kepadanya. Senyuman yang selalu membuatnya bersemangat untuk pergi ke sekolah. Senyuman dari seorang pria baik yang kerap menghiasi mimpi indahnya dulu… maupun sekarang.Beberapa saat berlalu begitu saja, seolah waktu hilang dan terbuang sia-sia. Keheningan melingkupi sekitar. Bahkan pemuda yang mendengar pengakuannya pun masih diam mematung di tempatnya. Tampak urung memberikan reaksi. Barangkali terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Satu tarikan napas—…ummmhh--dan sebuah suara maskulin terdengar memecah keheningan yang ada, keheningan yang beg
Chris dan Bu Soraya tidak pernah terikat dalam hubungan apapun. Camkan itu. Hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan di kantor dan juga saling memberi keuntungan dalam pemuasan hasrat. Sebata situ. Tidak lebih dari itu, meskipun pemikiran Chris kerap kali menggodanya untuk mengubah hal tersebut. Mau seberapa sering teman-temannya yang pernah memergoki ia dan Soraya keluar bersama menggodanya. Mau seberapa banyak rekan kerja di kantor mulai bertanya-tanya soal hubungan bos cantik mereka dengan Chris. Ia dan Bu Soraya tetap hanya dalam hubungan itu.Tidak lebih, tidak kurang. Itulah yang dikatakan oleh Bu Soraya kepadanya.Sekalipun ketika ada satu waktu ketika Chris memutuskan mengambil cuti, dan ibunya bertanya mau kemana ia dengan komentar tumben sekali pagi-pagi sudah rapi yang cuma bisa ia jawab dengan kekehan sambil lalu bahwa ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda, ia dan Bu Soraya tetap saja berada dalam hubungan itu. Ibunya sendiri hanya mampu menggelengkan kepala
Pemeriksaan pun dilakukan, semua tak banyak yang dikatakan oleh dokter tersebut tapi untuk beberapa alasan Chris merasa bahwa Jarrel mengenal dokter yang ia panggil untuk memeriksa kondisinya. Selagi menunggu pemeriksaan, tiba-tiba Chris mendapati ada pesan masuk dari Bu Soraya yang memintanya untuk bertemu.“Aku ingin lebih lama disini, tapi sepertinya ada panggilan mendadak yang perlu aku selesaikan,” ujar Chris sambil mengembalikan ponselnya ke dalam saku celana.“Tumben sekali, siapa yang memanggilmu?”“Bu Soraya.”“Jawaban yang tak terduga. Kupikir itu cuma akal-akalanmu saja supaya bisa menghindar dari introgasi lanjutan,” timpal Leiya sambil mendengus, Chris cuma bisa terkekeh.“Pikirkan sesukamu,” jawabnya pula sambil bangkit dari kursi diikuti dengan Dr. Ilya yang juga keluar dari kamar Jarrel.“Sudah bubar?” kata dokter tampan berkacamata tersebut yang membuat ia maupun Leiya langsung melirik padanya.“Oh sudah selesai? Bagaimana hasilnya?” ungkap Leiya yang bersungguh-sungg
Setelah mendapatkan teguran dariku, akhirnya kedua mata Aiden kembali menatap wajahku, senyuman ramah tamahnya masih menempel di sana tanpa tahu malu. “Oh, aku tidak sadar kalau aku menatapmu terlalu lama, Nona Leiya. Tidak kukira kau akan cukup berani berkeliaran hanya dengan memakai pakaian dalam
Ia tidak bergerak atau menunjukan tanda-tanda ketidaknyamanan, gangguan, atau apa pun itu. Namun karena yang aku sedang hadapi kini adalah Jarrel, pria yang cukup hebat dalam mengatur mimik wajahnya sedemikian rupa. Maka yang aku dapati ia berekspresi sangat santai lalu sisanya ia memilih diam saja
Dasar kompetitif, tidak mau kalah, dan… tampaknya ia juga sudah mulai terbawa suasana pada kisah fiksi buatan yang berputar di kepalanya sendiri. Tahu-tahu ia sudah merapat padaku dengan bahu kami yang saling bersentuhan. Antusiasme dengan bayangan dalam kemungkinan-kemungkinan terkecil dihidup kam
“Apa?!” protesku langsung.Jarrel menaikan bahu seolah itu bukanlah sesuatu yang patut untuk menciptakan keterkejutan dariku. “Kenapa terkejut begitu? Aku kan cuma mengajakmu berendam. Kau bilang panas mataharinya terik sekali kan? Dengan berendam kurasa itu akan mengurangi intensitas panasnya.”Di







