LOGIN“Aku nggak usah dijemput, Yan! Males banget kalau ketahuan anak kantor. Lagi pada heboh gara-gara video senyam-senyum sok manismu itu.”Reno memperdengarkan pesan suara dari Freya. Biarpun dikirim padanya, pesan tersebut jelas ditujukan untuk Aryan.“Oh, dia malu?” Aryan santai merespons. “Ya, udah. Mobilnya nggak usah dibawa masuk. Tunggu di pinggir jalan aja kayak sebelumnya.”“Soal itu …” Reno rupanya sudah memiliki jawabannya.Suara Freya pun kembali terdengar. Perempuan itu mencerocos, mengomeli Aryan agar tidak bersikeras menyuruh Reno menjemputnya.“Sama aja, Yan. Mobilmu itu mencolok banget, terlalu mewah, jadi mau nunggu di mana pun, nggak ada bedanya. Mending kalau malam, ada area yang minim pencahayaan. Sore-sore di mana coba yang sekiranya nggak kelihatan? Nggak ada, Yan!”Aryan merengut. Bukan karena Freya tidak mau dijemput, melainkan senyuman Reno yang terkesan meledeknya. Ekspresi Reno semakin tampak mengesalkan ketika pesan berikutnya diperdengarkan.“Nggak usah marah
Aryan pernah mengatakan bahwa Freya tidak perlu mencemaskan terlalu banyak hal lagi.Kata Aryan, tidak usah ragu karena ini dan itu saat ingin melakukan sesuatu.Apa pun yang Freya inginkan, akan Aryan berikan. Selama keduanya masih menjadi partner selingkuh, Aryan bakal selalu ada di pihak Freya.“Selama ada Aryan, kita semua aman.”Freya tersenyum miring, matanya berbinar licik. “Itulah gunanya berpartner dengan seseorang yang duduk di puncak piramida.”Bagas dan Tata terdiam, lalu saling pandang sebentar. Keduanya tampak seolah bertukar pikiran lewat sorot mata.“Partner?” Tata mengutip satu kata dengan tatapan menyelidik. “Maksudnya ini kalian berkomplot?”“Dua orang yang senasib, sama-sama diselingkuhi pasangan masing-masing, berakhir menjadi partner balas dendam.” Bagas menganalisis hubungan Freya dan Aryan.“Memangnya boleh sedrama itu?” imbuhnya sinis.Freya mendengus pendek, lalu tersenyum kecut. “Iya, bisa dibilang kayak begitu.”“Makanya, kamu nggak usah cemas misalnya si A
Orang-orang di sekitar Freya selalu mengatakan betapa beruntung dirinya karena berpacaran dengan Juan. Setelah sekian tahun hidup sebatang kara, semesta mempertemukan Freya dengan sosok idaman banyak perempuan.Celebrity chef seperti Juan umumnya menjalin hubungan asmara dengan sesama selebritas. Namun, koki berwajah rupawan ini rupanya justru jatuh cinta pada jurnalis yang reputasi kariernya terbilang biasa-biasa saja.Namun, hanya segelintir yang tahu bahwa kesuksesan Juan merupakan efek bola salju dari sebuah artikel yang Freya tulis bertahun-tahun lalu.Kala itu, Freya ditugasi meliput aktivitas relawan dapur umum saat bencana banjir melanda wilayah ibu kota. Di tengah situasi serba darurat dan terbatas, mata jeli Freya menangkap sosok Juan yang entah mengapa
Setelah lima tahun, mestinya Juan tidak mengkhianati Freya.Setelah lima tahun, harusnya hubungan mereka tetap baik-baik saja.Setelah lima tahun, andai Juan tidak selingkuh, barangkali inilah waktu yang tepat untuk serius melangkah ke jenjang berikutnya.“Setelah lima tahun, kata siapa kamu boleh seenaknya begini?”Freya sesungguhnya sudah bersiap menghadapi situasi semacam ini. Berhubungan dengan seorang pemengaruh mau tak mau memang begini risikonya.Hanya saja, Freya tak menyangka privasinya bakal terusik secepat ini. Padahal, seharusnya masih nanti-nanti, minimal setelah ia membongkar perselingkuhan yang dilakoni Juan.“Maaf, ya, Sayang.”
Privat, tapi bukan rahasia.Freya dan Juan bukanlah pasangan yang gemar mengumbar kemesraan di media sosial. Bahkan, Freya sudah sangat lama tidak mengunggah foto atau video yang terang-terangan memperlihatkan wajah Juan, begitu pun sebaliknya.Dulu pernah ada, malah bisa dibilang lumayan banyak. Namun, semenjak popularitas Juan semakin bertambah, Freya merasa perlu lebih menjaga privasi.Freya tidak ingin kehidupannya disorot selayak figur publik. Cukup Juan saja yang jadi pusat perhatian karena itu memang bagian dari pekerjaannya. Freya tidak berharap orang-orang tertarik pada personanya juga.Keduanya lantas sepakat mengarsipkan semua foto dan video kebersamaan mereka. Juan dan Freya tidak sepenuhnya berhenti berbagi momen manis berdua. Hanya saja, saat melakukannya, jangan harap bisa melihat wajah Freya di unggahan Juan. Pria itu juga sudah bertahun-tahun tidak pernah menyebut akun Freya dalam unggahannya lagi.Meski demikian, semua orang di sekitar Juan dan Freya tahu bahwa sejo
Bagas melongo melihat banyaknya makanan yang ditenteng Freya saat kembali ke kantor. Reaksinya sungguh berbeda dibanding beberapa reporter yang langsung antusias meminta Freya segera membukanya.“Wah, kelihatannya enak banget!”“Padahal barusan makan, tapi rasanya jadi lapar lagi.”“Kak Rey, ini boleh dimakan semua?”Dibantu Bagas yang masih tidak berkomentar apa pun, Freya membuka satu per satu kotak makanan berisi aneka sushi yang tampak begitu menggugah selera.“Boleh, dong. Makan yang banyak, ya!”Saat orang-orang mulai asyik makan, barulah Bagas buka suara. “Ini yang dikasih cuma Kak Rey atau semua orang yang tadi ikut waw
Aryan tak bisa menghilangkan senyum kecil di bibirnya saat terbayang kelakuan Freya sebelum mengusirnya dari kamar beberapa saat lalu.“Sengaja banget menguji kesabaran pacarnya,” gumam Aryan sembari berjalan santai memasuki area bar atap hotel.Sekitar 10 menit lalu, tak lama setelah Aryan ditelep
Chika tersenyum melihat rombongan pelanggan yang baru saja datang. Ada lebih dari 10 orang yang kehadirannya seketika menyedot perhatian karena berisik minta ampun.Dua orang tampak berbicara dengan seorang pramusaji, bertanya soal ketersediaan meja. Lainnya asyik mengobrol sendiri, sebagian sambil
Freya tersenyum menatap Juan yang berdiri di hadapannya dengan wajah tertekuk. Situasinya terasa familiar, seperti sudah pernah terjadi sebelumnya, tetapi Freya lupa-lupa ingat.“Kenapa aku nggak boleh ketemu Sara?”Juan bertanya dengan nada curiga. Melipat kedua tangan di depan dada, pria yang ber
Freya tampak serius membaca artikel yang ditulis Wina secara keseluruhan. Kilat saja, tak sampai lima menit, tapi sudah lebih dari cukup untuk membuat si reporter gugup setengah mati.“Kamu nulisnya berapa lama, Na? Mulai dari bikin transkrip sampai jadi artikel yang cuma 300 kata lebih dikit ini.”







