Share

Bab 4 Janji & Jerat

Penulis: Lia Safitri
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-07 13:00:29

Ratna menarik napas dalam-dalam, berusaha meredakan sesak yang menghimpit dadanya.

Tak ada lamaran, tak ada pesta, tak ada tawa ataupun doa restu yang mengiringi hari yang seharusnya menjadi momen paling sakral dalam hidup seorang wanita.

Ia menikah di hadapan ayahnya yang terbaring lemah, dikelilingi tubuh para pelayan dan pengawal yang bersimbah darah.

Bahkan tidak ada gaun indah yang membalutnya, hanya kain sederhana yang telah terkena noda darah orang-orang yang dikasihinya.

Di tengah bau anyir yang menusuk dan lantai yang berlumur darah, prosesi singkat itu tetap terlaksana. Tanpa bunga, tanpa musik, hanya dinginnya udara dan tatapan tajam Panglima Rangga yang kini telah sah menjadi suaminya.

Entah pernikahan ini akan diakui negara atau tidak. Raja dan rakyat Jayamarta bahkan belum mengetahui kabar pernikahan mereka.

Namun Ratna tak peduli. Gelar barunya sebagai istri Panglima Rangga tak berarti apa-apa dibanding nyawa ayahnya.

Apa pun akan ia lakukan asalkan ayahnya tetap hidup, meski kini sang ayah harus hidup dalam pengasingan ditempat yang sudah disediakan oleh Panglima Rangga, agar jejak keberadaannya tak tercium oleh Raja Dursala maupun mata-matanya.

"Aku harus kuat… semua ini kulakukan demi ayahku!" batin Ratna, berusaha menerima takdirnya dengan lapang dada.

Panglima Rangga mengapit dagu Ratna yang kini telah resmi menjadi istrinya. Dengan lembut ia mendongakkan wajahnya, menuntunnya untuk bertatapan langsung dengannya.

Dia tak pernah menyangka, malam ini yang awalnya adalah misi untuk menghabisi Damar, justru membawanya pada takdir yang sama sekali tak ia duga.

"Aku sudah berjanji akan menjamin keselamatan ayahmu, selama kau menurut padaku!" ucap Rangga dengan suara tegas.

"Dengar baik-baik, istriku. Seorang kesatria bila telah berjanji, ia tak akan pernah sekalipun mengingkarinya, walau nyawanya harus menjadi taruhannya!"

"Jadi, selama kau mampu membuatku puas, aku akan melindungi ayahmu dengan segenap nyawaku. Dan suatu saat, jika aku berkenan, aku akan membawamu bertemu dengannya lagi."

Ratna menatap dalam mata Rangga, berusaha menyingkap kebohongan di balik tatapannya. Namun, dengan pengalaman yang minim, ia sulit membedakan mana yang benar dan mana yang hanya tipuan dari pria yang kini menjadi suaminya itu.

Ratna menghirup napas dalam, kemudian menatap suaminya lekat.

"Aku harap kau tidak berbohong padaku, Tuan Rangga. Aku akan menunggu saat kau mempertemukanku kembali dengan ayahku!"

Suara Ratna bergetar, tapi matanya penuh tekad.

"Jika kau berbohong dan suatu hal buruk terjadi pada ayahku, maka aku tidak akan ragu untuk pergi menyusulnya. Dan pada saat itu, kau tak punya hak lagi untuk mengikatku dalam pernikahan ini!"

Panglima Rangga menyeringai tajam, menatap istrinya yang sedang mencoba bernegosiasi dengannya.

"Aku pasti akan menepati janjiku! Jadi bersiaplah, Nona Ratna! Mari kita pulang ke tempat tinggal barumu, di kediaman Jala Wulung!" ucapnya sambil menggenggam tangan Ratna, lalu menariknya masuk ke dalam kereta kudanya.

Para pengawal rahasia Rangga yang turut menjalankan tugas hanya mampu mengikuti sang tuan dari belakang dengan langkah pelan. Mereka serentak menundukkan kepala, tak berani menatap gadis yang kini dalam sekejap berubah menjadi nyonya mereka.

Meski rasa ingin tahu membakar mata mereka untuk melihat sosok nyonya muda yang jelita, tak seorang pun berani mengangkat pandangannya. Kekaguman itu harus mereka telan dalam diam, jika tak ingin nyawa mereka melayang.

Sebab Rangga, sang tuan yang terkenal kejam, tak akan ragu menebas kepala siapa pun yang lancang menatap apa yang telah menjadi miliknya.

Kecantikan Ratna mampu menembus dinding hati Rangga, pria yang selama ini menutup diri dari wanita. Baginya, perempuan hanyalah makhluk lemah yang mudah menangis. Namun pesona Ratna perlahan meruntuhkan anggapan itu.

Ratna tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Panglima Rangga yang masih menggenggam tangannya ikut terhenti.

"Ada apa?" tanyanya dingin, wajahnya tetap datar, seakan tidak mengenal belas kasihan.

Perlahan Ratna menoleh, menatapnya dengan sorot mata sendu, sebelum akhirnya melepaskan genggaman itu dan berbalik hendak pergi.

"Berhenti menatap ke belakang!" ucap Rangga dingin, suaranya bergaung bak titah seorang raja. "Astana itu bukan lagi tempatmu! Mulai saat ini dan seterusnya, kediamanmu hanya di Paviliun ku!"

Ratna menundukkan wajahnya, sorot matanya dipenuhi kesedihan. Ia menarik napas panjang, dadanya terasa sesak saat bayangan kenangan di Astana itu berkelebat.

Kebersamaan dengan keluarga, canda para pelayan, prajurit hingga tawa para kesatria kebanggaan ayahnya. Kini semua lenyap, tak seorang pun tersisa selain sang ayah.

"Cepat masuk!" suara tegas Rangga memecah lamunannya, terdengar seperti perintah yang tak memberi ruang penolakan.

Ratna mengusap air matanya dengan gerakan tergesa, seolah ingin menghapus kelemahan di hadapan pria itu. Ia menoleh sekali lagi, menatap kediaman ayahnya untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kereta kuda yang menantinya.

Ratna meremas sisi gaunnya erat-erat, berusaha menahan amarah dan kesedihan yang nyaris meledak. Dadanya bergemuruh, terlebih saat menatap wajah suaminya, Panglima Rangga, yang tak menunjukkan secuil pun penyesalan atas apa yang telah terjadi.

Panglima Rangga mencondongkan tubuhnya, tatapannya menusuk tajam ke arah Ratna.

"Kau boleh membenciku, kau boleh marah sepuasmu!" suaranya berat, penuh tekanan.

"Tapi ingat baik-baik, istriku… sebesar apa pun amarahmu, kau tak akan pernah bisa melawanku!"

Ia menyeringai miring, senyumnya penuh ancaman.

"Aku akan menjeratmu dalam kehidupanku. Dan aku pastikan, kau tidak akan pernah menemukan jalan untuk melepaskan diri dariku!"

---

Matahari telah meninggi ketika kereta kuda berhenti di pelataran megah kediaman Panglima Rangga. Perjalanan panjang itu akhirnya membawa Ratna ke tempat yang kini harus ia sebut rumah.

Panglima Rangga turun lebih dulu, langkahnya mantap. Tanpa banyak kata, ia mengulurkan tangan, menawarkan bantuan agar istrinya turun dengan anggun.

Pernikahan mereka memang terjadi begitu mendadak, lahir dari rasa suka sepihak yang bersemayam di hati Rangga. Bahkan dirinya pun tak yakin, apakah itu bisa disebut cinta atau hanya keinginan untuk memiliki. Namun, satu hal yang ia tahu pasti, sekeras dan setegas apa pun dirinya, ia tidak berniat membiarkan Ratna terluka.

Di mata Rangga, Ratna laksana porselen berharga rapuh, indah, dan tak tergantikan. Ia tidak ingin goresan sedikit pun menodai kecantikan yang kini berada di hadapannya. Namun, kilatan tajam dalam sorot matanya menyiratkan satu hal, keindahan itu hanya akan tetap utuh selama Ratna menuruti kehendaknya.

Panglima Rangga bukanlah pria yang suka dibantah. Ia muak pada pemberontakan. Dan titahnya bukan sesuatu yang boleh dipatahkan. Bila Ratna berani melanggar, maka senyum dinginnya akan berganti menjadi neraka yang tak seorang pun ingin merasakannya.

Ratna menarik napas dalam, sebelum akhirnya menyambut uluran tangan suaminya dan melangkah turun dari kereta kuda.

"Hati-hati, istriku!" ucap Rangga.

Genggamannya terasa hangat, seolah menawarkan perlindungan. Namun semakin lama Ratna merasakannya, semakin jelas pula bahwa di balik kehangatan itu tersembunyi kekuatan yang tak bisa ditolak.

Ratna tidak tahu, apakah itu bentuk kasih sayang atau ancaman halus yang sedang menunggu saatnya untuk menjeratnya lebih dalam.

Rangga menatapnya sekilas, senyumnya tipis dan sulit ditebak. "Selamat datang di tempat tinggal barumu, Ratna. Ingatlah, setiap dinding di paviliun ini akan menjadi saksi, bahwa kau adalah milikku sepenuhnya!"

__

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 26 Jejak Darah di Tanah Jayamarta

    Panglima Rangga terus memacu kudanya, menjerumuskan diri lebih dalam ke hutan yang gelap dan lembap. Dedaunan basah memercik saat kuda itu menerjang semak-semak. Sementara Brahma, meski kelelahan, ia tetap memaksakan diri mengikuti tuannya di belakang. Sejak mereka memasuki hutan, tidak ada jeda, tidak ada istirahat, tidak ada kata cukup. Setiap hewan yang muncul di jalur mereka menjadi korban pelampiasan tanpa perlu alasan.Seekor kijang yang ketakutan melompat dari balik semak, tewas. Babi hutan yang menyeruduk karena panik, tertebas tanpa sempat menghindar. Bahkan seekor serigala besar yang berani menggeram pun runtuh begitu pedang Panglima Rangga melintas.Namun setelah sekian banyak darah menodai tanah, ekspresi sang panglima belum juga berubah. Tidak ada tanda puas apalagi lega, seolah setiap hewan yang tumbang hanyalah upaya sia-sia untuk membungkam sesuatu yang berteriak di dalam dirinya.Brahma, yang sejak awal mengikuti dari belakang, nyaris kehabisan tenaga. Keringat memba

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 25 Malam yang Sepi

    Panglima Rangga melangkah keluar dari ruang kerjanya ketika malam masih menggantung berat di langit. Lorong-lorong Paviliun sang Panglima dipenuhi cahaya redup dari lampu minyak, membuat bayangannya memanjang dan bergerak mengikuti setiap langkahnya.Udara dingin menusuk, namun justru itu yang ia butuhkan untuk menenangkan pikirannya sebelum berangkat berburu sekaligus memeriksa keamanan wilayah kerajaan bersama Brahma.Namun, langkah Rangga terhenti ketika ia melewati pintu kamarnya.Pintu kayu itu tertutup rapat, seakan memisahkan dunia luar dari sosok rapuh yang tertidur di dalamnya. Panglima Rangga menatap pintu itu lama, rahangnya mengencang perlahan.Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Banyak hal yang ingin ia perbaiki, namun semua itu harus ia tunda. Untuk saat ini, yang bisa ia lakukan hanyalah menjaga jarak agar ketakutan Ratna tidak bertambah dan memastikan tidak ada bahaya yang mendekati wanita itu. Setelah beberapa saat, ia mengalihkan pandangannya dan kembali berjalan

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 24 Malam Penuh Kegelisahan

    Malam turun perlahan di Paviliun Panglima. Angin dingin menelusup masuk melalui kisi-kisi jendela ruang kerja tempat Rangga berdiri seorang diri. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu minyak di mejanya, memantulkan bayangan panjang di dinding, seolah ikut mengawasi kegelisahan tuannya.Sudah berjam-jam ia di sana, namun pikirannya tetap tertahan pada sosok Ratna yang masih tak sadarkan diri sejak siang."Mengapa kau begitu rapuh, Ratna? Atau… tanpa kusadari aku yang terlalu kejam padamu?"Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, berulang, mengganggunya lebih dari luka apa pun yang pernah ia terima di medan perang.Panglima Rangga memijit pelipisnya, mencoba mengusir kegelisahan yang bahkan tidak ingin ia akui sebagai rasa khawatir. Namun setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Ratna yang terkulai di pelukannya kembali muncul, lemah, pucat, dan sama sekali tak berdaya.Ketukan di pintu memutus lamunannya. "Masuk!"Seorang pengawal masuk, membungkuk, kemudian menyodorkan gulungan

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 23 Canda yang Membuka Luka

    Panglima Rangga terdiam sejenak, menatap wajah Ratna yang masih menunduk dalam diam. Lalu suaranya kembali terdengar, berat dan penuh penegasan."Dan satu lagi," ujarnya perlahan, tapi tajam. "Kau harus mengenakan cadarmu! Selama yang berhadapan denganmu bukan aku atau ayahmu, jangan pernah memperlihatkan wajahmu!"Ratna menatapnya bingung, namun Rangga sudah lebih dulu menambahkan, "Lakukan seperti apa yang dulu diajarkan ayahmu," lanjutnya lebih pelan, "Hanya saja… bedanya, kali ini ada aku."Rangga menunduk sedikit, jemarinya terulur, menyentuh lembut dagu Ratna hingga gadis itu menengadah menatapnya."Ada aku," suaranya merendah, nyaris berbisik. "Yang berhak menatapmu… menyentuhmu… dan memiliki dirimu sepenuhnya!"Ratna menggigit bibir bawahnya, berusaha menyembunyikan rasa canggung dan takut yang terus menghimpit dadanya. Perlahan, ia pun mengangguk."Baik, Tuan. Tapi aku tidak memiliki cadar seperti yang selama ini aku gunakan. Aku... tidak sempat membawa apa pun dari kediama

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 22 Penyamaran?

    Cahaya siang menembus tirai tipis, menebar kehangatan di lantai kayu yang mengkilap. Ratna berdiri di dekat jendela, menatap ke arah halaman yang ramai. Para prajurit tampak berlatih di bawah terik matahari, sementara para pelayan berlalu-lalang membawa kendi air dan keranjang bunga.Namun, bagi Ratna, semua itu terasa jauh. Ia hanya memandang, tanpa benar-benar melihat.Langkah berat terdengar mendekat di belakangnya. Panglima Rangga baru saja masuk, masih mengenakan pakaian latihan dengan pedang yang tergantung di pinggangnya. "Kau terlihat murung hari ini," ucapnya sambil memperhatikan istrinya yang terdiam di sisi jendela. "Apakah kau merindukan ayahmu, Ratna?"Rangga mendekat, memperhatikan Ratna yang masih diam membisu. "Semalam aku mendengar, kau mengigau memanggil-manggil ayahmu dalam tidurmu?" ucap Rangga lagi. Ratna tersentak pelan. Ia menoleh, menatap Rangga dengan mata yang sedikit membesar, "Aku… Aku tidak sadar telah melakukannya, Tuan," ujarnya pelan. "Mungkin hanya

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 21 Siasat Panglima, Amarah Raja

    Brahma berdiri kaku di samping Tuan Suryadipa, wajahnya tegang, pikirannya berputar cepat mencoba mencerna percakapan yang baru saja terjadi diantara keduanya. Namun belum sempat ia memahami semuanya, suara berat Panglima Rangga kembali terdengar,"Brahma! Temui Raja Dursala, katakan padanya bahwa putri Tuan Suryadipa adalah kekasihmu dan kau akan menikahinya. Gagalkan rencananya sebelum gadis itu dijemput utusan istana!" ucapnya datar namun tegas. "Jadi saya hanya perlu menggagalkan rencana Raja tanpa harus benar-benar menikahi putri Tuan Suryadipa, begitu, Tuan?" tanya Brahma hati-hati."Nikahi dia! Kau pikir Raja Dursala tidak akan menyelidiki masalah ini?" jawab Rangga tegas. Brahma menelan ludah, wajahnya menegang. "Tuan… bagaimana bisa saya menikah dengan putri bangsawan sepertinya? Saya hanya...""Cukup!" potong Rangga cepat, "Ini perintah, Brahma! Bukan tawaran!"Brahma terdiam seketika. Napasnya terasa berat, namun akhirnya ia menunduk dalam dan berkata pelan, "Baik, Tuan."

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status