Share

{Bab 2} Tuduhan Penyihir

last update Last Updated: 2026-01-05 16:27:14

Ksatria itu segera melangkah maju dan berlutut di hadapan pria berjubah gelap tersebut. Lututnya menghantam tanah dengan suara berat, menunjukkan keseriusan situasi.

“Lapor, yang mulia.” Ksatria itu menundukkan kepala lebih dalam. “Wanita ini berlari kemari dengan terburu-buru. Dia terlihat mencurigakan. Ditakutkan, dia adalah bala bantuan yang dikirim untuk menyerang kami yang sudah terluka.”

Ujung senjata para ksatria masih terarah ke tubuh Alianne. Udara di sekitarnya terasa menekan, seolah satu gerakan salah saja bisa mengakhiri segalanya.

“Bu- bukan! Aku benar-benar hanya rakyat jelata,” ucap Alianne, membela diri. Kini ia tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikan di wajahnya. Napasnya tersengal, tangannya gemetar di sisi tubuhnya.

Langkah kaki berat terdengar mendekat.

Aldren, pria bertubuh tinggi itu berjalan ke arahnya dengan tenang. Setiap langkahnya mantap, tanpa ragu, tanpa tergesa. Ia berhenti tepat di hadapan Alianne.

Cahaya matahari terhalang oleh tubuh Aldren, menelan Alianne sepenuhnya ke dalam bayangannya. Sosok itu menjulang, membuatnya terasa kecil dan rapuh, seolah satu keputusan dari pria ini cukup untuk menentukan hidup dan matinya.

Alianne meneguk salivanya sendiri dengan panik. Tenggorokannya kering, dadanya terasa sesak. 'Sepertinya ini kesalahan besar. Seharusnya aku tidak ke sini.' Ia menundukkan kepala semakin dalam, pandangannya tertancap pada tanah.

Di dalam kepalanya, sumpah serapah mengalir deras, semuanya ditujukan pada alur cerita game yang ia kutuk setengah mati. 'Lagi pula di game tidak ada adegan seperti ini! Game hanya fokus mengambil sudut pandang peran utama hingga karakter lain hampir tidak pernah diceritakan sama sekali.'

“Kau terluka?” tanya Aldren dengan lembut, kontras dengan suaranya yang berat dan sedikit serak.

Pertanyaan itu menghantam Alianne lebih keras dari ancaman apa pun.

Alianne tersentak. Ia dengan cepat mengangkat wajahnya, menatap Aldren dengan tatapan bingung dan terkejut. Ia tidak melihat kemarahan, tidak pula niat membunuh, hanya sepasang mata hijau gelap yang dingin, namun jernih.

Aldren berbalik. Tanpa sepatah kata tambahan, ia kembali naik ke atas kereta kudanya. “Istirahatlah dulu di sini jika ingin. Kami tidak akan melukaimu.”

“Yang mulia! Tapi dia—”

Belum sempat ksatria itu menyelesaikan kalimatnya, Aldren menoleh. Tatapan tajam itu cukup untuk membuat udara di sekitarnya membeku. Pupil hijau gelap tersebut menekan tanpa perlu kata-kata.

Ksatria itu terdiam seketika.

“Hery, sudah berapa kali aku katakan kepadamu? Kita tidak boleh menyerang warga sipil.” Aldren kemudian menoleh ke belakang, ke arah Alianne. “Meski warga sipil itu berasal dari kerajaan yang melanggar perjanjian gencatan senjata tepat setelah perjanjian itu disahkan.”

Dengan itu, Aldren masuk kembali ke dalam kereta kuda.

Alianne berdiri terpaku. Jantungnya berdetak tak karuan. 'Apa maksudnya ini? Kerajaan Valtarian dan kerajaan Aurenthia melakukan perjanjian gencatan senjata tapi kerajaan Aurenthia melanggarnya?'

Pikiran Alianne berputar cepat, menyusun potongan-potongan informasi yang baru saja ia dengar. 'Kalau begini, Aldren Valtazar kemungkinan besar bukan vilain! Vilain sesungguhnya memang MC game ini, ratu Seraphine Veyna Athenaeum.'

Belum sempat ia mencerna semuanya, tirai kereta kembali tersibak.

Tubuh Alianne menegang saat Aldren keluar lagi, kali ini membawa sebotol wine dengan botol kaca tebal yang berkilau di bawah cahaya matahari. Bahkan dari kejauhan, benda itu tampak mahal, terlalu mahal untuk dibawa dalam perjalanan perang.

“Minumlah, kau pasti merasa haus setelah berlari.”

Alianne membeku. Tangannya refleks mundur selangkah. Kepalanya dipenuhi kebingungan antara menolak dan takut menyinggung. “Ti- tidak, itu... Saya tidak minum.”

Aldren menunduk sedikit, menatapnya sekilas. Lalu ia mengangguk kecil, seolah baru memahami sesuatu. “Maaf, kau masih di bawah umur, ya?”

Alianne terdiam. Kata-kata itu justru membuat pikirannya semakin kacau.

'Umur? Di dunia asalku, usiaku sudah dua puluh empat tahun. Aku mahasiswi semester akhir. Sementara tubuh ini, sepertinya memang seperti masih usia tujuh belas sampai dua puluh tahun.'

“Ada apa? Kenapa diam saja?” tanya Aldren dengan lembut.

Alianne tersentak dan segera mengganti topik, tidak ingin tenggelam lebih jauh dalam kebingungannya sendiri.

“Omong-omong, apa yang terjadi di sini?”

Aldren terdiam sejenak. Pandangannya beralih ke sekeliling, ke arah para ksatria yang duduk atau terbaring di padang rumput. Darah mengering, baju zirah penyok, napas tertahan oleh rasa sakit.

“Seperti yang kau lihat.”

Alianne mengikuti arah pandangnya. Ksatria-ksatria itu tampak kelelahan, beberapa memegangi luka, beberapa lainnya menunduk menahan rasa sakit. Ia kembali menatap Aldren, mendengarkan dengan saksama.

“Kami baru saja menandatangani perjanjian gencatan senjata dari Kerajaan Aurenthia. Namun, kami diserang secara tiba-tiba oleh Ksatria kerajaan Aurenthia. Mereka juga menculik tabibku. Sekarang, kami tidak bisa melanjutkan perjalanan karena banyak Ksatria yang terluka.”

Mata Alianne membulat. Dadanya terasa panas. Tanpa sadar, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Amarah pada ratu Kerajaan Aurenthia membuncah, mengendap menjadi tekad yang dingin.

Ia mengangkat wajahnya dan menatap Aldren dengan sorot mata yang berubah.

“Persediaan wine milikmu masih banyak? Kita bisa menggunakannya untuk menyembuhkan para Ksatria!”

Aldren menatap Alianne cukup lama. Tatapannya sulit diartikan. Antara ragu, tertarik, dan waspada. Akhirnya, ia mengulurkan botol wine itu.

“Silakan tunjukkan terlebih dahulu pada luka di kakimu!”

Tanpa ragu, Alianne menerima botol tersebut. Ia duduk di padang rumput, menarik kain roknya sedikit, memperlihatkan kaki yang lecet dan memerah akibat sandal jerami.

“Di sini sepertinya tidak ada kapas, ya? Jika memakai kain dari pakaian, takutnya malah infeksi. Tapi kalau wine ini langsung dituangkan begitu saja, banyak terbuang.”

Aldren mendengarkan semua gumaman itu tanpa menyela. Dengan nada santai, ia berkata, “Wine itu adalah hadiah dari ratu Seraphine setelah menandatangani perjanjian gencatan senjata. Habiskan saja jika kau mau. Aku juga tidak berniat meminumnya. Jika masih kurang, di dalam kereta kuda masih banyak.”

Alianne tersenyum tipis. Senyum kecil yang mengandung kepuasan pahit.

“Bagus! Aku tidak perlu merasa rugi.”

Ia menuangkan sedikit wine ke luka di kakinya.

Cairan itu menyentuh kulit yang terbuka.

Alianne meringis dan memejamkan mata. “Perih...”

“Kau baik-baik saja?” tanya Aldren. Tatapannya masih datar, namun ada sesuatu di balik sorot mata hijau gelap itu. Kekhawatiran yang tidak ia ucapkan dengan kata-kata.

Alianne mengangguk pelan. Gerakannya kecil, hampir tak terlihat. “Ya, rasanya agak sedikit perih. Tapi ini lumayan untuk membersihkan luka.”

“Tahu dari mana wine bisa digunakan untuk membersihkan luka? Apa kau seorang tabib?” tanya Aldren. Ekspresinya tetap dingin, namun kini ada kewaspadaan yang jelas.

Pertanyaan itu membuat dada Alianne terasa mengencang. Ia terdiam. Di kepalanya, berbagai kemungkinan beradu dengan cepat.

'Jadi, jawaban apa yang seharusnya aku ambil? Jika aku mengiyakan, artinya aku harus tahu semua jenis pengobatan tradisional di dunia ini. Sementara aku bukan berasal dari jurusan farmasi. Jika aku mengaku bukan tabib, jawaban apa yang aman agar dia tidak menuduhku penyihir?'

Keheningan itu memanjang.

Aldren tidak mengatakan apa pun. Namun tatapannya semakin intens, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak kasat mata.

'Wanita ini sepertinya membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaan mudah. Sepertinya dia benar-benar bukan dari dunia ini.'

“Tentu saja tidak!” jawab Alianne akhirnya. Senyum canggung terlukis di wajahnya, terlalu cepat, terlalu dipaksakan. “Aku hanya mempelajarinya dari kampung halamanku. Jika luka, kami memang memakai alkohol antiseptik untuk membersihkan luka. Karena tidak ada, sepertinya wine juga tidak masalah.”

Aldren mengangguk pelan, seolah menerima penjelasan itu. Tanpa berkata lebih jauh, ia berbalik dan berjalan ke arah kereta kuda. Tirai disingkap, lalu sosoknya menghilang sesaat di dalamnya.

Tak lama kemudian, Aldren keluar kembali dengan beberapa botol wine di tangannya. “Hary!” panggil Aldren kepada salah seorang ksatria.

“Ya, yang mulia!” jawab Hery sigap, berdiri di depan kereta kuda.

Tanpa ragu, Aldren melepas jubah rajanya. Kain berat itu meluncur jatuh, disusul gerakan tangan yang perlahan membuka bagian baju dalamnya.

Tubuhnya terekspos sepenuhnya.

Mata Hery dan Alianne membulat bersamaan.

Dada dan leher Aldren dipenuhi bekas luka. Ada yang telah memudar, ada pula yang masih jelas terukir di kulitnya. Luka-luka itu bukan sekadar goresan kecil, melainkan bekas pertempuran besar yang tak terhitung jumlahnya. Di bahu bagian belakang, sebuah luka robek akibat goresan pedang tampak masih terbuka, merah dan basah.

“Tolong tuangkan wine ke luka di tubuhku!”

Hery menelan ludah. Tangannya bergetar saat memegang botol wine. “Yang mulia yakin soal ini?” tanyanya ragu.

Aldren menjawab singkat, tanpa keraguan. “Ya.”

Cairan wine mengalir membasahi luka terbuka itu.

Namun ekspresi Aldren tidak berubah sedikit pun. Tidak ada desisan napas, tidak ada kerutan kesakitan. Seolah rasa perih itu sama sekali tidak berarti baginya.

“Ba- bagaimana, yang mulia? Apa ada yang sakit?” tanya Hery dengan suara cemas.

Aldren hanya meraih kembali pakaiannya dan bersiap mengenakannya.

Namun sebelum kain itu benar-benar menyentuh kulitnya, Alianne bergerak cepat.

“Tunggu, yang mulia!”

Aldren berhenti. Ia menoleh sedikit ke arah Alianne, sorot matanya mengandung rasa penasaran. “Apa lagi tips pengobatan dari kampung halamanmu?”

“Karena pakaian yang mulia masih kotor dan basah dengan darah, sebaiknya jangan dipakai dulu untuk menghindari infeksi,” jawab Alianne dengan lantang, suaranya tegas meski jantungnya berdegup kencang.

Aldren menatapnya sesaat, lalu mengangguk. “Baiklah.” Ia menyimpan pakaiannya kembali ke dalam kereta kuda. Setelah itu, ia menyerahkan beberapa botol wine kepada Hery.

“Ini, tuangkan wine pada luka para Ksatria dan jangan biarkan mereka memakai armor mereka untuk sementara.”

“Baik, yang mulia!” jawab Hery, segera menerima botol-botol itu dan membagikannya kepada para ksatria yang terluka.

Aldren kembali berdiri di hadapan Alianne. Tatapannya kembali tertuju padanya, dingin namun penuh tanda tanya. “Soal kampung halamanmu—”

“Itu penyihirnya! Tangkap dia!” Teriakan itu menghantam udara seperti petir.

Seorang ksatria yang sebelumnya membawa Alianne ke kereta kuda, berteriak sambil maju ke depan. Dalam sekejap, dua pedang terhunus dan diarahkan ke kanan dan kiri tubuh Alianne.

Refleks mengambil alih.

Alianne langsung mengangkat kedua tangannya, napasnya tersengal.

'Ga- gawat! Aku terlalu santai! Harusnya aku tidak berhenti berlari lebih jauh ke Utara!'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 7} Asumsi Otak Manusia Ketakutan

    Api obor berderak pelan, memantulkan bayangan panjang di dinding penjara bawah tanah yang lembap dan berlumut. Bau darah, besi berkarat, dan tanah basah bercampur menjadi satu, menyesakkan napas siapa pun yang berada di dalamnya. Dua orang ksatria Aurenthia berdiri terikat pada tiang besi, tubuh mereka penuh luka cambukan yang belum sempat mengering sempurna.Kepala salah satu dari mereka terangkat dengan susah payah. Napasnya tersengal, suaranya bergetar saat akhirnya menjawab."Ha- hanya misi untuk menangkap penyihir!" jawab salah satunya.Aldren berdiri beberapa langkah di depan mereka, tubuhnya tegap, bayangannya menjulang di dinding batu. Tatapannya dingin, nyaris kosong, seolah dua orang di hadapannya bukanlah manusia, melainkan sekadar variabel yang harus diselesaikan."Jelaskan!" Aldren memerintah. Nadanya tenang dan dingin. Namun, itu yang membuatnya sangat mengerikan.Ksatria itu menelan ludah, menahan perih di tenggorokannya. "Kami hanya diperintah untuk menangkap beberapa

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 6} Rencana Menyerahkan Bukti

    Alianne melangkah dengan santai, membawa secangkir teh itu seolah isinya hanyalah minuman biasa. Cairan di dalamnya beriak pelan mengikuti langkah kakinya, memantulkan cahaya redup dapur. Sikapnya yang terlalu tenang justru terasa ganjil, berbanding terbalik dengan situasi yang baru saja mereka saksikan.Serin akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Jantungnya berdebar kencang saat ia menyusul Alianne, langkahnya tergesa. Ia mendekat dan berbisik dengan suara gemetar. "Alianne, apa benar ini mau diberikan pada yang mulia?" tanyanya dengan ragu."Tentu saja iya!" jawab Alianne tanpa ragu.Serin langsung membuka matanya lebar, wajahnya memucat. "Alianne, yang benar saja! Kau mau meracuni calon suamimu sendiri?" tanyanya dengan terkejut.Alianne justru terkejut mendengar tuduhan itu. Alisnya terangkat, langkahnya terhenti sejenak. "Untuk apa aku meracuni seseorang? Itu ilegal!""Lalu-"Sebelum Serin sempat melanjutkan kalimatnya dan menarik perhatian lebih banyak orang di dapur yan

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 5} Istana Obsidian

    Alianne tidak merasa panik. Tidak ada jantung berdebar berlebihan, tidak ada napas tercekat. Ia hanya membalikkan tubuhnya sedikit, menatap Aldren dengan senyuman mengejek yang tenang, seolah sedang menilai hasil pemikirannya sendiri. “Walaupun hidup di dunia patriarki, rupanya pemikiranmu tidak ikut seperti itu.”Tatapan Aldren tidak berubah. Namun roda kereta kuda tiba-tiba berhenti, disusul hentakan kecil ketika dua ekor kuda penariknya ikut menghentikan langkah. Getaran halus menjalar ke lantai kereta, menandakan perjalanan mereka telah usai.Kereta kuda itu berhenti tepat di depan istana Obsidian.Sebuah bangunan raksasa menjulang di hadapan mereka, mendominasi pandangan dengan warna hitam pekat. Batu obsidian berwarna gelap membentuk dinding-dinding tebal yang tinggi, menyerap cahaya matahari sore alih-alih memantulkannya. Istana itu tidak berkilau, tidak memikat mata dengan kemewahan, ia berdiri seperti bayangan masa lalu yang keras, dingin, dan tak tergoyahkan.Sepasang mata c

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 4} Perjanjian Pranikah

    Kereta kuda yang mengangkut Alianne dan Raja Aldren perlahan bergerak ke arah Utara.Derit roda kayu terdengar berirama, memecah keheningan padang rumput yang mulai ditinggalkan. Kereta yang sebelumnya tersembunyi di antara semak-semak, kini keluar menuju sebuah jalan berbatu yang panjang dan luas, jalur utama yang jelas sering dilalui rombongan besar. Setiap guncangan roda terasa nyata, seolah menandai bahwa Alianne benar-benar sedang menjauh dari kehidupan lamanya.Di luar kereta, belasan pasukan ksatria Aldren berjalan mengawal dengan formasi rapi. Langkah mereka serempak, armor logam beradu pelan satu sama lain. Dua orang sandera dari Kerajaan Aurenthia diseret di tengah barisan, tangan mereka terikat, wajah mereka tegang menahan takut dan malu.Di dalam kereta kuda, suasananya jauh lebih sunyi.Aldren duduk bersandar, satu lengannya bertumpu santai, namun sorot matanya tak pernah lepas dari Alianne. Sejak tadi, gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Alianne justru menat

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 3} Rakyat Jelata Menjadi Istri Raja

    Alianne membulatkan matanya. Napasnya tercekat saat menatap sosok besar yang berdiri di depan tubuhnya. Meski tubuh itu dipenuhi luka, bekas pertempuran yang belum sepenuhnya kering, kehadiran pria itu justru terasa seperti tembok raksasa yang menutup jalan keluar.“Ada apa ini? Kenapa kalian mengacungkan senjata kalian pada warga sipil?” Nada suaranya terdengar tegas, meski dadanya berdegup kencang.Dua ksatria yang sebelumnya mengarahkan pedang ke tubuh Alianne langsung bergerak serempak. Dengan gerakan cepat dan terlatih, mereka berlutut di hadapan Aldren, kepala tertunduk dalam-dalam sebagai tanda kepatuhan mutlak.“Yang mulia, maaf atas kelancangan kami pada kerajaan Valtarian. Namun, ini adalah perintah langsung dari yang mulia ratu kami.”“Benar, yang mulia,” sahut ksatria satunya lagi. “Ratu kami memerintahkan kami untuk membasmi para penyihir yang berbahaya untuk kelangsungan hidup masyarakat di kerajaan kami.”“Penyihir?” gumam Aldren, pelan.Satu kata itu jatuh ke udara sep

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 2} Tuduhan Penyihir

    Ksatria itu segera melangkah maju dan berlutut di hadapan pria berjubah gelap tersebut. Lututnya menghantam tanah dengan suara berat, menunjukkan keseriusan situasi.“Lapor, yang mulia.” Ksatria itu menundukkan kepala lebih dalam. “Wanita ini berlari kemari dengan terburu-buru. Dia terlihat mencurigakan. Ditakutkan, dia adalah bala bantuan yang dikirim untuk menyerang kami yang sudah terluka.”Ujung senjata para ksatria masih terarah ke tubuh Alianne. Udara di sekitarnya terasa menekan, seolah satu gerakan salah saja bisa mengakhiri segalanya.“Bu- bukan! Aku benar-benar hanya rakyat jelata,” ucap Alianne, membela diri. Kini ia tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikan di wajahnya. Napasnya tersengal, tangannya gemetar di sisi tubuhnya.Langkah kaki berat terdengar mendekat.Aldren, pria bertubuh tinggi itu berjalan ke arahnya dengan tenang. Setiap langkahnya mantap, tanpa ragu, tanpa tergesa. Ia berhenti tepat di hadapan Alianne.Cahaya matahari terhalang oleh tubuh Aldren, menelan Al

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status