Share

Bab 2: Remi Menikah

last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 16:27:14

Eryas duduk di sofa ruang tamunya. Tubuhnya bersandar lemas, sementara lengannya menutupi kedua mata, seolah ingin menahan dunia agar tidak masuk ke dalam pikirannya.

“Hah...” helaan napasnya terdengar berat, seperti seseorang yang sedang berusaha keras untuk tidak ikut terseret dalam kegilaan yang mengelilinginya.

Beberapa saat kemudian, ia duduk tegak. Tangannya mengambil lembaran surat kontrak pernikahan yang sebelumnya diberikan Renaldi. Ia membacanya ulang, mata tajamnya menelusuri tiap kata dengan tatapan kosong.

"Eira Ranieri..." gumamnya pelan. “Usianya memang sudah dewasa, dua puluh delapan tahun... tapi tubuhnya—kurus, kecil, seperti remaja. Apa orang tua sialan itu bahkan tidak memberinya makan yang layak?”

Kepalanya kembali bersandar, tatapannya menembus langit-langit rumah.

“Siapa yang peduli?” desisnya, lirih namun penuh tekanan. “Pikirkan nasibku sendiri. Bagaimana bisa aku menghamili seorang perempuan yang bahkan... mungkin tidak akan mengerti kenapa perutnya membesar nanti?”

Ia memejamkan mata. Napasnya mulai tak beraturan, terpaksa ia bernapas lewat mulut, seolah paru-parunya menolak bekerja sama.

“Apa... tidak ada cara lain?” bisiknya.

Kembali duduk tegak, ia menyangga dagunya dengan kedua tangan. Pikiran-pikiran berkelebat di benaknya. “Yah... aku sudah sering berhadapan dengan makhluk aneh sepanjang hidupku. Tapi... menghamili seorang wanita? Seorang gadis yang bahkan tak stabil mentalnya?”

Ia menggeleng pelan, lalu menenggelamkan tubuhnya kembali ke dalam sandaran sofa.

“Sialan!” serapahnya lirih. “Itu adalah hal paling menjijikkan yang tidak akan pernah mau aku lakukan. Terlebih lagi, wanitanya adalah...” Ia mengatupkan rahang. “Seseorang yang berkebutuhan khusus.”

Tring!

Suara notifikasi ponsel memotong keheningan. Layar menampilkan satu nama: Pejabat Busuk.

Eryas meraihnya. Matanya menyipit membaca pesan yang masuk.

“Jangan tidur terlalu malam! Ingatlah! Besok adalah hari yang penting untuk kita semua agar kita menjadi keluarga.”

Ia menatap ponsel itu seolah sedang menatap bangkai busuk.

“Sekarang... aku benar-benar sudah muak.”

---

Keesokan harinya.

Di altar pernikahan sederhana yang didirikan di halaman belakang rumah Renaldi, suasana terasa ganjil. Terlalu sunyi untuk sebuah pernikahan. Terlalu dingin untuk sebuah kebahagiaan.

Eryas berdiri dengan setelan jas hitam pekat yang menyatu sempurna dengan rambut dan sorot mata hitamnya. Ia terlihat seperti pangeran dari negeri dongeng kelam—gagah, dingin, dan tidak bahagia.

Di sampingnya berdiri Eira. Gadis yang kini penampilannya jauh lebih manusiawi dibanding saat pertama kali Eryas melihatnya. Meski berusia 28 tahun, tubuh ringkihnya masih tampak seperti remaja 18 tahun yang baru dilepas dari kurungan.

Rambut putihnya terurai indah, menciptakan kontras mencolok dengan gaun pengantin berwarna putih gading yang membungkus tubuhnya. Pupil matanya merah, menatap dunia di sekitarnya dengan kekosongan penuh peringatan—seolah menahan sesuatu yang bisa meledak kapan saja.

Eryas menghela napas lagi. Entah ke berapa kalinya hari itu. Ia tidak tahu lagi harus kecewa pada siapa. Dunia? Dirinya sendiri?

Acara pernikahan yang terasa lebih seperti pemakaman batin itu akhirnya selesai setelah dua jam. Ringkas, tanpa banyak tamu, tanpa senyum, tanpa harapan.

Dan kini, Eryas Ardianza dan Eira Ranieri resmi menjadi suami istri.

---

“Selamat, Eryas Ardianza! Kini kau resmi menjadi menantuku!” ucap Renaldi dengan seringai puas, menjulurkan tangan untuk berjabat.

Eryas, yang untuk entah ke berapa kalinya hari ini menarik napas dalam-dalam, menyambut jabatan itu dengan wajah datar. Dalam kepalanya, suara amarah dan frustrasi nyaris tidak bisa dibendung. "Ya, saya juga ikut senang." Ucapannya terdengar hampa.

Renaldi menoleh ke sekeliling. “Omong-omong, di mana Eira?”

Eryas ikut menoleh ke arah belakang. Di sana, Eira terlihat duduk bersila di lantai, dengan santainya memakan kue pernikahan seperti anak kecil. Wajah dan gaun pengantinnya penuh noda krim. “Dia sedang makan. Biarkan saja.”

Renaldi mendesah, melihat betapa kotor gaun pengantin itu karena ulah putrinya sendiri. “Astaga... Anak ini benar-benar merepotkan.”

Namun, dengan cepat ia menyembunyikan rasa kesal itu di balik senyumannya dan kembali menjabat tangan Eryas. “Jangan marah padanya, ya. Kau tahu, Eira itu agak sedikit... spesial.”

Eryas hanya membalas dengan helaan napas—lebih berat, lebih dalam, seolah kesabarannya benar-benar sudah sampai batas.

Dengan nada datar ia bergumam, “Padahal Anda sendiri yang suka memarahinya.”

Renaldi mengerutkan dahi. “Apa yang kau katakan, Eryas?”

“Saya akan membantu Eira membersihkan dirinya dulu.” ucapnya cepat, menghindari konfrontasi lebih lanjut. Ia segera melangkah ke arah Eira yang masih menikmati kuenya dengan berantakan seperti balita.

“Sudah selesai makannya?” tanya Eryas, merendahkan tubuhnya di depan gadis itu.

“Hngh!” Eira menggeleng cepat, mulutnya masih penuh, memberi isyarat bahwa ia belum selesai.

Renaldi hanya tertawa kecil sambil berjalan melewati mereka. “Kalau kalian sudah selesai, jangan lupa bawa Eira pulang ke rumahmu, Eryas!”

Eryas tak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang lagi—napas yang sarat dengan tekanan.

Tiba-tiba Eira menatapnya. Tatapan itu kosong namun tajam, seperti mata anak kecil yang tengah menyelidiki sesuatu yang asing. Pupil merahnya mengamati wajah Eryas, seolah ingin menggambar garis-garis wajah suaminya dalam benaknya.

Eryas tersenyum kecil, terpaksa. “Aku Eryas, suamimu.”

“Hm?” Eira mengerutkan alis, bingung.

“Tentu saja kau tidak akan mengerti...” gumam Eryas lelah, lebih kepada dirinya sendiri. “Yang penting sekarang...”

Dengan satu gerakan ringan, Eryas mengangkat tubuh kurus Eira seperti menggendong anak kecil. “Ayo kita pulang ke rumahku. Kita bersihkan tubuhmu di sana.”

Eira tidak berkata apa-apa, tidak juga melawan. Sebaliknya, gadis itu malah tersenyum. Senyum sederhana namun manis, sangat kontras dengan wajah dan tubuhnya yang kotor karena krim kue.

Eryas menoleh sejenak, sempat terpaku. Untuk alasan yang bahkan tidak ingin ia pikirkan, senyum itu... membuat telinganya sedikit memerah.

Ia menggeleng cepat, berusaha mengabaikan perasaan itu.

Di dalam mobil, Eryas meletakkan Eira di kursi belakang sebelum berpindah ke kursi kemudi. Eira berbaring diam, menatap kosong ke langit-langit mobil seperti boneka tanpa jiwa.

Eryas melirik ke arah kaca spion atas, memantau gerakan Eira. Namun gadis itu hanya terdiam, tak menunjukkan tanda-tanda ingin memberontak.

"Anak itu begitu tenang dan patuh... Sepertinya aku masih bisa menanganinya..." pikirnya.

Namun ketenangan itu tak bertahan lama.

“Hiks... Hiks...” Terdengar isakan pelan dari kursi belakang. Seketika, Eryas menginjak rem dengan mendadak. Mobil berhenti di pinggir jalan.

“Apa? Ada apa?” serunya panik, menoleh ke belakang.

“Huwaa...” Eira menangis semakin keras. Air matanya mengalir deras di pipinya yang masih belepotan sisa kue.

Tanpa pikir panjang, Eryas keluar dari mobil, bergegas membuka pintu belakang, dan memeluk tubuh Eira yang gemetar.

Namun saat pelukannya mengenai punggung gadis itu—ia langsung tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ia mendesah, kali ini bukan karena marah, tapi karena lelah yang tak tertahankan. “Astaga... Ternyata dia mengompol.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 53: Tawaran Pendidikan

    Nomor 190 menoleh cepat ke belakang begitu mendengar suara Darius yang menyebut Eryas terluka. Matanya membelalak, seolah tersadar sesuatu. Pandangannya jatuh pada noda merah samar di punggung baju Eryas. Rasa bersalah seketika menggerogoti dadanya, membuat tenggorokannya tercekat."Ti- tidak, kak! Tidak sama sekali. Sepertinya ini karena luka sebelumnya yang aku dapatkan saat masih tinggal bersama orang tua—" ucap Eryas terbata, mencoba menutupi kebenaran.Sebelum kalimatnya selesai, Darius sudah menarik tubuh kecil itu dan memeluknya erat. Bahunya bergetar, air mata jatuh satu per satu, membasahi rambut Eryas."Eryas, jadi ayahmu juga sering memukulmu? Kau juga bernasib sama denganku? Betapa malangnya dirimu. Padahal kau masih sangat kecil." Suaranya pecah, penuh getir. Perlahan, dia melepas pelukan itu hanya untuk mengusap kepala bocah mungil tersebut dengan lembut, seakan berusaha menenangkan luka yang jauh lebih dalam dari sekadar goresan di kulit. "T

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 52: Membagi Hasil

    "Itu tidak benar!" ucap Eryas dengan lantang, suaranya terdengar serak namun penuh tekad setelah batuknya mereda. Napasnya masih tersengal, namun tatapan matanya begitu serius. "Aku yang mencetuskan ide itu secara tidak langsung saat kakak Nomor 190 memberi nampannya yang berisi emas. Lalu aku membagikan emas itu sama rata pada nampan yang—" Nomor 190 menggertakkan giginya dengan keras, wajahnya memerah karena kesal. Suara gemericik air sungai seakan tidak mampu menutupi ketegangan yang meledak di antara mereka. "Jangan dengarkan apa yang anak kecil ini katakan! Dia masih balita, belum mengerti apa yang dia katakan. Sayalah yang mencetuskan ide itu!" Nada suaranya tajam, penuh amarah bercampur kepanikan terselubung. "Tidak benar! Aku yang mencetuskan—" Eryas mencoba melawan, suaranya bergetar namun tidak ragu sedikit pun. "Cukup!" teriak mandor dengan suara membahana, membuat beberapa anak lain yang tadinya pura-pura tidak memperhatikan j

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 51: Pencetus Ide

    "Apa yang kau bicarakan, Nomor 190? Aku tidak mengerti!" ucap Darius, air matanya menetes, membasahi pipinya yang pucat. Bahunya bergetar hebat, seperti anak kecil yang baru saja kehilangan pegangan. Nomor 190 mencengkeram kerah bajunya dengan kasar. Urat-urat di tangan remajanya menegang, sementara tinjunya terkepal kuat di belakang kepala, siap menghantam. Tatapannya tajam, penuh amarah bercampur kebencian. "Kita buktikan apakah kau benar-benar anak Helios atau bukan." Suaranya datar, tetapi dingin menusuk, seakan menyalurkan niat mematikan ke udara. Darius memejamkan mata erat-erat, tubuhnya kaku. Ia bersiap menerima pukulan, detak jantungnya berpacu tak terkendali. Napasnya terputus-putus, seperti sedang menunggu eksekusi. Namun, sebelum tinju itu mendarat, sesosok kecil berdiri di hadapannya. Eryas. Tubuh mungilnya langsung menerima hantaman yang seharusnya untuk Darius. Bunyi pukulan itu nyaring, mengha

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 50: Aktor

    Di tepi sungai yang keruh, deru air yang menghantam bebatuan terdengar bercampur dengan suara serak para anak-anak yang sibuk menyaring pasir. Wajah mereka penuh keringat, tangan kecil mereka bergerak cepat seperti mesin yang dipaksa bekerja tanpa henti. Bau logam samar dari emas yang kadang muncul di saringan menambah beratnya suasana. Tidak ada yang berani berhenti, karena bayangan paman Helios dan orang-orangnya selalu mengintai dari kejauhan. Di tengah hiruk pikuk itu, Eryas melambai penuh semangat. "Kak Darius, ini kak Nomor 190!" serunya lantang, memperkenalkan kedua orang itu seakan mempertemukan dua sekutu penting. "Salam kenal Nomor 190, aku Darius!" ucap Darius sambil mengulurkan tangannya. Senyumnya ramah, matanya seolah berbinar penuh ketulusan. Nomor 190 menoleh. Tatapannya tajam, penuh pertimbangan. Jemarinya sempat kaku di udara, seolah enggan menerima. Baru setelah beberapa detik tegang, dia akhirnya meraih jabat tangan it

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 49: Darius

    Darius berlutut, menundukkan kepala dengan penuh takzim. Tangan kanannya diletakkan di dada kirinya, seolah bersumpah setia. "Baik, yang mulia. Permintaan Anda adalah perintah untuk saya."Helios menatap anak itu dengan sorot mata penuh kebanggaan. Senyum tipis tersungging di bibirnya, samar namun menyimpan nuansa ambisi kelam. "Bagus, Darius! Kelak, kau akan menjadi pewarisku yang paling berbakat."Darius bangkit berdiri dengan sikap tegap, lalu berjalan mundur beberapa langkah sebelum berbalik. Langkahnya mantap, penuh wibawa meski usianya masih belia. Di balik tubuh kecil itu, tersimpan aura yang hampir menyerupai ayahnya sendiri. Sang penjaga segera menggiringnya menuju koridor gelap, berliku-liku menuruni tangga menuju penjara anak-anak.Udara di sana pengap, bau anyir besi berkarat dan keringat bercampur menjadi satu. Rantai-rantai beradu, menimbulkan bunyi yang menggema di sepanjang lorong."Silakan masuk," ucap penjaga dengan suara serak,

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 48: Mainan Baru

    Eryas menoleh ke arah kakak yang selalu berada di sisinya itu. Rasa penasaran mengusik pikirannya sejak lama. Dengan hati-hati, ia berjalan lebih dekat, nampan berisi pasir dan lumpur masih menempel di pinggang kirinya. Sementara tangan kanannya terulur, berusaha memperkenalkan diri dengan sopan."Kakak, kenapa anak-anak seperti kita tidak dijual lagi saja ke orang tua yang ingin anak itu? Apa sudah tidak bisa?" tanya Eryas polos, suaranya terdengar kecil di tengah riuh gemercik sungai.Nomor 190 terdiam sejenak, lalu tersenyum miris. "Yah, sayangnya orang tua itu hanya menginginkan bayi yang belum mengerti apa-apa. Jika anak-anak seperti kita diadopsi orang lain, mereka tidak akan bisa merasa bahwa kita adalah anak kandung mereka karena kita sudah tahu bahwa mereka memang bukan orang tua kandung kita."Jawaban itu membuat Eryas termenung. Tangannya yang semula sibuk menggoyang-goyangkan nampan, kini sedikit terhenti. "Padahal aku pernah melihat di TV teta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status