Share

Bab 3: Ketahuan

last update Last Updated: 2026-01-05 16:29:15

“Eira! Jangan berlari seperti itu! Nanti terjatuh!” seru Eryas, panik, berlari menyusul Eira yang melesat cepat dalam keadaan basah kuyup, hanya dibalut handuk kecil yang nyaris tak cukup menutupi tubuhnya.

Dari atas balkon, Eryas menunduk, matanya menangkap tubuh mungil Eira yang melintas di lantai bawah. Tanpa pikir panjang, ia melompat menuruni pagar dengan gerakan cekatan, mendarat tepat di hadapan gadis itu.

“Mau ke mana?” tanyanya tajam.

Tanpa memberi kesempatan, Eryas langsung merengkuh Eira ke dalam pelukannya, menahan tubuhnya yang masih berusaha meronta dengan tenaga kecil yang nyaris tak berarti baginya.

“Hmph!” Eira menggeliat, mencoba melepaskan diri. Tapi Eryas tak bergeming. Dengan satu gerakan tegas, ia mengangkat tubuh gadis itu seperti mengangkat karung beras.

Langkah kakinya mantap saat membawa Eira kembali ke kamar. Tanpa banyak bicara, ia meletakkan tubuh Eira di atas ranjang dengan hati-hati.

Eira kembali meronta, tapi Eryas segera menahan kedua tangannya, memaksanya diam. “Jangan bergerak dulu! Kita pakai baju dulu! Nanti masuk angin!”

Tatapan Eryas tajam. Ia beranjak ke arah lemari pakaian, membuka koper berisi pakaian Eira yang sebelumnya telah disiapkan oleh Renaldi. Ia mengambil sepasang piyama lengan panjang berwarna merah muda, bahannya lembut dan hangat.

“Pakai ini saja agar kau lebih mudah bergerak.”

Ia kembali mendekat, lalu memegangi tangan Eira dan memakaikannya baju dengan gerakan hati-hati. Eira tak melawan. Tubuhnya menggigil kedinginan, dan dia memilih diam saat Eryas menyelimutinya dengan pakaian hangat itu.

“Baiklah, sudah selesai.” Eryas menghela napas, melepaskan pelan-pelan genggamannya dari tangan Eira.

Namun tak lama, Eira menggeliat di atas ranjang, berguling-guling gelisah. Ia turun dan membuka koper pakaiannya sendiri, mengobrak-abrik isinya seperti mencari sesuatu.

“Apa? Mau ganti pakaian?” tanya Eryas sambil mendekat.

Eira menarik sebuah bra dan menyodorkannya ke arah Eryas dengan ekspresi polos namun bersikeras.

Eryas mengangkat satu alis, memandangi bra itu. “Tidak usah pakai! Sekarang saatnya tidur siang. Kalau memakai itu saat tidur, akan membuatmu tidak nyaman.”

Eira menggeleng cepat. Jelas sekali dia tidak berniat tidur.

“Tidak mau tidur?”

Eira mengangguk.

Eryas mendengus pelan. “Tidak! Kau harus tidur!” katanya tegas, sebelum kembali mengangkat tubuh Eira dan membaringkannya ke atas ranjang, kali ini dengan kekuatan yang lebih serius. “Diam di sini! Aku tidak akan mengizinkanmu keluar!”

Dengan cepat, Eryas berjalan menuju pintu dan menguncinya rapat. Ia menoleh, menyeringai jahil. “Bagaimana? Mau kabur ke mana?”

Eira menatap tajam, penuh protes. Ia menarik seprei, mengacak-acaknya dengan kesal dan frustrasi.

“Itu tidak akan berhasil, Eira…” ucap Eryas datar. Ia membuka lemari, mengambil belt hitam miliknya dan mengangkatnya ke udara. “Mau diam atau—”

Belum sempat kalimat itu selesai, Eira sudah bersembunyi cepat di balik seprei, tubuhnya bergetar ketakutan.

Eryas langsung membeku.

Matanya menajam. Aura serius perlahan menghapus gurat kejahilan di wajahnya. Ia mendekat dengan pelan, berlutut di sisi ranjang. Tangannya menyibak seprei sedikit, lalu mengusap kepala Eira dengan lembut. Tatapannya jatuh ke punggung gadis itu yang tampak gemetar.

“Luka di punggungmu... Apa karena dicambuk belt?” tanyanya, nyaris berbisik. Tangannya mengelus rambut Eira perlahan, berusaha tidak memancing trauma lebih dalam.

Eira mengangguk pelan.

“Boleh aku melihat lukanya?” tanya Eryas lagi, kali ini dengan nada yang sangat hati-hati.

Namun Eira langsung menggeleng keras, membungkus tubuhnya erat-erat dengan seprei.

“Ya sudah kalau tidak mau, tidak masalah.” Eryas berdiri perlahan, meletakkan belt ke tempat semula di lemari. Gerakannya seolah ingin menyingkirkan semua hal yang membuat Eira takut.

Eira mengintip dari balik seprei, matanya mengawasi setiap gerak-gerik Eryas dengan waspada. Ia melihat pria itu membuka pintu kamar, lalu melangkah keluar tanpa mengucap sepatah kata pun, meninggalkannya sendirian dalam keheningan.

Begitu pintu tertutup, Eira segera menoleh ke sekeliling. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan, mencari tempat persembunyian, jalan keluar, atau skenario darurat seandainya sesuatu yang buruk terjadi.

"Pria itu... dia sebenarnya baik atau jahat?" pikir Eira dalam hati. "Dia ingin apa dariku?"

Tatapannya perlahan menunduk, dan pikirannya melayang jauh ke masa lalu.

---

Flashback:

"Eira, besok kau harus menikah dengan Eryas."

Nada suara ayahnya, Renaldi, terdengar dingin dan penuh tekanan. "Layanilah pria itu dengan baik! Ayah sangat tidak sabar ingin melihat anak hasil persilangan antara pria jenius dan wanita gila sepertimu. Entah gen siapa yang akan mendominasi anaknya."

Tatapan Renaldi tajam menembus sanubarinya.

"Jika Eryas melakukan sesuatu padamu, kau harus diam! Terima saja semua perlakuannya!"

Flashback off.

---

"Melayani? Melayani apa?" Eira mengerutkan kening, duduk sambil memeluk lutut di atas ranjang.

"Soal anak... aku pernah membacanya di buku. Itu adalah proses biologis di mana sel sperma membuahi sel telur... tapi aku tidak tahu detailnya seperti apa..." gumamnya lirih, wajahnya menunjukkan kebingungan yang mendalam.

Lamunannya buyar ketika tiba-tiba pintu terbuka kembali. Eryas muncul membawa sekantong camilan dan sebuah kotak obat. Langkahnya tenang namun pasti, menyiratkan niat yang jelas.

Ia duduk di sisi ranjang, lalu menyodorkan sepotong kue cokelat pada Eira.

"Ayo kita barter. Kau boleh makan cokelat ini... tapi aku boleh melihat lukamu."

Eira menatap kue itu dengan waspada. Matanya menyipit, pikirannya kembali menuduh dengan cepat.

"Apa itu? Trik sogokan murahan! Dia sama saja dengan Ayah! Selalu menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan! Apa ya namanya... suap?"

Tatapan Eryas menajam. Ia memperhatikan ekspresi Eira yang terlihat berpikir keras, mencurigakan.

"Gawat! Aku akan ketahuan kalau dia sampai mencurigai pikiranku!" batin Eira panik.

Dengan cepat, Eira meraih cokelat itu dari tangan Eryas dan menunjukkannya dengan raut bahagia yang dibuat-buat. Ia langsung menggigit cokelat itu—tanpa melepas bungkusnya terlebih dahulu.

“Krek!” Suara plastik terdengar jelas saat gigi kecilnya menggigit permukaan keras.

Eryas melipat kedua tangan di dada, menatap Eira dengan dingin. "Jangan pura-pura bodoh. Kau tahu plastik itu harus dibuka dulu sebelum bisa memakan cokelat di dalamnya."

"Ketahuan! Bagaimana ini?!" Eira membeku. Ekspresi kagetnya malah memperjelas kepura-puraannya. Seluruh tubuhnya menegang, matanya membulat panik, seperti anak kecil yang baru saja tertangkap basah mencuri biskuit.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 53: Tawaran Pendidikan

    Nomor 190 menoleh cepat ke belakang begitu mendengar suara Darius yang menyebut Eryas terluka. Matanya membelalak, seolah tersadar sesuatu. Pandangannya jatuh pada noda merah samar di punggung baju Eryas. Rasa bersalah seketika menggerogoti dadanya, membuat tenggorokannya tercekat."Ti- tidak, kak! Tidak sama sekali. Sepertinya ini karena luka sebelumnya yang aku dapatkan saat masih tinggal bersama orang tua—" ucap Eryas terbata, mencoba menutupi kebenaran.Sebelum kalimatnya selesai, Darius sudah menarik tubuh kecil itu dan memeluknya erat. Bahunya bergetar, air mata jatuh satu per satu, membasahi rambut Eryas."Eryas, jadi ayahmu juga sering memukulmu? Kau juga bernasib sama denganku? Betapa malangnya dirimu. Padahal kau masih sangat kecil." Suaranya pecah, penuh getir. Perlahan, dia melepas pelukan itu hanya untuk mengusap kepala bocah mungil tersebut dengan lembut, seakan berusaha menenangkan luka yang jauh lebih dalam dari sekadar goresan di kulit. "T

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 52: Membagi Hasil

    "Itu tidak benar!" ucap Eryas dengan lantang, suaranya terdengar serak namun penuh tekad setelah batuknya mereda. Napasnya masih tersengal, namun tatapan matanya begitu serius. "Aku yang mencetuskan ide itu secara tidak langsung saat kakak Nomor 190 memberi nampannya yang berisi emas. Lalu aku membagikan emas itu sama rata pada nampan yang—" Nomor 190 menggertakkan giginya dengan keras, wajahnya memerah karena kesal. Suara gemericik air sungai seakan tidak mampu menutupi ketegangan yang meledak di antara mereka. "Jangan dengarkan apa yang anak kecil ini katakan! Dia masih balita, belum mengerti apa yang dia katakan. Sayalah yang mencetuskan ide itu!" Nada suaranya tajam, penuh amarah bercampur kepanikan terselubung. "Tidak benar! Aku yang mencetuskan—" Eryas mencoba melawan, suaranya bergetar namun tidak ragu sedikit pun. "Cukup!" teriak mandor dengan suara membahana, membuat beberapa anak lain yang tadinya pura-pura tidak memperhatikan j

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 51: Pencetus Ide

    "Apa yang kau bicarakan, Nomor 190? Aku tidak mengerti!" ucap Darius, air matanya menetes, membasahi pipinya yang pucat. Bahunya bergetar hebat, seperti anak kecil yang baru saja kehilangan pegangan. Nomor 190 mencengkeram kerah bajunya dengan kasar. Urat-urat di tangan remajanya menegang, sementara tinjunya terkepal kuat di belakang kepala, siap menghantam. Tatapannya tajam, penuh amarah bercampur kebencian. "Kita buktikan apakah kau benar-benar anak Helios atau bukan." Suaranya datar, tetapi dingin menusuk, seakan menyalurkan niat mematikan ke udara. Darius memejamkan mata erat-erat, tubuhnya kaku. Ia bersiap menerima pukulan, detak jantungnya berpacu tak terkendali. Napasnya terputus-putus, seperti sedang menunggu eksekusi. Namun, sebelum tinju itu mendarat, sesosok kecil berdiri di hadapannya. Eryas. Tubuh mungilnya langsung menerima hantaman yang seharusnya untuk Darius. Bunyi pukulan itu nyaring, mengha

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 50: Aktor

    Di tepi sungai yang keruh, deru air yang menghantam bebatuan terdengar bercampur dengan suara serak para anak-anak yang sibuk menyaring pasir. Wajah mereka penuh keringat, tangan kecil mereka bergerak cepat seperti mesin yang dipaksa bekerja tanpa henti. Bau logam samar dari emas yang kadang muncul di saringan menambah beratnya suasana. Tidak ada yang berani berhenti, karena bayangan paman Helios dan orang-orangnya selalu mengintai dari kejauhan. Di tengah hiruk pikuk itu, Eryas melambai penuh semangat. "Kak Darius, ini kak Nomor 190!" serunya lantang, memperkenalkan kedua orang itu seakan mempertemukan dua sekutu penting. "Salam kenal Nomor 190, aku Darius!" ucap Darius sambil mengulurkan tangannya. Senyumnya ramah, matanya seolah berbinar penuh ketulusan. Nomor 190 menoleh. Tatapannya tajam, penuh pertimbangan. Jemarinya sempat kaku di udara, seolah enggan menerima. Baru setelah beberapa detik tegang, dia akhirnya meraih jabat tangan it

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 49: Darius

    Darius berlutut, menundukkan kepala dengan penuh takzim. Tangan kanannya diletakkan di dada kirinya, seolah bersumpah setia. "Baik, yang mulia. Permintaan Anda adalah perintah untuk saya."Helios menatap anak itu dengan sorot mata penuh kebanggaan. Senyum tipis tersungging di bibirnya, samar namun menyimpan nuansa ambisi kelam. "Bagus, Darius! Kelak, kau akan menjadi pewarisku yang paling berbakat."Darius bangkit berdiri dengan sikap tegap, lalu berjalan mundur beberapa langkah sebelum berbalik. Langkahnya mantap, penuh wibawa meski usianya masih belia. Di balik tubuh kecil itu, tersimpan aura yang hampir menyerupai ayahnya sendiri. Sang penjaga segera menggiringnya menuju koridor gelap, berliku-liku menuruni tangga menuju penjara anak-anak.Udara di sana pengap, bau anyir besi berkarat dan keringat bercampur menjadi satu. Rantai-rantai beradu, menimbulkan bunyi yang menggema di sepanjang lorong."Silakan masuk," ucap penjaga dengan suara serak,

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 48: Mainan Baru

    Eryas menoleh ke arah kakak yang selalu berada di sisinya itu. Rasa penasaran mengusik pikirannya sejak lama. Dengan hati-hati, ia berjalan lebih dekat, nampan berisi pasir dan lumpur masih menempel di pinggang kirinya. Sementara tangan kanannya terulur, berusaha memperkenalkan diri dengan sopan."Kakak, kenapa anak-anak seperti kita tidak dijual lagi saja ke orang tua yang ingin anak itu? Apa sudah tidak bisa?" tanya Eryas polos, suaranya terdengar kecil di tengah riuh gemercik sungai.Nomor 190 terdiam sejenak, lalu tersenyum miris. "Yah, sayangnya orang tua itu hanya menginginkan bayi yang belum mengerti apa-apa. Jika anak-anak seperti kita diadopsi orang lain, mereka tidak akan bisa merasa bahwa kita adalah anak kandung mereka karena kita sudah tahu bahwa mereka memang bukan orang tua kandung kita."Jawaban itu membuat Eryas termenung. Tangannya yang semula sibuk menggoyang-goyangkan nampan, kini sedikit terhenti. "Padahal aku pernah melihat di TV teta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status