LOGINAlianne membulatkan matanya. Napasnya tercekat saat menatap sosok besar yang berdiri di depan tubuhnya. Meski tubuh itu dipenuhi luka, bekas pertempuran yang belum sepenuhnya kering, kehadiran pria itu justru terasa seperti tembok raksasa yang menutup jalan keluar.
“Ada apa ini? Kenapa kalian mengacungkan senjata kalian pada warga sipil?” Nada suaranya terdengar tegas, meski dadanya berdegup kencang. Dua ksatria yang sebelumnya mengarahkan pedang ke tubuh Alianne langsung bergerak serempak. Dengan gerakan cepat dan terlatih, mereka berlutut di hadapan Aldren, kepala tertunduk dalam-dalam sebagai tanda kepatuhan mutlak. “Yang mulia, maaf atas kelancangan kami pada kerajaan Valtarian. Namun, ini adalah perintah langsung dari yang mulia ratu kami.” “Benar, yang mulia,” sahut ksatria satunya lagi. “Ratu kami memerintahkan kami untuk membasmi para penyihir yang berbahaya untuk kelangsungan hidup masyarakat di kerajaan kami.” “Penyihir?” gumam Aldren, pelan. Satu kata itu jatuh ke udara seperti pisau. “Yang mulia, sepertinya mereka berdua benar. Gadis ini memang penyihir!” ucap Hery sambil menunjuk ke arah Alianne. “Buktinya dia bisa mengubah alkohol yang hanya minuman menjadi sebuah obat! Luka di tubuh para Ksatria benar-benar kering!” Alianne menoleh cepat ke arah Hery dengan tatapan kesal. 'Itu tandanya bukan aku penyihir. Itu tandanya aku pintar.' Aldren berbalik. Tubuhnya yang tinggi dan besar sepenuhnya menghalangi cahaya matahari, membuat bayangan gelap jatuh menelan tubuh Alianne. Perbedaan ukuran itu membuat Alianne tampak kecil, rapuh, dan berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. “Apa yang mereka katakan benar?” Pertanyaan itu dilontarkan tanpa emosi, justru itulah yang membuatnya terasa menakutkan. Alianne dengan cepat memasang ekspresi bingung, wajahnya tampak pucat dan ragu. “Maafkan aku, yang mulia. Aku benar-benar tidak tahu apa yang mereka katakan.” Ia kemudian menoleh ke arah dua ksatria yang masih berlutut. Suaranya melembut, matanya mulai berkaca-kaca. “Kakak-kakan Ksatria, bukankah kalian bilang, kalian diperintahkan langsung oleh yang mulia ratu untuk membawaku ke istana? Kalian bilang, yang mulia ratu memberiku beasiswa. Kenapa sekarang kalian menuduhku sebagai penyihir?” tanya Alianne dengan suara bergetar, berakting sedih. “Kalian benar-benar jahat sudah menjebak rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa ini.” Keheningan menyusul. Aldren kini menoleh sepenuhnya ke arah dua ksatria Aurenthia yang masih berlutut. Tatapan dinginnya menusuk, seolah mampu membekukan darah. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. Dingin, tajam, dan berbahaya. “Oh, jadi begitu cara main kerajaan Aurenthia?” tanyanya dengan suara rendah. Aura gelap seolah merembes dari tubuhnya, menekan udara di sekitar. Para ksatria Valtarian yang berada tak jauh dari sana secara refleks menegakkan badan, merasakan perubahan suasana yang drastis. “Pasukan! Ikat dua orang ini!” titah Aldren dengan tegas. “Baik, yang mulia!” jawab Hery tanpa ragu. Beberapa ksatria yang sebelumnya duduk karena luka segera bangkit, menahan rasa sakit mereka. Bersama-sama, mereka menangkap dua ksatria Aurenthia. “A- apa-apaan ini?” Dua ksatria itu meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Namun, jumlah dan kondisi mereka tidak memungkinkan perlawanan berarti. Tali segera melilit pergelangan tangan mereka, tubuh mereka diseret dan diikat kuat pada batang pohon terdekat. Alianne menatap kejadian itu dengan mata melebar. Ia menunduk perlahan, pikirannya bekerja cepat. 'Apa maksudnya ini? Kenapa raja Aldren malah memerintahkan pasukannya mengikat dua ksatria itu? Jika dugaanku benar, sepertinya ini karena penyerangan setelah perjanjian gencatan senjata itu.' Aldren berjalan menjauh dari Alianne, menuju sebuah pohon besar yang rindang. Cuaca cerah membuat semilir angin bertiup pelan, menerbangkan rambut hitamnya. Ia berjongkok di hadapan dua ksatria yang terikat, posturnya santai, terlalu santai untuk situasi seberbahaya ini. Namun, tatapan itu. Tatapan itu mengintimidasi. “Sekarang, jelaskan apa yang ratu kalian rencanakan!” Dua ksatria itu terdiam. Keringat dingin mengalir di pelipis mereka. Bukan karena udara hangat, melainkan karena ketakutan yang perlahan mencengkeram. “Apa yang mulia Aldren Valtazar dari kerjaan Valtarian ingin tahu?” tanya salah satu dari mereka, suaranya bergetar meski berusaha terdengar tenang. Aldren terkekeh pelan. Suara berat itu justru membuat rasa takut mereka semakin dalam. Ia bangkit berdiri dengan gerakan tenang, membiarkan tubuhnya yang masih telanjang dada diterpa angin. Luka-luka di tubuhnya tampak mulai mengering, seolah rasa sakit bukanlah sesuatu yang perlu ia pedulikan. Ia menoleh ke arah Selatan. Di sana, terbentang padang rumput luas dan semak-semak hijau yang tampak damai, pemandangan yang berbanding terbalik dengan ketegangan yang kini menyelimuti tempat itu. Mata hijau zamrud gelapnya menatap jauh, seakan sedang mengukur jarak dan kemungkinan. “Saat ini, kalian sedang berada di tempat yang lumayan jauh dari kerajaan Aurenthia. Pasti sangat mustahil kalian akan mendapatkan bantuan. Apa lagi, misi kalian adalah menangkap penyihir.” Ia kembali menatap dua ksatria itu. “Jadi...” Aldren berdiri tepat di hadapan mereka, bayangannya menekan seperti ancaman yang nyata. Tatapannya kini jauh lebih tajam, lebih mengintimidasi daripada sebelumnya. “Jelaskan! Apa maksud dari penyerangan pasukan kalian? Bukankah seluruh pasukan Ksatria kerajaan Aurenthia sudah mengetahui perjanjian gencatan senjata? Kenapa ada pasukan Ksatria yang menyerang kami dan menculik tabib kami di perjalanan pulang?” Udara seakan membeku. Dan di tengah keheningan itu, Alianne menyadari satu hal dengan jelas: ia bukan hanya terjebak di antara dua kerajaan, tetapi juga berada tepat di pusat konflik yang bisa mengubah seluruh alur cerita yang ia kenal. “Yang mulia, kami tidak tahu soal hal itu! Percayalah pada kami!” ucap salah satu dari ksatria itu dengan suara bergetar. Bahunya naik turun, napasnya tidak lagi beraturan. “Itu benar, yang mulia! Kami hanya diperintahkan oleh yang mulia ratu untuk membawa salah satu penyihir berbahaya untuk dibakar di alun-alun!” sahut ksatria yang satunya lagi, suaranya nyaris terdengar seperti ratapan. Angin berembus pelan, membuat dedaunan pohon di atas mereka bergoyang. Namun, suasana sama sekali tidak terasa ringan. Alianne melangkah maju. Langkahnya tenang, bahkan terkesan santai, kontras dengan situasi di sekitarnya. Ia berhenti tepat di samping Aldren, berdiri sejajar dengannya di hadapan dua ksatria yang terikat. “Jadi, aku mau diberi beasiswa atau ditangkap? Kenapa kalian sangat tidak konsisten?” tanya Alianne, suaranya dibuat bergetar, ekspresi sedihnya tampak meyakinkan. “Yang mulia, bukankah kita berdua senasib? Kita adalah korban ratu Seraphine yang janjinya semanis madu. Tapi pada faktanya, sang ratu ingin kita berdua mati saja.” Ucapan itu jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang. “Hentikan ucapanmu itu! Dasar tidak sopan—” “Aku setuju dengannya!” ucap Aldren, memotong ucapan Hery. Semua suara langsung terhenti. Aldren berbalik ke arah Hery. Tatapannya tajam, penuh tekanan yang tidak membutuhkan ancaman tambahan. “Hery, lihatlah situasinya! Baik kita maupun Alianne, kita sama-sama korban penipuan oleh ratu.” Hery terdiam. Rahangnya mengeras, tetapi ia tidak membantah. Alianne kemudian mengalihkan pandangannya ke dua ksatria Aurenthia yang masih terikat di pohon. “Omong-omong, kenapa aku dituduh penyihir? Aku tidak punya sihir apapun,” tanyanya, nada suaranya terdengar polos. “Tentu saja karena kau adalah gadis pembawa sial yang tidak mau menikah meski usiamu sudah dua puluh tahun!” ucap salah satunya dengan nada getir, seolah mengulang doktrin yang telah ditanamkan sejak lama. “Yang jelas, kau memiliki sihir penyembuhan! Kau bisa menyembuhkan orang lain lebih cepat dari tabib manapun! Itu pasti sihir!” sambung ksatria yang satunya lagi. Alianne memiringkan kepala, alisnya berkerut. Ekspresi bingungnya tampak tulus, seolah ia benar-benar tidak memahami logika di balik tuduhan itu. “Syarat jadi penyihir mudah sekali. Jika begitu, para wanita di masa depan, hampir setengahnya adalah seorang penyihir.” Kalimat itu meluncur begitu saja. Ringan, nyaris bercanda. Namun tepat di belakangnya, Aldren berdiri diam. Tubuh tingginya kembali menutupi cahaya matahari, membuat bayangan jatuh menyelimuti Alianne. “Kau sepertinya tahu banyak tentang masa depan,” ucap Aldren. Nada suaranya datar, tetapi justru karena itu terasa berbahaya. Alianne membeku sesaat. Ia segera membalikkan tubuhnya, menggeleng cepat. “Ti- tidak, yang mulia! Aku hanya asal bicara.” Aldren tidak langsung menjawab. Tatapannya menelusuri wajah Alianne, seolah mencoba menimbang sesuatu yang belum ia ucapkan. “Yang mulia, sekarang, mau diapakan dua orang ini?” tanya Hery, berdiri tegak di sisi Aldren, memecah keheningan yang menekan. Aldren menengadah, menatap langit cerah yang membentang luas di atas mereka. Matahari telah bergeser ke arah barat, cahayanya mulai menguning, menandakan waktu terus berjalan tanpa menunggu siapa pun. “Kita tidak boleh berlama-lama di sini. Perjalanan kita masih lumayan panjang,” ucap Aldren akhirnya. “Bawa mereka ke kerajaan sebagai sandera! Mereka masih berutang penjelasan mengenai rencana ratu.” “Baik, yang mulia!” Hery dan para ksatria lainnya segera bergerak. Ikatan pada pohon dilepaskan, namun tangan kedua ksatria Aurenthia tetap terikat kuat. Mereka diseret untuk berjalan sendiri, wajah mereka pucat dan penuh ketakutan. Alianne memperhatikan semua itu. Dan perlahan, senyum tipis muncul di bibirnya. Saat pasukan Aldren mulai bergerak meninggalkan tempat itu, Alianne berlari kecil mengejar dari belakang, langkahnya ringan seolah beban di dadanya telah berkurang. “Aku ikut!” Aldren menoleh. Tanpa ragu, ia melangkah ke kereta kencana dan membukakan pintunya. “Tentu saja kau harus ikut! Ayo naik ke dalam sini!” Alianne berhenti sejenak. Ia menunduk sopan, menyembunyikan kegelisahan di balik sikap rendah hati. “Yang mulia terlalu baik. Aku jalan kaki saja ikut yang lain. Mana mungkin rakyat jelata seperti ini duduk berdua di dalam kereta kencana bersama yang mulia raja?” Aldren terkekeh pelan. Tawa itu singkat, rendah, dan entah kenapa terasa jauh lebih mengancam daripada diamnya. “Jika rakyat jelata itu akan segera menjadi istri raja, kenapa tidak?” Alianne tersentak. Matanya membulat, napasnya tertahan. Refleks sedikit berteriak. “Apa?!”Api obor berderak pelan, memantulkan bayangan panjang di dinding penjara bawah tanah yang lembap dan berlumut. Bau darah, besi berkarat, dan tanah basah bercampur menjadi satu, menyesakkan napas siapa pun yang berada di dalamnya. Dua orang ksatria Aurenthia berdiri terikat pada tiang besi, tubuh mereka penuh luka cambukan yang belum sempat mengering sempurna.Kepala salah satu dari mereka terangkat dengan susah payah. Napasnya tersengal, suaranya bergetar saat akhirnya menjawab."Ha- hanya misi untuk menangkap penyihir!" jawab salah satunya.Aldren berdiri beberapa langkah di depan mereka, tubuhnya tegap, bayangannya menjulang di dinding batu. Tatapannya dingin, nyaris kosong, seolah dua orang di hadapannya bukanlah manusia, melainkan sekadar variabel yang harus diselesaikan."Jelaskan!" Aldren memerintah. Nadanya tenang dan dingin. Namun, itu yang membuatnya sangat mengerikan.Ksatria itu menelan ludah, menahan perih di tenggorokannya. "Kami hanya diperintah untuk menangkap beberapa
Alianne melangkah dengan santai, membawa secangkir teh itu seolah isinya hanyalah minuman biasa. Cairan di dalamnya beriak pelan mengikuti langkah kakinya, memantulkan cahaya redup dapur. Sikapnya yang terlalu tenang justru terasa ganjil, berbanding terbalik dengan situasi yang baru saja mereka saksikan.Serin akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Jantungnya berdebar kencang saat ia menyusul Alianne, langkahnya tergesa. Ia mendekat dan berbisik dengan suara gemetar. "Alianne, apa benar ini mau diberikan pada yang mulia?" tanyanya dengan ragu."Tentu saja iya!" jawab Alianne tanpa ragu.Serin langsung membuka matanya lebar, wajahnya memucat. "Alianne, yang benar saja! Kau mau meracuni calon suamimu sendiri?" tanyanya dengan terkejut.Alianne justru terkejut mendengar tuduhan itu. Alisnya terangkat, langkahnya terhenti sejenak. "Untuk apa aku meracuni seseorang? Itu ilegal!""Lalu-"Sebelum Serin sempat melanjutkan kalimatnya dan menarik perhatian lebih banyak orang di dapur yan
Alianne tidak merasa panik. Tidak ada jantung berdebar berlebihan, tidak ada napas tercekat. Ia hanya membalikkan tubuhnya sedikit, menatap Aldren dengan senyuman mengejek yang tenang, seolah sedang menilai hasil pemikirannya sendiri. “Walaupun hidup di dunia patriarki, rupanya pemikiranmu tidak ikut seperti itu.”Tatapan Aldren tidak berubah. Namun roda kereta kuda tiba-tiba berhenti, disusul hentakan kecil ketika dua ekor kuda penariknya ikut menghentikan langkah. Getaran halus menjalar ke lantai kereta, menandakan perjalanan mereka telah usai.Kereta kuda itu berhenti tepat di depan istana Obsidian.Sebuah bangunan raksasa menjulang di hadapan mereka, mendominasi pandangan dengan warna hitam pekat. Batu obsidian berwarna gelap membentuk dinding-dinding tebal yang tinggi, menyerap cahaya matahari sore alih-alih memantulkannya. Istana itu tidak berkilau, tidak memikat mata dengan kemewahan, ia berdiri seperti bayangan masa lalu yang keras, dingin, dan tak tergoyahkan.Sepasang mata c
Kereta kuda yang mengangkut Alianne dan Raja Aldren perlahan bergerak ke arah Utara.Derit roda kayu terdengar berirama, memecah keheningan padang rumput yang mulai ditinggalkan. Kereta yang sebelumnya tersembunyi di antara semak-semak, kini keluar menuju sebuah jalan berbatu yang panjang dan luas, jalur utama yang jelas sering dilalui rombongan besar. Setiap guncangan roda terasa nyata, seolah menandai bahwa Alianne benar-benar sedang menjauh dari kehidupan lamanya.Di luar kereta, belasan pasukan ksatria Aldren berjalan mengawal dengan formasi rapi. Langkah mereka serempak, armor logam beradu pelan satu sama lain. Dua orang sandera dari Kerajaan Aurenthia diseret di tengah barisan, tangan mereka terikat, wajah mereka tegang menahan takut dan malu.Di dalam kereta kuda, suasananya jauh lebih sunyi.Aldren duduk bersandar, satu lengannya bertumpu santai, namun sorot matanya tak pernah lepas dari Alianne. Sejak tadi, gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Alianne justru menat
Alianne membulatkan matanya. Napasnya tercekat saat menatap sosok besar yang berdiri di depan tubuhnya. Meski tubuh itu dipenuhi luka, bekas pertempuran yang belum sepenuhnya kering, kehadiran pria itu justru terasa seperti tembok raksasa yang menutup jalan keluar.“Ada apa ini? Kenapa kalian mengacungkan senjata kalian pada warga sipil?” Nada suaranya terdengar tegas, meski dadanya berdegup kencang.Dua ksatria yang sebelumnya mengarahkan pedang ke tubuh Alianne langsung bergerak serempak. Dengan gerakan cepat dan terlatih, mereka berlutut di hadapan Aldren, kepala tertunduk dalam-dalam sebagai tanda kepatuhan mutlak.“Yang mulia, maaf atas kelancangan kami pada kerajaan Valtarian. Namun, ini adalah perintah langsung dari yang mulia ratu kami.”“Benar, yang mulia,” sahut ksatria satunya lagi. “Ratu kami memerintahkan kami untuk membasmi para penyihir yang berbahaya untuk kelangsungan hidup masyarakat di kerajaan kami.”“Penyihir?” gumam Aldren, pelan.Satu kata itu jatuh ke udara sep
Ksatria itu segera melangkah maju dan berlutut di hadapan pria berjubah gelap tersebut. Lututnya menghantam tanah dengan suara berat, menunjukkan keseriusan situasi.“Lapor, yang mulia.” Ksatria itu menundukkan kepala lebih dalam. “Wanita ini berlari kemari dengan terburu-buru. Dia terlihat mencurigakan. Ditakutkan, dia adalah bala bantuan yang dikirim untuk menyerang kami yang sudah terluka.”Ujung senjata para ksatria masih terarah ke tubuh Alianne. Udara di sekitarnya terasa menekan, seolah satu gerakan salah saja bisa mengakhiri segalanya.“Bu- bukan! Aku benar-benar hanya rakyat jelata,” ucap Alianne, membela diri. Kini ia tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikan di wajahnya. Napasnya tersengal, tangannya gemetar di sisi tubuhnya.Langkah kaki berat terdengar mendekat.Aldren, pria bertubuh tinggi itu berjalan ke arahnya dengan tenang. Setiap langkahnya mantap, tanpa ragu, tanpa tergesa. Ia berhenti tepat di hadapan Alianne.Cahaya matahari terhalang oleh tubuh Aldren, menelan Al







