LOGINAlianne tidak merasa panik. Tidak ada jantung berdebar berlebihan, tidak ada napas tercekat. Ia hanya membalikkan tubuhnya sedikit, menatap Aldren dengan senyuman mengejek yang tenang, seolah sedang menilai hasil pemikirannya sendiri. “Walaupun hidup di dunia patriarki, rupanya pemikiranmu tidak ikut seperti itu.”
Tatapan Aldren tidak berubah. Namun roda kereta kuda tiba-tiba berhenti, disusul hentakan kecil ketika dua ekor kuda penariknya ikut menghentikan langkah. Getaran halus menjalar ke lantai kereta, menandakan perjalanan mereka telah usai. Kereta kuda itu berhenti tepat di depan istana Obsidian. Sebuah bangunan raksasa menjulang di hadapan mereka, mendominasi pandangan dengan warna hitam pekat. Batu obsidian berwarna gelap membentuk dinding-dinding tebal yang tinggi, menyerap cahaya matahari sore alih-alih memantulkannya. Istana itu tidak berkilau, tidak memikat mata dengan kemewahan, ia berdiri seperti bayangan masa lalu yang keras, dingin, dan tak tergoyahkan. Sepasang mata cokelat milik Alianne terpaku. Ia menatap arsitektur bangunan itu tanpa berkedip, merasakan tekanan aneh di dadanya. Istana itu terlihat tua. Bukan tua yang rapuh, melainkan tua karena telah bertahan dari terlalu banyak perang, pengkhianatan, dan darah. Sebuah warisan turun-temurun yang tidak dibangun untuk menyenangkan, melainkan untuk bertahan. “Selamat datang di istana Obsidian! Istana utama yang menjadi pusat pemerintahan sekaligus tempat tinggalku,” ucap Aldren memperkenalkan istananya pada Alianne. Nada suaranya datar, nyaris tanpa kebanggaan. Seolah istana sebesar ini hanyalah alat kerja baginya, bukan simbol kejayaan. Aldren kemudian berbalik, menoleh ke arah para ksatria yang membawa dua orang sandera. Suasana langsung menegang. “Bawa mereka berdua ke penjara bawah tanah! Aku akan menginterogasi mereka secara langsung jika sudah mengantar Alianne ke kamarnya.” Nada perintahnya tenang, namun mutlak. Tidak ada ruang untuk bantahan. “Siap, laksanakan!” jawab para ksatria dengan kompak. Belasan ksatria itu segera bergerak, menyeret dua orang sandera yang masih terikat tali tambang. Sepatu mereka bergesekan dengan tanah batu, suara langkah bercampur erangan tertahan. Dua sandera itu dibawa menuju pintu samping yang mengarah ke penjara bawah tanah, sebuah tempat gelap yang bahkan dari kejauhan saja sudah terasa menelan cahaya. Alianne mengikuti mereka dengan pandangan mata sesaat, merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya. “Silakan masuk.” Aldren mengulurkan tangannya ke arah Alianne dengan sikap sopan dan terkontrol, menunggu Alianne menyentuhnya. Sebuah gestur etiket kerajaan yang sempurna. Namun Alianne justru terdiam. Ia menatap tangan itu, tangan besar dengan urat-urat yang tegas, masih menyisakan noda darah kering di sela-sela kulitnya. Bekas pertempuran belum lama berlalu. Itu bukan tangan bangsawan yang hidup nyaman, melainkan tangan seorang raja yang benar-benar turun ke medan perang. Aldren menangkap keraguan di mata Alianne. Tanpa ragu, ia melangkah maju. Tubuhnya yang tinggi mendekat, membuat jarak di antara mereka menghilang. Ia sedikit membungkuk, cukup dekat hingga suaranya hanya terdengar oleh Alianne. “Semua yang ingin kau ketahui akan aku ceritakan. Tapi sekarang, kau harus masuk ke kamar dulu agar aman sementara aku menginterogasi dua ksatria dari Aurenthia. Setelah itu, baru kita bisa membahas semuanya dengan leluasa.” Nada suaranya rendah, tegas, dan menenangkan dalam cara yang aneh. Bukan perintah kosong, melainkan janji. Aldren mundur beberapa langkah, memberi ruang. Ia kembali mengulurkan tangannya. “Ayo!” Alianne menghela napas kecil sebelum akhirnya mengulurkan tangannya. Jemarinya menyentuh tangan besar itu, dingin dan kokoh. Ia membiarkan Aldren menuntunnya memasuki istana Obsidian. Gerbang besar terbuka perlahan. Dua orang ksatria berjaga di kanan dan kiri pintu, berdiri tegak dengan ekspresi waspada. Tatapan mereka tajam, tubuh mereka tegang, seolah bahaya bisa muncul kapan saja bahkan di dalam istana sendiri. Saat Alianne dan Aldren melangkah masuk, kesan pertama yang ia dapatkan justru jauh dari kemewahan. Tidak ada karpet merah. Tidak ada lukisan megah atau dekorasi emas. Lorong-lorong batu terbentang kaku, diterangi cahaya obor yang minim. Istana itu lebih menyerupai gedung pertemuan besar, tempat orang bekerja, berdiskusi, berdebat, dan mengambil keputusan, bukan tempat berfoya-foya. “Ada apa? Apa istana ini membuatmu tidak nyaman? Haruskah aku menitipkanmu ke istana Silverkeep saja?” tanya Aldren, melirik sekilas ke arah Alianne. “Ada istana lainnya?” tanya Alianne dengan penasaran. Aldren mengangguk. “Ya, istana itu kini ditinggali oleh adikku, Caelum Valtazar. Berbeda dengan kerajaan Obsidian yang menjadi pusat pemerintahan, istana Silverkeep adalah pusat pesta dan perayaan. Para bangsawan dari negara lain yang ingin berpesta, akan dipindahkan ke istana Silverkeep. Agar istana Obsidian hanya fokus mengatur urusan administratif.” Alianne mengangguk pelan, memahami pembagian fungsi itu dengan cepat. “Sepertinya aku lebih betah di istana Obsidian. Friendly introvert.” Aldren tersenyum tipis. Senyum yang nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat ekspresinya melunak sesaat. Hampir saja ia terkekeh. “Seleramu boleh juga.” “Aku tidak suka tempat ramai dan bising. Aku lebih suka tempat gelap dan sepi,” ucap Alianne jujur. “Kalau begitu, maka kau akan mendapatkan kamar sesuai keinginanmu.” Aldren menuntun Alianne menyusuri lorong yang semakin sempit dan gelap. Cahaya obor semakin jarang, suara langkah mereka menggema di dinding batu. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu besar dari kayu hitam, tebal dan berat, dengan ukiran sederhana namun tegas. Aldren melepas genggaman tangannya. “Silakan masuk. Untuk sementara, kau akan tinggal di kamar tamu sebelum kita resmi menikah.” Alianne melihat pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah kamar besar dengan ranjang berukuran nyaris tak masuk akal. Cahaya temaram dari lilin dinding menyinari ruangan yang didominasi warna gelap. Furnitur kayu berukir memenuhi sudut-sudut ruangan, menghadirkan kesan klasik yang berat, sedikit mengerikan bagi kebanyakan orang. Namun tidak bagi Alianne. Baginya, kamar itu adalah surga. Tanpa pikir panjang, Alianne langsung melompat ke atas ranjang besar itu. Tubuhnya tenggelam ke dalam empuknya ranjang, membuatnya menghela napas panjang penuh kepuasan. Ia membiarkan dirinya terbuai dalam kenikmatan paling sederhana namun sakral: berbaring tanpa beban. “Ranjang ini sangat nyaman!” ucap Alianne sambil menggerakkan tangan dan kakinya, meraba luasnya ranjang seolah ingin memastikan ini nyata. Ranjang itu sepenuhnya terisi kapas lembut, ditopang kerangka kayu ukir yang kokoh. Tidak ada per yang berdecit, tidak ada lapisan sintetis seperti ranjang modern. Empuknya terasa alami, stabil, dan menenangkan, seolah dibuat khusus untuk seseorang yang benar-benar butuh istirahat setelah hidup yang terlalu panjang. Aldren berdiri tak jauh dari sana, menatap pemandangan itu dengan ekspresi tipis yang sulit dibaca. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia lalu melangkah ke arah pintu dan menutupnya perlahan. “Kalau begitu, aku permisi untuk menginterogasi dua sandera dari Kerajaan Aurenthia. Sebentar lagi pelayanmu akan datang. Jika butuh sesuatu, mintalah padanya.” Pintu kayu tertutup rapat, meninggalkan bunyi samar yang menggema di ruangan besar itu. Alianne kini sendirian. “Pelayan?” Alianne langsung bangkit berdiri, matanya berbinar. Otaknya langsung membayangkan makanan lezat, minuman hangat, dan seseorang yang siap memenuhi permintaannya. “Apa ini mimpi? Aku bahkan tidak pernah bermimpi untuk punya pelayan.” Tidak lama setelah itu, pintu kamar kembali terbuka. Alianne refleks menatap ke arah pintu dengan penuh harap. “Itu dia!” Seorang wanita muda masuk ke dalam kamar. Ia mengenakan pakaian pelayan berwarna putih yang rapi, rambutnya tersanggul sederhana, wajahnya bersih dan cantik. “Selamat sore, yang mulia. Aku Serin, siap melayanimu.” Alianne menatap Serin dari atas hingga bawah. Seragam pelayan itu tertangkap jelas di matanya. Sederhana, praktis, dan… sempurna untuk sebuah ide iseng. “Serin, boleh kemari sebentar?” tanya Alianne dengan nada santai. “Baik, yang mulia.” Serin melangkah mendekat. “Ada yang bisa dibantu?” Alianne bangkit berdiri dan tersenyum ramah. “Jangan memanggilku seperti itu! Panggil saja Alianne. Kita berdua sama-sama rakyat jelata.” Serin terlihat terkejut sesaat, namun langsung mengangguk. “Baiklah, Alianne.” “Nah, Serin…” Alianne mendekat dan berbisik pelan di telinga Serin, suaranya penuh rencana. “Saat ini aku tidak punya pakaian ganti. Boleh aku meminjam satu saja pakaian pelayanmu untuk aku kenakan?” --- Alianne dan Serin melangkah memasuki dapur istana Obsidian. Suasana di sana jauh berbeda dari lorong-lorong sunyi istana. Dapur itu rapi dan tertata, namun penuh aktivitas. Suara panci beradu, api yang menyala, dan langkah para pelayan membuat dapur menjadi bagian paling ramai dan berisik di seluruh istana. Meski nuansanya tetap gelap, kehidupan terasa berdenyut di sana. “Alianne, apa tidak masalah kau ada di sini?” tanya Serin dengan nada khawatir. Pandangannya gelisah, apalagi melihat Alianne kini mengenakan seragam pelayan. Alianne hanya tersenyum santai. “Tidak masalah. Siapa yang melarang? Raja kalian juga tidak bisa melarangku melakukan apapun di istana ini.” Serin hendak membalas, namun tiba-tiba Alianne menghentikan langkahnya. Dalam satu gerakan cepat, Alianne menarik Serin dan mengajaknya bersembunyi di balik tumpukan tong berisi gandum. Di depan mereka, dua orang wanita berdiri terlalu dekat dengan meja minuman. Tangan mereka bergerak cepat, menuangkan serbuk aneh ke dalam cangkir teh. Gerak-gerik mereka kaku, mata mereka gelisah, jelas bukan pelayan biasa yang sedang bekerja. Mereka tampak linglung, saling melirik, seolah mencari seseorang yang bisa dijadikan kambing hitam. ‘Oh… ini bukan dapur biasa,’ batin Alianne. ‘Ini TKP.’ Tanpa ragu sedikit pun, Alianne keluar dari tempat persembunyian. Langkahnya ringan, wajahnya polos seperti pelayan baru yang tak tahu apa-apa. Salah satu wanita itu langsung menunjuk ke arahnya. “Kau! Anak baru yang di sana!” panggilnya. “Kemarilah! Berikan teh ini pada yang mulia raja!” Alianne menghampiri mereka tanpa ragu. Tangannya menerima cangkir teh itu dengan tenang. “Baik, kakak senior. Dengan senang hati aku akan memberinya pada yang mulia raja.” Serin membeku di tempat persembunyian. Wajahnya pucat saat menyadari apa yang terjadi. “Apa yang ingin dilakukannya?” tanya Serin dengan tatapan terkejut. “Jangan bilang dia ingin meracuni yang mulia raja!”Api obor berderak pelan, memantulkan bayangan panjang di dinding penjara bawah tanah yang lembap dan berlumut. Bau darah, besi berkarat, dan tanah basah bercampur menjadi satu, menyesakkan napas siapa pun yang berada di dalamnya. Dua orang ksatria Aurenthia berdiri terikat pada tiang besi, tubuh mereka penuh luka cambukan yang belum sempat mengering sempurna.Kepala salah satu dari mereka terangkat dengan susah payah. Napasnya tersengal, suaranya bergetar saat akhirnya menjawab."Ha- hanya misi untuk menangkap penyihir!" jawab salah satunya.Aldren berdiri beberapa langkah di depan mereka, tubuhnya tegap, bayangannya menjulang di dinding batu. Tatapannya dingin, nyaris kosong, seolah dua orang di hadapannya bukanlah manusia, melainkan sekadar variabel yang harus diselesaikan."Jelaskan!" Aldren memerintah. Nadanya tenang dan dingin. Namun, itu yang membuatnya sangat mengerikan.Ksatria itu menelan ludah, menahan perih di tenggorokannya. "Kami hanya diperintah untuk menangkap beberapa
Alianne melangkah dengan santai, membawa secangkir teh itu seolah isinya hanyalah minuman biasa. Cairan di dalamnya beriak pelan mengikuti langkah kakinya, memantulkan cahaya redup dapur. Sikapnya yang terlalu tenang justru terasa ganjil, berbanding terbalik dengan situasi yang baru saja mereka saksikan.Serin akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Jantungnya berdebar kencang saat ia menyusul Alianne, langkahnya tergesa. Ia mendekat dan berbisik dengan suara gemetar. "Alianne, apa benar ini mau diberikan pada yang mulia?" tanyanya dengan ragu."Tentu saja iya!" jawab Alianne tanpa ragu.Serin langsung membuka matanya lebar, wajahnya memucat. "Alianne, yang benar saja! Kau mau meracuni calon suamimu sendiri?" tanyanya dengan terkejut.Alianne justru terkejut mendengar tuduhan itu. Alisnya terangkat, langkahnya terhenti sejenak. "Untuk apa aku meracuni seseorang? Itu ilegal!""Lalu-"Sebelum Serin sempat melanjutkan kalimatnya dan menarik perhatian lebih banyak orang di dapur yan
Alianne tidak merasa panik. Tidak ada jantung berdebar berlebihan, tidak ada napas tercekat. Ia hanya membalikkan tubuhnya sedikit, menatap Aldren dengan senyuman mengejek yang tenang, seolah sedang menilai hasil pemikirannya sendiri. “Walaupun hidup di dunia patriarki, rupanya pemikiranmu tidak ikut seperti itu.”Tatapan Aldren tidak berubah. Namun roda kereta kuda tiba-tiba berhenti, disusul hentakan kecil ketika dua ekor kuda penariknya ikut menghentikan langkah. Getaran halus menjalar ke lantai kereta, menandakan perjalanan mereka telah usai.Kereta kuda itu berhenti tepat di depan istana Obsidian.Sebuah bangunan raksasa menjulang di hadapan mereka, mendominasi pandangan dengan warna hitam pekat. Batu obsidian berwarna gelap membentuk dinding-dinding tebal yang tinggi, menyerap cahaya matahari sore alih-alih memantulkannya. Istana itu tidak berkilau, tidak memikat mata dengan kemewahan, ia berdiri seperti bayangan masa lalu yang keras, dingin, dan tak tergoyahkan.Sepasang mata c
Kereta kuda yang mengangkut Alianne dan Raja Aldren perlahan bergerak ke arah Utara.Derit roda kayu terdengar berirama, memecah keheningan padang rumput yang mulai ditinggalkan. Kereta yang sebelumnya tersembunyi di antara semak-semak, kini keluar menuju sebuah jalan berbatu yang panjang dan luas, jalur utama yang jelas sering dilalui rombongan besar. Setiap guncangan roda terasa nyata, seolah menandai bahwa Alianne benar-benar sedang menjauh dari kehidupan lamanya.Di luar kereta, belasan pasukan ksatria Aldren berjalan mengawal dengan formasi rapi. Langkah mereka serempak, armor logam beradu pelan satu sama lain. Dua orang sandera dari Kerajaan Aurenthia diseret di tengah barisan, tangan mereka terikat, wajah mereka tegang menahan takut dan malu.Di dalam kereta kuda, suasananya jauh lebih sunyi.Aldren duduk bersandar, satu lengannya bertumpu santai, namun sorot matanya tak pernah lepas dari Alianne. Sejak tadi, gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Alianne justru menat
Alianne membulatkan matanya. Napasnya tercekat saat menatap sosok besar yang berdiri di depan tubuhnya. Meski tubuh itu dipenuhi luka, bekas pertempuran yang belum sepenuhnya kering, kehadiran pria itu justru terasa seperti tembok raksasa yang menutup jalan keluar.“Ada apa ini? Kenapa kalian mengacungkan senjata kalian pada warga sipil?” Nada suaranya terdengar tegas, meski dadanya berdegup kencang.Dua ksatria yang sebelumnya mengarahkan pedang ke tubuh Alianne langsung bergerak serempak. Dengan gerakan cepat dan terlatih, mereka berlutut di hadapan Aldren, kepala tertunduk dalam-dalam sebagai tanda kepatuhan mutlak.“Yang mulia, maaf atas kelancangan kami pada kerajaan Valtarian. Namun, ini adalah perintah langsung dari yang mulia ratu kami.”“Benar, yang mulia,” sahut ksatria satunya lagi. “Ratu kami memerintahkan kami untuk membasmi para penyihir yang berbahaya untuk kelangsungan hidup masyarakat di kerajaan kami.”“Penyihir?” gumam Aldren, pelan.Satu kata itu jatuh ke udara sep
Ksatria itu segera melangkah maju dan berlutut di hadapan pria berjubah gelap tersebut. Lututnya menghantam tanah dengan suara berat, menunjukkan keseriusan situasi.“Lapor, yang mulia.” Ksatria itu menundukkan kepala lebih dalam. “Wanita ini berlari kemari dengan terburu-buru. Dia terlihat mencurigakan. Ditakutkan, dia adalah bala bantuan yang dikirim untuk menyerang kami yang sudah terluka.”Ujung senjata para ksatria masih terarah ke tubuh Alianne. Udara di sekitarnya terasa menekan, seolah satu gerakan salah saja bisa mengakhiri segalanya.“Bu- bukan! Aku benar-benar hanya rakyat jelata,” ucap Alianne, membela diri. Kini ia tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikan di wajahnya. Napasnya tersengal, tangannya gemetar di sisi tubuhnya.Langkah kaki berat terdengar mendekat.Aldren, pria bertubuh tinggi itu berjalan ke arahnya dengan tenang. Setiap langkahnya mantap, tanpa ragu, tanpa tergesa. Ia berhenti tepat di hadapan Alianne.Cahaya matahari terhalang oleh tubuh Aldren, menelan Al







