LOGINEryas mengernyitkan kening, merasa ada yang janggal dari ucapannya barusan. Ia menurunkan tangannya perlahan, membatalkan niat untuk menjabat.
"Ada apa? Kenapa diam saja? Apa ada yang salah dengan kata-kataku?" 'Tentu saja salah! Kita kan suami istri, bukan teman,' batin Eira geram, namun tetap bungkam. Ia hanya menggeleng pelan tanpa berani bersuara. Eryas terkekeh kecil. Ia menutup sebagian wajahnya dengan tangan, seperti baru sadar akan sesuatu. "Astaga! Aku lupa! Kita sudah menikah. Tentu saja kita bukanlah teman, tapi sepasang suami istri. Maksudmu begitu, kan?" Eira mengangguk polos, seperti anak kecil yang baru saja ditebak isi pikirannya. Tatapan Eryas berubah dingin, menusuk dalam. Di balik ketenangannya, pikirannya bergolak. 'Dia bahkan mengerti konsep pernikahan, status suami dan istri. Jika dugaanku benar, berarti dia tidak sepenuhnya gila.' Eira menunduk. Perasaannya seperti diupas perlahan, satu per satu. Ia bisa merasakan tubuhnya memanas oleh tatapan Eryas. Pelipisnya mulai berkeringat. 'Bagaimana ini? Apa dia mulai mencurigaiku lagi?' Tanpa sepatah kata, Eryas mengalihkan pandangan. Ia melangkah menjauh dan berjalan menuju kamar, meninggalkan Eira yang makin kebingungan. 'Eh? Kenapa dia pergi lagi? Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan padaku?' Tak lama kemudian, terdengar suara langkah di lantai atas. Eira menengadah, dan mendapati Eryas berdiri di pagar lantai dua. Namun alih-alih turun lewat tangga, pria itu justru melompat begitu saja, mendarat di ruang tamu dengan presisi sempurna. Mata Eira membelalak. 'Dia ini... bukan manusia biasa? Atlet? Atau semacamnya?' Dengan tenang, Eryas berjalan mendekat. Di tangannya, ada sekantong camilan yang sebelumnya ditinggalkan di kamar. "Soal barter yang aku ajukan... apa kau yakin mau menolaknya?" 'Barter apa?' Eira menatap bingung, mencoba mengingat maksudnya. Eryas menjatuhkan diri santai di sofa di dekatnya setelah meletakkan semua camilan di meja. "Apa kau lupa? Tentang barter sederhana. Kau boleh makan semua camilan ini, asal aku boleh melihat luka di tubuhmu." Eira menegang. Tubuhnya kaku. 'Masalah itu lagi? Kenapa dia sangat terobsesi dengan tubuhku? Apa jangan-jangan...' Pikiran Eira melayang. Ia teringat suara ayahnya yang menggema dalam kepalanya. Flashback: "Kau harus melayaninya dengan baik, Eira! Jangan sampai kau menolak saat Eryas ingin menyentuhmu!" Flashback off. Eira menggeleng cepat, seperti menepis ingatan itu. Ketakutan kembali menyelimuti wajahnya. Eryas memandangi perubahan ekspresi Eira dengan tatapan datar. "Kenapa takut? Bukankah aku sudah melihat tubuhmu saat memandikanmu setelah kita sampai di sini? Tidak terjadi hal buruk, kan?" Eira membeku. Wajahnya langsung memerah saat mengingat kejadian itu. Ia menunduk dalam-dalam. "Jadi bagaimana? Tetap tidak mau?" tanya Eryas. Ia mengambil satu snack, membukanya, lalu mengunyahnya dengan santai. "Kalau tidak mau, ya sudah. Semuanya aku makan saja." Dengan refleks, Eira meraih tangan Eryas. Ia sendiri tak tahu kenapa. Yang jelas, hatinya menolak melihat semua camilan itu dihabiskan begitu saja oleh pria di depannya. Ia menatap Eryas dengan sorot mata tajam. Meski tak mengucapkan sepatah kata pun, siapa pun yang melihat bisa langsung mengerti apa yang ada di benaknya. 'Jangan dihabiskan sendiri! Aku juga mau!' Eryas tersenyum miring, penuh kemenangan. Ia menyodorkan sebungkus snack ke arah Eira, seperti sedang memberi umpan kepada makhluk liar yang mulai jinak. Eira menatap bungkus snack itu penuh waspada. Ia mengendus aromanya, seolah memastikan tak ada sesuatu yang aneh. Eryas hanya menatapnya dengan ekspresi dingin, lalu bertanya tenang, "Apa kau pernah diberi makan menggunakan racun? Tenang saja. Ini aman." 'Pria ini siapa? Apa dia bisa membaca pikiranku? Kenapa dia selalu tahu apa yang kupikirkan?' Eira mengerutkan dahi, namun akhirnya mengulurkan tangan, mengambil camilan yang ditawarkan—keripik kentang. Ia menatap lekat bentuk dan warnanya. Sekali lagi, ia mengendusnya dengan hati-hati sebelum akhirnya memasukkan satu ke mulut. "Kau adalah orang gila paling waras dan hati-hati. Aktingmu dapat bintang empat dari lima." "Uhuk!" Eira langsung tersedak. Camilan belum sempat turun sepenuhnya, sudah dihentak kalimat tajam itu. Eryas hanya terkekeh pelan. Entah mengapa, bagi dirinya yang biasanya kaku dan tanpa emosi, tingkah Eira terasa... lucu. Tapi ia tahu, ini bukan waktu untuk tertawa. Tanpa berkata apa-apa, Eryas berbalik dan berlari ke dapur. Tak sampai semenit, ia kembali dengan segelas air putih di tangannya. "Minum ini." Ia mengulurkan gelas itu padanya. "Tenang saja. Ini air mineral biasa. Tidak ada racun atau hal aneh lainnya." Entah kenapa, Eira mempercayainya begitu saja. Ia menerima gelas itu dan langsung meneguknya habis. Eryas duduk di sebelahnya, mengusap punggung gadis itu perlahan, menenangkan. "Sudah, pelan-pelan saja minumnya. Jangan sampai tersedak lagi." Eira menggerutu dalam hati. 'Kau sendiri yang membuatku tersedak! Orang aneh!' Setelah gelas itu kosong, Eryas mengambilnya dari tangan Eira dan meletakkannya hati-hati di atas meja. Gerak-geriknya sangat tenang, terukur. "Sudah lebih baik?" tanyanya, kali ini dengan suara yang tetap datar, tapi ada kelembutan tipis yang menyelinap di balik nada suaranya. Tak menjawab, Eira tiba-tiba membuka bagian atas pakaian tidurnya. Ia berbaring telungkup di sofa, membelakangi Eryas tanpa sepatah kata pun. Eryas menunduk, dan terdiam. Punggung Eira penuh luka. Bekas cambukan, sayatan... semuanya terlihat nyata dan menyakitkan. Luka-luka itu bukan sesuatu yang baru; sebagian bahkan sudah mulai membentuk jaringan parut. Ia mengulurkan tangan perlahan, jari-jarinya menyentuh kulit Eira dengan sangat hati-hati. Gerakannya seperti sedang menyentuh kaca rapuh. "…Kau benar-benar mengingatkanku pada diriku sendiri, dua puluh tahun lalu." Eira terpaku. 'Mengingatkan pada dirinya sendiri?' batinnya mulai bergolak. 'Apa maksudnya? Memangnya dia... pernah pura-pura gila juga sepertiku? Apa dia juga pernah... harus bertahan hidup dengan cara seperti ini?'Nomor 190 menoleh cepat ke belakang begitu mendengar suara Darius yang menyebut Eryas terluka. Matanya membelalak, seolah tersadar sesuatu. Pandangannya jatuh pada noda merah samar di punggung baju Eryas. Rasa bersalah seketika menggerogoti dadanya, membuat tenggorokannya tercekat."Ti- tidak, kak! Tidak sama sekali. Sepertinya ini karena luka sebelumnya yang aku dapatkan saat masih tinggal bersama orang tua—" ucap Eryas terbata, mencoba menutupi kebenaran.Sebelum kalimatnya selesai, Darius sudah menarik tubuh kecil itu dan memeluknya erat. Bahunya bergetar, air mata jatuh satu per satu, membasahi rambut Eryas."Eryas, jadi ayahmu juga sering memukulmu? Kau juga bernasib sama denganku? Betapa malangnya dirimu. Padahal kau masih sangat kecil." Suaranya pecah, penuh getir. Perlahan, dia melepas pelukan itu hanya untuk mengusap kepala bocah mungil tersebut dengan lembut, seakan berusaha menenangkan luka yang jauh lebih dalam dari sekadar goresan di kulit. "T
"Itu tidak benar!" ucap Eryas dengan lantang, suaranya terdengar serak namun penuh tekad setelah batuknya mereda. Napasnya masih tersengal, namun tatapan matanya begitu serius. "Aku yang mencetuskan ide itu secara tidak langsung saat kakak Nomor 190 memberi nampannya yang berisi emas. Lalu aku membagikan emas itu sama rata pada nampan yang—" Nomor 190 menggertakkan giginya dengan keras, wajahnya memerah karena kesal. Suara gemericik air sungai seakan tidak mampu menutupi ketegangan yang meledak di antara mereka. "Jangan dengarkan apa yang anak kecil ini katakan! Dia masih balita, belum mengerti apa yang dia katakan. Sayalah yang mencetuskan ide itu!" Nada suaranya tajam, penuh amarah bercampur kepanikan terselubung. "Tidak benar! Aku yang mencetuskan—" Eryas mencoba melawan, suaranya bergetar namun tidak ragu sedikit pun. "Cukup!" teriak mandor dengan suara membahana, membuat beberapa anak lain yang tadinya pura-pura tidak memperhatikan j
"Apa yang kau bicarakan, Nomor 190? Aku tidak mengerti!" ucap Darius, air matanya menetes, membasahi pipinya yang pucat. Bahunya bergetar hebat, seperti anak kecil yang baru saja kehilangan pegangan. Nomor 190 mencengkeram kerah bajunya dengan kasar. Urat-urat di tangan remajanya menegang, sementara tinjunya terkepal kuat di belakang kepala, siap menghantam. Tatapannya tajam, penuh amarah bercampur kebencian. "Kita buktikan apakah kau benar-benar anak Helios atau bukan." Suaranya datar, tetapi dingin menusuk, seakan menyalurkan niat mematikan ke udara. Darius memejamkan mata erat-erat, tubuhnya kaku. Ia bersiap menerima pukulan, detak jantungnya berpacu tak terkendali. Napasnya terputus-putus, seperti sedang menunggu eksekusi. Namun, sebelum tinju itu mendarat, sesosok kecil berdiri di hadapannya. Eryas. Tubuh mungilnya langsung menerima hantaman yang seharusnya untuk Darius. Bunyi pukulan itu nyaring, mengha
Di tepi sungai yang keruh, deru air yang menghantam bebatuan terdengar bercampur dengan suara serak para anak-anak yang sibuk menyaring pasir. Wajah mereka penuh keringat, tangan kecil mereka bergerak cepat seperti mesin yang dipaksa bekerja tanpa henti. Bau logam samar dari emas yang kadang muncul di saringan menambah beratnya suasana. Tidak ada yang berani berhenti, karena bayangan paman Helios dan orang-orangnya selalu mengintai dari kejauhan. Di tengah hiruk pikuk itu, Eryas melambai penuh semangat. "Kak Darius, ini kak Nomor 190!" serunya lantang, memperkenalkan kedua orang itu seakan mempertemukan dua sekutu penting. "Salam kenal Nomor 190, aku Darius!" ucap Darius sambil mengulurkan tangannya. Senyumnya ramah, matanya seolah berbinar penuh ketulusan. Nomor 190 menoleh. Tatapannya tajam, penuh pertimbangan. Jemarinya sempat kaku di udara, seolah enggan menerima. Baru setelah beberapa detik tegang, dia akhirnya meraih jabat tangan it
Darius berlutut, menundukkan kepala dengan penuh takzim. Tangan kanannya diletakkan di dada kirinya, seolah bersumpah setia. "Baik, yang mulia. Permintaan Anda adalah perintah untuk saya."Helios menatap anak itu dengan sorot mata penuh kebanggaan. Senyum tipis tersungging di bibirnya, samar namun menyimpan nuansa ambisi kelam. "Bagus, Darius! Kelak, kau akan menjadi pewarisku yang paling berbakat."Darius bangkit berdiri dengan sikap tegap, lalu berjalan mundur beberapa langkah sebelum berbalik. Langkahnya mantap, penuh wibawa meski usianya masih belia. Di balik tubuh kecil itu, tersimpan aura yang hampir menyerupai ayahnya sendiri. Sang penjaga segera menggiringnya menuju koridor gelap, berliku-liku menuruni tangga menuju penjara anak-anak.Udara di sana pengap, bau anyir besi berkarat dan keringat bercampur menjadi satu. Rantai-rantai beradu, menimbulkan bunyi yang menggema di sepanjang lorong."Silakan masuk," ucap penjaga dengan suara serak,
Eryas menoleh ke arah kakak yang selalu berada di sisinya itu. Rasa penasaran mengusik pikirannya sejak lama. Dengan hati-hati, ia berjalan lebih dekat, nampan berisi pasir dan lumpur masih menempel di pinggang kirinya. Sementara tangan kanannya terulur, berusaha memperkenalkan diri dengan sopan."Kakak, kenapa anak-anak seperti kita tidak dijual lagi saja ke orang tua yang ingin anak itu? Apa sudah tidak bisa?" tanya Eryas polos, suaranya terdengar kecil di tengah riuh gemercik sungai.Nomor 190 terdiam sejenak, lalu tersenyum miris. "Yah, sayangnya orang tua itu hanya menginginkan bayi yang belum mengerti apa-apa. Jika anak-anak seperti kita diadopsi orang lain, mereka tidak akan bisa merasa bahwa kita adalah anak kandung mereka karena kita sudah tahu bahwa mereka memang bukan orang tua kandung kita."Jawaban itu membuat Eryas termenung. Tangannya yang semula sibuk menggoyang-goyangkan nampan, kini sedikit terhenti. "Padahal aku pernah melihat di TV teta







