Share

{Bab 4} Perjanjian Pranikah

last update Last Updated: 2026-01-05 16:30:18

Kereta kuda yang mengangkut Alianne dan Raja Aldren perlahan bergerak ke arah Utara.

Derit roda kayu terdengar berirama, memecah keheningan padang rumput yang mulai ditinggalkan.

Kereta yang sebelumnya tersembunyi di antara semak-semak, kini keluar menuju sebuah jalan berbatu yang panjang dan luas, jalur utama yang jelas sering dilalui rombongan besar. Setiap guncangan roda terasa nyata, seolah menandai bahwa Alianne benar-benar sedang menjauh dari kehidupan lamanya.

Di luar kereta, belasan pasukan ksatria Aldren berjalan mengawal dengan formasi rapi. Langkah mereka serempak, armor logam beradu pelan satu sama lain. Dua orang sandera dari Kerajaan Aurenthia diseret di tengah barisan, tangan mereka terikat, wajah mereka tegang menahan takut dan malu.

Di dalam kereta kuda, suasananya jauh lebih sunyi.

Aldren duduk bersandar, satu lengannya bertumpu santai, namun sorot matanya tak pernah lepas dari Alianne. Sejak tadi, gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Alianne justru menatap keluar jendela kereta dengan mata berbinar, penuh kekaguman, seolah-olah dunia di luar sana adalah lukisan hidup yang baru pertama kali ia lihat.

Aldren berdehem pelan, suara rendah itu cukup untuk menarik perhatian. Alianne menoleh sekilas, hanya sepersekian detik sebelum kembali memalingkan wajahnya ke luar. "Kau bilang mau menjelaskan alasanmu nanti, kan? Jadi selama perjalanan, tidak perlu ada dialog di antara kita."

Aldren menghela napas panjang, napas yang terdengar berat namun terkendali.

"Bisa-bisanya ada rakyat jelata yang berani marah pada seorang raja."

"Aku tidak marah. Tapi jika kau merasa demikian, itu masalahmu sendiri." Alianne kembali menatap pemandangan di luar.

Jalan berbatu membuat kereta berguncang pelan, ritmenya terasa di tubuh. Langit masih cerah, namun semburat oranye mulai menggerogoti biru pucat di ufuk barat, pertanda sore yang perlahan datang. Burung-burung beterbangan rendah, satu per satu kembali ke sarang mereka.

"Yang mulia, berapa lama lagi kita akan sampai di Kerajaan Valtarian?" tanya Alianne dengan antusias, seolah baru ingat larangan dialog yang ia buat sendiri.

Aldren menopang kepalanya dengan kepalan tangan, menatap dingin ke arahnya. "Kau bilang, tidak perlu ada dialog di antara kita selama perjalanan."

Alianne memutar mata, jelas kesal. "Bagus! Kau membuatku merasa seperti menjilat ludahku sendiri."

Setelah itu, keheningan kembali menguasai ruang sempit kereta kuda.

Derak roda terus mengiringi perjalanan hingga akhirnya jalan berbatu itu membawa mereka mendekati sebuah tembok raksasa.

Tembok itu menjulang tinggi, kokoh, dan luas, membentang melingkari sebuah kerajaan besar di dalamnya. Beberapa penjaga berdiri di atas menara, tombak dan panah siap siaga, mata mereka mengawasi setiap rombongan yang mendekat.

Tembok batu itu bukan sekadar pertahanan. Ia seperti simbol pemisah antara dunia luar yang liar dan kehidupan di dalamnya yang tertata.

Mata Alianne membulat saat melihatnya melalui jendela kereta. Napasnya tertahan, kagum pada arsitektur yang berdiri begitu megah meski tanpa teknologi modern.

Perlahan, dua ekor kuda yang dikendalikan seorang kusir melangkah melewati gerbang besar, memasuki wilayah di dalam tembok.

Pemandangan pertama yang menyambut Alianne adalah pasar.

Pasar tradisional yang ramai langsung terbentang di depan mata. Suara teriakan para pedagang bersahut-sahutan, menawarkan kain, rempah, biji-bijian, hingga barang-barang asing yang jelas berasal dari negeri jauh. Bau roti panggang, daging asap, dan tanah bercampur memenuhi udara.

Bangunan-bangunan bergaya Eropa abad pertengahan berdiri rapat namun tertata rapi, jauh berbeda dari gedung-gedung tinggi dan rumah yang menumpuk tidak beraturan di dunia asal Alianne. Pemandangan itu membuat dadanya terasa sesak oleh rasa takjub.

Aldren tetap di posisinya. Ia memperhatikan Alianne dengan tatapan tajam yang tersembunyi di balik ekspresi tenangnya, menganalisis setiap reaksi kecil, setiap napas tertahan, setiap kilau mata. Ia sedang memastikan sesuatu.

"Ini adalah Pasar Serikat Valtaria. Pusat perdagangan yang menjual barang baik ekspor maupun impor. Penduduk kami sepenuhnya bergantung pada perputaran ekonomi melalui perdagangan dan pertanian."

Suara Aldren yang tiba-tiba itu membuat Alianne menoleh cepat, wajahnya langsung dipenuhi semangat.

Dengan antusias, ia bertanya, "Lalu, tembok besar tadi namanya apa?"

"Tembok besar tadi bernama Perak Selatan. Karena gerbang itu adalah gerbang yang menjadi pintu utama untuk kerajaan di Selatan, kerajaan Aurenthia."

"Lalu nama jalan berbatu yang besar itu?" tanya Alianne lagi.

"Itu adalah Jalur Valen-Auren. Jalan utama yang menghubungkan kerajaan Valtarian dan Aurenthia. Dua negara yang saling bertetangga meski saling berbeda ideologi."

Aldren menatap Alianne dengan santai, jelas siap menjawab pertanyaan berikutnya. Senyum tipis mengejek terukir di sudut bibirnya. "Ada lagi yang ingin kau ketahui, manusia yang bukan dari dunia ini?"

Alianne mendengus kesal. "Kenapa kau selalu menuduhku bukan dari dunia ini? Aku adalah rakyat jelata yang tinggal di pedesaan. Masuk akal jika aku tidak tahu dunia luar."

Aldren hanya mengangguk singkat. Gerakannya tenang, terlalu tenang. Jelas menunjukkan bahwa anggukan itu bukan tanda percaya, melainkan sekadar cara elegan untuk mengakhiri perdebatan.

Alianne menangkapnya. Ia menoleh, menatap Aldren dengan sorot mata yang tidak lagi sekadar penasaran, melainkan mengamati. Seolah-olah sedang membedah seseorang yang berdiri di balik lapisan dingin dan kekuasaan. "Kau terlihat seperti seseorang yang sudah pernah mati karena orang terpercaya. Hingga akhirnya tidak bisa percaya pada siapapun lagi."

Ucapan itu meluncur begitu saja, ringan, namun menghantam tepat sasaran.

Aldren tidak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya bersandar lebih santai di kursinya, sikap yang bertolak belakang dengan makna kata-kata Alianne. "Bisa dibilang seperti itu." Jawaban singkat. Tidak ada pembelaan. Tidak ada bantahan.

Alianne menyipitkan mata, lalu tersenyum samar. "Jadi, kenapa malah memutuskan menikah denganku? Kau tidak takut akan membunuhmu saat sudah jadi ratu nanti seperti apa yang dilakukan ratu Seraphine pada suaminya?"

Senyumnya berubah jahat, sengaja memancing reaksi. Namun Aldren hanya mengangkat sebelah alisnya, ekspresinya datar, nyaris malas.

"Itu beda kasus! Kalau kau ingin membunuhku, maka yang akan diangkat menjadi raja adalah adikku yang jelas-jelas laki-laki dan darah murni raja sebelumnya," jawab Aldren santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Dunia ini tidak semudah seperti yang kau bayangkan."

Alianne mendengus pelan. "Dunia patriarki, ya?" tanyanya memastikan. "Apakah alasanmu menikahiku juga karena patriarki?"

Aldren meluruskan duduknya. Suasana di dalam kereta seakan berubah. Udara terasa lebih berat. "Bisa ya dan tidak."

Ia menatap Alianne langsung, tanpa senyum, tanpa topeng.

"Singkatnya, kondisimu saat ini hanya memungkinkan selamat jika kau menikah dengan seseorang yang memiliki kekuasaan. Lagi pula, aku masih membutuhkan orang cerdas seperti dirimu untuk kemajuan kerajaan."

Alianne terdiam sejenak, lalu matanya berbinar, terlalu cepat untuk seseorang yang seharusnya terpojok. "Kenapa tidak menjadikan diriku sejenis seperti tabib istana atau bagian administrasi? Bagian akuntan atau apapun juga boleh!"

Nada suaranya naik penuh harapan. "Kebetulan aku belum memiliki pekerjaan! Jika aku menjadi anak buahmu, itu juga bisa melindungiku dari tuduhan penyihir, kan? Kau bisa melindungiku sebagai raja dan atasan."

Aldren tersenyum miring. Senyum yang tidak kejam, tapi dingin. "Kau ini tinggal di dunia seperti apa? Lihatlah dirimu sendiri! Anak perempuan dari keluarga miskin, berharap mendapatkan pekerjaan semacam itu di kerajaan. Bahkan wanita miskin paling ambisius tidak akan kepikiran hal itu."

Kata-kata itu menghantam telak.

Alianne memijat pelipisnya, bahunya sedikit turun. "Jadi, kau menikahiku juga sebagai bentuk dari mengambil celah sistem agar aku tetap terlindungi dan punya kekuasaan?"

Aldren mengangguk. "Bisa dibilang seperti itu." Ia lalu menoleh ke arah jendela. Sorot matanya meredup, seolah memikul beban yang tidak bisa dibagi dengan siapa pun. "Bisa dibilang, aku sedang mencari penyihir dari dunia lain. Dan aku yakin itu adalah dirimu."

Jantung Alianne berdegup lebih cepat.

Namun alih-alih panik, ia justru tersenyum nakal, penuh perhitungan. "Baiklah, kalau begitu, aku ingin mengajukan perjanjian pranikah!"

Aldren menoleh, menatapnya santai, seolah sudah menduga arah pembicaraan ini. "Katakan!"

"Satu!" Alianne mengangkat jari telunjuknya tepat di depan wajah Aldren. "Kau tidak boleh menyentuhku tanpa izin, sedikitpun!"

Aldren mengangguk. Tapi kali ini tatapannya berubah lebih serius. "Kecuali jika kau dalam bahaya! Setuju?"

Alianne terdiam sesaat. 'Licik.'

Namun akhirnya ia mengangguk. "Baiklah."

"Selanjutnya!" titah Aldren.

"Dua!" Alianne mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. "Nafkah sifatnya wajib! Meskipun aku hanya bermalas-malasan di istana, kau tetap harus memberiku uang!"

Aldren mengangguk tanpa ragu. "Selanjutnya?"

"Tiga!" Alianne mengangkat tiga jarinya sekaligus. "Aku tidak mau bekerja! Aku mau bermalas-malasan di istana! Aku tidak mau melakukan pekerjaan apapun termasuk urusan domestik. Kecuali jika kau mau memberi bayaran tambahan."

Aldren mengangguk lagi, tenang, nyaris terlalu mudah. "Ada lagi?"

Alianne membulatkan mata, merasa sangat terkejut dengan respon Aldren. "Yang benar saja! Kau menyetujui semua itu?"

Aldren menatap Alianne tajam. Aura dingin dan dominan itu kembali menekan ruang di antara mereka. "Kenapa? Jangan bilang bahwa perjanjian yang kau sebutkan tadi adalah strategi untuk membuat tekadku untuk menikahimu, goyah?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 7} Asumsi Otak Manusia Ketakutan

    Api obor berderak pelan, memantulkan bayangan panjang di dinding penjara bawah tanah yang lembap dan berlumut. Bau darah, besi berkarat, dan tanah basah bercampur menjadi satu, menyesakkan napas siapa pun yang berada di dalamnya. Dua orang ksatria Aurenthia berdiri terikat pada tiang besi, tubuh mereka penuh luka cambukan yang belum sempat mengering sempurna.Kepala salah satu dari mereka terangkat dengan susah payah. Napasnya tersengal, suaranya bergetar saat akhirnya menjawab."Ha- hanya misi untuk menangkap penyihir!" jawab salah satunya.Aldren berdiri beberapa langkah di depan mereka, tubuhnya tegap, bayangannya menjulang di dinding batu. Tatapannya dingin, nyaris kosong, seolah dua orang di hadapannya bukanlah manusia, melainkan sekadar variabel yang harus diselesaikan."Jelaskan!" Aldren memerintah. Nadanya tenang dan dingin. Namun, itu yang membuatnya sangat mengerikan.Ksatria itu menelan ludah, menahan perih di tenggorokannya. "Kami hanya diperintah untuk menangkap beberapa

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 6} Rencana Menyerahkan Bukti

    Alianne melangkah dengan santai, membawa secangkir teh itu seolah isinya hanyalah minuman biasa. Cairan di dalamnya beriak pelan mengikuti langkah kakinya, memantulkan cahaya redup dapur. Sikapnya yang terlalu tenang justru terasa ganjil, berbanding terbalik dengan situasi yang baru saja mereka saksikan.Serin akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Jantungnya berdebar kencang saat ia menyusul Alianne, langkahnya tergesa. Ia mendekat dan berbisik dengan suara gemetar. "Alianne, apa benar ini mau diberikan pada yang mulia?" tanyanya dengan ragu."Tentu saja iya!" jawab Alianne tanpa ragu.Serin langsung membuka matanya lebar, wajahnya memucat. "Alianne, yang benar saja! Kau mau meracuni calon suamimu sendiri?" tanyanya dengan terkejut.Alianne justru terkejut mendengar tuduhan itu. Alisnya terangkat, langkahnya terhenti sejenak. "Untuk apa aku meracuni seseorang? Itu ilegal!""Lalu-"Sebelum Serin sempat melanjutkan kalimatnya dan menarik perhatian lebih banyak orang di dapur yan

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 5} Istana Obsidian

    Alianne tidak merasa panik. Tidak ada jantung berdebar berlebihan, tidak ada napas tercekat. Ia hanya membalikkan tubuhnya sedikit, menatap Aldren dengan senyuman mengejek yang tenang, seolah sedang menilai hasil pemikirannya sendiri. “Walaupun hidup di dunia patriarki, rupanya pemikiranmu tidak ikut seperti itu.”Tatapan Aldren tidak berubah. Namun roda kereta kuda tiba-tiba berhenti, disusul hentakan kecil ketika dua ekor kuda penariknya ikut menghentikan langkah. Getaran halus menjalar ke lantai kereta, menandakan perjalanan mereka telah usai.Kereta kuda itu berhenti tepat di depan istana Obsidian.Sebuah bangunan raksasa menjulang di hadapan mereka, mendominasi pandangan dengan warna hitam pekat. Batu obsidian berwarna gelap membentuk dinding-dinding tebal yang tinggi, menyerap cahaya matahari sore alih-alih memantulkannya. Istana itu tidak berkilau, tidak memikat mata dengan kemewahan, ia berdiri seperti bayangan masa lalu yang keras, dingin, dan tak tergoyahkan.Sepasang mata c

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 4} Perjanjian Pranikah

    Kereta kuda yang mengangkut Alianne dan Raja Aldren perlahan bergerak ke arah Utara.Derit roda kayu terdengar berirama, memecah keheningan padang rumput yang mulai ditinggalkan. Kereta yang sebelumnya tersembunyi di antara semak-semak, kini keluar menuju sebuah jalan berbatu yang panjang dan luas, jalur utama yang jelas sering dilalui rombongan besar. Setiap guncangan roda terasa nyata, seolah menandai bahwa Alianne benar-benar sedang menjauh dari kehidupan lamanya.Di luar kereta, belasan pasukan ksatria Aldren berjalan mengawal dengan formasi rapi. Langkah mereka serempak, armor logam beradu pelan satu sama lain. Dua orang sandera dari Kerajaan Aurenthia diseret di tengah barisan, tangan mereka terikat, wajah mereka tegang menahan takut dan malu.Di dalam kereta kuda, suasananya jauh lebih sunyi.Aldren duduk bersandar, satu lengannya bertumpu santai, namun sorot matanya tak pernah lepas dari Alianne. Sejak tadi, gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Alianne justru menat

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 3} Rakyat Jelata Menjadi Istri Raja

    Alianne membulatkan matanya. Napasnya tercekat saat menatap sosok besar yang berdiri di depan tubuhnya. Meski tubuh itu dipenuhi luka, bekas pertempuran yang belum sepenuhnya kering, kehadiran pria itu justru terasa seperti tembok raksasa yang menutup jalan keluar.“Ada apa ini? Kenapa kalian mengacungkan senjata kalian pada warga sipil?” Nada suaranya terdengar tegas, meski dadanya berdegup kencang.Dua ksatria yang sebelumnya mengarahkan pedang ke tubuh Alianne langsung bergerak serempak. Dengan gerakan cepat dan terlatih, mereka berlutut di hadapan Aldren, kepala tertunduk dalam-dalam sebagai tanda kepatuhan mutlak.“Yang mulia, maaf atas kelancangan kami pada kerajaan Valtarian. Namun, ini adalah perintah langsung dari yang mulia ratu kami.”“Benar, yang mulia,” sahut ksatria satunya lagi. “Ratu kami memerintahkan kami untuk membasmi para penyihir yang berbahaya untuk kelangsungan hidup masyarakat di kerajaan kami.”“Penyihir?” gumam Aldren, pelan.Satu kata itu jatuh ke udara sep

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 2} Tuduhan Penyihir

    Ksatria itu segera melangkah maju dan berlutut di hadapan pria berjubah gelap tersebut. Lututnya menghantam tanah dengan suara berat, menunjukkan keseriusan situasi.“Lapor, yang mulia.” Ksatria itu menundukkan kepala lebih dalam. “Wanita ini berlari kemari dengan terburu-buru. Dia terlihat mencurigakan. Ditakutkan, dia adalah bala bantuan yang dikirim untuk menyerang kami yang sudah terluka.”Ujung senjata para ksatria masih terarah ke tubuh Alianne. Udara di sekitarnya terasa menekan, seolah satu gerakan salah saja bisa mengakhiri segalanya.“Bu- bukan! Aku benar-benar hanya rakyat jelata,” ucap Alianne, membela diri. Kini ia tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikan di wajahnya. Napasnya tersengal, tangannya gemetar di sisi tubuhnya.Langkah kaki berat terdengar mendekat.Aldren, pria bertubuh tinggi itu berjalan ke arahnya dengan tenang. Setiap langkahnya mantap, tanpa ragu, tanpa tergesa. Ia berhenti tepat di hadapan Alianne.Cahaya matahari terhalang oleh tubuh Aldren, menelan Al

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status