LOGINEryas dengan tenang mengambil cokelat dari tangan Eira. Tanpa berkata apa-apa, ia membuka bungkusnya dengan gerakan santai, lalu menyodorkannya kembali. "Ini, sekarang bisa dimakan," ucapnya.
Eira menatapnya dengan tatapan waspada. Ketakutan terlihat jelas di mata merahnya yang bergetar, meski bibirnya tetap terkunci rapat. ‘Jangan perlihatkan ketakutanmu! Bersikap biasa saja! Kenapa aku selalu kehilangan kendali saat bersama pria ini?!’ batinnya menggerutu, tubuhnya menegang. Eryas menatap balik, kali ini dengan pandangan datar yang sulit ditebak. Ia meletakkan cokelat itu ke tangan Eira, lalu berdiri dan melangkah pergi. "Itu camilanmu. Jika kau belum nyaman menunjukkan lukamu pada orang asing, aku akan pergi." Langkah-langkah Eryas menjauh, dan punggung tegapnya semakin kecil di mata Eira—membuat dadanya diliputi kepanikan aneh. Tubuhnya bergerak spontan, memeluk Eryas dari belakang. Tubuh Eryas menegang sejenak, membeku. Dingin tubuh Eira menempel di punggungnya, membuatnya terdiam, berpikir cepat. ‘Ada yang aneh dengan anak ini,’ batinnya. Eryas berbalik perlahan, lalu memegang kedua bahu Eira. "Apa kau kedinginan?" Eira hanya menunduk dalam diam, menggigit bibirnya sendiri, menghujat dirinya dalam hati. ‘Bodoh! Kenapa aku melakukannya? Sekarang aku benar-benar ketahuan!’ Eryas terus menatapnya—tenang, namun penuh perhitungan. Tatapannya menajam saat melihat gurat ketakutan di wajah Eira. Ia lalu menatap dalam ke mata merah itu. "Eira, apa yang kau inginkan sekarang? Kau ingin aku pergi atau tetap di sini?" Otak Eira mendadak beku. Dadanya sesak. Pertanyaan itu terasa asing baginya, hampir menyakitkan. Tidak pernah ada yang bertanya seperti itu sebelumnya. "Kau mau aku tetap di sini?" suara Eryas merendah, nyaris seperti bisikan. Ia memperhatikan perubahan mikro-ekspresi di wajah Eira. "Aku pergi saja?" lanjutnya, memiringkan kepala sedikit, masih menunggu jawaban. "Kau mau apa?" "Huwaaa!" Eira tiba-tiba meronta. Tubuh mungilnya melepaskan diri dari genggaman Eryas lalu berlari mengelilingi kamar, mengacak seprei seperti anak kecil kehilangan arah. Eryas hanya berdiri diam, wajahnya datar namun matanya tajam, menganalisis setiap gerakan Eira. "Coping mechanism murahan," gumamnya dingin. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan meninggalkan kamar, membiarkan Eira sendirian. Saat pintu tertutup, suasana kamar mendadak sunyi—dan beban kembali menghantam bahu Eira. Ia menatap pintu kamar yang kini terkunci. Napasnya berat. Tiba-tiba, tangannya meraih rambut panjangnya, mencengkeram keras—menariknya sekuat tenaga hingga beberapa helai rontok. ‘Bagaimana ini?! Aku ketahuan! Kalau dia melapor pada Ayah… apa yang akan terjadi padaku?!’ Kepalanya berdenyut hebat. Suara-suara dalam kepalanya menggema, saling bertabrakan, tak memberi ruang logika. ‘Lakukan sesuatu! Harus melakukan sesuatu yang meyakinkan!’ Matanya mengarah ke satu titik—pintu balkon. ‘Itu dia…’ Dengan langkah cepat, nyaris seperti melayang, Eira membuka pintu balkon. Angin sore menyambutnya, dan ia berdiri di tepi pagar balkon lantai dua. Tubuhnya kecil, ringkih, namun tatapannya gila dan tajam. Ia menunduk, menilai ketinggian antara dirinya dan tanah. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai tipis. Tanpa ragu, ia merentangkan tangan. ‘Kalau terluka parah… kalau tak sadarkan diri… aku bisa lepas dari semua ini. Dari Ayah. Dari pria itu. Dari… segalanya.’ Angin menyapu rambut dan pakaian tidurnya saat tubuhnya mulai condong ke depan. Eira memejamkan mata. Dia menyerahkan dirinya sepenuhnya pada gravitasi. Dan terjun. Namun… Tubuh Eira tiba-tiba terhempas ke udara. Refleks, matanya terbuka lebar. Dia terkejut—bukannya menghantam tanah, tubuhnya justru memantul, terlempar kembali ke atas… lalu jatuh lagi… dan terpantul lagi. Berulang-ulang. Ketika akhirnya hentakan terakhir mereda, tubuh Eira mendarat dengan duduk di atas… trampolin? Napasnya memburu, kepalanya berputar. Lalu, sosok pertama yang tertangkap oleh matanya adalah— “Trik yang bagus.” Eryas muncul dari balik bayangan, berjalan pelan sambil bertepuk tangan, iramanya tenang, menghantui. Ia kemudian ikut duduk di atas trampolin, beberapa jengkal darinya. “Apa yang kau pikirkan? Bahwa dengan tidak sadarkan diri, masalahmu akan hilang begitu saja?” Eira menelan ludah. Rasanya seperti ada batu menancap di tenggorokannya. Emosinya terkelupas satu per satu oleh sorot mata pria itu. ‘Bagaimana dia bisa tahu? Semua yang aku lakukan selalu berhasil... selama puluhan tahun... Tapi sekarang? Kenapa... kenapa tidak berhasil padanya?’ Panik kembali menyerbu dadanya. ‘Lakukan sesuatu! Jangan biarkan dia membaca lebih dalam!’ Tanpa aba-aba, Eira berteriak dan melompat turun dari trampolin, mencoba kabur—atau setidaknya menjauh. Tapi Eryas lebih cepat. Dalam sekejap, dia menangkap tubuh mungil itu dengan satu tangan, mendekapnya dengan mudah seolah hanya memindahkan karung beras. “Mau ke mana lagi?” suara Eryas tenang, namun tajam. “Membuat keributan di rumahku tidak akan membawa hasil apa-apa.” Tanpa repot, dia mengangkat Eira dengan satu lengan, membawanya seperti barang ringan yang tak memberontak. Eira meronta, tubuhnya bergetar, matanya liar mencari jalan keluar. ‘Aku takut! Dia mau membawaku ke mana? Apa dia akan bilang ke Ayah? Tidak… jangan!’ Eryas menurunkannya perlahan di atas sofa ruang tamu. Napas Eira terengah-engah, tubuhnya kaku karena ketakutan. ‘Apa yang harus kulakukan sekarang? Menangis histeris? Tidak! Aku sudah membuat terlalu banyak masalah. Dia pasti sudah kehilangan kesabaran! Dia akan memukulku. Tidak... aku tidak mau! Lebih baik aku jatuh dari lantai dua daripada dipukuli sampai pingsan! Bahkan saat sudah pingsan pun mereka masih memukul... aku tidak mau lagi!’ Eryas memperhatikan Eira dalam diam. Gadis itu terus menggelengkan kepala, seolah mencoba mengusir sesuatu dari pikirannya. Ketakutan begitu nyata di wajahnya. "Aku tidak akan memberitahukan apapun pada ayahmu," kata Eryas, suaranya tajam dan tegas seperti pisau yang memotong kabut. Seketika, Eira membeku. Pupil merahnya menatap langsung ke pupil hitam Eryas yang kini menatapnya tajam namun tidak menghakimi. "Anggap saja kita ini sama," lanjut Eryas, nada suaranya merendah, lebih dalam. "Kita sama-sama harus berpura-pura agar bisa bertahan hidup." Dia tersenyum tipis. Sebuah senyum yang... hangat. Tulus. Nyaris asing di wajah sedingin miliknya. Eryas mengulurkan tangan, menjabatkan telapak tangannya padanya. “Tenang saja. Aku di pihakmu. Tidak perlu takut lagi. Aku... adalah temanmu.” Eira hanya menatapnya, bingung, seperti seseorang yang baru mendengar bahasa asing. ‘Teman? Bukannya... suami istri?’Nomor 190 menoleh cepat ke belakang begitu mendengar suara Darius yang menyebut Eryas terluka. Matanya membelalak, seolah tersadar sesuatu. Pandangannya jatuh pada noda merah samar di punggung baju Eryas. Rasa bersalah seketika menggerogoti dadanya, membuat tenggorokannya tercekat."Ti- tidak, kak! Tidak sama sekali. Sepertinya ini karena luka sebelumnya yang aku dapatkan saat masih tinggal bersama orang tua—" ucap Eryas terbata, mencoba menutupi kebenaran.Sebelum kalimatnya selesai, Darius sudah menarik tubuh kecil itu dan memeluknya erat. Bahunya bergetar, air mata jatuh satu per satu, membasahi rambut Eryas."Eryas, jadi ayahmu juga sering memukulmu? Kau juga bernasib sama denganku? Betapa malangnya dirimu. Padahal kau masih sangat kecil." Suaranya pecah, penuh getir. Perlahan, dia melepas pelukan itu hanya untuk mengusap kepala bocah mungil tersebut dengan lembut, seakan berusaha menenangkan luka yang jauh lebih dalam dari sekadar goresan di kulit. "T
"Itu tidak benar!" ucap Eryas dengan lantang, suaranya terdengar serak namun penuh tekad setelah batuknya mereda. Napasnya masih tersengal, namun tatapan matanya begitu serius. "Aku yang mencetuskan ide itu secara tidak langsung saat kakak Nomor 190 memberi nampannya yang berisi emas. Lalu aku membagikan emas itu sama rata pada nampan yang—" Nomor 190 menggertakkan giginya dengan keras, wajahnya memerah karena kesal. Suara gemericik air sungai seakan tidak mampu menutupi ketegangan yang meledak di antara mereka. "Jangan dengarkan apa yang anak kecil ini katakan! Dia masih balita, belum mengerti apa yang dia katakan. Sayalah yang mencetuskan ide itu!" Nada suaranya tajam, penuh amarah bercampur kepanikan terselubung. "Tidak benar! Aku yang mencetuskan—" Eryas mencoba melawan, suaranya bergetar namun tidak ragu sedikit pun. "Cukup!" teriak mandor dengan suara membahana, membuat beberapa anak lain yang tadinya pura-pura tidak memperhatikan j
"Apa yang kau bicarakan, Nomor 190? Aku tidak mengerti!" ucap Darius, air matanya menetes, membasahi pipinya yang pucat. Bahunya bergetar hebat, seperti anak kecil yang baru saja kehilangan pegangan. Nomor 190 mencengkeram kerah bajunya dengan kasar. Urat-urat di tangan remajanya menegang, sementara tinjunya terkepal kuat di belakang kepala, siap menghantam. Tatapannya tajam, penuh amarah bercampur kebencian. "Kita buktikan apakah kau benar-benar anak Helios atau bukan." Suaranya datar, tetapi dingin menusuk, seakan menyalurkan niat mematikan ke udara. Darius memejamkan mata erat-erat, tubuhnya kaku. Ia bersiap menerima pukulan, detak jantungnya berpacu tak terkendali. Napasnya terputus-putus, seperti sedang menunggu eksekusi. Namun, sebelum tinju itu mendarat, sesosok kecil berdiri di hadapannya. Eryas. Tubuh mungilnya langsung menerima hantaman yang seharusnya untuk Darius. Bunyi pukulan itu nyaring, mengha
Di tepi sungai yang keruh, deru air yang menghantam bebatuan terdengar bercampur dengan suara serak para anak-anak yang sibuk menyaring pasir. Wajah mereka penuh keringat, tangan kecil mereka bergerak cepat seperti mesin yang dipaksa bekerja tanpa henti. Bau logam samar dari emas yang kadang muncul di saringan menambah beratnya suasana. Tidak ada yang berani berhenti, karena bayangan paman Helios dan orang-orangnya selalu mengintai dari kejauhan. Di tengah hiruk pikuk itu, Eryas melambai penuh semangat. "Kak Darius, ini kak Nomor 190!" serunya lantang, memperkenalkan kedua orang itu seakan mempertemukan dua sekutu penting. "Salam kenal Nomor 190, aku Darius!" ucap Darius sambil mengulurkan tangannya. Senyumnya ramah, matanya seolah berbinar penuh ketulusan. Nomor 190 menoleh. Tatapannya tajam, penuh pertimbangan. Jemarinya sempat kaku di udara, seolah enggan menerima. Baru setelah beberapa detik tegang, dia akhirnya meraih jabat tangan it
Darius berlutut, menundukkan kepala dengan penuh takzim. Tangan kanannya diletakkan di dada kirinya, seolah bersumpah setia. "Baik, yang mulia. Permintaan Anda adalah perintah untuk saya."Helios menatap anak itu dengan sorot mata penuh kebanggaan. Senyum tipis tersungging di bibirnya, samar namun menyimpan nuansa ambisi kelam. "Bagus, Darius! Kelak, kau akan menjadi pewarisku yang paling berbakat."Darius bangkit berdiri dengan sikap tegap, lalu berjalan mundur beberapa langkah sebelum berbalik. Langkahnya mantap, penuh wibawa meski usianya masih belia. Di balik tubuh kecil itu, tersimpan aura yang hampir menyerupai ayahnya sendiri. Sang penjaga segera menggiringnya menuju koridor gelap, berliku-liku menuruni tangga menuju penjara anak-anak.Udara di sana pengap, bau anyir besi berkarat dan keringat bercampur menjadi satu. Rantai-rantai beradu, menimbulkan bunyi yang menggema di sepanjang lorong."Silakan masuk," ucap penjaga dengan suara serak,
Eryas menoleh ke arah kakak yang selalu berada di sisinya itu. Rasa penasaran mengusik pikirannya sejak lama. Dengan hati-hati, ia berjalan lebih dekat, nampan berisi pasir dan lumpur masih menempel di pinggang kirinya. Sementara tangan kanannya terulur, berusaha memperkenalkan diri dengan sopan."Kakak, kenapa anak-anak seperti kita tidak dijual lagi saja ke orang tua yang ingin anak itu? Apa sudah tidak bisa?" tanya Eryas polos, suaranya terdengar kecil di tengah riuh gemercik sungai.Nomor 190 terdiam sejenak, lalu tersenyum miris. "Yah, sayangnya orang tua itu hanya menginginkan bayi yang belum mengerti apa-apa. Jika anak-anak seperti kita diadopsi orang lain, mereka tidak akan bisa merasa bahwa kita adalah anak kandung mereka karena kita sudah tahu bahwa mereka memang bukan orang tua kandung kita."Jawaban itu membuat Eryas termenung. Tangannya yang semula sibuk menggoyang-goyangkan nampan, kini sedikit terhenti. "Padahal aku pernah melihat di TV teta







