LOGINTubuh Alianne masih berada dalam dekapan Aldren di atas ranjang.
Lengan Aldren melingkari tubuhnya dari belakang, menahannya agar tidak bergerak. Hangatnya tubuh pria itu terasa jelas di punggung Alianne, sementara napas Aldren yang berat sesekali menyentuh rambutnya.Meski kepalanya masih berputar dan tubuhnya terasa lemah, Alianne tetap tersenyum tipis. Senyum miring yang nyaris seperti mengejek. "Kau tidak bisa melakukan hal yang lebih dari ini." Nada suaranya lemah, teta"Tapiโ""Tapi apa?" Suara Alianne memotong ucapan Aldren dengan keras. Nada suaranya tajam, tidak memberi ruang untuk bantahan. Ia bahkan tidak menunggu Aldren menyelesaikan kalimatnya. Dengan gerakan cepat, Alianne menunjuk ke arah lengan kiri Aldren."Lihat ini! Ini masih menancap di sini! Jika kau memaksakan diri untuk menggendong orang lain, ada kemungkinan orang tersebut malah ikut tertusuk panah ini dan membuat luka orang itu semakin parah!"Anak panah itu masih tertancap dalam. Ujungnya berlumuran darah, sebagian sudah mengering, sebagian lagi masih merembes perlahan. Setiap gerakan kecil dari Aldren membuat luka itu sedikit bergeser, cukup untuk memperparah kondisi tanpa ia sadari.Aldren terdiam. Matanya menatap luka itu sejenak."Masuk, akal. Baiklah. Aku akan membersihkan lukaku dulu," ucap Aldren akhirnya. Nada suaranya lebih rendah dan lebih tenang. Namun ada sedikit keengganan yang masih tersisa.Ia berjalan ke arah
Alianne berlari tanpa menoleh ke belakang, napasnya teratur meski langkahnya cepat. Serpihan pilar tak terlihat itu masih berada dalam genggamannya, digunakan berulang kali untuk menggores batang-batang pohon yang ia lewati.Setiap goresan meninggalkan tanda panah yang jelas, arah keluar.Di belakangnya, Serin mengikuti dengan langkah tergesa, sesekali menoleh ke arah hutan yang mereka tinggalkan.Suara-suara dari dalam hutan mulai memudar. Digantikan oleh suara air. Semakin lama, semakin jelas. Hingga akhirnya Alianne dan Serin keluar dari kawasan hutan. Langkah mereka melambat secara refleks.Di hadapan mereka, ruang terbuka terbentang. Pepohonan masih ada, namun jauh lebih jarang. Sinar matahari menembus celah-celah daun tanpa terhalang, menyinari tanah dengan terang yang hampir menyilaukan setelah kegelapan hutan.Di samping mereka, sungai mengalir dengan jernih.Airnya berkilau, memantulkan cahaya matahari seperti lembaran k
"Kalian cocok, deh! Kapan menikah?" tanya Alianne yang otaknya langsung membentuk ship baru.Ucapan itu meluncur begitu saja dengan ringan, nyaris tidak selaras dengan suasana mencekam yang masih menyelimuti hutan. "Sekarang bukan waktunya untuk itu!" ucap Aldren. Suaranya tegas, hampir memotong udara.Ia memegangi lengan kirinya sendiri yang masih tertancap anak panah. Darah mengalir perlahan dari luka itu, membasahi lengan bajunya. Otot-otot di rahangnya mengencang, menahan rasa sakit yang jelas belum mereda."Yang harus kita lakukan sekarang adalah... Membawa keluar semua orang dari hutan ini untuk menghindari serangan lanjutan." Nada bicaranya tidak memberi ruang untuk bantahan.Aldren menoleh ke belakang. Tatapannya menyapu seluruh pasukan yang berdiri, yang terhuyung, yang bahkan hampir tak sanggup bangkit."Semua yang bisa berjalan, bawa semua orang yang terluka untuk keluar dari hutan secepatnya!" Perintah itu jatuh sepe
"Jangan bilang, kau tidak mau menjawab pertanyaan Caelum karena kau takut dibilang gila?" tanya Alianne, tersenyum nakal.Pipi Thalira memerah, napasnya tercekat sejenak. "Ha- habisnya... Habisnya itu sangat tidak masuk akal!""Sekarang, coba jelaskan pelan-pelan! Dimana kau menemukan benda tak terlihat seperti ini?" tanya Alianne.Thalira menarik napas dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba terasa lebih cepat. Ia menunduk sesaat, seolah mengumpulkan potongan-potongan ingatan yang masih berantakan di kepalanya. Lalu, perlahan, ia mulai menceritakan kejadian sebelumnya."Saat aku bersembunyi di dalam semak-semak yang agak jauh dari tempat Yang Mulia Putra Mahkota..."Ingatan itu kembali menyeretnya ke momen penuh ketegangan.Tubuhnya tiarap di atas tanah yang lembap, aroma tanah basah dan dedaunan memenuhi indra penciumannya. Semak-semak yang rapat menjadi satu-satunya perlindungan tipis dari pandangan musuh. Di tangannya, artileri panjang tergenggam erat dengan d
โThalira! Hery! Sudah aman! Kalian boleh keluar sekarang!โ teriak Caelum lagi, suaranya menggema di antara sisa-sisa hutan yang porak-poranda.Angin berembus pelan, menggeser daun-daun kering dan serpihan kayu yang berserakan di tanah. Suasana sempat hening. Seolah dunia menahan napas.Lalu gerakan samar muncul dari balik semak. Selang beberapa menit yang terasa lebih lama dari seharusnya, dua sosok akhirnya keluar dari tempat persembunyian mereka.Hery dan Serin.Langkah Hery terlihat sedikit goyah. Wajahnya menahan sakit, dan saat ia mendekat, luka itu terlihat jelas, telapak tangannya berlubang.Bekas anak panah yang telah ditarik paksa menyisakan luka terbuka yang menganga, darah masih merembes perlahan, menetes ke tanah di setiap langkahnya.โHeh! Siapa yang menyuruhmu mencabut anak panah asal-asalan?!โ suara Alianne langsung meninggi, penuh kepanikan yang tak bisa ia sembunyikan. Ia melangkah cepat mendekat, matan
โKakak! Alianne!โ Teriakan Caelum kembali memekakkan telinga, lebih dekat dari sebelumnya, namun juga lebih panik. Suara itu menggema di antara batang-batang pohon yang patah dan tanah yang masih menyisakan bekas ledakan.โAdikmu kenapa?โ tanya Alianne dengan tatapan malas, seolah tidak sepenuhnya terpengaruh oleh urgensi di udara.โTidak tahu! Intinya kita harus cepat!โ Tanpa memberi ruang untuk perdebatan, Aldren langsung bergerak. Dengan satu gerakan sigap, ia mengangkat tubuh Alianne menggunakan tangan kanannya, menggendongnya dengan mantap sebelum berlari menembus semak dan reruntuhan.โTunggu dulu!โ Alianne mengulurkan tangannya ke arah belakang, nyaris kehilangan keseimbangan dalam gendongan. Jemarinya meraih sesuatu di tanah, serpihan benda transparan yang tadi mereka temukan. Ia memeluknya erat, seolah benda itu lebih berharga dari rasa sakit di tangannya.โKita tidak punya waktu! Posisi Caelum, Thalira dan Magnus belum ditemukan. Bahkan Hery dan Serin juga tidak terlihat.โ M







