Share

Bab 2. Kesepakatan Bersama

Dengan raut wajah yang kesal, Edgar sudah berdiri di depan altar, di aula tempat pernikahan akan dilangsungkan. Tidak lama kemudian, Sylvia pun muncul dengan didampingi oleh ayahnya. 

Setelah berada di depan altar, ayahnya Sylvia menyerahkan Sylvia kepada Edgar. Lalu, Edgar pun naik ke altar pernikahan bersama Sylvia.

“Sebelum sumpah sucinya diucapkan, silahkan kalian saling berhadapan satu sama lain. Dan saudara Edgar, silahkan pegang tangan calon pengantin perempuan untuk mengucapkan sumpah suci pernikahannya,” ucap pendeta.

Edgar mulai memegang tangannya Sylvia seperti yang diperintahkan oleh pendeta. Sylvia bisa merasakan bagaimana rasa benci Edgar yang terpaksa ditarik ke altar, begitu juga dirinya. 

“Di hadapan Tuhan serta para tamu undangan yang hadir di sini, saya Edga–!”

Edgar meringis sambil memejamkan matanya ketika Sylvia meremas tangan Edgar, memperingatkannya tentang nama yang ia sebutkan. Ia bisa melihat pria itu menatapnya tajam, sebelum berdeham dan mengulang sumpah.

“Saya, Edward Alexander Wijaya menyatakan dengan tulus dan ikhlas senantiasa mencintai engkau Sylvia Maheswari Himawan, untuk menjadi istri saya satu-satunya yang sah…..”

Setelah Edgar menyelesaikan janjinya, Sylvia pun mengucapkan janjinya dengan lancar. Pendeta menyuruh mereka untuk bertukar cincin, dan ditutup dengan kecupan singkat di dahi.

‘Kalau bukan karena Edward kabur, aku pasti tidak merasa tertekan seperti ini.’ Sylvia berucap dalam hatinya sambil memasangkan cincin pernikahan di jari manisnya Edgar.

“Dengan ini, saya nyatakan bahwa kalian sudah sah menjadi pasangan suami dan istri,” ucap pendeta.

Setelah serangkaian acara pernikahan, Sylvia ikut pulang bersama Edgar dan Catherine. 

Sesampainya di rumah Catherine, Sylvia disambut oleh para pembantu yang ada di sana. Untuk menunjukkan rasa hormat mereka kepada nyonya mudanya para pelayan menundukkan kepala.

“Selamat datang, Nyonya muda,” ucap para pelayan Catherine.

“Nyonya muda?” Edgar melirik dengan sinis ke arah Sylvia. “Aku tidak sudi mengakuinya sebagai istriku.”

Sylvia yang samar-samar mendengar ucapannya Edgar, langsung menoleh. “Kamu bilang apa barusan?” 

“Tidak penting.” 

Dengan angkuhnya Edgar berjalan meninggalkan Sylvia yang masih berdiri di depan pintu. Berulang kali Catherine memanggilnya, tapi pria itu tidak peduli. Sylvia pun hanya mendengus melihatnya.

‘Siapa juga yang peduli dengan sikapnya dia. Justru kalau dia cuek, itu artinya dia gak akan gangguin aku,’ ucap Sylvia dalam hati.

“Bersabarlah pada anak itu ya, Sylvia. Aku minta maaf sekali.” Catherine berucap pelan.

“Iya, Tante, gak apa-apa,” sahut Sylvia, tapi matanya masih melirik tajam ke arah tangga. “Oh, iya, kalau begitu, apa aku boleh tau di mana kamarku?”

“Sylvia….” Catherine tiba-tiba meraih tangan Sylvia dan menggenggamnya lembut. “Bisakah kamu tidur di kamar Edgar?”

“Apa?” Sylvia mengerutkan dahi.

“Aku benar-benar butuh bantuan kamu buat bicara sama Edgar mengenai rencana ke depannya. Dia tetap harus tampil sebagai Edward demi usaha kita bersama.”

Sylvia terdiam. Ia pikir, semua ini hanya semudah ia menikah saja dengan Edgar, tapi ternyata tidak. Gara-gara kejadian tak terduga, ia dibawa ke rumah Catherine, tempat Edgar tinggal.

Akhirnya, dengan seluruh kepasrahannya, Sylvia diantar ke kamar Edgar bersama dengan salah satu pelayan.

Tok! Tok! Tok!

“Tuan muda, Nyonya muda sudah datang,” ucap Sekar, pelayan yang mengantar Sylvia.

Sylvia hanya bisa mendengus kesal karena Edgar tidak kunjung membuka pintu kamarnya. Di saat batas kesabarannya sudah hampir habis, Sylvia yang membuka sendiri pintu kamar Edgar.

“Heh! Kamu tuli atau bagaimana, sih?” maki Sylvia. “Dari tadi aku udah ketuk pintu kamar kamu tau!” 

Dengan melipat kedua tangannya, Edgar berkata, “Untuk apa kamu di sini?” Pria itu masih saja berwajah angkuh. “Kamu sama sekali tidak diharapkan di kamarku.” 

“Oh, jadi begitu.” Sylvia mengangguk-angguk dengan angkuh, sambil mengangkat dagunya. 

Meskipun sebenarnya ia ingin mengatakan kalau dia juga tidak sudi mendatangi Edgar seperti ini, tapi ia malah membalas, “Baiklah, kalau begitu, aku akan laporkan hal ini kepada ibumu–”

Tiba-tiba Edgar menyambar tangan Sylvia dan menarik gadis itu masuk ke kamarnya.

Sylvia menengok ke belakang. “Berubah pikiran?”

Edgar akhirnya menghela napas dan menggerakkan kepalanya. “Masuk!”

Melihat ekspresi Edgar, Sylvia sama sekali tidak takut. Dengan santainya ia langsung menarik kopernya masuk ke kamar Edgar. Kemudian, Edgar dengan cepat kembali menutup pintu kamarnya.

“Kamu boleh tidur di sini, tapi ada beberapa hal lagi yang harus kita sepakati,” ucap Edgar.

“Apa?”

Edgar berjalan lebih dulu ke arah sofa yang ada di kamar itu, lalu duduk sambil bersilang kaki. Sylvia mengikuti tanpa disuruh. Ia duduk di seberang Edgar dan melipat tangannya di dada. Matanya menatap tajam pria itu.

“Pertama.” Edgar mengangkat telunjuknya. “Kita tidak boleh melakukan skinship, entah itu berpegangan tangan, merangkul, berpelukan, atau berciuman.”

Sambil mengamati kuku tangannya, Sylvia dengan cuek bergumam. “Aku juga males kali ciuman sama kamu.”

Edgar tampak tidak peduli dengan komentar Sylvia. Ia pun melanjutkan, “Yang kedua, selagi kita berada di dalam kamar ini, kita harus menjaga privasi masing-masing. Gak boleh saling ikut campur.”

Dengan meregangkan tubuhnya Sylvia berkata, “Memangnya, kamu pikir aku gak ada kerjaan lain selain ngurusin kehidupan pribadi kamu?”

“Mana aku tau, mungkin saja kamu tipe cemburuan yang akan mengekoriku kapan saja,” akhirnya, Edgar membalas dengan sinis.

“Mana mungkin!” teriak Sylvia kesal. Kemudian, ia berdeham ketika menyadari kalau sikap anggunnya sudah hancur. “Ekhem! Aku juga punya syarat untukmu."

"Apa?"

“Selagi berada di depan umum, kita harus berpura-pura menjadi pasangan suami istri yang saling mencintai.”

Edgar mengerutkan dahi. “Kenapa?”

“Aku gak mau kamu ketahuan sebagai pengantin pengganti suamiku yang kabur di hari pernikahannya. Jika kita menghadiri suatu acara, kita harus berpura-pura bersikap romantis di depan kamera para wartawan,” jawab Sylvia.

"Baik." Edgar mengangguk. "Tapi, aku juga ada syarat tambahan."

Sylvia menghela napas. Seperti dugaannya, Edgar sangat merepotkan, berbeda sekali dengan Edward yang tenang, dewasa, dan penuh perhitungan. 

"Apa?" tanya Sylvia.

Edgar mengubah posisi duduknya menjadi tegak, dan menatap tajam Sylvia yang duduk di depannya. "Bantu aku mendapatkan investasi dan koneksi untuk perusahaan pribadiku."

Sylvia mengerutkan dahi. Banyak pertanyaan di kepalanya soal perusahaan pribadi Edgar. Kenapa pria itu tidak meminta bantuan keluarganya saja? 

Namun,  satu hal yang Sylvia tidak sukai adalah membuang waktu. Jadi, daripada urusannya jadi panjang gara-gara bernegosiasi dengan pria ini, lebih baik Sylvia menyetujuinya dengan cepat. 

Dengan begitu, ia akan memiliki waktu untuk mencari Edward dan membalikkan semua keadaan ini seperti semula.

“Bagaimana? Apa kamu setuju dengan semua kesepakatan yang tadi sudah aku katakan?” Edgar bertanya sambil mengulurkan tangannya.

“Baiklah aku setuju.” Sylvia berucap sambil menjabat tangannya Edgar.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status