Share

Bab 6. Pemaksaan

Odelia memejamkan mata lelah di kala sudah selesai membuat laporan yang diinginkan oleh Noah. Wanita itu nampak sangat sedih bercampur dengan kesal. Entah, Odelia merasa hidupnya benar-benar seperti tengah dikutuk.

Suara dering ponsel berbunyi. Odelia mengambil ponselnya yang ada di atas meja, dan menatap ke layar tertera nomor ibunya di sana. Raut wajah Odelia berubah di kala melihat nomor telepon ibunya.

Odelia terdiam sejenak. Dia memang menghindari kedua orang tuanya. Sudah sejak tiga tahun lalu, Odelia memutuskan tinggal di New York. Sedangkan kedua orang tuanya berada di Florida.

Odelia mendapatkan penawaran pekerjaan di New York, lalu bertemu dengan Viktor. Sayangnya, perjalanan hidup Odelia tak sempurna seperti apa yang dia imajinasikan.

Sorry, Mom.” Odelia menggeser tombol merah menolak panggilan ibunya itu. Dia mengirimkan pesan singkat pada ibunya mengatakan dusta; tengah meeting. Terpaksa, Odelia harus berbohong. Dia tidak memiliki pilihan lain. Pasalnya, Odelia tak ingin ditanyakan sudah sampai mana persiapan pernikahannya dengan Viktor. Dia belum siap untuk menjelaskan pada kedua orang tuanya.

Odelia bangkit berdiri seraya membawa laporan yang sudah dia buat. Wanita itu melihat ke cermin, matanya sudah tak terlalu sembab seperti tadi pagi. Jadi, sekarang Odelia tak perlu memakai kaca mata hitam.

Odelia mengatur napasnya pelan, lalu melangkah meninggalkan ruang kerjanya, menuju ke ruang kerja Noah. Dalam hati, Odelia meneguhkan untuk bersikap professional.

Noah Danzel adalah CEO baru di perusahaannya, maka mau tak mau Odelia akan sering berhadapan dengan pria menyebalkan itu. Jika saja, Odelia sudah mendapatkan penawaran pekerjaan lebih baik, sudah pasti Odelia akan memilih meninggalkan perusahaan ini. Namun, di era jaman seperti ini mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Sedangkan Odelia membutuhkan uang untuk tetap bisa bertahan hidup.

Setibanya di ruangan Noah, Odelia mengetuk pintu, lalu dia mendengar suara Noah memintanya untuk masuk ke dalam. Odelia pun kini melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang kerja Noah.

“Baik, Tuan Danzel. Saya akan menjalankan tugas Anda.” Elvina menundukkan kepalanya, pamit undur diri.

Odelia yang melihat sang Direktur Utama pergi, buru-buru dia menunduk sopan.  

Noah duduk di kursi kebesarannya, menatap Odelia yang sejak tadi masih berdiri di ambang pintu. “Kau hanya ingin berdiri diam di sana?”

Odelia melangkah menghampiri Noah sambil menyerahkan dokumen di tangannya. “Tuan Danzel, ini laporan yang Anda minta.”

Noah mengambil dokumen yang diberikan Odelia, dan membaca seksama dokumen tersebut. Tampak sebelah alis Noah terangkat, awalnya pria itu pikir kalau laporan yang dibuat Odelia pasti kurang rapi. Melihat wanita itu adalah wanita yang patah hati—tentunya bekerja akan sangat kacau jika kondisi hati sedang tidak baik.

Namun, ternyata apa yang Noah pikirkan salah besar. Laporan yang dibuat Odelia sangat rapi, tak mencerminkan wanita itu tengah patah hati. Harus Noah akui, bahwa Odelia sangatlah professional. Odelia mampu mengesampingkan urusan pribadi untuk urusan perusahaan.

Noah menutup laporan itu. “Aku pikir wanita patah hati sepertimu, akan bekerja kacau.” Noah menatap Odelia dengan senyuman samar. Senyuman yang mampu melumpuhkan para kaum hawa.

Odelia membalas tatapan Noah. “Aku dibayar di perusahaan ini untuk bersikap professional, Tuan Danzel.”

Noah bangkit berdiri, melangkah mendekat pada Odelia. “Great. Aku suka cara pikirmu.” Pria itu mengikis jaraknya dengan Odelia. “Tapi, tadi pagi kau memakai kaca mata hitam pasti karena kau menangis semalaman, kan?”

“Tidak! Tadi malam aku begadang sampai membuat mataku bengkak!” seru Odelia dengan nada tinggi.

Noah terkekeh meledek. “Kau bisa menipu banyak orang, tapi tidak dengan menipuku, Odelia.”

Odelia semakin salah tingkah, tapi dia tetap tak mau menunjukkan sisi lemahnya. “Kau tidak tahu apa pun tentangku, Tuan Danzel.”

Noah tersenyum penuh arti. “Satu malam bersamamu sepertinya membuatku sedikit banyak mulai tahu dirimu. Dan sekarang kau adalah karyawanku. Of course, aku semakin mengenalmu, Bukan?”

Napas Odelia seakan tercekat di kala Noah sudah berada di hadapannya. Aroma parfume di tubuh Noah begitu menyeruak ke indra penciumannya, melumpuhkan seluruh organ saraf dalam tubuhnya.

Odelia seakan terjebak di dalam lingkaran api yang membuatnya terjebak. Odelia terbelenggu di dalamnya dan tersesat. Sungguh, ingin sekali Odelia berlari sejauh mungkin menghindari Noah Danzel, tapi ke mana dia pergi? Semua langkahnya terhalang.

“Tuan Danzel, apa laporan yang aku berikan sudah cukup jelas untukmu?” Odelia tak menghiraukan apa yang Noah katakan. Dia bersikap professional dengan menanyakan tentang laporan yang dia buat. Tak mau merespon ucapan gila yang lolos di bibir pria itu.  

Noah belum menghiraukan pertanyaan Odelia. Pria itu menarik dagu Odelia, menatap dalam dan lekat iris mata wanita itu. “Pekerjaanmu sudah rapi. Aku menyukai cara kerjamu. Tapi—” Noah menundukkan bibirnya ke telinga Odelia seraya berbisik serak, “Sangat disayangkan kalau kau menangisi pria yang sudah tidak menginginkanmu, Odelia. Lebih baik kau bersenang-senang menikmati hidupmu. Seperti contoh, malam waktu itu. Kau tahu? Aku menyukai berada di dalammu.”

Pipi Odelia memerah memanas mendengar ucapan vulgar Noah. “Jika tidak ada lagi yang kau butuhkan, aku akan pergi.” Buru-buru, Odelia berlari meninggalkan ruang kerja Noah. Beruntung, wanita itu tak terjatuh meski memakai heels tinggi.

Senyuman samar di wajah Noah terlukis melihat Odelia pergi dengan wajah memerah malu. Noah mengambil wine yang ada di atas meja, dan menatap Odelia dnegan tatapan penuh makna. Rupanya hanya sedikit menggoda, tapi membuat wanita itu menjadi salah tingkah.

***

Jam pulang tiba. Odelia segera bergegas untuk pulang. Jika biasanya, Odelia bisa berlama-lama di kantor, kali ini berbeda. Odelia enggan terlalu lama di kantor. Wanita itu ingin segera pulang menenangkan segala pikirannya.

“Odelia? Kau mau pulang sekarang?” tanya Darla menatap temannya yang nampak sangat terburu-buru.

Odelia mengangguk. “Ya, Darla. Aku ingin segera pulang.”

Sebelah alis Darla terangkat. “Kau terburu-buru pulang, apa karena ingin berkencan dengan Viktor?”

Odelia menatap jengah Darla yang kerap membahas Viktor. “Darla, please. Jangan bahas Viktor.”

Kening Darla mengerut. “Kenapa kau tidak ingin membahas Viktor lagi? Bukankah biasanya kau selalu membahas Viktor. Apalagi sejak Viktor melamarmu.” Darla merasa ada yang aneh dari Odelia.

Odelia mendesah panjang. “Darla, aku ingin pulang. Jangan membahas Viktor.” Lalu, Odelia melangkah pergi meninggalkan Darla begitu saja. Tampak raut wajah Darla sangat bingung.

“Odelia, kau berhutang cerita padaku,” seru Darla sedikit berteriak cukup kencang, namun sayangnya Odelia tetap tak menggubris Darla. Dia menatap kesal Odelia yang pergi meninggalkannya.

Di perjalanan, Odelia mengemudi dengan kecepatan sedang membelah kota Manhattan. Sore itu, cuaca sangat cerah, namun sayang wajah Odelia tetap kusut. Memiliki masalah yang datang bertubi-tubi memang membuatnya tak bisa berpikir jernih saat ini.  

Jika Odelia kacau masalah hubungan asmara, biasa dia fokus pada pekerjaannya, bahkan dia pasti akan berlama-lama di kantor tak langsung pulang. Namun, keadaannya dirinya terjebak dalam masalah rumit. Bayangkan saja, dia one night stand dengan CEO perusahaannya. Kalau para karyawan tahu, pasti Odelia menjadi bahan sindiran. Oh, astaga! Tidak-tidak. Odelia tidak akan membiarkan orang tahu.

Tiba-tiba, mobil Odelia berhenti di tengah jalan. Sontak, Odelia terkejut di kala mobilnya berhenti. Mesin menyala tapi mobil tak bisa berjalan. Dia merasa ada yang tidak beres dengan ban mobilnya.

Odelia memukul setir mobilnya, dengan wajah yang nampak sangat kesal. Dengan terpaksa, Odelia turun dari mobil dan segera memeriksa—ternyata benar ban mobil Odelia terkena ranjau.

Shit!” Odelia mengumpat kasar. Dia tak mengerti bagaimana cara mengganti ban mobil.

Odelia hendak mengambil tas yang ada di dalam mobil, namun langkah Odelia terhenti di kala melihat ada mobil yang berhenti di hadapannya. Raut wajah wanita itu menunjukkan jelas kebingungan. 

Lalu … seketika rasa bingung di wajah Odelia terhenti melihat Noah turun dari mobil. Dalam hati, Odelia mengumpat kasar. Dia sudah pulang cepat dari kantor, malah sekarang dirinya tetap bertemu dengan Noah.

Noah melirik ban mobil Odelia sekilas. “Ban mobilmu bocor.”

Odelia mengangguk. “Ya,” jawabnya dingin.

“Naiklah. Aku akan mengantarmu pulang. Nanti orangku akan membawa mobilmu ke bengkel,” ucap Noah datar.

“Tidak usah. Aku bisa sendiri. Thanks.” Odelia gengsi, tak mau menerima tawaran Noah.

Alis Noah terangkat. “Really kau bisa sendiri, Odelia? Dari tadi aku lihat kau hanya diam, tidak melakukan apa pun.”

Odelia mengembuskan napas kasar. “Aku akan menelepon bengkel untuk—”

Perkataan Odelia terpotong di kala Noah menarik tangan Odelia paksa, dan membawa masuk Odelia ke dalam mobil. Sontak, Odelia terkejut akan tindakan Noah yang menyeretnya paksa.

“Noah, apa yang kau lakukan, akh—” Odelia meringis di kala dipaksa masuk ke dalam mobilnya. Odelia hendak ingin pergi, namun sayang Noah sudah masuk dulu ke dalam mobil dan mengunci pintu mobil hingga membuat Odelia tak bisa keluar.

Lagi dan lagi, Odelia terjebak sampai harus berurusan dengan Noah. Dia sudah menghindari pria sialan itu, tapi tetap saja takdir seakan ingin mereka bertemu.

Sepanjang perjalanan Odelia terus menatap dingin dan tajam Noah.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status