Share

Retak Tapi Tidak Runtuh

Penulis: THANISA
last update Tanggal publikasi: 2025-05-05 14:47:12

Setelah insiden di taman, malam itu terasa sunyi. Tak ada percakapan di meja makan, hanya suara sendok yang menyentuh piring, langkah kaki Alva yang lari-lari kecil ke kamarnya, dan desahan napas yang terasa lebih berat dari biasanya.

Leon menatap Elera yang masih diam di sofa ruang keluarga. Tatapannya kosong, tapi air matanya sudah tak lagi jatuh. Di dadanya, ada beban yang belum bisa ia uraikan, rasa bersalah yang nyaris menggerogoti jiwanya.

Leon tahu dia sudah kelewatan tadi siang. Dan Alv
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Retakan yang Tak Terdengar

    Malam itu terlalu sempurna.Si kembar tidur tanpa drama. Alfa bahkan tidak minta dibacakan cerita kedua. Maya pulang lebih awal karena “besok ada jadwal operasi pagi.” Dante tidak mengeluh. Kai tidak berdiri terlalu lama di balkon.Semua terasa… normal.Dan justru itu yang membuat Leon sulit tidur.Ia berdiri di depan kamar anak-anak. Pintu sedikit terbuka. Cahaya lampu tidur menyinari wajah kecil yang damai.Elera mendekat dari belakang. “Kau overthinking.”Leon tersenyum tipis. “Insting.”Elera memegang tangannya. “Instingmu jarang salah.”“Justru itu.”Hening.Dari monitor bayi terdengar suara kecil. Salah satu kembar bergumam dalam tidur. Alfa membalikkan badan.Hidup.Nyata.Leon menatapnya lama. Lalu berkata pelan, “Kalau suatu hari sesuatu terjadi—”Elera langsung memotong. “Tidak.”Leon menatapnya.“Kita tidak bicara ‘kalau’,” lanjut Elera tegas. “Kita bicara ‘bagaimana kita menghadapinya’.”Leon mengangguk kecil. Wanita ini selalu seperti itu. Tidak menyangkal bahaya. Tidak t

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Saat Tawa Menjadi Penjaga

    Pagi itu datang tanpa alarm, tanpa tergesa. Matahari masuk malu-malu lewat tirai, seolah tahu rumah ini butuh waktu sebelum dunia kembali menagih.Alfa sudah bangun duluan. Ia duduk di lantai, menyusun bantal dan selimut jadi benteng dadakan. “Papa, ini markas rahasia,” katanya serius.Leon menatap hasil karya itu, lalu berjongkok. “Markas rahasia tapi pintunya kebuka semua?”“Itu strategi,” jawab Alfa cepat. “Biar musuh bingung.”Kai yang baru keluar dari kamar tertawa kecil. “Oke, aku lupa Alfa ada,” gumamnya. “Anak jenius.”Elera muncul dengan salah satu kembar di gendongan. Yang satu lagi merangkak cepat, terlalu cepat, lalu—bruk. Tangis pecah. Kembarnya justru tertawa, keras dan bangga, seolah baru memenangkan sesuatu.“Kenapa yang ini ketawa mulu sih?” Leon mengangkat bayi yang tertawa itu. “Papa tuh jatuh harga dirinya, tau?”Maya datang tepat saat itu, membawa kopi dan komentar. “Tenang. Yang satu empati, yang satu sadis. Seimbang.”Rumah itu kembali penuh suara. Tawa kecil, c

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Pagi yang Terlalu Tenang untuk Keluarga Santiago

    Pagi itu datang tanpa alarm, tanpa teriakan, tanpa suara sepatu berlarian panik seperti hari-hari lain. Matahari jatuh lembut di balik tirai, seolah dunia sepakat memberi keluarga Santiago jeda—sebentar saja—dari segala kekacauan yang biasanya mengintai.Elera terbangun lebih dulu. Bukan karena jadwal operasi, bukan karena panggilan darurat. Tapi karena suara kecil yang sedang belajar mengenal dunia.Si kembar.Satu merangkak terlalu cepat, terlalu percaya diri, lalu—bruk—jatuh dengan bunyi pelan. Tangis pun pecah. Yang satunya? Bukannya ikut menangis, malah tertawa kecil, puas, seakan baru menemukan hiburan baru bernama “kekacauan”.“Yang satu drama, yang satu komedian,” gumam Elera sambil menggendong yang menangis.Dari balik pintu, Leon muncul dengan rambut acak-acakan, kaus rumah, dan wajah yang jarang orang lihat—wajah papa yang belum sepenuhnya bangun, tapi sudah siap siaga.“Yang mana sekarang?” tanyanya.“Yang ini,” kata Elera. “Yang satunya lagi kayaknya bangga.”Leon terkeke

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Hal yang Tidak Pernah Kuceritakan

    Malam turun perlahan di mansion Santiago.Anak-anak sudah tidur. Alfa lebih dulu, kelelahan setelah seharian “mengawasi” si kembar. Dua bayi itu terlelap berdampingan, napas mereka kecil dan teratur—ritme yang biasanya menenangkan.Tapi malam ini, tidak.Leon berdiri di balkon kamar, menatap gelap. Elera tidak memaksanya bicara. Ia tahu kapan harus menunggu.Akhirnya Leon menarik kursi dan duduk. Ia menyentuh wajahnya sebentar, seperti orang yang sedang mengumpulkan keberanian.“Namanya Valerio Cruz,” katanya pelan.Elera menoleh. Nama itu jatuh berat.“Dulu,” lanjut Leon, “dia bukan musuh. Dia… keluarga. Bukan sedarah. Tapi lebih dekat dari itu.”Elera duduk di hadapannya, diam, memberi ruang.“Kami membangun jaringan bersama. Dari nol. Kotor. Berdarah. Tapi jujur. Valerio orang yang brilian. Dan kejam.”Leon tertawa kecil tanpa senyum. “Dia percaya kekuasaan harus ditakuti. Aku percaya… harus dijaga.”“Perbedaan visi,” gumam Elera.“Perbedaan batas,” koreksi Leon. “Dia mulai menyent

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Retakan Pertama

    Leon tidak langsung bertindak.Itu bukan gayanya.Ia duduk tenang di ruang kerja, jas belum dikenakan, kancing kemeja masih terbuka satu. Di hadapannya, data mentah mengalir tanpa henti—pergerakan jaringan, akses rumah sakit non-afiliasi, jejak digital yang sengaja dibuat terlalu rapi.Kai selalu rapi.Tapi tidak pernah berlebihan.Leon menekan satu titik waktu. Dua hari lalu.Nama rumah sakit itu muncul lagi. Kali ini dengan jalur logistik yang seharusnya tidak terhubung ke siapa pun.“Kau menyembunyikan sesuatu,” gumamnya pelan.Bukan tuduhan.Pengakuan.Pintu terbuka tanpa diketuk. Elera masuk dengan ekspresi yang Leon kenal betul—wajah seorang dokter yang mencium bau masalah sebelum hasil lab keluar.“Leon,” katanya. “Kau belum jawab pertanyaanku tadi pagi.”Leon menutup layar. Terlambat. Elera sudah melihat cukup.“Dante tidak di rumah,” lanjut Elera. “Kai juga tidak. Dan instingku bilang ini bukan kebetulan.”Leon berdiri. Mereka kini sejajar—dua orang yang sama-sama terbiasa be

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Hal-Hal yang Tidak Diucapkan

    Dante belum sepenuhnya sadar ketika layar kecil di sudut ruang perawatan berkedip pelan.Bukan alarm.Bukan gangguan listrik.Kai mengangkat kepala, napasnya langsung mengeras.Saluran mati.Saluran yang seharusnya sudah terkubur bersama masa lalunya.“Dokter Kai,” suara di seberang terdengar terdistorsi, nyaris sopan.“Kami tahu kau memilih rumah sakit itu.”Jari Kai berhenti di udara. Tidak gemetar. Tidak ragu.“Kami juga tahu,” lanjut suara itu, “kau tidak memberi tahu Leon Santiago. Atau Elera.”Sunyi memanjang.Dante bergerak kecil di ranjang. Monitor berbunyi lirih, seolah ikut menahan napas.“Kenapa?” tanya Kai akhirnya. Suaranya rendah, datar, berbahaya.“Kalian mau apa dariku?”Tawa kecil terdengar. Bukan ejekan. Lebih seperti kepuasan.“Kami cuma ingin memastikan,” suara itu berkata,“bahwa orang yang selalu pasang badan untuk keluarga itu… masih sama.”Kai menatap wajah Dante. Perban menutupi separuh kepalanya. Luka itu tidak akan terlihat oleh siapa pun di rumah Santiago.

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Luka yang Dibawa Pulang

    Teriakan dan suara tembakan teredam menggema di seluruh gudang. Tim dari Diego bergerak cepat, seperti bayangan yang menghantam dari segala arah. Penjaga-penjaga Sergio tak sempat berteriak, tak sempat berpikir. Mereka jatuh satu demi satu, tersungkur tanpa suara di lantai beton berdebu, dilumpuhka

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Dalam Bayang, Menuju Perang

    Suara roda pesawat yang menyentuh landasan membawa satu getaran sunyi ke dalam malam. Tidak ada sambutan. Tidak ada hiruk-pikuk. Hanya dingin yang merayap di balik jaket kulit para pria yang turun dengan langkah pasti.Tim Dante, lengkap dengan Kai, Rafael, dan tiga anggota khusus dari jaringan Die

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Anak Kecil, Hati Besar

    Pagi itu, langit di atas mansion Santiago terlihat lebih kelabu dari biasanya. Seolah matahari pun enggan menampakkan diri. Di ruang makan, piring sarapan Alva masih penuh. Tangan kecilnya hanya memindah-mindahkan telur orak-arik dari sisi ke sisi. Tak ada celoteh ceria pagi hari. Tak ada tawa atau

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Neraka yang Nyata

    Udara di dalam gudang tua itu lembap, berbau besi karat, darah, dan sisa asap bahan kimia. Lampu gantung tunggal berayun pelan di langit-langit tinggi, menciptakan bayangan menyeramkan di dinding-dinding batu yang retak. Di tengah ruangan, Leon terikat dengan rantai baja, tubuhnya tergantung sebagi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status