Home / Romansa / Terjerat Pesona Papa Sahabatku / Bab 2. Kebimbangan Aurora

Share

Bab 2. Kebimbangan Aurora

last update Huling Na-update: 2026-01-14 10:24:02

Aurora terperangah, mulutnya terbuka, matanya melebar, ia tidak percaya dengan penawaran yang Leo berikan.

Ia tarik kata-katanya di dalam hati yang mengatakan jika Leo adalah pria yang baik.

“M-maksud Dokter apa?” tanya Aurora meminta penjelasan.

Udara di luar semakin terasa panas, menyengat kulit dan juga hatinya.

Aurora tercekat, masih tidak percaya dengan perkataan Leo yang tidak ia duga sama sekali.

Leo menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan, wajahnya masih terlihat tenang.

“Setiap kali kita bercinta kamu akan saya bayar seratus juta dan seluruh pengobatan ibumu akan saya tanggung sampai beliau sembuh. Tidak hanya itu kamu juga harus menyiapkan kebutuhan saya setiap harinya,” jelas Leo.

Entah apa yang merasuki pikiran Leo saat ini hingga terlintas sebuah penawaran yang mampu membuat Aurora syok.

Aurora tertawa sumbang dengan air mata yang jatuh di kedua pipinya, ia tidak menyangka jika Papa dari sahabatnya bisa menawarkan perjanjian yang begitu menjijikkan seperti ini.

Dada Aurora kembali terasa sesak, tangannya terkepal dengan sangat erat, menatap tajam wajah tenang itu seakan tidak merasa bersalah sedikit pun atas ucapannya.

Sehina itukah dirinya? Hingga orang lain merendahkan dirinya seperti ini?

Bagaimana mungkin seorang dokter bisa berkata seperti itu kepada anak dari pasiennya sendiri?

“Gila,” gumam Aurora dengan suara yang amat pelan nyaris tidak terdengar.

Ia pergi meninggalkan Leo begitu saja, langkahnya terkesan tergesa-gesa ingin menjauh dari Leo.

Aurora masih tidak habis pikir, banyak pertanyaan yang berseliweran di otaknya tetapi tak ada satu pun jawaban yang ia dapat.

Kenapa Leo bisa seperti itu kepadanya?

Kenapa hidupnya harus sesulit ini?

Mana mungkin ia menerima tawaran Leo begitu saja. Harga dirinya tidak bisa dibeli dengan uang.

Tapi bagaimana dengan Mamanya?

Pundak Aurora bergetar karena isakan tangisannya, ia mencoba meredam suaranya dengan menggigit bibir bawahnya, menekan dadanya sendiri.

“Ya Tuhan, kenapa hidupku seburuk ini?” tanya Aurora di dalam hati.

Aurora menyeka air matanya, langkahnya terasa begitu berat. Kepalanya terasa mau pecah.

Aurora terus berjalan di lorong rumah sakit wajah yang menunduk, ia begitu malu untuk menunjukkan wajahnya yang begitu sembab.

“Nona Aurora.”

Aurora sedikit menoleh, ia tersenyum tipis melihat suster yang memanggilnya mendekat ke arahnya.

Ada apa lagi?

Jangan- jangan Mamanya—

“Ada apa, Sus?” tanya Aurora dengan wajah yang kembali tegang, bibirnya kering dan terlihat pucat.

Keadaannya begitu kacau, lorong rumah sakit ini terasa begitu sempit, Aurora merasa udara di sekitarnya semakin pengap dan bau obat-obatan masih menusuk indra penciumannya.

“Ibu anda sudah sadar tapi kondisinya masih lemah dan ingin bertemu dengan anda sekarang,” ucap Suster memberikan informasi yang begitu melegakan untuk Aurora.

“Terima kasih informasinya, Sus. Saya segera menemui Mama di ruangannya,” sahut Aurora dengan tersenyum.

Aurora langsung berlari ke ruangan Amelia, ada senyum tipis menghiasi bibirnya, ia berusaha untuk kuat walaupun hatinya menjerit dan menangis.

Langkah Aurora pelan, ia membuka pintu dengan gerakan perlahan takut mengejutkan Amelia yang baru saja siuman.

“Mama,” panggil Aurora dengan suara bergetar menahan tangis.

Amelia menatap anak semata wayangnya dengan tersenyum tipis, wajahnya begitu pucat tetapi ia begitu bahagia bisa melihat anaknya kembali.

“A-aurora,” gumam Amelia memegang tangan anaknya.

Amelia merasa bersalah kepada Aurora karena ia terus merepotkan anaknya yang harusnya menikmati hidup di usia muda. Kini, merawat dirinya yang penyakitan.

“M-maafkan Mama ya, Sayang. Karena penyakit Mama kamu tidak bisa menikmati usia mudamu dengan bahagia,” gumam Amelia dengan berkaca-kaca.

Perkataan Mamanya seperti menusuk ke jantungnya, ia menggenggam tangan ringkih itu dengan pelan.

“Aurora merasa tidak direpotkan sama sekali, Ma. Yang terpenting Mama sehat dan kita bisa berkumpul kembali di rumah.”

Aurora meletakkan tangan Amelia di pipinya, tangan yang terus memberikan kasih sayang kepadanya kini terlihat begitu lemah, tubuh yang dulunya kuat kini hanya bisa berbaring di atas kasur rumah sakit dengan alat medis yang melekat di tubuh Mamanya. Yang semakin hari bertambah kurus.

Aurora semakin bimbang, melihat kondisi Amelia dirinya semakin tidak tega. Penawaran Leo kembali terngiang di otaknya.

‘Jadilah teman tidur saya….’

Aurora melamun, keputusan itu sangat berat untuk dirinya. Ini tentang masa depannya, jika Amelia mengetahui ini semua pasti Mamanya itu akan sedih.

Melihat anaknya yang terdiam, Amelia tahu beban yang ia letakkan di bahu anaknya sungguh berat.

“Aurora, kita pulang saja ya. Biaya rumah sakit ini pasti sangat besar, kita tidak mempunyai uang sebanyak itu. Mama sudah sembuh, Sayang.”

Aurora tersentak, ia menyeka air matanya dengan cepat agar Amelia tidak menyadari jika dirinya menangis dalam diam.

Suara alat pendeteksi jantung Amelia menjadi teman keduanya.

“Dokter tidak mengizinkan Mama pulang karena keadaan Mama yang belum pulih. Aurora pasti bisa mendapatkan uang itu, Ma. Mama tidak perlu khawatir,” sahut Aurora dengan tersenyum lembut, menyembunyikan kesedihannya.

Amelia menggelengkan kepalanya. “Operasi jantung Mama memakan biaya yang sangat besar, Sayang. Mama tidak usah dioperasi ya, minum obat saja pasti sudah sembuh kok. Mama janji tidak akan kecapean lagi,” bujuk Amelia dengan lirih.

Ia tidak mau semakin membebani Aurora. Anaknya sudah menderita sejak kecil, ia belum memberikan kebahagiaan untuk Aurora.

“Mama tidak usah berpikir macam-macam, pikirkan kesehatan Mama demi Aurora karena cuma Mama yang Aurora punya, Ma.”

“Tuhan, bagaimana ini?” gumam Aurora dengan kalut.

Aurora semakin bimbang, di satu sisi ia butuh uang itu secepatnya, di sisi lain ia tidak mungkin menjual dirinya kepada Leo.

Haruskah ia menerima tawaran Leo?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 80. Pacaran

    Leo membawa Aurora ke apartemen lagi, ia memeluk Aurora dari belakang dan menciumi leher gadis itu dengan mesra.“Aku semakin yakin dengan kamu,” bisik Leo dengan tersenyum.Kedua alis Aurora terangkat, ia melirik Leo dari samping. Dan mengelus tangan kekar Leo yang ada di perutnya.“Yakin gimana maksudnya?” tanya Aurora bingung.Aurora memejamkan mata, kecupan Leo di lehernya menimbulkan rasa hangat, geli, dan deg-degan seperti biasa. Tidak ada yang berubah, hanya saja ia jauh lebih santai dan sangat menerima sentuhan Leo di seluruh tubuhnya.Leo melepaskan pelukannya, menarik Aurora perlahan agar menghadap ke arahnya. “Menjadikanmu istriku, Sayang. Kamu perhatian dengan Shopia. Aku yakin kamu bisa menjadi ibu yang baik untuknya walaupun usia kalian sama,” jawab Leo serius.Aurora menahan napasnya, ia tampak berpikir dan membayangkan jika ia menikah dengan Leo dan menjadi ibu sambung untuk Shopia. Terkesan aneh, tetapi permintaan Leo tidak bisa ia abaikan. Aurora juga menginginkan ha

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 79. Perhatian Aurora

    Aurora membuka matanya dengan perlahan, tubuhnya remuk redam karena melayani Leo semalam. Suara gemericik air menandakan jika Leo sedang berada di dalam kamar mandi, ia menatap sekeliling kamar ini.Tidak ada lagi foto Emma. Hanya foto Leo yang terpampang di dinding.Kapan Leo melepaskan foto-foto Emma? Sebab, semalam ia masih melihat foto Emma terpajang dengan rapi.Ceklek…Suara pintu terbuka mengalihkan atensi Aurora. Gadis itu menelan ludahnya dengan kasar melihat Leo hanya menggunakan handuk dari pusar sampai lutut saja, air menetes ke dada pria itu menambah kegantengan Leo berkali-kali lipat.“Sudah bangun, Sayang. Cepat mandi sebelum Shopia menyadari kamu di kamar ini,” ujar Leo berjalan mendekat ke arah Aurora.“Iya, Om. Aku akan mandi sekarang. Tapi pakaianku.”“Sudah aku bawakan itu di atas sofa, Sayang. Jangan khawatir.”Cup…Leo mengecup dahi Aurora dengan lembut. “Bisa berjalan, kan?”“Bisa kok. Cuma pegel aja, ini aku mau mandi kamu awas dulu jangan dekat-dekat aku,” gu

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 78. Menyentuhmu

    “Iya, Sayang.”Aurora mengelus rambut Leo dengan lembut, pria itu merasa nyaman diperlakukan dengan manja oleh Aurora.Leo meletakkan kepalanya di pundak Aurora, tangannya menyentuh kancing baju Aurora dan membukanya dengan perlahan.“Kamu mau apa?” tanya Aurora mencegah tangan Leo.“Sebentar saja. Tidak lebih dari ini, Sayang,” ucap Leo memelas.“Janji?”“Iya, Sayang.”Aurora gugup ketika Leo membuka satu persatu kancing bajunya. “Jangan diliatin kayak gitu,” tegur Aurora tercekat dengan pipi yang memanas.Leo tersenyum, tangannya mulai meremas benda kenyal favoritnya yang semakin bertambah ukuran.Mengeluarkan payudara itu dari satu-satunya penutup hingga terpampang jelas di hadapanmu. Leo mendekatkan mulutnya, menghisap bagaikan bayi yang kehausan. Tangan yang satunya tidak ia biarkan diam, meremas dengan gemas hingga Aurora harus menahan suara lenguhannya.“Eugh… Sayang pelan-pelan,” pinta Aurora menggigit bibir bawahnya.Rasa geli ia rasakan, Aurora menutup mulutnya dengan tanga

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 77. Aku Membutuhkanmu

    Shopia jatuh terduduk ketika Emma mendorongnya dengan kasar. Emosi Leo kembali memuncak, ia ingin mengejar Emma dan memberikan pelajaran tetapi tangannya ditahan oleh Aurora. Gadis itu memberikan kode untuk fokus ke Shopia yang paling terluka.“Sialan wanita tidak tahu diri itu!” umpat Leo dengan kasar.Jika tidak mengingat Emma adalah ibu dari Shopia, maka ia sudah menghajar Emma sekarang juga tidak peduli jika dia adalah seorang perempuan.Leo berjongkok di hadapan anaknya, menatap Shopia dengan sangat khawatir. “Sayang, maafkan Papa ya. Keluarga kita harus hancur. Kamu tidak apa-apa kan kalau ikut Papa?” tanya Leo dengan pelan. Ia tahu semua kata-katanya sangat melukai Shopia. Tetapi ia tidak bisa lagi mempertahankan pernikahannya dengan Emma, lebih baik berpisah daripada terus melukai hati masing-masing. Shopia tersenyum miris. “Hubungan kalian tidak bisa diperbaiki ya, Pa?” tanya Shopia dengan tatapan kosongnya. “Tidak, Sayang. Papa dan Mama sudah memiliki jalan masing-masin

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 76. Akan Cerai

    Aurora menenangkan Shopia yang menangis dengan cara memeluknya, ia tidak menyangka acara makan malam yang tadinya penuh canda tawa, kini berubah mengkhawatirkan.Benarkah Emma selingkuh?Ia melirik Leo, pria itu juga tampak emosi. Ia merasa iba dengan semua yang terjadi.Apakah Leo cemburu melihat Emma mesra dengan pria lain?Tentu saja cemburu sebab Emma adalah istrinya, tetapi mengapa Aurora merasa sakit?“Kita pulang!” ucap Leo dingin.Ia melangkah dengan tegas, ekspresinya datar dan sangat dingin. Sedangkan Shopia masih syok dan menangis di pelukan Aurora. Tidak pernah terbayang di hidupnya jika ia akan memergoki Mamanya sendiri berselingkuh.“Shopia, kamu gak apa-apa, kan?”“Ketakutanku selama ini terjadi, Aurora. Papa pasti sakit hati, mereka akan bercerai,” gumam Shopia terguncang.“Sstt… Jangan berpikir macam-macam. Mereka hanya sedang emosi,” ujar Aurora menenangkan sahabatnya.Shopia tertawa miris, ia menatap punggung Papanya yang tegap. Shopia berlari ke arah Leo dan memel

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 75. Emma Selingkuh

    “Papa!” panggil Shopia berlari kecil setelah melihat keberadaan Papa dan sahabatnya.Aurora sudah mengetahui jika Leo tidak hanya mengajak dirinya saja tetapi Shopia juga. Entah apa maksud Leo, tetapi Aurora sama sekali tidak kesal. Ia malah senang jika Shopia ikut makan malam bersama dengan mereka.“Sayang mana Raja?” tanya Leo tidak melihat orang kepercayaannya itu tidak bersama dengan sang anak.Shopia mencibik kesal, ia tidak langsung menjawab melainkan duduk di samping Aurora dengan tersenyum manis.“Shopia.”“Ada di mobil aku malas kalau ada dia di sini,” jawab Shopia dengan jujur.Leo menghela napasnya dengan kasar, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Raja agar segera bergabung bersama dengan mereka.“Papa kenapa mengajak dia sih?”“Kamu yang kenapa? Papa heran sekarang kamu terlihat tidak menyukai Raja. Ada apa sebenarnya?”Shopia langsung bungkam, ia tidak ingin mengakui semuanya. Sungguh ia sangat malu mengingat jika ia begitu centil kepada Raja di masa lalu.“Gak ada, Pa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status