Beranda / Romansa / Terjerat Pesona Papa Sahabatku / Bab 1. Tawaran Gila Papa Sahabatku

Share

Terjerat Pesona Papa Sahabatku
Terjerat Pesona Papa Sahabatku
Penulis: Syafitri Wulandari

Bab 1. Tawaran Gila Papa Sahabatku

last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 10:23:29

“Kamu mau ke mana malam-malam seperti ini Emma? Kamu itu tidak pernah peduli dengan saya, kita sudah jarang bertemu bahkan kita sudah lama tidak tidur bersama,” keluh Leo menatap istrinya yang sudah berpakaian begitu seksi.

Emma memutar bola matanya dengan malas, keluhan Leo sama sekali tidak ia anggap serius.

“Aku ada janji dengan temanku, Mas. Kita sudah tua kamu masih memikirkan persoalan ranjang? Lain kali saja, Mas. Aku pergi dulu,” sahut Emma sama sekali tidak peduli dengan ucapan Leo.

Aurora yang baru saja datang tubuhnya langsung membeku, mendengar perdebatan yang ia yakini dari kedua orang tua sahabatnya—Shopia.

Niat hati menjadi tamu karena diundang sahabatnya untuk makan malam sekaligus merayakan ulang tahun Shopia, dirinya malah menyaksikan pertengkaran suami istri itu.

Emma pergi begitu saja melewati Aurora dan juga Shopia, bahkan sama sekali tidak melirik ke arah anaknya.

Aurora menatap ke arah Shopia, sahabatnya itu terlihat mematung dan tidak bisa berkata apa-apa.

Wajah Aurora memerah, entah mengapa ia merasa malu sama mendengar persoalan suami istri itu.

Leo menghela napas panjang, ia menghampiri Shopia dan melirik ke arah Aurora sekilas.

Gaun hitam yang begitu kontras di kulitnya yang putih, Aurora tampak terlihat berbeda malam ini.

Aurora menelan ludahnya dengan kasar, ia menjadi gugup saat mata tajam itu menatap ke arah dirinya.

Aura pria matang begitu kentara di diri Leo. Rahang tegas, lengan berotot, postur tubuhnya begitu menggoda, dengan balutan kemeja berwarna putih dengan kancing kemeja yang terbuka, dan bagian lengan digulung sampai siku membuat penampilan Leo begitu maco.

Tanpa sadar Aurora menahan napasnya saat Leo semakin mendekat ke arahnya, lebih tepatnya ke arah Shopia.

“Papa mau ke rumah sakit, Shopia. Ada pasien yang harus Papa urus,” ucap Leo dengan tegas.

“T-tapi, Pa—”

“Papa buru-buru. Lain kali saja kita berbicara.”

Tangan Shopia menggantung di udara saat ingin menahan Papanya, suaranya juga tertahan di tenggorokan.

“Kalian melupakan ulang tahunku lagi,” gumam Shopia dengan kecewa.

Aurora merasa udara di sekitar ruangan ini begitu pengap, ia merangkul Shopia dengan tersenyum mencoba mencairkan suasana.

“Kita masih bisa merayakan—”

Ucapan Aurora menggantung di udara, karena suara dering ponsel miliknya, ia mengambil ponselnya dan wajahnya langsung memucat ketika ia mengenal nomor yang meneleponnya—pihak rumah sakit.

Dengan tangan gemetar Aurora menggeser ikon berwarna hijau itu.

“H-halo…”

“Nona Aurora, saya ingin menginformasikan jika keadaan ibu anda saat ini sedang kritis. Mohon untuk segera datang ke rumah sakit.”

“A-apa? I-iya Sus, saya segera ke sana.”

Aurora langsung berlari begitu saja meninggalkan Shopia. Wajahnya pucat, saat kabar buruk itu terdengar di telinganya.

***

Tubuh Aurora mematung, membaca kata demi kata pada kertas yang ada di tangannya.

Biaya operasi Mamanya sangat besar. Bagaimana caranya ia harus mencari uang 100 juta rupiah dalam waktu dekat?

“Operasinya bisa dilakukan ketika anda sudah melunasi biaya administrasinya, Nona,” ujar Suster yang langsung membuyarkan lamunan Aurora.

Ucapan Suster di hadapannya seperti menghatamkan dada Aurora seperti palu godam. Napasnya tercekat, seolah seluruh udara di dunia ini lenyap seketika. Tubuhnya menegang, karena takut yang terus menggerogoti hatinya.

Matanya mulai berembun. Ada sesak yang menanjak dari dada hingga ke tenggorokan. Tiba-tiba wajah Mamanya terbayang—keriput, lemah, tak berdaya, dan sangat membutuhkan pertolongan darinya.

“Beri saya waktu, Sus. Saya akan melunasi semuanya.”

“Baik, Nona. Secepatnya harus segera dilunasi agar ibu anda bisa dioperasi. Saya permisi.”

Tubuh Aurora hampir ambruk, ia harus mencari pinjaman sekarang juga.

Tidak ada waktu lagi!

Ia harus pergi. Aurora berjalan cepat keluar rumah sakit, pikirannya buntu dan terasa penuh.

Waktu terus berlalu, Aurora sudah berusaha mencari pinjaman ke sana ke sini tetapi tidak ada yang mau membantunya sama sekali, ia mengusap wajahnya dengan kasar.

Gadis itu terlihat frustasi, Aurora kebingungan, Mamanya harus sehat kembali, tetapi sampai sekarang ia tidak dapat pinjaman sama sekali.

“Ya Tuhan, di mana aku mendapatkan uang sebanyak itu? Bahkan sampai sekarang aku belum mendapatkan uang pinjaman sedikit pun,” gumam Aurora dengan napas yang terdengar berat.

Aurora kalut, ia teringat wajah Mamanya, bibirnya gemetar, matanya memerah, isakan lirih terdengar di bibir pucatnya.

“Kenapa tidak ada yang mau membantuku hikss…? A-aku benar-benar membutuhkan uang itu sekarang,” gumam Aurora dengan frustasi.

Aurora terduduk dengan lesu, ia memijat kakinya yang sudah terasa sakit karena terus-terusan berjalan dengan rasa kebingungan dan frustasinya.

Dirasa kakinya sudah mendingan, Aurora berdiri kembali, ia harus semangat demi Mamanya. Tapi ke mana lagi ia harus pergi?

Aurora terus berjalan, walaupun tidak tahu ke mana ia harus pergi, ia mencoba untuk ke bank mencari pinjaman, tetapi dirinya harus menelan pil kepahitan karena pihak bank sama sekali tidak mau meminjamkan uang untuk dirinya, tidak ada jaminan yang bisa meyakinkan pihak bank kepadanya.

Tatapan Aurora sudah kosong, ia tidak bisa lagi berpikir dengan jernih. Tetapi hatinya belum bisa tenang sama sekali.

Ia masih mempunyai Papa dan saudara yang lainnya. Tetapi Aurora merasa ia sendirian karena tidak ada yang mau membantunya sama sekali.

“Mama yang kuat ya,” gumam Aurora dengan tersenyum miris.

Udara siang ini semakin terik, keringat sudah membanjiri dahinya. Kulitnya yang putih sudah memerah, tetapi Aurora sama sekali tidak peduli.

Aurora memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, ia merindukan Mamanya yang ia tinggalkan seorang diri di sana.

Pikirannya kosong tubuhnya terasa begitu ringan.

Ia berjalan tanpa memperhatikan sekitar, tanpa sadar air matanya jatuh, mengingat semua kenangannya bersama dengan Amelia.

Sampai—

Bruk…

Aurora tidak sengaja menabrak seseorang, gadis itu mendongak melihat siapa yang ia tabrak saat ini.

“M-maaf, Om. S-saya tidak sengaja,” gumam Aurora dengan takut-takut melihat wajah tenang dan dingin Leo—Papa sahabatnya.

Leo tidak bersuara, tatapan pria matang itu tidak terlepas dari wajah Aurora. Sudah sejak tadi ia memperhatikan gadis itu, ekspresi wajah Aurora tidak bisa dibohongi. Jika gadis itu sedang dalam kebingungan.

Leo yakin itu semua terjadi karena Aurora membutuhkan uang untuk operasi ibunya, ia sudah melihat data ibu Aurora.

Aurora terlihat gugup, karena Leo sama sekali tidak berbicara, ia begitu canggung dengan Papa sahabatnya ini.

“S-saya permisi, Om. S-sekali lagi saya minta maaf.”

Aurora hendak berjalan pergi, sebelum itu ia sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai tanda permintaan maaf, tetapi ucapan Leo langsung menghentikan langkahnya.

“Saya bisa bantu untuk melunasi semua biaya operasi ibumu asal kamu mau menuruti semua perkataan saya.”

Mata yang tadinya redup, kini terlihat sedikit berbinar, ada harapan di binar matanya karena perkataan Leo. Dada yang tadinya sesak kini sedikit lega dan terasa ringan.

“B-benaran, Om?” tanya Aurora dengan tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca karena sangking bahagianya mendengar ucapan Leo.

Leo mengangguk, matanya melirik sekitar, ia tidak mau ada yang mendengar pembicaraannya dengan Aurora.

Aurora memainkan jemarinya dengan gugup, angin menerpa keduanya hingga rambut Aurora berterbangan, tanpa disadari oleh Aurora sejak tadi Leo memperhatikannya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Saya benar mau membantu. Itu pun jika kamu setuju dengan penawaran yang saya berikan,” kata Leo dengan santai.

Aurora harus mendongak ketika ingin menatap wajah tampan yang penuh ketegasan itu, di dalam hati Aurora berkata : ternyata Leo bukanlah pria yang buruk, ada sisi kebaikan di dalamnya.

“Apa yang harus saya lakukan, Dok?” tanya Aurora dengan gugup.

Aurora tanpa sadar menahan napasnya, memperhatikan bibir Leo yang masih bungkam. Apa pun akan ia lakukan demi Mamanya, asal masih di dalam tahap yang wajar untuknya.

Leo membenarkan letak kacamatanya, wajahnya tampak begitu serius.

“Jadi teman tidur saya, maka saya akan membiayai seluruh pengobatan ibumu sampai selesai,” ucap Leo dengan tegas, suaranya berat dan tidak ada keraguan di sana.

“A-apa?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 81. Aku Mencintaimu

    “Mas?” ulang Leo dengan tersenyum, panggilan itu terasa menggelitik hatinya, seakan ada yang menari-nari di sana. “G-gak boleh ya?” tanya Aurora tercekat. “Sangat boleh, Sayang.”Leo mencondongkan wajahnya sampai ke telinga Aurora. “Aku mencintaimu,” bisik Leo tak lama sedikit menjauh dari Aurora. Tubuh Aurora menegang, matanya tak berkedip, mulutnya terbuka. Namun, tidak ada suara yang keluar dari sana. “Mungkin ini terlambat, tapi aku nyaman denganmu, Aurora. Hatiku kembali merasakan cinta ketika bersamamu, sebelum menyadarinya, aku terus menyangkal perasaan itu. Tapi makin ke sini, aku sadar jika semua itu adalah perasaan cinta yang aku sendiri tidak tahu pasti kapan perasaan itu datang,” jelas Leo dengan serius.Mata Aurora berkedip-kedip, mencoba mencerna perkataan Leo yang baginya masih terdengar mimpi. Leo mencintai dirinya? Ia tidak salah dengar, kan? “Kamu masih belum yakin?” tanya Leo menyadarkan Aurora dari sibuknya dengan pemikirannya sendiri. Aurora tersenyum, ia

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 80. Pacaran

    Leo membawa Aurora ke apartemen lagi, ia memeluk Aurora dari belakang dan menciumi leher gadis itu dengan mesra.“Aku semakin yakin dengan kamu,” bisik Leo dengan tersenyum.Kedua alis Aurora terangkat, ia melirik Leo dari samping. Dan mengelus tangan kekar Leo yang ada di perutnya.“Yakin gimana maksudnya?” tanya Aurora bingung.Aurora memejamkan mata, kecupan Leo di lehernya menimbulkan rasa hangat, geli, dan deg-degan seperti biasa. Tidak ada yang berubah, hanya saja ia jauh lebih santai dan sangat menerima sentuhan Leo di seluruh tubuhnya.Leo melepaskan pelukannya, menarik Aurora perlahan agar menghadap ke arahnya. “Menjadikanmu istriku, Sayang. Kamu perhatian dengan Shopia. Aku yakin kamu bisa menjadi ibu yang baik untuknya walaupun usia kalian sama,” jawab Leo serius.Aurora menahan napasnya, ia tampak berpikir dan membayangkan jika ia menikah dengan Leo dan menjadi ibu sambung untuk Shopia. Terkesan aneh, tetapi permintaan Leo tidak bisa ia abaikan. Aurora juga menginginkan ha

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 79. Perhatian Aurora

    Aurora membuka matanya dengan perlahan, tubuhnya remuk redam karena melayani Leo semalam. Suara gemericik air menandakan jika Leo sedang berada di dalam kamar mandi, ia menatap sekeliling kamar ini.Tidak ada lagi foto Emma. Hanya foto Leo yang terpampang di dinding.Kapan Leo melepaskan foto-foto Emma? Sebab, semalam ia masih melihat foto Emma terpajang dengan rapi.Ceklek…Suara pintu terbuka mengalihkan atensi Aurora. Gadis itu menelan ludahnya dengan kasar melihat Leo hanya menggunakan handuk dari pusar sampai lutut saja, air menetes ke dada pria itu menambah kegantengan Leo berkali-kali lipat.“Sudah bangun, Sayang. Cepat mandi sebelum Shopia menyadari kamu di kamar ini,” ujar Leo berjalan mendekat ke arah Aurora.“Iya, Om. Aku akan mandi sekarang. Tapi pakaianku.”“Sudah aku bawakan itu di atas sofa, Sayang. Jangan khawatir.”Cup…Leo mengecup dahi Aurora dengan lembut. “Bisa berjalan, kan?”“Bisa kok. Cuma pegel aja, ini aku mau mandi kamu awas dulu jangan dekat-dekat aku,” gu

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 78. Menyentuhmu

    “Iya, Sayang.”Aurora mengelus rambut Leo dengan lembut, pria itu merasa nyaman diperlakukan dengan manja oleh Aurora.Leo meletakkan kepalanya di pundak Aurora, tangannya menyentuh kancing baju Aurora dan membukanya dengan perlahan.“Kamu mau apa?” tanya Aurora mencegah tangan Leo.“Sebentar saja. Tidak lebih dari ini, Sayang,” ucap Leo memelas.“Janji?”“Iya, Sayang.”Aurora gugup ketika Leo membuka satu persatu kancing bajunya. “Jangan diliatin kayak gitu,” tegur Aurora tercekat dengan pipi yang memanas.Leo tersenyum, tangannya mulai meremas benda kenyal favoritnya yang semakin bertambah ukuran.Mengeluarkan payudara itu dari satu-satunya penutup hingga terpampang jelas di hadapanmu. Leo mendekatkan mulutnya, menghisap bagaikan bayi yang kehausan. Tangan yang satunya tidak ia biarkan diam, meremas dengan gemas hingga Aurora harus menahan suara lenguhannya.“Eugh… Sayang pelan-pelan,” pinta Aurora menggigit bibir bawahnya.Rasa geli ia rasakan, Aurora menutup mulutnya dengan tanga

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 77. Aku Membutuhkanmu

    Shopia jatuh terduduk ketika Emma mendorongnya dengan kasar. Emosi Leo kembali memuncak, ia ingin mengejar Emma dan memberikan pelajaran tetapi tangannya ditahan oleh Aurora. Gadis itu memberikan kode untuk fokus ke Shopia yang paling terluka.“Sialan wanita tidak tahu diri itu!” umpat Leo dengan kasar.Jika tidak mengingat Emma adalah ibu dari Shopia, maka ia sudah menghajar Emma sekarang juga tidak peduli jika dia adalah seorang perempuan.Leo berjongkok di hadapan anaknya, menatap Shopia dengan sangat khawatir. “Sayang, maafkan Papa ya. Keluarga kita harus hancur. Kamu tidak apa-apa kan kalau ikut Papa?” tanya Leo dengan pelan. Ia tahu semua kata-katanya sangat melukai Shopia. Tetapi ia tidak bisa lagi mempertahankan pernikahannya dengan Emma, lebih baik berpisah daripada terus melukai hati masing-masing. Shopia tersenyum miris. “Hubungan kalian tidak bisa diperbaiki ya, Pa?” tanya Shopia dengan tatapan kosongnya. “Tidak, Sayang. Papa dan Mama sudah memiliki jalan masing-masin

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 76. Akan Cerai

    Aurora menenangkan Shopia yang menangis dengan cara memeluknya, ia tidak menyangka acara makan malam yang tadinya penuh canda tawa, kini berubah mengkhawatirkan.Benarkah Emma selingkuh?Ia melirik Leo, pria itu juga tampak emosi. Ia merasa iba dengan semua yang terjadi.Apakah Leo cemburu melihat Emma mesra dengan pria lain?Tentu saja cemburu sebab Emma adalah istrinya, tetapi mengapa Aurora merasa sakit?“Kita pulang!” ucap Leo dingin.Ia melangkah dengan tegas, ekspresinya datar dan sangat dingin. Sedangkan Shopia masih syok dan menangis di pelukan Aurora. Tidak pernah terbayang di hidupnya jika ia akan memergoki Mamanya sendiri berselingkuh.“Shopia, kamu gak apa-apa, kan?”“Ketakutanku selama ini terjadi, Aurora. Papa pasti sakit hati, mereka akan bercerai,” gumam Shopia terguncang.“Sstt… Jangan berpikir macam-macam. Mereka hanya sedang emosi,” ujar Aurora menenangkan sahabatnya.Shopia tertawa miris, ia menatap punggung Papanya yang tegap. Shopia berlari ke arah Leo dan memel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status