Home / Romansa / Terjerat Pesona Papa Sahabatku / Bab 3. Keputusan Sulit

Share

Bab 3. Keputusan Sulit

last update Huling Na-update: 2026-01-14 10:24:38

Aurora menghela napas panjang, gadis itu tersenyum kecil melihat Amelia sudah tertidur setelah minum obat yang diberikan suster.

Ia mengusap punggung tangan Mamanya dengan lembut, hatinya benar-benar kalut saat ini, setiap hembusan napas yang tidak beraturan keluar dari mulut Amelia membuat Aurora tidak tenang.

“Aku harus bagaimana?” monolog Aurora dengan sendu.

Bahkan berulang kali ia melihat ke arah Amelia, memastikan jika Mamanya masih bernapas. Sangking takutnya ia kehilangan Amelia.

Mata Aurora berkaca-kaca, memikirkan berbagai cara untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat.

Apalagi tadi suster sudah memperingati dirinya untuk membayar tagihan rumah sakit secepatnya, semakin kalut dirinya.

“Aku tinggal sebentar ya, Ma,” gumam Aurora mencium dahi Amelia dengan lembut.

Aurora berjalan dengan langkah yang begitu pelan, setiap langkahnya terasa begitu berat.

Gadis itu ingin mencari angin segar untuk menjernihkan pikirannya yang terasa penuh hingga kepalanya terasa sakit dan berdenyut.

Aurora memijat pelipisnya dengan lembut, tak sengaja ia berpapasan dengan Leo. Ia langsung membuang muka enggan menatap pria itu, entah kenapa Aurora menjadi ketakutan.

Sedangkan Leo terlihat biasa saja, bahkan ia tidak melirik sama sekali ke arah Aurora. Seperti tidak terjadi sesuatu di antara mereka.

“Aku ingin menghindar dari pria itu tetapi bagaimana caranya? Dia dokter yang menangani Mama bahkan dokter jantung terbaik di negara ini,” keluh Aurora dengan lirih.

Aurora sudah mencari tahu informasi tentang Leo melalui internet. Semua terlihat mengagumkan bahkan rumah sakit ini milik pria itu.

Tapi kenapa pria matang itu masih mencari kenikmatan dengan perempuan lain?

Apa karena istrinya tidak pernah memenuhi kebutuhan biologisnya karena sibuk?

Aurora memukul kepalanya dengan pelan, ia merutuki dirinya yang memikirkan masalah pribadi Leo dan istrinya.

Langkahnya akhirnya berhenti di taman rumah sakit, Aurora memilih duduk di kursi menatap orang-orang yang berlalu lalang, tetapi pikirannya tidak ada di sini.

Gadis itu melamun, ia tidak memperdulikan sekitarnya. Pandangannya lurus ke depan.

Bagaimana jika ia terlambat menolong Mamanya?

Operasi itu harus dilakukan secepatnya. Tapi sampai sekarang ia belum mendapatkan uang sepeser pun.

Bahkan di saat Mamanya sakit seperti ini Papanya sama sekali tidak datang menjenguk.

Entah ke mana Papanya itu, Aurora sudah tidak peduli dengan Papanya karena sejak kecil ia tidak mendapatkan peran Papa di kehidupannya.

Keluarganya juga tidak ada yang peduli, mungkin karena Mamanya orang miskin makanya tidak ada yang mau mendekat, untung saja ada salah satu tetangga yang begitu baik kepada mereka, hingga membawanya ke rumah sakit ini.

“Ini semua tidak adil Tuhan,” gumamnya dengan lirih.

Aurora menerima takdir di hidupnya, tetapi jangan ambil Amelia di sisinya karena hanya Mamanya yang peduli dengannya. Jika Amelia pergi meninggalkan dirinya, Aurora tidak tahu harus bagaimana lagi menjalani hidup.

****

“Aurora, kamu tidak kuliah, Nak?” tanya Amelia dengan lirih.

Mendengar pertanyaan Mamanya, Aurora tersenyum tipis. “Aurora sudah izin, Ma. Aurora mau temani Mama di rumah sakit,” sahut Aurora dengan pelan.

Amelia menatap sendu ke arah anaknya, ia mengelus kepala Aurora dengan lembut.

Kenapa Aurora harus terlahir dari ibu miskin seperti dirinya?

Amelia merasa gagal menjadi seorang ibu. Seharusnya saat ini ia masih bekerja, mencari uang untuk kuliah Aurora, tetapi anaknya berjuang sendiri bahkan harus bekerja di saat tidak kuliah.

Amelia memegang dadanya yang terasa nyeri, ia terbatuk hingga Aurora kembali panik.

“Mama kenapa? Mama tidak usah memikirkan bagaimana Aurora ya. Aurora baik-baik saja, Ma.”

Aurora tahu Amelia memikirkan keadaannya juga, sebagai seorang ibu yang sudah melahirkannya pasti Amelia merasa merepotkan dirinya dengan keadaan yang sakit parah.

“M-mama tidak apa-apa, Sayang. M-mama merasa sedih karena belum bisa membahagiakanmu. M-mama malah terus merepotkan dirimu hingga kuliahmu juga terbengkalai karena Mama sakit,” gumam Amelia dengan sendu.

Raut wajah Amelia begitu terlihat lelah dan sendu, ia menatap ke langit-langit ruangannya. Pandangannya kosong, air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah, napasnya masih terdengar berat.

Keduanya tampak hening, hanya alat pendeteksi jantung Amelia yang memecahkan kesunyian di antara keduanya.

Dengan gerakan lembut Aurora mengusap air mata Amelia yang terasa panas di tangannya.

“M-mama jangan nangis. Aurora juga sedih kalau Mama seperti ini,” gumam Aurora dengan lirih.

Ruangan ini terasa menyempit, Aurora kesulitan untuk mengambil napas melihat keadaan Amelia yang seakan ingin menyerah.

“Kalau Mama sudah tiada hiduplah lebih baik, Sayang. Kejar cita-citamu setinggi mungkin agar tidak direndahkan oleh orang lain dan keluarga Papamu. Di dunia ini Mama hanya bisa merepotkan kamu saja, mungkin lebih baik Mama pergi,” gumam Amelia lirih.

Amelia juga merasa frustasi, tubuhnya semakin ringkih dan tidak bisa beraktivitas seperti dulu, semuanya terbatas. Mungkin lebih baik ia mati saja agar Aurora tidak mempunyai beban seperti dirinya.

Aurora menggelengkan kepalanya dengan berderai air mata.

Kenapa Mamanya bisa berbicara seperti itu?

Lebih baik ia dihina orang lain daripada harus kehilangan ibunya.

Amelia adalah semangat hidupnya, Amelia adalah separuh jiwanya. Jika Mamanya pergi lalu bagaimana dengan dirinya?

“Mama tidak boleh ngomong gitu hiks…hiks… Aurora masih butuh Mama di dunia ini. Tidak ada yang tulus menyayangi Aurora seperti Mama.”

Suara Aurora gemetar, sekujur tubuhnya terasa lemas, rasa takut kehilangan Amelia semakin besar.

Apakah ini terakhir kebersamaannya dengan Amelia?

“Takdir tidak ada yang tahu, Sayang. Tolong ikhlaskan kepergian Mama jika Tuhan sudah menjemput Mama ya. M-mama juga sudah tidak kuat sama penyakit ini, Sayang.”

Aurora semakin tergugu mendengar permintaan Amelia. Ia belum siap untuk kehilangan Amelia.

“Aurora tidak mau dengar, Ma. Aurora yakin Mama pasti sehat dan kita akan kumpul kembali seperti dulu.”

Amelia tersenyum tipis melihat anaknya menangis, ia menghapus air mata itu dengan tangan lemahnya.

“Mama sayang sekali sama kamu, Nak.”

Aurora semakin terisak, setiap ucapan yang keluar dari bibir pucat Amelia seperti salam perpisahan yang membuat Aurora ketakutan.

“Di mana lagi aku mendapatkan uang itu Tuhan? Tolong berikan aku waktu untuk mendapatkannya. Tolong jangan ambil Mamaku dulu, aku masih sangat membutuhkannya.”

Tidak adakah jalan lain, selain menerima tawaran gila dari Leo?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 80. Pacaran

    Leo membawa Aurora ke apartemen lagi, ia memeluk Aurora dari belakang dan menciumi leher gadis itu dengan mesra.“Aku semakin yakin dengan kamu,” bisik Leo dengan tersenyum.Kedua alis Aurora terangkat, ia melirik Leo dari samping. Dan mengelus tangan kekar Leo yang ada di perutnya.“Yakin gimana maksudnya?” tanya Aurora bingung.Aurora memejamkan mata, kecupan Leo di lehernya menimbulkan rasa hangat, geli, dan deg-degan seperti biasa. Tidak ada yang berubah, hanya saja ia jauh lebih santai dan sangat menerima sentuhan Leo di seluruh tubuhnya.Leo melepaskan pelukannya, menarik Aurora perlahan agar menghadap ke arahnya. “Menjadikanmu istriku, Sayang. Kamu perhatian dengan Shopia. Aku yakin kamu bisa menjadi ibu yang baik untuknya walaupun usia kalian sama,” jawab Leo serius.Aurora menahan napasnya, ia tampak berpikir dan membayangkan jika ia menikah dengan Leo dan menjadi ibu sambung untuk Shopia. Terkesan aneh, tetapi permintaan Leo tidak bisa ia abaikan. Aurora juga menginginkan ha

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 79. Perhatian Aurora

    Aurora membuka matanya dengan perlahan, tubuhnya remuk redam karena melayani Leo semalam. Suara gemericik air menandakan jika Leo sedang berada di dalam kamar mandi, ia menatap sekeliling kamar ini.Tidak ada lagi foto Emma. Hanya foto Leo yang terpampang di dinding.Kapan Leo melepaskan foto-foto Emma? Sebab, semalam ia masih melihat foto Emma terpajang dengan rapi.Ceklek…Suara pintu terbuka mengalihkan atensi Aurora. Gadis itu menelan ludahnya dengan kasar melihat Leo hanya menggunakan handuk dari pusar sampai lutut saja, air menetes ke dada pria itu menambah kegantengan Leo berkali-kali lipat.“Sudah bangun, Sayang. Cepat mandi sebelum Shopia menyadari kamu di kamar ini,” ujar Leo berjalan mendekat ke arah Aurora.“Iya, Om. Aku akan mandi sekarang. Tapi pakaianku.”“Sudah aku bawakan itu di atas sofa, Sayang. Jangan khawatir.”Cup…Leo mengecup dahi Aurora dengan lembut. “Bisa berjalan, kan?”“Bisa kok. Cuma pegel aja, ini aku mau mandi kamu awas dulu jangan dekat-dekat aku,” gu

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 78. Menyentuhmu

    “Iya, Sayang.”Aurora mengelus rambut Leo dengan lembut, pria itu merasa nyaman diperlakukan dengan manja oleh Aurora.Leo meletakkan kepalanya di pundak Aurora, tangannya menyentuh kancing baju Aurora dan membukanya dengan perlahan.“Kamu mau apa?” tanya Aurora mencegah tangan Leo.“Sebentar saja. Tidak lebih dari ini, Sayang,” ucap Leo memelas.“Janji?”“Iya, Sayang.”Aurora gugup ketika Leo membuka satu persatu kancing bajunya. “Jangan diliatin kayak gitu,” tegur Aurora tercekat dengan pipi yang memanas.Leo tersenyum, tangannya mulai meremas benda kenyal favoritnya yang semakin bertambah ukuran.Mengeluarkan payudara itu dari satu-satunya penutup hingga terpampang jelas di hadapanmu. Leo mendekatkan mulutnya, menghisap bagaikan bayi yang kehausan. Tangan yang satunya tidak ia biarkan diam, meremas dengan gemas hingga Aurora harus menahan suara lenguhannya.“Eugh… Sayang pelan-pelan,” pinta Aurora menggigit bibir bawahnya.Rasa geli ia rasakan, Aurora menutup mulutnya dengan tanga

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 77. Aku Membutuhkanmu

    Shopia jatuh terduduk ketika Emma mendorongnya dengan kasar. Emosi Leo kembali memuncak, ia ingin mengejar Emma dan memberikan pelajaran tetapi tangannya ditahan oleh Aurora. Gadis itu memberikan kode untuk fokus ke Shopia yang paling terluka.“Sialan wanita tidak tahu diri itu!” umpat Leo dengan kasar.Jika tidak mengingat Emma adalah ibu dari Shopia, maka ia sudah menghajar Emma sekarang juga tidak peduli jika dia adalah seorang perempuan.Leo berjongkok di hadapan anaknya, menatap Shopia dengan sangat khawatir. “Sayang, maafkan Papa ya. Keluarga kita harus hancur. Kamu tidak apa-apa kan kalau ikut Papa?” tanya Leo dengan pelan. Ia tahu semua kata-katanya sangat melukai Shopia. Tetapi ia tidak bisa lagi mempertahankan pernikahannya dengan Emma, lebih baik berpisah daripada terus melukai hati masing-masing. Shopia tersenyum miris. “Hubungan kalian tidak bisa diperbaiki ya, Pa?” tanya Shopia dengan tatapan kosongnya. “Tidak, Sayang. Papa dan Mama sudah memiliki jalan masing-masin

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 76. Akan Cerai

    Aurora menenangkan Shopia yang menangis dengan cara memeluknya, ia tidak menyangka acara makan malam yang tadinya penuh canda tawa, kini berubah mengkhawatirkan.Benarkah Emma selingkuh?Ia melirik Leo, pria itu juga tampak emosi. Ia merasa iba dengan semua yang terjadi.Apakah Leo cemburu melihat Emma mesra dengan pria lain?Tentu saja cemburu sebab Emma adalah istrinya, tetapi mengapa Aurora merasa sakit?“Kita pulang!” ucap Leo dingin.Ia melangkah dengan tegas, ekspresinya datar dan sangat dingin. Sedangkan Shopia masih syok dan menangis di pelukan Aurora. Tidak pernah terbayang di hidupnya jika ia akan memergoki Mamanya sendiri berselingkuh.“Shopia, kamu gak apa-apa, kan?”“Ketakutanku selama ini terjadi, Aurora. Papa pasti sakit hati, mereka akan bercerai,” gumam Shopia terguncang.“Sstt… Jangan berpikir macam-macam. Mereka hanya sedang emosi,” ujar Aurora menenangkan sahabatnya.Shopia tertawa miris, ia menatap punggung Papanya yang tegap. Shopia berlari ke arah Leo dan memel

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 75. Emma Selingkuh

    “Papa!” panggil Shopia berlari kecil setelah melihat keberadaan Papa dan sahabatnya.Aurora sudah mengetahui jika Leo tidak hanya mengajak dirinya saja tetapi Shopia juga. Entah apa maksud Leo, tetapi Aurora sama sekali tidak kesal. Ia malah senang jika Shopia ikut makan malam bersama dengan mereka.“Sayang mana Raja?” tanya Leo tidak melihat orang kepercayaannya itu tidak bersama dengan sang anak.Shopia mencibik kesal, ia tidak langsung menjawab melainkan duduk di samping Aurora dengan tersenyum manis.“Shopia.”“Ada di mobil aku malas kalau ada dia di sini,” jawab Shopia dengan jujur.Leo menghela napasnya dengan kasar, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Raja agar segera bergabung bersama dengan mereka.“Papa kenapa mengajak dia sih?”“Kamu yang kenapa? Papa heran sekarang kamu terlihat tidak menyukai Raja. Ada apa sebenarnya?”Shopia langsung bungkam, ia tidak ingin mengakui semuanya. Sungguh ia sangat malu mengingat jika ia begitu centil kepada Raja di masa lalu.“Gak ada, Pa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status