Share

Bab 26. Inner Child

last update Tanggal publikasi: 2026-02-04 20:45:16

Leo memang tidak mengajaknya bercinta malam ini, tetapi pria dingin itu terus menyentuh titik sensitifnya, menghisapnya seperti bayi yang kehausan.

“Aku tidak bisa berhenti menyentuhmu, Aurora. Rasanya sangat nyaman,” ujar Leo dengan jujur.

Aurora tercekat, ia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Matanya menatap lekat wajah tampan Leo.

Kenapa ia melihat sifat yang berbeda dari Leo, terlihat hangat dan manja. Awalnya ia risih tetapi lama-kelamaan ia menikmati setiap sentuhan Leo.

Leo menarik s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 196. Mood Berantakan

    “Kamu apa, Emma? Berani sekali kamu mau menampar istri saya, hah?” bentak Leo yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Aurora.Tentu saja Aurora dan Emma terkejut mendengar suara Leo. Bahkan ekspresi pria itu sangat dingin dan tajam kepada Emma hingga Emma menelan ludahnya dengan kasar, takut dengan Leo yang sudah berubah ekspresi seperti ini“B-bukan begitu, Mas. Aurora saja yang kurang ajar sama aku. Dia sangat berani ke wanita yang lebih tua, tidak punya sopan santun sama sekali, Mas,” sahut Emma membela diri.“Heh! Enak saja! Kamu duluan yang menghalangi jalanku. Seenaknya mengatakan aku tidak sopan, tidak sadar diri dan tidak tahu malu. Memang wanita bermuka dua,” bentak Aurora dengan penuh emosi hingga dadanya naik turun menahan gejolak yang menumpuk di dadanya.Ia semakin benci dengan Emma. Sekali pun wanita itu meminta maaf kepadanya, ia tidak akan memaafkan. Sungguh hatinya dibuat sakit dan kesal oleh wanita seperti Emma.“Tuh kan Mas, kamu lihat sendiri bagaimana dia gak so

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 195. Emosi Aurora

    Alvaro belum diperbolehkan pulang oleh dokter, karena keadaan Alvaro masih lemas. Mungkin besok Alvaro baru diperbolehkan pulang.Dengan sabar Aurora menemani anaknya, kali ia hanya bersama dengan pengasuh Alvaro. Sedangkan Leo sudah masuk kerja. Sebagai seorang dokter suaminya itu tidak boleh libur begitu saja, walaupun Leo pemilik rumah sakitnya sendiri.“Tuan kecil sepertinya haus, Nyonya,” ucap pengasuh Alvaro dengan sopan.“Iya, Mbak. Biar aku kasih asi dulu, tadi cuma sebentar minumnya mungkin mulutnya terasa pahit ya, Mbak,” sahut Aurora.“Mungkin saja, Nyonya. Sekarang di coba dulu siapa tahu Tuan kecil sudah mau minum.”Aurora mengeluarkan salah satu payudaranya dan memberikan putingnya pada Alvaro. Dan dengan lahap Alvaro mulai menghisap putingnya seperti biasa.Tatapan anaknya itu kepadanya sangat dalam, bahkan tangan anaknya yang mungil mengelus pipinya dengan lembut seakan mengatakan ‘Jangan khawatir, Ma. Aku baik-baik saja.’Aurora tersenyum, ia memegang tangan Alvaro ya

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 194. Alvaro Sudah Membaik

    Aurora tidak benar-benar nyenyak dalam tidurnya, ia tiba-tiba terbangun menatap Alvaro di brankar bersama Leo yang duduk di samping kanan suaminya.Leo sama sekali tidak tidur, pria oth menatap dalam wajah Alvaro. Dan itu membuat hati Aurora bergejolak sedih, ia ingin menangis, tetapi ia tahan takut Leo mendengarnya dan kembali bersikap tegas kepadanya.“Jagoan anak kuat. Cepat sembuh ya, Nak. Kasihan mama khawatir,” gumam Leo yang masih bisa didengar oleh Aurora.Pertahanan Aurora runtuh sudah, ia tidak dapat menahan air matanya. Dan pada akhirnya Aurora menangis dalam diam sampai matanya terasa panas dan mungkin bengkak.“Mau pintar apa lagi, Sayang? Hebat banget anak Papa tapi kami khawatir, Nak. Besok pagi keadaan kamu harus membaik ya,” lanjut Leo dengan tangan mengelus tangan mungil Alvaro.Aurora yang sudah tidak kuat menahan rasa sedihnya, bangun dan berlari memeluk Leo sampai suaminya itu terkejut.Namun, Leo sama sekali tidak protes. Ia membalas pelukan Aurora dengan mengelu

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 193. Alvaro Sakit

    Mendengar suara tangisan Alvaro seketika Leo dan Aurora yang baru saja terlelap langsung terbangun. Tak biasanya Alvaro menangis kencang di malam hari, keduanya mendekati Alvaro dengan panik.“Sayang kenapa?” tanya Aurora khawatir.Aurora menggendong Alvaro dan ia dapat merasakan tubuh Alvaro yang sangat panas.“Panas banget Alvaro, Mas,” ucap Aurora dengan panik.Leo juga panik, tetapi ia berusaha untuk tenang. Ia mengambil termometer dan mengecek suhu tubuh Alvaro.“Cup-cup, Sayang. Apa yang sakit, Nak?” Aurora mengelus punggung Alvaro berusaha menenangkan anaknya yang masih menangis walaupun tidak sekencang tadi.“Gimana, Mas? Berapa derajat?” tanya Aurora menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri agar Alvaro tenang.“38,2 derajat, Sayang. Kita bawa ke rumah sakit aja sekarang,” ucap Leo dengan panik.Walaupun ia dokter dan sering menangani pasien. Tetapi jika anaknya yang sakit Leo merasa buntu dan bingung.Aurora mengangguk, ia menatap Alvaro yang lemas di dalam gendongannya,

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 192. Mengeluh

    “Brengsek! Leo dan Aurora sama sekali tidak mau memberikan aku uang. Gimana caranya lagi biar aku mendapatkan uang banyak dari mereka? Aargh… Sialan memang!” ucap Darma dengan marah, ia mengacak-acak rambutnya dengan kesal sambil mencari cara bagaimana supaya Aurora percaya dengan dirinya.“Percuma saja aku meminta surat palsu dari Candra,” lanjutnya dengan kesal.Darma benar-benar terlihat frustasi, pria itu sudah sangat bingung mencari cara agar Aurora dan Leo memberikan uang kepadanya dengan mudah.Ia menghela napasnya dengan kasar. “Jika dengan cara baik-baik aku tidak bisa mendapatkan uang itu maka jalan satu-satunya harus menggunakan cara licik,” gumam Darma dengan tersenyum miring.Darma tertawa sumbang, ia tidak peduli jika Aurora adalah anaknya sendiri. Ia harus mendapatkan uang itu dengan segera, tanpa ada penolakan dari Leo maupun Aurora.“Haha… Aku akan kaya sebentar lagi,” ucapnya dengan senang.****Aurora menghela napasnya dengan kasar, ia masih memikirkan papanya yang

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 191. Muak

    Leo tertawa sumbang mendengar perkataan Darma. Ia sudah menduganya sejak awal jika pria itu hanya butuh uangnya makanya mendekati Aurora dan meminta maaf kepada istrinya.“Apa? Uang?” tanya Leo untuk memperjelas apa yang Darma inginkan dari ia dan Aurora sebenarnya.Darma menelan ludahnya dengan kasar, lidahnya terasa keluh untuk sekedar mengeluarkan suara, bahkan kepalanya susah untuk digerakkan walaupun hanya sebuah anggukan.“I-iya, saya sangat butuh uang untuk keperluan sehari-hari dan menebus obat saya,” ucap Darma memasang raut wajah memelas.Aurora muak mendengarnya, ia bukan mesin ATM yang bisa saja kapan diambil uangnya. Papanya itu benar-benar tidak punya rasa malu sedikit pun.“Dari dulu yang ada di pikiran Papa selalu uang, uang, dan uang ya? Papa benar-benar tidak tahu malu selalu minta ke suamiku. Jangan-jangan Papa hanya berpura-pura meminta maaf sama aku karena uang ya?” ujar Aurora dengan sarkas.Ia tidak lagi diam, mulutnya sudah sangat gatal untuk berbicara terlalu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status