"Sha, apa kamu berniat menyembunyikan kehamilanmu terus-menerus seperti ini dari keluargamu?"Alisha yang sedang mengaduk susu khusus ibu hamil menghentikan gerakannya. Tak langsung menjawab, perempuan cantik itu beralih dari dapur lalu duduk di sebelah Iin yang pagi ini mampir ke kamarnya. Yayasan akan mengadakan acara ulang tahun bulan depan karena itu Iin dan sang suami lebih sering berkunjung. Apalagi hari ini dijadwalkan rapat untuk hari besar tersebut."Andai bisa seperti itu, Kak," jawab Alisha terdengar sedih. "Ayahku orangnya keras. Bisa habis aku dihajar beliau kalau sampai tahu keadaanku mendadak yang hamil besar gini.""Tapi kata Danesh ayah kamu baik?" Iin tak mengelak waktu Alisha bertanya tentang keterlibatannya menyuruh Danesh menjemput dan mengantar dirinya ke Banten sekitar tiga bulanan lalu. Iin bahkan terang-terangan meminta Danesh menjaga Alisha dengan baik selama perjalanan, mengingat kondisinya yang tengah hamil."Waktu aku pulang kan, ayah dalam masa pemulihan.
"Sudah sebesar ini ya ternyata." Arya menarik satu sudut bibirnya ke atas saat mengamati lembar demi lembar hasil jepretan yang diberikan Yoshi.Alisha, itulah yang sosok yang tengah diamati saat ini. Yoshi sedang ia panggil ke New York karena Arya butuh asisten ketika esok hari mendampingi Irawan ikut meeting pertama dengan Mr. Yacob yang akan membahas proyek terbaru dengan Galeea. Arya yabg dianggap masih anak bawang tak dilepaskan begitu saja untuk maju sendirian. Karena itulah sang ayah mengirim Irawan sebagai perwakilannya sekaligus memberi arahan secara langsung pada sang adik bagaimana harus bersikap saat menghadapi investor kelas kakap seperti Mr. Yacob.“Iya, Mas. Kalau nggak salah usia kandungannya sekitar … hmmm….” Yoshi memejamkan mata untuk sekedar menghitung cepa dalam benaknya.“Hampir tujuh bulan,” potong Arya dengan cepat. Memang ia tak tahu persis dengan hitungan kehamilan kekasihnya. Namun jika mengingat kakak iparnya yang baru saja menggelar acara tujuh bulanan, Ar
Alisha mengatupkan bibir dengan tanggapan kakak iparnya. “Hmm … ya gitu deh, Kak. Banyak makanan enak, bikin aku makin tembem.”Tangisan balita Erin dari arah kamar membuat Alisha bernapas lega. Setidaknya ia bisa bebas dari perbincangan tentang betapa berisi badannnya kini. Erin yang Alisha kenal adalah seseorang yang sangat peka dan teliti, karena itulah Alisha sedikit khawatir ibu muda itu menyadari perubahan bentuk tubuhnya yang tak biasa. “Pagi, Mas Danesh?” sapa Alisha tersenyum tipis saat melihat pria itu berbincang dengan ayahnya.Danesh mengangguk singkat, tatapannya berhenti untuk beberapa saat pada perut Alisha yang terlihat aneh menurutnya. “Pagi…” serunya menggantung karena tatapannya masih di tempat yang sama.Alisha yang sadar dengan tatapan heran dari Danesh segera menutupi perutnya dengan tas selempang yang ia bawa. “Maaf ngerepotin lagi, Mas,” ujar Alisha basa-basi.Danesh mengangkat kedua tangannya ke udara. “No prob, aku nggak repot sama sekali.”"Yah, aku langsu
"May, elo bisa masang yang bener nggak sih?" bisik Alisha melayangkan protes pada Maya yang tengah sibuk melilitkan perekat pada korset yang ia pakai."Berisik! lo diem dulu deh, biar gue konsentrasi," jawab Maya yang saat itu berjongkok di samping Alisha yang duduk di depan meja riasnya.Kedua sahabat itu kini tengah bersiap untuk kembali ke Jakarta setelah semalam menginap di rumah Alisha. Maya yang setengah terpaksa menyanggupi permintaan Alisha untuk menginap ternyata sekarang semakin direpotkan dengan kekonyolan Alisha yang tengah kesulitan memakai korset.“Pokoknya pasangin aja yang rapet kayak kemarin,” seru Alisha lagi. “Jangan sampe Ayah curiga, apalagi Kak Erin yang kayaknya udah curiga duluan sama gue, tatapannya beda.”Kemarin saat tiba di rumah orang tuanya, Alisha sudah berhasil mengelabui sang ayah dengan menutupi kehamilannya menggunakan belitan korset. Namun sepertinya ia harus lebih hati-hati dengan Erin, kakak iparnya yang tak lain adalah istri dari Angga. Karena se
Arya memicingkan mata ke arah ponsel yang sedari tadi bergetar menarik atensi. Ini asih hari selasa, masih sore hari di New York. Seharusnya Yoshi hapal betul jadwalnya yang sangat padat di kantor Mr. Yacob, apalagi hari ini ia sedang mengukuti rapat penting yang harus membicarakan proyek terbaru dengan perusahaan terkemuka di Asia. Tentu saja ia tak bisa melewatkan pengalaman berharga yang tak akan datang dua kali seperti ini.Bungsu dari tiga bersaudara itu akhirnya tetap mengabaikan getaran ponselnya yang masih berkedip menampilkan nama Yoshi. Biarlah saja, toh kalau panggilan itu sangat pentig, pasti Yoshi akan menghubunginya lagi nanti. Urusannya di Indonesia tak terlalu mendesak sebagaimana hal yang dikerjakan di tempat ini.“Mas Boss, saya ada kabar penting tentang Alisha!” itulah kalimat pembuka dari Yoshi saat Arya menghubunginya malam harinya.“Kabar apaan? gue baru pulang ini, jangan kasih kabar yang bikin kepala gue makin spaneng.” Arya merebahkan tubuhnya di sofa panjang
Setelah satu minggu lalu kalah telak dari semua bujuk rayu yang ditebarkan Maya, akhirnya Alisha memilih untuk pulang sebentar demi menemui ayahnya yang kabarnya sedangenurun kesehatannya. Alisha tak ingin jadi anak durhaka, oleh karena itu, meski jantungnya bertalu-talu ia tetap nekat kembali ke rumah masa kecilnya itu. Tak langsung bertolak ke Banten, tapi Alisha akan ke Jakarta terlebih dahulu lalu berdua dengan Maya ia akan melanjutkan perjalanan."Lho Mas Danesh, kebetulan banget ketemu di sini?" sapa Alisha begitu melihat sosok Danesh di bandara. "Jemput seseorang?"Danesh yang saat itu tampil santai dengan kaos yang ditutupi jaket kulit serta kacamata hitam hanya mengangguk sekali. "Iya, jemput kamu," serunya singkat."A- aku?" Alisha spontan menghentikan langkah lalu menunjuk dirinya sendiri.Danesh mengangguk lagi. "Iya, ayo. Keburu hujannya makin deras." Tak sungkan, Danesh menyentuh siku Alisha. "Nggak ada bagasi kan?"Alisha yang masih melongo hanya menggel