LOGINAlisha mengerjap saat menengadahkan wajah. Matanya menatap jendela yang sedikit basah karena percikan air hujan yang baru saja reda. Suasana malam di luar pasti dingin, usai ibukota dilanda hujan sedemikian derasnya selama beberapa jam. Mengais kesadaran sedikit demi sedikit, perempuan itu meringis tipis saat merasakan nyeri di punggung tangannya sebelah kiri. Infus. Matanya jelas-jelas melihat adanya jarum infus tertancap di sana.Ingatannya mendadak berlari pada kejadian beberapa jam lalu. Ketika Arya terpekik panik saat melihat Alisha mimisan lalu bergegas menggendongnya ke ruangan lain di belakang ballroom hotel. Alisha masih sempat melayangkan protes, namun akhirnya tak berdaya karena kesadarannya menurun dengan cepat. Dan tahu-tahu di sinilah ia berada, di kamar rawat VVIP rumah sakit yang yang dikelola oleh kakak iparnya sendiri."Fa, Ifa," seru Alisha mencoba memanggil asistennya yang tertidur dengan posisi duduk di ujung sofa. Ifa memejamkan mata
"Sebentar lagi Alisha nyusul juga ya, jadi mama.""Amiin, makasih doanya, Tante.""Al, jangan ditunda ya, tahun depan biar jadi bertiga deh sama Arya.""Amiin, thank you doanya, Tante.""Promilnya udah jalan? pasti berhasil kok kalau sama Dokter Yusuf, aku dulu promil sama beliau.""Udah jalan kok, doain lancar ya, Kak." Alisha mengangguk berkali-kali sambil menebar senyum. "Tapi kamu nggak trauma kan? pasca hmm... keguguran yang itu?" tanya yang lain lagi. "No, nggak ada yang seperti itu. Tolong doakan yang baik-baik saja," jawab Alisha melempar senyum kaku. Bukan senyuman manis yang tulus, tapi benar-benar jenis senyum yang palsu yang lahir dari hatinya yang paling dalam. Anggap saja Alisha belum berhasil berdamai dengan keadaan, karena ia masih saja merasa sakit hati atau tersinggung ketika banyak orang menanyainya tentang buah hati. Seperti yang terjadi dua minggu lalu di acara tiga bulanan Bisma Shadu, bayi mungil Fawnia dan Irawan."Heiii, Cantik, ngelamun aja," tepukan pela
“By the way, Mas Faisal berapa lama di Surabaya?” sela Arya begitu menurunkan ponsel dari telinga. Ternyata suami Alisha itu baru saja menerima panggilan dari sang mama.“Sekitar empat hari sih,” jawab Faisal sembari melirik adiknya yang ikut menyimak saat Arya terlihat serius. “Kenapa? ada yang mau di obrolin lagi?”Arya menggeleng pelan. “Bukan, ini … Mama barusan telpon, ngabarin kalau Mbak Nia masuk rumah sakit tadi pagi. Lahiran lebih cepat dari perkiraan,” seru Arya saat menggoyangkan ponselnya.“Alhamdulillah..” Alisha spontan mengucap syukur, diikuti yang lain. Kabar kelahiran seperti ini selalu membuat jantung Alisha ikut berdegup kencang. Meski kabar bahagia itu bukan berasal dari dirinya, tetap saja Alisha ikut melangitkan doa agar ia segera menyusul hal serupa.“Siapa tahu mau lihat keponakan kalian dulu.” Arya tersenyum ramah lantas menggenggam telapak tangan Alisha dan membawa ke atas pangkuannya.“Insyaallah aku dan Felisa nanti atau besok pasti sempetin lihat bayi Mbak
Sudah hampir dua Minggu Alisha berada di Surabaya, selain mengekor sang suami yang sedang memantau proyek terbaru, ia juga sibuk berkolaborasi dengan sang ibu mertua untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan resepsi pernikahannya. Memang masih ada waktu sekitar empat bulan sebelum digelar, tapi tetap saja semua harus dipersiapkan secara sempurna. Karena Hanami pantang dengan kesalahan ketika acara besar keluarganya berlangsung."Mas, udah selesai belum sih?" ulang Alisha kembali mengintip sang suami yang baru saja menutup layar laptop di meja.Pria jangkung itu hampir tak pernah lepas dari pekerjaan meskipun di akhir pekan seperti ini. 'Demi mendapatkan kelonggaran ketika resepsi nanti,' selalu itu yang selalu menjadi alasan Arya ketika Alisha mulai mengomentari padatnya pekerjaan pria itu akhir-akhir ini."Sudah kok, Sayang," jawab Arya lantas meringis lebar saat melihat sorot tajam dari sepasang mata sang kekasih hati. "Gitu banget sih lihatnya?" sambungnya usai mencu
Sesuai dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya, Alisha dan Arya kembali ke tanah air satu minggu setelah kepulangan Faris terlebih dahulu. Alisha sengaja mengambil jeda karena memang diminta oleh sang suami yang ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengannya."Mas, Mas, lihat deh, Mas," seru Alisha mengguncang lengan sang suami saat keduanya sedang berada di dalam mobil yang melaju menuju kediaman Arya di ibu kota."Hmm, apa?"Alisha dengan semangat mengulurkan ponsel yang sedang menampilkan postingan kakak iparnya. "Mbak Nia makin cantik ya meski hamil besar gini," ujar perempuan itu sembari menggeser layar beberapa kali sehingga Arya bisa melihat dengan jelas beberapa foto sang ipar yang diambil dari berbagai sisi.“Biasa aja sih perasaan, masih lebih cantik kamu, Yang,” jawab Arya melengkungkan senyum usai mengembalikan ponsel sang istri.Alisha hanya mencebik kecil. “Ya aku kan emang udah cantik setiap hari, tapi kalau nanti hamil … masih tetep cantik nggak ya?” perempuan i
"Ternyata begini ya rasanya ketika impian kita terwujud satu persatu," batin Alisha membuatnya kembali tersenyum.Memang benar adanya, hari yang dinanti Alisha hampir dua tahun akhirnya tiba. Perjalanan menimba ilmu di Melbourne usai sudah, setelah siang tadi ia mengikuti rangkaian prosesi wisuda yang dihadiri ayah serta suami tercinta."Sayang, udah selesai belum?" Arya kembali masuk ke kamar untuk memanggil Alisha yang tengah merias diri. Malam ini ia akan makan malam bersama sang ayah juga suaminya. Perayaan kecil yang sudah disiapkan Arya sejak beberapa hari yang lalu sebelum mereka akan kembali ke Indonesia pekan depan."Bentar ih, lagi pake maskara.""Udah cantik kok, diapain lagi itu bulu matanya?" seru Arya masih bertahan di daun pintu."Sepuluh menit lagi. Janji!" Alisha meringis lebar tatkala mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.Mendebas napas panjang, Arya akhirnya berjalan mendekati Alisha. Memegang kedua pundaknya dari belakang lalu mengecup punc







