LOGINArya dan Alisha adalah sepasang anak muda yang sedang dimabuk asmara. Keduanya terlanjur jatuh dalam lembah dosa karena kesalahan satu malam yang membawa mereka dalam penyesalan setelahnya. Alisha hamil di usia belia, padahal kuliah saja belum ia selesaikan dengan baik. Alisha dilanda bimbang, apalagi ketika ia menagih janji Arya untuk bertanggung jawab dengan menikahinya, justru mendapat saran sesat agar ia menggugurkan saja kandungannya. Tentu saja Alisha enggan menambah dosa dengan membunuh janin tak bersalah dalam rahimnya. Sedangkan Arya dilanda ketakutan akan masa depan. Sepasang kekasih itu berpisah karena kesalahpahaman. Sampai di satu titik, semesta kembali mempertemukan keduanya setelah puluhan purnama tak bersua. Alisha masih gamang, sedangkan Arya mati-matian mendekat untuk menebus waktu yang terbuang. Akankah keduanya kembali bersatu? atau takdir kembali membuat mereka berseteru?
View MoreTernyata tak perlu menunggu lama sampai Arya kembali. Alisha baru selesai mandai dan sedang menyisir rambut panjangnya ketika pintu kamar terbuka lebar lantas membawa sosok Arya yang masuk dengan tergesa. "Mas... " “Kamu kenapa? Sakit? kata Bi Yus, aku langsung disuruh ke kamar karena kamu kelihatan pucat,” cecar Arya saat mendekat dan merangkum wajah cantik istrinya. "I'm okay, aku nggak kenapa-napa kok.""Tapi kata Bi Yus—"Alisha menggeleng lagi lalu bangkit berdiri dan memeluk pinggang suaminya."Aku masih keringetan, Sayang," seru Arya membalas pelukan putri Alisha dengan gerakan ringan. Karena biasanya istrinya itu akan mengomel jika langsung mendekat dalam k
Tidur siang Alisha terganggu karena getar ponsel yang ia letakkan di atas nakas tepat di sebelahnya. Menyipitkan mata karena masih didera kantuk, cepat-cepat Alisha meraih ponsel tersebut agar tak sampai mengganggu tidur dua pria tampan yang ada di sebelahnya. Nama Fawnia berkedip-kedip di layar gawai. “Hallo, iya, Mbak?” “Sorry ganggu tidurnya, Sha, tapi aku udah lama di bawah. Mas Awan udah di perjalanan, bentar lagi dia nyampe jemput kami.” Suara pelan Fawnia terdengar tak enak hati. “It’s, okay, Mbak. Emang udah waktunya bangun kok, aku belum sholat ashar.” Alisha mengucek kedua matanya sembari berjalan ke arah lemari. Hendak mengganti celana pendeknya dengan celana panjang yang lebih tertutup sopan. Karena tak mungkin ia menemui saudara iparnya dengan busana yang memamerkan pahanya seperti tadi. “Bisma udah bangun?” tanya Fawnia lagi. Alisha menoleh ke arah tempat tidur di mana sang suami tengah tidur samb
Arya balas mendekap tubuh sang istri tak kalah erat. Berharap kebahagiaan yang menghampiri mereka akan memeluk keduanya sangat lama. Namun sayang, keputusan semesta kembali mengoyak hati sepasang suami istri itu lagi. Saat satu bulan kemudian Alisha memeriksakan ulang kehamilannya yang menginjak usia sebelas minggu.“Maksudnya gimana ya, Dokter?” ulang Alisha berharap ada kesalahan dengan telinganya saat mendengarkan penjelasan Dokter Yusuf.“Di usia 10 sampai 11 minggu seharusnya kita sudah bisa mendengar detak jantungnya. Tapi ini…” Tangan dokter tersebut terulur kala menunjuk layar USG. “Detak jantungnya tidak terdeteksi, dengan kata lain, janinnya tidak berkembang,” sambungnya lagi dengan nada sangat lirih sarat keprihatinan.“Saya turut bersedih dengan keadaan ini.” Dokter Yusuf kembali duduk di kursinya.Genggaman tangan Arya tanpa sadar semakin kuat begitu mendengar penjelasan dokter kandungan
Alisha mengerjap saat menengadahkan wajah. Matanya menatap jendela yang sedikit basah karena percikan air hujan yang baru saja reda. Suasana malam di luar pasti dingin, usai ibukota dilanda hujan sedemikian derasnya selama beberapa jam. Mengais kesadaran sedikit demi sedikit, perempuan itu meringis tipis saat merasakan nyeri di punggung tangannya sebelah kiri. Infus. Matanya jelas-jelas melihat adanya jarum infus tertancap di sana.Ingatannya mendadak berlari pada kejadian beberapa jam lalu. Ketika Arya terpekik panik saat melihat Alisha mimisan lalu bergegas menggendongnya ke ruangan lain di belakang ballroom hotel. Alisha masih sempat melayangkan protes, namun akhirnya tak berdaya karena kesadarannya menurun dengan cepat. Dan tahu-tahu di sinilah ia berada, di kamar rawat VVIP rumah sakit yang yang dikelola oleh kakak iparnya sendiri."Fa, Ifa," seru Alisha mencoba memanggil asistennya yang tertidur dengan posisi duduk di ujung sofa. Ifa memejamkan mata
"Kok elo bangsat banget sih jadi laki, Ar?" pekik Ronald dengan rahang mengetat. "Ya elo tanggung jawab lah, Bego, masa mau enaknya doang? begitu hamil malah elo paksa gugurin. Otak lo jatuh dimana sih?" Ronald berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala."Gue nggak akan maksa Alisha. Gue bakal n
Arya berjalan mondar mandir di dalam kamar besarnya. Bukan tanpa sebab, kilas bayangan saat Alisha menangis histeris tadi sore masih begitu nyata di kepalanya. Apa yang menjadi kekhawatiran Alisha ternyata benar-benar terjadi dan menyiksa batin mereka. Alisha hamil, itu faktanya. Me
Semua berawal ketika dua bulan lalu Alisha mengiyakan ajakan dari sang kekasih untuk merayakan kelulusannya di salah satu villa milik keluarga Dwisastro yang ada di puncak Bogor. Tak hanya berdua, tapi dengan beberapa teman dekat Arya juga. Sekitar tiga pasang sahabat Arya yang mengajak pasangannya
"Bukan tanggung jawab seperti ini yang kamu tawarkan waktu itu, Mas. Bukan!" Pecah sudah air mata Alisha setelah melemparkan dua butir pil yang diserahkan Arya padanya."Lalu tanggung jawab yang kayak gimana lagi, Sha? uang, mobil, perhiasan, sampai biaya kuliah full sudah kamu tolak mentah-mentah.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews