LOGINSaat anak-anaknya sudah terlelap, Raka yang masih penasaran kembali mendekati istrinya. Ia terus mempertanyakan dari mana Aulia mendapatkan uang, namun kali ini dengan suara lembut dan hati-hati.
“Aku dapat uang dari main handphone aja, Mas.” Begitulah jawaban Aulia sembari terus fokus pada ponselnya. Raka yang tak puas dengan jawaban sang istri, memiringkan kepalanya untuk melihat layar ponsel istrinya. Tapi yang ia lihat istrinya hanya menonton video-video pendek dalam aplikasi I*******m. “Nonton reels doang bisa dapat uang?” Tanya Raka masih tak mengerti. “Iya.” Jawab Aulia pendek sembari mematikan ponsel lalu bangkit untuk mengisi daya baterai ponselnya. Tak ada percakapan lagi setelah itu, Aulia langsung memejamkan matanya tak mempedulikan suaminya yang masih bingung. … Pagi ini Anna terbangun karena rasa mual di perutnya tak tertahankan. Ia langsung pergi ke kamar mandi dan mengeluarkan seluruh isi lambungnya. Rangga yang masih tidur seketika terkejut oleh suara istrinya. “Sayang? Kamu gak apa-apa?” Tanya Rangga panik langsung menghampiri sang istri. “Perut aku mual banget, Mas. Kepala aku juga pusing banget. Lemesssss.” Lirih Anna sembari menerima uluran tangan suaminya. “Udah ditestpack?” Tanya Rangga dengan antusias, sedangkan Anna hanya menggelengkan kepala. Tanpa membuang waktu, Anna langsung melakukan pemeriksaan kehamilan secara mandiri. Namun sayang, hasil dari testpack tersebut tetap menampilkan satu garis saja. Hal ini membuat Anna frustasi dan lelah. Tapi Rangga tetap memberikannya support agar istrinya tak putus asa. “Kita langsung ke dokter kandungan aja ya? Siapa tau kalo di USG kelihatan jelas hasilnya. Kayaknya ini testpack udah nggak akurat, mungkin udah kelamaan di lemari.” Bujuk Rangga mencoba berpikir positif. Karena waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi dan klinik masih tutup, maka Rangga membelikan bubur lebih dulu untuk mengisi perut istrinya. Saat hendak masuk setelah membeli bubur, sebuah mobil yang tak asing memasuki pekarangan rumahnya. “Loh Mama? Papa? Kok kesini nggak bilang-bilang?” Tanya Rangga sembari menghampiri kedua mertuanya. “Iya, semalam Papa ada kerjaan disini, jadi sebelum pulang mampir dulu. Kamu sehat? Anna mana?” Jawab Papa Anna menepuk kecil pundak Rangga. Rangga menceritakan keluhan istrinya pagi ini, membuat keduanya khawatir sekaligus berdebar. Mereka berdua memasuki kamar dan berbincang dengan Anna, sedangkan Rangga menyiapkan bubur yang sudah ia beli di dapur. “Jangan terlalu dipaksakan sayang, jangan terlalu stress, kita serahkan semuanya sama Allah.” Ucap Mama Anna membelai kepala anaknya dengan lembut. “Mama nggak tau gimana tertekannya aku sekarang, Ma. Aku capek, tapi aku gak mau menyerah.” Balas Anna dalam hati, ia tak mampu mengungkapkan isi hatinya, karena ia tak ingin membuat orangtuanya sedih. “Iya, Ma.” Ucap Anna sembari tersenyum pada Mamanya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Anna dan Rangga sudah bersiap pergi ke klinik dokter kandungan. Mama dan Papa Anna hanya menunggu di rumah. Namun saat Anna hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba Bu Rahma yang baru turun dari ojek langsung menahannya dengan raut kesal. “Mau kemana kalian? Kamu ini saya chat kok gak dibalas-balas? Dasar menantu durhaka! Udah mandul, durhaka lagi!” Maki Bu Rahma menutup pintu mobil, membuat Anna mau tak mau mengurungkan niatnya memasuki mobil. Anna yang sudah malas dengan tingkah mertuanya hanya diam tak berniat menjawabnya. “Ada apa sih, Bu? Datang-datang kok marah-marah? Malu loh dilihat tetangga aku!” Sahut Rangga menengahi keduanya. “Kamu juga sama aja! Ibu chat minta uang cuma dibaca aja, ditelepon gak diangkat? Ngapain aja sih kalian? Ibu butuh uang cepet tau gak buat beli emas, buat investasi!” Ucap Bu Rahma dengan lantang. “Kalo mau investasi pake duit sendiri dong, Bu! Masa minta sama anak? Apalagi sama menantu, emang nggak malu?” Sahut Papa Anna di ambang pintu. Bu Rahma terkejut melihat keberadaan besannya. Namun ia segera menutupinya dengan sikap angkuhnya. “Ya terserah saya dong, Pak! Anak-anak saya, kenapa Bapak yang repot? Toh anak bapak bisa hidup enak karena nikah sama anak saya! Kalo bukan, mana bisa dia bergaya belagu kayak gini!” Tantang Bu Rahma seolah mengibarkan bendera perang. “Bu! Jangan ngomong kayak gitu dong, malu! Ibu pulang dulu aja, ya? Rangga mau ke dokter dulu, ini Anna tadi pagi mual-mual, jadi mau periksa.” ucap Rangga reflek sembari menepuk lengan ibunya. “Pantas aja kalian gak balas chat ibu, ternyata lagi ngelayanin orang-orang ini toh? Dipelet atau apa sih kamu, Ngga? Bisa-bisanya manut sama mereka? Istri mandul kayak gini aja kamu pertahanin! Ngapain periksa ke dokter segala? Buang-buang duit! Lihat tuh pantat istri kamu banyak darahnya! Pasti lagi dapet!” Sinis Bu Rahma melirik Anna tajam, sedangkan Anna reflek memegang bagian belakang tubuhnya, benar saja cairan merah itu menempel di telapak tangannya. Tangis Anna kembali luruh tak tertahankan. Harapan kecil yang ia bayangkan beberapa menit yang lalu kini telah sirna. Tanpa mempedulikan semua orang, Anna masuk ke dalam rumah dengan sedikit berlari dan disusul mamanya. “JAGA MULUT ANDA, YA! RANGGA, USIR MANUSIA GAK TAHU DIRI ITU DARI RUMAH ANAK SAYA!” Bentak Papa Anna sembari menunjuk ke arah besannya, kemudian pergi mengikuti anak dan istrinya. “Udah lah, Bu! Ayo pulang dulu, please kali ini tolong ngerti, ini situasinya lagi genting, Bu.” Desak Rangga sembari membuka pintu mobil, dengan sedikit memaksa dan mendorong ibunya masuk. Sepanjang perjalanan Bu Rahma terus memaki Anna dan orangtuanya. Bisa-bisanya Papa Anna berkata bahwa itu rumah anaknya! Sedangkan rumah itu dibeli dengan hasil kerja keras Rangga. Lain dengan isi pikiran Rangga, ia sedang tremor karena mertuanya sudah tahu perlakuan ibunya pada Anna. Masalah menjadi semakin runyam. Sesampainya di rumah ibunya, Rangga langsung menurunkan ibunya tanpa sepatah kata pun. Sedangkan ibunya terus mengoceh meski mobil Rangga sudah tak terlihat lagi. “Jujur sama Papa, apa begini perlakuan ibu mertuamu sama kamu?” Tanya Papa Anna menahan emosinya. “Iya, Pa. Tapi aku nggak masalah, Pa. Selagi Mas Rangga ada dipihakku dan membela aku, aku gak peduli dengan sikap ibu Mas Rangga.” Jawab Anna lirih. “Tapi kamu nggak dipaksa melakukan hal-hal aneh ‘kan?” Selidik Papa Anna menatap anaknya curiga. “M… Maksud Papa aneh-aneh gimana?” Tanya Anna gelisah. “Ya aneh-aneh kayak suruh minum ramuan-ramuan yang gak jelas kebenarannya misal?” Jawab Papa Anna mengerutkan keningnya. “Nggak kok, Pa. Selama ini aku sama Mas Rangga selalu percaya medis, kalaupun pake cara tradisional, kita nggak asal-asalan.” Ucap Anna pelan. “Aku malah disuruh yang lebih aneh dari apa yang papa kira, Pa. Bukan aneh lagi, tapi cara gila. Apa aku cerita aja ya sama mama dan papa?” Batin Anna dalam hati, ia kembali mengingat kejadian saat melakukan ide gila Rangga hari itu. “Tapi Mama lihat Rangga itu kurang tegas sama ibunya. Apa kamu yakin mau bertahan dengan dia, Nak? Apa kamu nggak tertekan dengan sikap ibunya Rangga? Cerita aja sama mama papa, Nak. Mama nggak mau anak kesayangan mama satu-satunya diperlakukan tidak baik.” Ucap Mama Anna lembut sembari mengusap puncak kepala anaknya. Rangga yang baru saja tiba langsung mematung mendengar ucapan ibu mertuanya. Bagaimana jika Anna mengadukan semuanya? . . To be continue ~Waktu berjalan tanpa suara, menghapus sedikit demi sedikit bekas luka yang dulu terasa mustahil sembuh. Rumah bercat putih gading di pinggir kota itu kini tampak hangat. Di halamannya, suara tawa anak-anak berpadu dengan aroma kopi dan roti pandan yang keluar dari dapur kecil di teras. Papan kayu bertuliskan “Kopi Kybi – Homemade & Family Taste” bergoyang lembut tertiup angin sore. Itulah tempat baru yang dibangun Raka dan Aulia. Sebuah usaha kecil yang menjadi simbol rekonsiliasi — bukan hanya antara suami dan istri, tapi juga antara mereka dan masa lalu. Aulia menata toples-toples berisi kue kering buatan tangannya. Pipi dan tubuhnya kini berisi, matanya lembut, jauh dari pandangan dingin dan kelelahan dulu. Ia tersenyum ketika Raka datang membawa sekeranjang bahan belanjaan dari pasar. “Capek, Mas?” tanyanya sambil membantu menurunkan barang. “Lumayan,” jawab Raka sambil tertawa kecil. “Tapi seneng lihat kamu semangat terus. Kopinya laku keras ya hari ini?” “Alhamdulillah.”
Matahari sore menembus tirai ruang tamu rumah kecil itu, menebar cahaya keemasan yang lembut. Suara tawa anak-anak terdengar dari halaman depan — Iki sedang mengejar adiknya yang baru belajar jalan, sementara Bu Rahma duduk di kursi rotan, menonton sambil tersenyum.Sudah hampir setahun sejak malam kelam itu. Luka di tubuh Aulia sudah lama sembuh, tapi luka di hatinya baru benar-benar reda beberapa bulan terakhir. Kini, ia bisa tertawa lagi, meski kadang masih ada gurat getir di ujung matanya. Namun senyum yang ia miliki sekarang bukan senyum palsu — itu senyum seseorang yang telah berdamai dengan masa lalunya.Raka keluar dari dapur sambil membawa dua gelas jus jambu. Ia duduk di sebelah istrinya. “Capek?” tanyanya lembut.Aulia menggeleng, “Nggak. Aku suka lihat mereka main kayak gitu. Rasanya… damai.”Raka ikut tersenyum. “Aku juga.”Sejenak keduanya terdiam, menikmati pemandangan sederhana yang dulu tak mereka hargai. Dulu rumah ini terasa sempit, pengap oleh amarah dan saling cur
Sisa Luka dan Awal yang Baru.Hari-hari setelah kejadian di hotel itu berjalan pelan, seperti waktu sengaja memperlambat langkahnya agar semua luka punya kesempatan untuk bernapas. Rumah Bu Rahma yang dulu dipenuhi teriakan dan amarah kini lebih sering sunyi. Hanya suara tangis Bian di malam hari, atau tawa kecil Iki saat menonton kartun di ruang tamu, yang memecah kesunyian itu.Aulia masih dalam masa pemulihan. Tubuhnya penuh memar, jiwanya lebih parah lagi. Ia jarang bicara. Setiap kali seseorang menyentuh pundaknya dari belakang, tubuhnya langsung menegang, matanya memejam seolah masih berada di kamar hotel itu. Raka melihat semua itu dengan hati remuk, merasa bersalah, merasa gagal. Tapi kali ini ia tidak menyerah seperti dulu. Ia memilih tetap di sisi Aulia, meski kadang hanya dalam diam.Bu Rahma setiap hari selalu membantu. Ia menyiapkan makanan, mencuci pakaian, menemani cucunya bermain. Kadang ia duduk di ruang tamu bersama Raka, keduanya berbicara pelan agar Aulia yang sed
Hari-hari setelah kepergian Anna berjalan dengan lambat dan dingin. Rumah yang dulu riuh oleh suara Fikri dan tawa kecil Bian kini terasa seperti ruang kosong.Raka duduk di meja makan setiap pagi hanya menatap piringnya tanpa selera. Aulia sibuk mengurus anak-anak, tapi wajahnya selalu tanpa ekspresi.“Mas nggak berangkat kerja?” tanya Aulia satu pagi.Raka mengangguk pelan. “Berangkat, sebentar lagi.”Aulia mendengus. “Kalau masih kepikiran perempuan itu, mending terus terang aja. Aku capek pura-pura nggak lihat.”Raka menatap istrinya lelah. “Aku cuma capek, Bun.”“Capek? Aku juga capek, Mas. Tapi bedanya, aku nggak pernah mikirin orang lain waktu capek,” balas Aulia tajam sebelum masuk kamar dan menutup pintu.Raka memijat pelipisnya. Sejak Anna pergi, hidupnya seperti kehilangan arah. Ia pernah mencoba mengirim pesan — tapi pesannya tak pernah terkirim. Nomornya diblokir. Ia bahkan memberanikan diri datang ke rumah Anna seminggu kemudian, hanya untuk mendapati papan ‘DIJUAL’ sud
Keputusan yang Mengikat LukaTiga hari sudah berlalu sejak kejadian di rumah sakit, tapi bayangan Aulia yang menatapnya dingin di lorong itu masih terus mengganggu pikiran Anna. Tatapan tanpa sapa, tanpa pengakuan, seolah ia hanyalah angin lalu yang tak berarti.Malam itu, setelah menidurkan bayinya, Anna duduk di teras rumah dengan selimut tipis menutupi bahunya. Angin lembut membawa aroma tanah basah. Di meja kecil di sampingnya, secangkir teh sudah dingin. Ia menatapnya kosong, sebelum akhirnya menekan nama Raka di layar ponselnya.Panggilan berdering cukup lama sebelum suara itu muncul di seberang sana.“Halo, Na?” suara Raka terdengar pelan, lelah.Anna menelan ludah. “Mas Raka, aku mau tanya sesuatu… soal Mbak Aul.”Raka terdiam sejenak. “Kenapa?”“Aku ketemu dia di rumah sakit, waktu aku mau pulang. Dia sama laki-laki. Aku coba sapa, tapi dia malah marah dan buang muka.” Nada suara Anna bergetar. “Aku jadi makin ngerasa bersalah, Mas. Waktu lihat Mbak Aul kayak gitu, rasanya s
Raka duduk di ruang tamu, menatap jam dinding yang berdetak lambat. Sudah hampir pukul dua belas malam, tapi Aulia belum juga kembali.Anak-anaknya sudah menangis berbarengan sejak tadi, sementara Bu Rahma mondar-mandir di ruang tengah sambil menggendong Bian yang terus rewel mencari ibunya.“Raka… coba telpon lagi, Nak. Mungkin kali ini diangkat,” suara Bu Rahma serak, matanya sembab karena tangis yang tak berhenti sejak pertengkaran anak dan menantunya.Raka mengusap wajahnya kasar. “Udah, Bu. Udah sepuluh kali. Tapi nomornya nggak aktif.”Nada suaranya berat, campuran antara marah dan khawatir. Ia tak tahu lagi harus bagaimana.Fikri, anak sulungnya tiba-tiba menatap ayahnya dengan mata penuh air.“Itu salah Ayah! Bunda pergi gara-gara Ayah! Kenapa Ayah marahin Bunda? Kenapa Ayah biarin Bunda keluar sendiri!” Teriak Fikri sembari menangis.Ucapan polos itu menghantam dada Raka seperti batu besar. Ia terdiam, tidak bisa membalas.Bu Rahma memeluk Fikri, berusaha menenangkannya. “Jan







