Share

118.

Penulis: Bintangjatuh
last update Tanggal publikasi: 2025-12-27 20:34:09

Gerakan Aurora semakin intens, seolah ia sudah hafal setiap titik sensitif suaminya.

Napas Rasya tercekat, seluruh otot perut dan pahanya menegang kaku menahan gejolak yang mau meledak.

​"Aurora... berhenti," racau Rasya panik, merasakan gelombang kenikmatan itu sudah mencapai puncaknya.

Instingnya berteriak untuk tidak menumpahkannya di dalam mulut istrinya. Itu terlalu... kotor untuk Aurora.

​"Lepas, Baby... Aku mau keluar..."

​Rasya mencoba mundur, tangannya mencengkeram bahu Aurora untuk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   190.

    Aurora berdiri di ambang pintu. Wanita itu sudah mengganti piyamanya dengan dress rajut panjang yang nyaman, menatap lurus ke arah suaminya. Melihat Aurora berdiri di sana, kerutan tajam langsung terbentuk di kening Rasya. Ia memundurkan kursi, dan beranjak dari sana dalam hitungan detik. "Baby, bukannya aku sudah bilang untuk tetap istirahat di kamar? Kamu belum boleh jalan-jalan terlalu sering," tegur Rasya, nada suaranya terdengar sedikit protektif dan menuntut. Ia melangkah menghampiri Aurora, berniat menuntun istrinya kembali. Namun, Aurora menahan lengan suaminya dengan lembut. "Aku sudah sehat, Mas. Berhenti memperlakukanku seolah aku ini pajangan kaca yang mudah pecah. Aku nggak apa-apa." Rasya menghela napas pelan, menatap wajah keras kepala istrinya yang selalu berhasil melumpuhkan otoritasnya. Raka yang tadinya duduk di sofa sontak berdiri, menunduk sopan dan memberi

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   189.

    Raka meletakkan tablet di atas meja, menggesernya tepat ke hadapan Rasya. Di layar benda pipih itu, terpampang headline berita pagi dari portal berita terbesar Eropa dengan huruf cetak tebal berwarna merah menyala.SKANDAL AETHERION: CEO RASYA PRADANA DIDUGA LAKUKAN PENCULIKAN DAN PENYIKSAAN BRUTAL TERHADAP PEWARIS ADYASAN GROUP.Keheningan yang mencekik seketika menguasai ruang makan itu.​Wajah Mama Miranda dan Bunda Martha memucat saat membaca headline cetak tebal berwarna merah menyala tersebut. Aurora menahan napas, tangannya tanpa sadar meremas ujung serbet di pangkuannya. Ancaman internasional bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh, bahkan untuk Aetherion sekalipun.​Namun, reaksi Rasya justru berbanding terbalik dengan ketegangan di sekelilingnya.​Alih-alih marah, Rasya hanya mengambil serbet kain dari pangkuannya, mengelap sudut bibirnya dengan gerakan yang teramat pelan dan elegan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   188.

    Keesokan malamnya, rintik hujan membasahi jalanan Le Marais. Namun, suasana di dalam kamar utama hôtel particulier itu terasa begitu hangat, dipenuhi pendar cahaya temaram dan aroma lilin aromaterapi white lily yang menenangkan.​Aurora duduk bersandar di kepala ranjang dengan selimut menutupi separuh tubuhnya. Sebuah buku panduan kehamilan terbuka di pangkuannya, namun mata wanita itu sudah setengah terpejam menahan kantuk.​Suara derit halus dari arah pintu mengusik keheningan.​Aurora perlahan membuka matanya. Di ambang pintu, berdirilah sosok pria yang memonopoli seluruh pikirannya sejak ia pergi.​Rasya berdiri di sana. Jasnya hanya disampirkan sembarangan di satu bahu, sementara kemeja putihnya sedikit kusut dengan lengan yang digulung hingga siku. Pria itu tampak lelah setelah menempuh belasan jam penerbangan tanpa jeda. Namun, sorot matanya yang selalu tajam bagai elang pemangsa itu seketika meleleh menjadi tatapan yang teramat lembut saat menemukan sosok istrinya.​"Aku memba

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   187.

    Jauh dari teror yang memporak-porandakan kediaman Adyasan, suasana di hôtel particulier justru terasa seperti surga kecil yang damai.Aurora duduk bersandar di sofa yang dipenuhi bantal empuk. Ia mengusap perut ratanya perlahan, mengulas senyum tipis melihat pemandangan di hadapannya.Di seberang meja kaca yang dipenuhi suguhan teh hangat dan butter croissant, Mama Miranda dan Bunda Martha tampak begitu sibuk. Dua wanita paruh baya itu sedang asyik menggulir layar tablet yang menampilkan katalog perlengkapan bayi dari butik eksklusif di Champs-Élysées."Miranda, warna nude atau baby pink ini manis sekali ya kalau ternyata perempuan. Bahannya juga organik super lembut," tunjuk Martha antusias.Miranda mengangguk setuju dengan mata berbinar. "Iya, Martha. Tapi kita juga harus siapkan warna navy atau abu-abu muda jaga-jaga kalau dia laki-laki. Ah, biarkan saja aku akan memborong semuanya nanti."Mendengar obrolan hangat itu, hati Aurora berd

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   186.

    Aroma espresso pekat dan gemeresik halaman surat kabar yang dibalik dengan santai benar-benar menguji batas kewarasan Helene Adyasan. ​Di saat wanita paruh baya bermantel sutra itu sudah mondar-mandir dengan napas memburu dan raut wajah tegang, suaminya justru duduk bersandar di atas sofa Chesterfield seolah dunia sedang baik-baik saja. "Masih belum ada kabar dari Leonil, Ferdi?" tanyanya dengan nada suara yang bergetar menahan cemas. Ferdi membalik halaman surat kabar bisnis di tangannya tanpa sedikit pun mengangkat wajah. "Kamu terlalu berlebihan, Helene. Anak itu hanya sedang mencari udara segar," jawab Ferdi acuh tak acuh. "Udara segar bagaimana? Gabriel sudah melacak manifes perjalanannya. Leonil terbang ke Indonesia secara mendadak, dan sejak saat itu dia sulit dihubungi!" bantah Helene, suaranya naik satu oktaf. "Firasatku mengatakan ada yang tidak beres. Apa perlu kita menyusulnya ke s

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   185.

    Rasya melangkah mendekat. Ujung sepatu kulit mahalnya kini berhenti tepat di depan wajah Dio yang tersungkur. Rasya perlahan berjongkok dengan satu lutut, menyejajarkan posisinya dengan pria itu. Rasya menatap mata Dio yang dipenuhi keputusasaan dan amarah itu lekat-lekat. Seringai iblis kembali terbit di wajah tampannya, menyadari betapa menyedihkannya taktik manipulasi pria ini. "Kau pikir, dengan memancing emosiku dan menodai masa lalu istriku, aku akan kehilangan kendali dan langsung menembak kepalamu di sini?" Rasya terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar mengerikan. "Kau terlalu meremehkanku, Dio." Rasya mencondongkan wajahnya, aura dominasinya menekan paru-paru Dio hingga pria itu kesulitan bernapas. "Kau tahu kenapa kau masih bernapas detik ini?" bisik Rasya di depan wajah Dio. "Karena sebelum aku terbang ke sini, istriku yang sedang mengandung anakku menatap mataku, dan dia memintaku untuk tidak m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status