ANMELDEN5 tahun kemudian. Di kediaman Nicholas bersama keluarga kecilnya. Terlihat beberapa pelayan panik karena kehilangan seseorang. “Kau menemukan tuan muda?” tanya Almina pada pelayan-pelayan di hadapannya. Dan sebuah gelengan kepala yang di dapatnya membuat Almira mengerang kesal sekaligus panik.“Oh Tuhan, kita harus menemukannya, jangan sampai kejadian lusa kemarin terulang, bisa habis kita dimarahi tuan.” Katanya panik.Sedangkan di ruangan yang merupakan tempat bekerja. Seorang bocah tampan dengan rambut cokelatnya tengah duduk santai di kursi kebesaran sang ayah. Senyum manis licik terurai di kedua sudut bibir mungilnya tak kala pandangan matanya menangkap secarik kertas yang terbingkai cantik di atas meja di hadapannya.Seakan kertas itu mainan baru, si bocah tampan itu dengan sekuat perjuangannya mencoba meraih keras yang merupakan surat itu.Setelah itu si bocah mencoba turun dari singgasana ayahnya, dengan langkah mungilnya yang tampak mengemaskan, ia membawa kakinya menuju pi
Seperti tertimpa godam keras, "Uhukkkk...."Batuk yang terasa serat di tenggorokan itu mengeroyok Nicholas yang sudah merasa lemas akan jawaban final istrinya beberapa detik lalu."Aku moh.... Uhuk...uhukkk..."Dadanya serasa dicengkeram erat, sangat sakit."Nic, hai Nicholas, are you oke?" Caroline panik saat melihat Nicholas tiba-tiba menurunkan lututnya hingga menyentuh lantai, lelaki itu masih terbatuk-batuk. Membuat Caroline semakin panik apa lagi kala melihat mata Nicholas yang mulai memerah.Nicholas mengerang. "Dadaku sakit.""Oh tuhan! Kau ini sebenarnya kenapa?""Tuan Nicholas," Rolan yang baru sampai menghampiri tuannya yang tampak kesakitan.Lelaki paruh baya itu mengingat pesan dokter tadi. Bahwa Nicholas harusnya tidak seperti ini dan harusnya berada di ruang perawatan untuk mengembalikan kondisinya.Tapi memang dalam keadaan genting dan Nicholas tidak bisa mengabaikannya dengan hanya duduk di ruang rawat. Dia lebih baik seperti ini hanya untuk mendapat maaf dari istriny
Di London Heathrow Internasional Airport.Caroline berada di salah satu kursi bandara, menghela napas panjang dan merasa pasrah. Lelaki itu beneran tidak akan menemuinya?Waktu berjalan tanpa henti, sekarang dirinya ada di penghujung waktu untuk meninggalkan kota ini.Caroline tersenyum miris.Mungkin ia akan mendapatkan hal yang lebih baik di kota barunya dan benar-benar melepas lelaki yang masih sah menjadi suaminya.Nicholas Matthew, Dan kembali menghela nafas sambil membatin. Kenapa juga kau bertindak sejauh ini?!Dan harus berpisah? Jujur saja Caroline tidak rela, tapi dalam langkah selanjutnya dia akan melakukan hal besar. Yaitu surat penceraian. Caroline akan mengirimkan itu nanti.Caroline sangat benci keadaan ini, penuh rasa bimbang, lelaki mempermainkannya kah?Menengok jam di pergelangan tangannya malah semakin membuat frustasi. "Sial!" umpatnya.Jelas dia sudah memberi harapan untuk lelaki itu, tapi apa sekarang bahkan di menit kedua puluh lima sebelum keberangkatannya le
Di perjalanan, Nicholas menggeram kesal, tangannya yang tengah mengendalikan setir sekali-kali memukul setirnya kuat, beberapa kali juga menekan klakson membuat suara nyaring yang tidak mengenakan.Tidak sesuai bayangannya, Nicholas sedikit lama, padahal beberapa kilo meter lagi akan sampai tapi kemacetan kembali menyerang yang otomatos membuat jalanan macet, karena ternyata ada kecelakaan di depan sana.Dan itu membuat Nicholas marah juga kesal. Ohh bukan dia tidak simpati—ah whatever Dia sudah harus sampai dalam beberapa menit lagi. Sial! "Oh c'mon gods aku tidak mau melewatkan kesempatan yang telah diberikan istriku."Nicholas melirik arlojinya, sudah tiga puluh tujuh menit dari waktu yang diberikan Caroline tapi ternyata Nicholas terlambat.Lima belas menit kemudian, akhirnya Nicholas bebas dari kemacetan. Lelaki itu dengan tidak peduli menambah pedal gas kecepatan mobilnya di atas rata-rata, mengemudi seperti orang kesetanan, bahkan lelaki itu sampai harus banting stir karena be
"Caroline?"Satu detik Tidak ada jawaban!Sepuluh detik.Masih tidak ada jawaban."Caroline?" ulang Nicholas dengan nada sedikit tinggi saat tidak juga mendapat respon."1 jam."Kerutan di dahi Nicholas terlihat—bertanda lelaki itu bingung dengan ucapan sang istri. Apa maksudnya? "Maksudnya?""Temui aku dalam waktu 1 jam atau tidak sama sekali."Seketika Nicholas merasa jantungnya berdetak kencang, kehangatan menjalar di hatinya hanya karena ucapan dari Caroline yang termakna sebuah kesempatan.Ya, tentu saja akan dia lakukan apa saja untuk bisa bertemu dalam waktu 1 jam itu."Kami memberiku kesempatan,""Temui aku di airport, Hilton International London Heathrow Airport di 1 jam itu pesawatku akan lepas landas."Dan TutPanggilan di putus secara sepihak.Nicholas memandang ponselnya yang telah terputus sambungannya, dan tanpa berpikir panjang lagi pria itu langsung bergegas pergi.1 jam? Menuju lokasi yang diberitahu Caroline, kira-kira ia akan sampai dalam 40 menit.Apa akan tep
"Aku tidak peduli, yang penting sekarang—" Nicholas menggantungkan ucapannya dan menyeret Alice pada meja yang telah disediakan kemudian tanpa memandang balas kasih lelaki itu menekan kepala sang wanita ke meja."Katakan yang sejujurnya apa yang terjadi dari kau masuk ke kamarku dan menggodaku!" ucap Nicholas, tangan satunya yang bebas kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi nomor istrinya. Dan sampai panggilan keempat, Caroline tidak juga mengangkatnya membuat Nicholas menghela napas putus asa. Tidak punya pilihan lain Lelaki itu mengetikan sebuah pesan dan mengirimnya langsung.Sedangkan di tempat lain. Caroline mencoba tidak tergoda untuk mengangkat panggilan suami berengseknya."Sayang, itu teleponnya." Elina yang mendengar panggilan itu menghela napas. Wanita paruh baya itu menoleh melihat siapa penelepon."Nicholas?" ucap sang paruh baya dengan pelan, tau sekali putrinya sedang tidak dalam mood baik."Aku tidak mau mengangkatnya." ucap Caroline datar."Mungkin penting. Jan
Pukul 11.45 AM. Caroline tengah berada di dalam sebuah mobil dengan Nicholas yang berada di sampingnya. Mobil yang ditumpanginya itu, Caroline tidak tahu akan berhenti di mana."Nic, aku ingin menanyakan sesuatu?" kata Caroline membuka suara setelah keheningan mengambil alih."Apa?" Nicholas menoleh m
FlashbackTerlihat Caroline menggandeng tangan mungil Raquel memasuki cafe tempatnya bekerja. Yaa, Caroline memutuskan membawa Raquel ke tempat kerjanya, toh juga ibunya masih bersama Alardo."Aunty." Caroline menghentikan langkahnya saat Raquel berhenti dan memanggilnya. "Ada apa sayang?" tanyanya me
Satu jam kemudian. Setelah tiga puluh menit sebelumnya yang hanya dipakai untuk tidur kembali akhirnya Caroline telah segar juga setelah membersihkan seluruh badannya yang terasa lengket dan kotor. Dan sekarang wanita itu sudah rapi dengan style yang biasa sehari-hari di rumah.Caroline berencana har
"Di mana kamarmu?" tanya Nicholas setelah berhasil memasuki rumah Caroline yang tampak sederhana. "Arah barat pintu cokelat dengan atasnya ada tulisan namaku." jawab Caroline lelah, kesadarannya telah berada di angka 50 persen. Mendengar jawaban itu, Nicholas segera bergerak mencari kamar yang dise







