LOGIN“Jangan bicara seperti itu, Elena. Bagaimanapun juga Bella itu kakak kamu, kamu harus tetap menghormatinya.”
“Ck, saudara tiri Ibu! Aku malu punya kakak seperti dia. Ibu lupa, saat sekolah dulu dia membuat kita malu karena hampir tidak lulus sekolah? Dan gilanya, dia malah minta menikah dengan Alvaro. Gila, kan?”
Aku hanya diam mendengar percakapan ibu dan anak itu. Dari sana aku menemukan satu fakta: perempuan paruh baya bernama Mira itu adalah ibu tirinya Bella, dan Elena adalah adik tirinya. Pantas saja tatapannya kepada Bella sama sekali tidak tulus.
“Jangan begitu. Bagaimanapun dia anak Ibu, Ibu tetap bangga sama Bella. Soal menikah dengan Alvaro, Ibu akan bicarakan ini dengan ayahnya. Semoga bisa menikahkanmu dengan Alvaro,” katanya sambil menatap ke arahku. “Kamu masih mau menikah dengan Alvaro, kan, Bella?”
Aku diam, bingung harus menjawab apa. Aku juga tidak tahu seperti apa rupa Alvaro itu. Apakah pria yang gendut juga, atau...?
Ah, aku tidak ingin memikirkan seorang pria lagi.
Cukup sekali aku bodoh karena pria, dan aku tidak akan mengulanginya—meskipun sekarang aku berada di dalam tubuh Bella.
Mira mendekat, mengelus rambutku dengan lembut. Namun, aku masih bisa melihat kalau ujung bibirnya melengkung ke bawah, jelas apa yang dilakukan tidak tulus. Atau, mungkin dia sedang merencanakan sesuatu? Aku tidak tahu, yang jelas aku tidak boleh percaya dengan kedua orang ini.
“Jangan takut. Biarpun Alvaro terlihat tidak menyukaimu, tapi dia kan jodohmu. Dia sudah dijodohkan denganmu dari kecil, jadi Ibu yakin kamu akan tetap menikah dengannya.”
Aku masih diam, lalu memilih menganggukkan kepala pelan.
Tidak menyukai? Kenapa harus dipaksakan kalau tidak menyukai?
Aku memejamkan mata, memilih untuk berpura-pura tidur saja. Aku sudah muak dengan kepura-puraan ini.
Untungnya mereka tidak mempermasalahkannya dan menganggap aku masih sakit.
Sampai kemudian, pintu ruangan terbuka. Hal itu membuatku terpaksa membuka mata kembali, apalagi saat Elena berseru dengan riang.
“Varo! Kamu datang!”
Ekor mataku langsung tertuju pada pria yang berdiri dengan tegap. Tubuhnya gagah, wajahnya terlihat dingin, dan garis rahangnya tegas.
Tampan. Ya, aku akui dia tampan. Pantas saja Bella menyukainya.
Tapi tetap saja, untuk apa bertahan bersama kalau salah satu pihak tidak saling mencintai? Ah... aku dan David dulu saling mencintai, tapi ternyata semuanya hanya bohong, hingga aku malah kehilangan segalanya.
“Elena, jangan seperti itu. Dia calon suami kakakmu,” seru Mira seraya menarik tangan anaknya saat Elena mencoba mendekati pria itu.
Pria itu sama sekali tidak menatap Elena. Ia melayangkan tatapannya ke arah tubuh Bella, namun sorot matanya terasa begitu dingin.
“Bu, Alvaro saja kelihatan tidak suka dengan Bella, kenapa masih dipaksakan, sih? Kenapa tidak dijodohkan dengan aku saja?” bisik Elena pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.
Ah, jadi adik tiri ini menyukai calon suami kakaknya? Yang seperti ini biasanya tanda-tanda perselingkuhan. Ipar adalah maut? Atau, merebut suami ipar. Sungguh ironis kalau sampai terjadi.
“Sudah, ayo kita keluar. Biar Alvaro bicara sama Bella,” kata Mira. Lalu ia menatapku sebentar dengan tersenyum tipis sebelum beralih menatap Alvaro. “Varo, titip Bella, ya. Bibi mau ke bawah dulu.”
Alvaro hanya menjawab dengan anggukan, bahkan sama sekali tidak menatap ke arah Mira.
Sama sekali tidak tahu sopan santun. Ingin sekali aku melempar kepalanya dengan sandal. Karena dari raut wajahnya, aku mengira usianya masih cukup muda—mungkin sekitar 35 tahun, atau bahkan belum mencapai 40 tahun. Sedangkan aku di kehidupanku yang dulu sudah berusia 40 tahun.
“Puas membuat dramanya?” tanya pria itu akhirnya, dengan suara serak dan tatapan tajam menusuk setelah hanya ada kita berdua di ruang perawatan.
“Ini yang membuat aku tidak menyukaimu, Bella. Kamu itu bukan hanya gendut dan bodoh, kamu juga suka mencari perhatian! Sengaja, kan, kamu menjatuhkan diri ke kolam renang? Sengaja, kan, kamu ingin membuatku dimarahi Kakek?”
Aku masih diam, karena jujur aku tidak tahu apa yang dia bicarakan.
Dan kupikir dia orang yang pendiam, tapi ternyata sekali berbicara, omongannya banyak dan sangat ketus.
“Aku mencintai wanita lain! Aku membawanya ke pesta ulang tahunmu agar kamu tahu, agar kamu mau meminta Kakek membatalkan perjodohan sialan ini! Tapi kamu malah berakting bunuh diri. Benar-benar tidak punya otak kamu, Bella!”
Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat mendengar itu. Aku menghembuskan napas pelan, lalu beralih menatapnya dengan tajam.
“Kenapa tidak kamu saja yang meminta untuk membatalkan perjodohannya kalau kamu memang sudah punya wanita yang kamu cintai?”
“Kamu berani membalas perkataanku, Bella?!” bentaknya.
Aku terkekeh sinis mendengarnya. “Lah, kenapa tidak? Kamu bertanya, kan? Ya jelas aku jawab. Bagaimana, sih?”
Alvaro terdiam. Ia lalu maju mendekat, bibirnya menyunggingkan senyum sinis. “Kali ini, apa lagi yang kamu rencanakan, Bella? Apa lagi?!”
“Aku tidak merencanakan apa pun. Kalau memang kamu tidak mau dengan perjodohan ini, oke, kita batalkan saja. Beres, kan?”
Aku melihat matanya membelalak tak percaya. Memangnya aku harus bagaimana? Mengemis-ngemis? Meminta maaf dan memohon agar perjodohan ini tetap terjadi?
Oh, itu tidak akan pernah terjadi. Aku adalah Amora, bukan Bella yang katanya bodoh ini.
Aku dikasih kesempatan hidup lagi, jadi aku akan mengubah semuanya. Aku tidak akan membiarkan Bella menjadi bodoh seperti diriku yang dulu.
Meskipun ini bukan pernikahan atas dasar cinta, bukan pernikahan yang aku inginkan, dan ini juga bukan pernikahan pertamaku... tapi saat aku berdiri dengan gaun pengantin, saat tanganku memegang buket bunga mawar berwarna putih, dan saat aku berdiri di depan altar, jantungku berdegup kencang.Aku tidak menyangka akan merasa segugup ini.Amora, ayolah! Kenapa kamu sampai segugup ini? gumamku dalam hati mencoba untuk menenangkan diri.Terlebih saat aku melihat Alvaro sudah berdiri di depan sana menggunakan jas hitam dan celana hitam. Ah, apakah dia tidak punya jas dan celana putih?Tapi, itu membuatnya jauh lebih tampan dan membuat karismanya semakin memancar.Jangan sampai tergoda, Amora! Ingat, Lee Min Ho lebih tampan. Jangan sampai kamu tergoda karena paras yang tampan dan keren. Ingat... kamu saja dikhianati David, jangan sampai kamu menyesal untuk kedua kalinya! Ingat tujuanmu!Aku menghembuskan napas pelan, berusaha untuk mengatur detak jantung dan nafasku.Aku tidak mempedulikan
Memang perusahaanku dan perusahaan Alvaro sangat berbeda.Tapi, aku ingat sekali dua tahun lalu David ingin mengembangkan bisnisnya. Bukan hanya mengembangkan perusahaan skincare yang dibangun orang tuaku dan kukembangkan sampai besar, David juga sangat ingin menjadi pengusaha konstruksi. Dan aku ingat dia ingin menanam saham dengan perusahaan konstruksi terbesar di negara ini.Dan aku baru tahu, kalau ternyata Alvaro adalah salah satu pengusaha konstruksi termuda dan sukses di negara ini. Pasti jika Alvaro mengajaknya bergabung, David akan sangat mau.“Ck, tapi aku tidak mau meminta bantuannya. Terus, dia juga tidak akan pernah mau membantuku, orang dia menganggap Bella bodoh,” gumamku lagi.“Hah! Ternyata banyak sekali yang harus aku pikirkan. Dan sepertinya... aku memang harus menikah dengannya. Iya, ini hanya demi agar aku bisa melancarkan aksiku. Bukan karena aku mencintainya, atau aku tertarik dengan wajahnya. Tidak! Ini hanya demi rencana yang sudah aku rencanakan dari awal,” g
“Aku mendengar kamu melakukan diet untuk acara pernikahan ini?”Aku menoleh saat mendengar suara itu. Dan itu adalah Alvaro. Sejak saat dia datang mengatakan akan menikah, dia tidak pernah menunjukkan wajahnya lagi, dan sekarang dia datang seperti hantu.Ya bagaimana tidak? Tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi.Aku memilih tidak memedulikannya, memilih fokus dengan dua barbell di tanganku, mengangkatnya ke atas dengan kesabaran sambil menganggap Alvaro tidak ada.“Gitu saja sok menolak dan berniat membatalkan perjodohan. Padahal kamu kelihatan sekali ingin menikah denganku, kan? Ck, murah sekali. Bahkan aku mendengar kamu sangat bangga menyebut aku calon suamimu saat fitting baju kemarin.”Aku menghembuskan napas pelan, merasa heran dengan pria dingin ini. Kenapa kalau bicara tidak pernah dipikir?Dan, aku pikir dia tipe pria yang tidak banyak omong, ternyata banyak omong juga.“Kamu pikir aku melakukan ini untukmu? Salah besar! Aku diet dan melakukan olahraga bukan untuk pernikahan a
“Tidak!”Aku langsung menolak mendengar itu. Aku sudah bertekad tidak ada pernikahan, aku tidak mau berurusan dengan pria bernama Alvaro itu.“Kenapa? Bukankah itu yang kamu mau? Di saat Elena sibuk belajar untuk mendapatkan nilai yang baik, kamu apa? Kamu malah banyak bermain dan bermimpi menikah dengan Alvaro, kan? Jadi, sekarang Ayah sudah menyetujui, kamu bisa menikah dengannya! Siapa tahu kamu bisa berubah jadi dewasa, tidak seperti anak-anak lagi. Kamu itu sudah besar, Bella!”“Bagaimana aku bisa jadi dewasa kalau Mira selalu menjadikanku seperti anak kecil?! Memberiku boneka Barbie, membuatku menjadi malas dan terlihat bodoh!”“Bella, kenapa kamu bicara seperti ini?” sahut Mira dengan air mata yang sudah menghiasi pipinya.Ah, benar-benar aktris Mira ini. Kalau saja ada penghargaan, mungkin dia akan menjadi pemeran utama wanita terbaik karena aktingnya yang sangat bagus.“Ibu hanya memberikan apa yang kamu mau. Padahal Ibu sudah mengajakmu belajar dengan Elena, tapi kamu tidak
Aku bukan bermaksud menguras semua harta ayah Bella. Aku hanya mengambil sesuatu yang kubutuhkan. Enak saja mereka beli barang bermerek, sedangkan aku barang biasa saja.Jika Bella yang dulu, dia pasti akan menerima saja diperlakukan tidak adil. Tapi tidak denganku! Aku ini Amora. Pengkhianatan dan rasa sakit yang aku alami dulu tidak akan pernah terjadi lagi.Mereka tidak bisa hanya menikmati semuanya yang seharusnya menjadi milik Bella.Setelah mengambil banyak sekali baju—yang tentu saja ukurannya besar—aku langsung melangkah untuk membeli ponsel. Benar, karena itu yang sedang sangat kubutuhkan.Aku ingin mencari kabar tentang David dan juga Lidia. Tidak mungkin berita kematianku tidak masuk media, mengingat aku dulu adalah pengusaha skincare nomor satu, meskipun aku sudah vakum cukup lama.“Bella, kamu menghabiskan uang ayahmu,” keluh Mira langsung setelah mengetahui seluruh total belanjaanku.“Bukankah belanjaan kalian berdua jauh lebih banyak? Kenapa kamu protes? Kamu dan Elena
Aku memejamkan mata di dalam bak mandi, merasakan air hangat yang membasahi kulitku. Aku berpikir sejenak, bagaimana caranya agar tidak terlibat dengan Alvaro.Dan yang paling penting adalah mengungkap semua kejahatan Mira dan Elena selama ini. Bukti yang berupa vitamin penambah nafsu makan saja belum cukup, mengingat Bella mengatakan kalau selama ini Mira pandai memutar balikkan fakta.Atau aku berpura-pura bodoh lagi? Atau aku berpura-pura menjadi Bella yang dulu untuk mencari petunjuk?Aku menghembuskan napas pelan. Ternyata apa yang kubayangkan tidak semudah ini.Lalu, bayangan orang tuaku semasa hidup berputar di kepalaku. Di mana aku yang selalu diajari bagaimana bisa bertahan hidup, bagaimana caranya aku harus bisa berjuang sendiri kalau mereka pergi.Orang tuaku seakan tahu kalau hidup mereka tidak lama. Jadi sejak kecil aku selalu diajarkan mandiri, selalu diajarkan bagaimana caranya berdiri di kakiku sendiri.Tapi semua berubah saat aku mengenal David.Dadaku terasa sesak sa







