Share

Bab 6

Author: Iin Dwi Z
last update publish date: 2026-10-27 23:33:33

Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang. Semenjak aku sadar, total aku berada di rumah sakit sekitar dua minggu—satu minggu dalam keadaan koma dan satu minggu setelah terbangun.

Alvaro, pria tampan tapi dingin itu, tidak datang untuk menjengukku lagi.

Aku juga tidak peduli. Kalaupun pernikahan ini dibatalkan, aku tidak masalah. Karena dengan tubuh Bella, aku akan mengubah semuanya.

Aku tidak akan membiarkan Bella direndahkan. Tubuh gendut, kenapa tidak? Bella cantik, tapi sepertinya aku harus sedikit mengatur pola hidup sehat. Aku tidak mau mati dua kali sebelum membayar semua dendamku.

Dan ayah Bella, aku tidak tahu apa pekerjaannya karena kata Mira, dia masih di luar kota untuk urusan bisnis.

Elena, dia selalu datang tapi wajahnya menunjukkan rasa tidak suka. Dia hanya pamer, menceritakan bagaimana kehidupannya di universitas, dan selalu merendahkan Bella yang tidak melanjutkan sekolah.

Mobil itu berhenti tepat di sebuah rumah mewah. Ternyata Bella salah satu anak orang kaya juga. Hal itu membuatku penasaran, usaha apa yang dikerjakan oleh ayahnya.

Beberapa pelayan datang membantu membawa barang-barang. Sementara Mira berdiri di sebelahku, bibirnya melengkung lebar—berakting seolah-olah dia seorang ibu yang tulus mencintai anaknya. Bahkan, ia menuntunku sampai kami berhenti di sebuah kamar yang mungkin adalah kamar Bella.

“Nanti langsung istirahat ya, Bella. Jangan banyak gerak biar jantung kamu tidak kambuh. Menurut Mama, kamu tidak usah olahraga deh. Kata dokter itu tidak penting, masa jantung lemah malah olahraga? Mending tidur saja dan makan yang banyak, ya. Mama sayang sama Bella dan tidak mau Bella kenapa-napa.”

Aku menatap Mira dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu? Padahal jelas-jelas sebelum pulang, dokter mengatakan kalau aku bisa melakukan olahraga ringan—seperti jalan kaki—lalu melakukan diet sehat agar aku bisa panjang umur.

Lalu kenapa dia bicara begitu?

Cih, kelihatan sekali kalau dia justru ingin Bella mati. Aku harus mencari tahu semuanya.

“Kenapa diam? Kamu tidak percaya dengan Ibu?”

Aku memilih mengangguk karena merasa percuma bicara dengannya.

“Ibu merasa kalau kamu sekarang jadi pendiam, Bella. Kenapa? Apa yang kamu pikirkan? Biasanya kamu selalu cerita sama Ibu.”

“Tidak ada. Aku tidak memikirkan apa pun. Aku hanya masih lelah,” jawabku pelan, masih berpura-pura menunjukkan raut wajah sakit.

“Baiklah, kamu istirahat saja. Nanti akan ada makanan yang dikirim ke kamar kamu. Sekarang kamu istirahat, ya.”

Aku mengangguk, lalu membuka pintu kayu itu dengan perasaan penasaran. Setelah pintu terbuka, hal pertama yang kulihat adalah kamar dengan nuansa serba pink.

Bahkan kamar ini tidak ubahnya seperti kamar Barbie, lengkap dengan banyak mainan boneka Barbie di dalamnya.

“Ck, Bella ini sudah berusia 20 tahun, kenapa masih main Barbie, sih? Pantas saja semua orang bilang dia bodoh,” gumamku pelan.

Aku memilih mengunci kamar, tidak ingin ada orang lain yang masuk. Aku harus mencari petunjuk. Siapa tahu Bella menulis buku harian atau apa pun yang bisa membuatku tahu bagaimana kehidupannya dulu.

Aku membuka lemari, tapi kepalaku langsung pusing saat melihat semua pakaian Bella berwarna pink. Ini kenapa, sih? Apa dia sesuka itu dengan warna pink?

Kubuka semua laci yang ada di sana, kubuka semua buku, tapi aku tidak menemukan apa pun yang bisa menjadi petunjuk.

Aku memegang dadaku. Dokter memang menyuruhku untuk istirahat, tapi sekarang aku malah bergerak kesana kemari demi mencari petunjuk.

“Ck, Bella, kenapa sih tubuhmu lemah banget?” ucapku pada diri sendiri, lalu memilih untuk merebahkan diri di kasur yang ukurannya cukup besar.

Karena aku tidak menyukai boneka Barbie, kulempar benda-benda itu begitu saja.

“Aku harus membuangnya. Pusing kepalaku melihat semua ini,” gumamku seraya memejamkan mata, memilih untuk beristirahat sejenak.

Namun usaha itu sia-sia, karena tidak lama kemudian pintu kamarku diketuk. Hal itu memaksaku mau tidak mau bangkit dan melihat siapa yang mengetuk.

Pintu kubuka dengan perasaan kesal. Saat itulah kulihat salah satu pelayan sedang membawa nampan. Namun, tatapannya bukan tertuju padaku, melainkan pada kamarku yang begitu berantakan.

Boneka-boneka Barbie tergeletak di lantai, dan ada beberapa baju yang tadi sempat kulempar.

“Nyonya Bella, kenapa kamarnya berantakan?” tanyanya langsung.

“Tidak apa-apa. Nanti kamu ambil semua barang itu, dan buang semuanya.”

“Buang?” tanyanya dengan mata membelalak.

“Iya, buang semuanya. Aku tidak menyukai itu.”

“Kenapa? Bukannya Nyonya Bella menyukai Barbie? Bukannya Nyonya Bella ingin menjadi seperti Barbie?”

“Kamu pelayan, kan? Kenapa banyak omong sekali? Aku bilang buang, ya buang!”

“Baik, Nyonya,” katanya takut-takut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlahir Kembali Menjadi Gadis Gemuk    Bab 15

    Aku memejamkan mata di dalam bak mandi, merasakan air hangat yang membasahi kulitku. Aku berpikir sejenak, bagaimana caranya agar tidak terlibat dengan Alvaro.Dan yang paling penting adalah mengungkap semua kejahatan Mira dan Elena selama ini. Bukti yang berupa vitamin penambah nafsu makan saja belum cukup, mengingat Bella mengatakan kalau selama ini Mira pandai memutar balikkan fakta.Atau aku berpura-pura bodoh lagi? Atau aku berpura-pura menjadi Bella yang dulu untuk mencari petunjuk?Aku menghembuskan napas pelan. Ternyata apa yang kubayangkan tidak semudah ini.Lalu, bayangan orang tuaku semasa hidup berputar di kepalaku. Di mana aku yang selalu diajari bagaimana bisa bertahan hidup, bagaimana caranya aku harus bisa berjuang sendiri kalau mereka pergi.Orang tuaku seakan tahu kalau hidup mereka tidak lama. Jadi sejak kecil aku selalu diajarkan mandiri, selalu diajarkan bagaimana caranya berdiri di kakiku sendiri.Tapi semua berubah saat aku mengenal David.Dadaku terasa sesak sa

  • Terlahir Kembali Menjadi Gadis Gemuk    Bab 14

    Aku tentu kaget mendengar ucapan Alvaro. Bukannya dia sangat membenci Bella? Bukannya dia punya perempuan yang dicintai? Tapi kenapa dia malah setuju dengan perjodohan ini?Apakah ada sesuatu yang sedang direncanakan? Ah, aku merasa rencanaku untuk membalas dendam pada David dan Lidia semakin sulit. Bahkan sampai sekarang aku belum tahu bagaimana kabar mereka. Lalu, bagaimana mereka menjawab pertanyaan para wartawan soal kematianku? Apakah mereka menyembunyikan mayatku?“Varo, kenapa kamu mau menikah dengan Bella? Bukannya kamu sangat membencinya? Bukannya kamu tidak suka dengan perempuan gendut dan bodoh? Tapi kenapa kamu mau menikahinya?” tanya Elena yang juga ikut terkejut.Alvaro sama sekali tidak memedulikan Elena, bahkan seakan tidak mendengar apa yang dikatakannya.Pria itu melangkah maju dan langsung menarik tanganku.“Apa-apaan, sih?! Kamu tidak lihat aku sedang makan?” bentakku karena tidak suka dengan cara Alvaro.“Makan terus saja yang ada di otakmu! Aku mau bicara serius

  • Terlahir Kembali Menjadi Gadis Gemuk    Bab 13

    Aku tersenyum sinis saat pelayan itu memegang gelas dengan tangan gemetar. Aku yang menatapnya dengan tatapan tajam membuatnya terpaksa langsung menyodorkan jus itu ke dalam mulutnya.“Ayo minum, sekarang juga!” bentakku.“I-iya, Nyonya... Saya... saya minum ini, kok,” jawabnya gugup.“Bella, apa-apaan ini?!”Aku seketika menoleh saat mendengar suara Mira. Wajahnya terlihat panik dengan apa yang dilihatnya. Minuman yang harusnya untukku, sekarang justru hampir diminum oleh pelayan.“Ini bukannya kamu yang meminta jus tanpa gula? Terus kenapa sekarang kamu tidak mau? Ini sudah sesuai dengan apa yang kamu inginkan, Bella!” katanya lagi.“Tapi aku sekarang tidak mau. Jadi daripada terbuang sia-sia, mending dia yang minum. Atau... Ibu Mira mau meminumnya?” tantangku langsung.Wajah Mira terlihat sangat pucat, menunjukkan bahwa di dalam jus itu memang sudah diberi sesuatu.“Kenapa diam? Ayo minum, dan habiskan!” kataku memberi instruksi, yang jelas saja langsung membuat pelayan itu meminum

  • Terlahir Kembali Menjadi Gadis Gemuk    Bab 12

    Pagi itu aku berniat untuk berolahraga. Dari dulu aku suka sekali dengan olahraga fisik, mulai dari berlatih tinju sampai menggunakan alat-alat gym di rumah.Tapi sekarang aku tidak bisa melakukan itu. Jantung di tubuh Bella terlalu lemah. Jadi, aku harus melakukan olahraga yang ringan dulu.Seperti jalan pagi... Ya, karena hanya itu olahraga yang paling dianjurkan dokter untukku sekarang.Beruntung Bella mempunyai baju olahraga. Yah, meskipun warnanya masih pink, tapi kali ini bukan pink yang mencolok, masih ada warna putih di celana dan bajunya.Aku melangkah dengan perasaan riang, dan aku juga ingin melihat-lihat rumah Bella ini, siapa tahu aku dapat petunjuk.“Nyonya Bella mau ke mana?” tanya pelayan yang waktu itu mengantar makanan ke kamarku.Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya namanya dengan berpura-pura lupa agar pelayan itu tidak menyadari kalau aku bukanlah Bella. “Kamu... kamu...” kataku sambil sedikit memegang kepala, berpura-pura pusing.“Saya Stefi, Nyonya. Kenap

  • Terlahir Kembali Menjadi Gadis Gemuk    Bab 11

    “Elena, sudah. Jangan seperti itu dengan saudaramu,” sela Mira. Wajahnya berubah lembut kembali. “Bella, maafkan Ibu kalau kamu masih marah dengan makanan yang Ibu berikan. Mulai sekarang Ibu akan suruh koki memasak makanan sehat untuk kamu. Dan soal ponsel, bukannya ini sudah dibicarakan, dulu? Kalau kamu main ponsel suka tidak ingat waktu, jadi Ayah memang tidak memberimu ponsel, Bella. Apa kamu melupakan itu?”Aku menghembuskan napas kasar. Kalau saja aku tidak ingat dengan tujuanku, mungkin aku sudah pergi dari tubuh Bella. Bagaimana bisa di zaman modern ini tidak dipegangi ponsel? Meskipun tubuh Bella gendut, di usianya sekarang pasti suka bermain ponsel, bermain media soal? Tapi ini apa? Benar-benar gila! Lama-lama aku yang bisa gila kalau satu rumah dengan mereka.“Aku sudah besar, aku jelas bisa mengatur waktuku sekarang. Aku minta besok harus ada ponsel sendiri untukku!”“Bella, kamu ini seperti seorang putri saja, semua minta langsung!” sela Elena.“Iya, aku memang putri di

  • Terlahir Kembali Menjadi Gadis Gemuk    Bab 10

    Suasana seketika hening. Bukan hanya para pelayan yang ikut diam mendengar perkataanku, tapi juga Mira dan Elena.Apa yang salah dengan perkataanku? Bukankah apa yang kukatakan itu benar? Makanan yang Mira sediakan untuk tubuh Bella ini salah, dan itu bisa memicu tubuh Bella menjadi semakin obesitas, serangan jantung dan tentu semakin mudah untuk Bella meninggal.“Oh, Bella... maafkan Ibu kalau begitu. Maaf...”Aku tidak menyahut. Aku hanya menatapnya dengan tatapan datar, lalu beralih menatap sekeliling sampai mataku tertuju pada beberapa buah yang tak jauh di area dapur.Dulu dengan tubuhku sendiri, aku sudah cukup hanya dengan makan satu buah apel saja. Semoga kali ini aku juga bisa.“Bella, kamu mau apa?” tanya Mira langsung.“Makan apel. Kenapa? Tidak boleh aku makan buah di rumahku sendiri?”“Bella! Kenapa kamu sekarang tidak sopan sekali dengan Ibu?! Kamu sudah dibesarkan oleh Ibu, Ibu selalu menyayangimu! Harusnya kamu tidak menyakiti hatinya, kamu malah bicara seperti itu!” p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status