Masuk
Kantin fakultas ekonomi Universitas Nusantara Elite sedang ramai-ramainya jam makan siang. AC-nya dingin banget sampai bikin bulu kuduk merinding, tapi tetap nggak bisa redam panasnya drama yang sebentar lagi bakal meledak.
Kevin Aprilio Cathy baru saja keluar dari antrean VIP (iya, di kampus ini ada antrean khusus buat anak konglo biar nggak ngantre bareng “rakyat jelata”). Di tangannya tray perak berisi salmon grill, truffle pasta, sama es kopi susu gula aren yang harganya bisa buat beli makan sebulan anak kos. Dia melirik ke meja pojok dekat jendela. Di sana duduk Nadia Putri Mahendra sendirian, lagi baca buku tebal berjudul “Capital in the Twenty-First Century” sambil makan nasi kotak bungkus aluminium yang jelas-jelas dibawa dari rumah. Itu dia. Gebetanku yang sudah bikin aku nggak bisa tidur tiga hari ini. Hari ini aku nyanyi. Nggak pake lama-lama lagi. Kevin tarik napas dalam, senyum paling mematikan yang pernah dia latih di depan cermin, lalu melangkah mendekat. Tapi belum sampai tiga langkah… “KEVIIINNNN!!!” Jeritan itu datang dari Clarissa Angelina, anak pemilik jaringan hotel bintang lima, yang langsung lari kecil sambil membawa dua gelas Starbucks. “Vin, aku beliin kamu yang baru! Yang tadi aku liat kamu pesen kopi doang, pasti laper kan? Ini Venti Java Chip extra whip, aku tau kamu suka manis!” Clarissa langsung menyelipkan satu gelas ke tangan Kevin sambil merangkul lengannya erat-erat. Belum sempat Kevin buka mulut, sudah ada yang nyamber lagi. “Eh Clar, jangan egois dong! Kevin pasti lebih suka matcha aku!” Bella Santoso—putri pengusaha tambang—langsung mendorong Clarissa ke samping sambil menyodorkan gelas hijau. “Ini matcha oat milk no sugar, biar badan Kevin tetep sixpack!” Dalam hitungan detik, Kevin sudah dikelilingi lima cewek model-level yang rebutan kasih minuman, makanan, bahkan ada yang langsung buka dompet mau transfer “jajan hari ini”. Kantin mendadak sunyi. Semua mata tertuju ke arah mereka. Kevin cuma bisa bengong sambil pegang tiga gelas sekaligus. Ya Tuhan, mati aku. Dia melirik Nadia lagi. Nadia yang tadinya fokus baca buku, sekarang angkat kepala. Kacamata bulatnya agak melorot, matanya menyipit menatap keributan ini dengan ekspresi… jijik? Kevin panik. Ini kesempatan satu-satunya sebelum Nadia balik fokus ke bukunya lagi. “Permen, guys… bentar ya—” Kevin coba lepas lengan dari cengkeraman Clarissa. “Eh jangan pergi dulu, Vin!” “Kevin foto bareng dulu yuk!” “Aku punya tiket konser Coldplay VIP loh, mau nggak nemenin aku besok?” Kevin akhirnya nekat. Dia taruh tray makannya di meja terdekat (milik anak cowok yang langsung ketakutan dan minggir), lalu menerobos kerumunan cewek-cewek itu kayak Moses membelah Laut Merah. Sampai akhirnya dia berdiri tepat di depan meja Nadia. “Hai… Nadia, kan?” Nadia angkat kepala perlahan. Matanya dingin. Ekspresinya datar banget kayak lagi ngadepin sales asuransi. “Iya. Ada apa?” Kevin langsung aktifin mode charming level 100. Senyumnya yang katanya bisa bikin lutut cewek lemah. “Aku Kevin, dari kelas Ekonomi Makro bareng. Duduk di sebelahmu tadi pagi pas dosen telat.” “Aku tahu siapa kamu,” jawab Nadia datar sambil nutup bukunya pelan. “Seluruh kampus tahu. Ada lagi?” Waduh, cuek banget. Kevin tetep senyum. “Ehm… aku liat kamu makan sendirian. Boleh gabung nggak?” Nadia melirik ke arah kerumunan cewek yang sekarang berdiri sepuluh meter dari situ, mata mereka semua siap membakar siapa saja yang berani dekatin Kevin. “Kayaknya kamu sudah punya temen banyak,” kata Nadia sambil berdiri dan mulai masukin buku ke tas ranselnya yang sudah usang. “Nggak usah maksa gabung sama anak miskin kayak aku. Nanti temen-temenmu marah.” Kevin panik beneran. “Bukan gitu! Aku serius—” “Kevin!” Clarissa sudah nyamperin lagi. “Ayo makan bareng kita di lounge VIP lantai tiga! Ada AC-nya lebih dingin, nggak bau gorengan kayak di sini!” Nadia langsung ambil nasi kotaknya, tasnya, dan… pergi. Langsung ninggalin Kevin berdiri sendirian di situ kayak orang bodoh. Tapi Kevin nggak nyerah. Dia kejar Nadia yang sudah jalan cepet ke arah pintu keluar kantin. “Nadia, tunggu!” Nadia berhenti mendadak, balik badan. Matanya sekarang benar-benar marah. “Apa sih sebenarnya maumu?” suaranya naik sedikit, cukup buat bikin orang-orang di sekitar langsung ambil HP dan mulai rekam. “Aku… aku cuma mau kenalan biasa,” Kevin buru-buru jawab. “Aku suka ngobrol sama kamu. Serius.” Nadia nyengir sinis. “Kenalan biasa? Kamu yakin?” “Iya!” “Orang kaya kayak kamu tiba-tiba dekatin anak beasiswa kayak aku, pasti ada maunya. Mau pamer? Mau bikin konten? Atau lagi bosen sama cewek-cewek model yang ngejar-ngejar kamu itu?” Kevin terdiam. Nadia melangkah lebih dekat. Jaraknya tinggal satu meter. Suaranya pelan tapi tajam. “Dengar ya, Kevin Aprilio Cathy. Aku nggak butuh temen kaya kayak kamu. Aku nggak butuh dompet tebal kamu. Dan aku paling benci orang yang pura-pura rendah hati padahal cuma lagi cari sensasi baru.” Lalu dia bilang kalimat yang langsung bikin jantung Kevin jatuh ke lantai kantin: “Jadi tolong, jangan ganggu aku lagi.” Habis itu Nadia pergi beneran. Ninggalin Kevin yang berdiri mematung di tengah kantin, dikelilingi ratusan pasang mata dan puluhan HP yang sudah rekam semuanya. Di belakangnya, Clarissa dan gengnya mulai bisik-bisik. “Siapa sih cewek itu? Kurang ajar banget!” “Biarkan aja, Vin. Dia cuma iri sama kita.” Kevin cuma bisa menunduk. Tray makannya masih di meja jauh, kopi Starbucks-nya sudah tumpah karena direbut-rebutan tadi. Pertama kali dalam hidupku… aku ditolak sefrontal ini. Dan anehnya… aku malah semakin gila sama dia. Malam itu juga, video “Kevin Aprilio Cathy Ditolak Cewek di Kantin UNE” sudah viral di TikTok kampus. 500 ribu views dalam tiga jam. Dan Kevin? Dia lagi duduk di balkon penthouse-nya di Pantai Indah Kapuk, nge-stalk I* Nadia yang private, sambil senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Game on, Nadia Putri Mahendra. Aku bakal bikin kamu jatuh cinta sama aku. Biaya berapa pun, waktu berapa lama pun… aku nggak akan nyerah.Malam turun lebih cepat dari biasanya.Lampu-lampu taman kampus menyala satu per satu, namun cahaya kuningnya yang temaram tidak mampu mengusir rasa berat yang menggantung di udara. Nadia duduk di bangku kayu fakultas, lututnya ditarik rapat ke dada. Tatapannya kosong, tertuju pada kolam kecil yang airnya tampak mati, nyaris tak bergerak sedikit pun.Telapak tangannya masih terasa… berdenyut.Bukan rasa sakit fisik, bukan pula rasa panas. Melainkan seperti sisa gema dari sebuah energi yang seharusnya tidak ia miliki. Sensasi itu terus bergetar, seolah memperingatkannya bahwa ia baru saja melewati batas yang terlarang.Kevin berdiri beberapa langkah di belakangnya, bersandar pada batang pohon besar yang kokoh. Ia mencoba terlihat santai dengan menyilangkan tangan, namun napasnya belum sepenuhnya stabil. Pukulan terakhir yang ia lepaskan di gedung tadi ternyata menguras lebih banyak energi daripada yang ia perkirakan.“Kau oke?” tanya Kevin akhirnya. Suaranya rendah, memecah kesunyian y
Kampus tidak pernah terasa setegang ini.Langit masih betah dengan mendungnya, namun udara terasa jauh lebih berat—seperti tekanan atmosfer sesaat sebelum badai besar meluluhlantakkan segalanya. Mahasiswa berlalu-lalang seperti biasa; tertawa, mengeluh soal tugas, atau memikirkan hal-hal sepele. Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa tepat di bawah permukaan rutinitas yang membosankan itu, sesuatu yang purba sedang merayap.Dan Nadia bisa merasakannya.Bukan seperti sinyal mekanis dari sistem Astraea yang lama. Bukan pula tarikan paksa yang menyakitkan. Ini lebih seperti… sebuah tekanan. Layaknya berat air yang menekan gendang telinga saat menyelam terlalu dalam.“Kevin,” bisik Nadia saat mereka melewati lorong fakultas yang mulai sepi. “Mereka sudah di sini.”Kevin tidak menoleh secara drastis, namun langkahnya otomatis melambat setengah detik—jarak yang cukup bagi pria itu untuk menyesuaikan posisi tubuhnya guna melindungi Nadia.“Berapa orang?” bisiknya hampir tak terdengar.Nadi
Efeknya tidak datang seperti ledakan besar yang mengguncang bumi.Ia datang seperti rangkaian kesalahan kecil yang terus diabaikan—sampai semua orang tersadar bahwa fondasi realita telah bergeser, dan tidak ada jalan untuk kembali.Pagi itu, frekuensi berita nasional mendadak kacau. Di layar televisi, seorang presenter tersenyum ramah, membaca naskah dengan intonasi stabil—lalu tiba-tiba ia mematung. Matanya menatap kosong ke arah kamera, satu detik terlalu lama, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa.“Maaf,” ucapnya akhirnya sambil tertawa kecil yang terdengar ganjil. “Teksnya… hilang begitu saja.”Di belahan kota lain, sistem kendali lalu lintas Jakarta mendadak kehilangan logika. Lampu hijau menyala di semua arah selama tiga puluh detik penuh, menciptakan simfoni klakson dan derit rem yang memekakkan telinga, sebelum akhirnya seluruh sistem mati total. Di rumah sakit-rumah sakit besar, monitor pasien berhenti bersinkronisasi; bukan karena kerusakan perangkat, melainkan karena pola
Gelap.Bukan jenis gelap yang menenangkan, bukan pula sunyi seperti tidur tanpa mimpi. Kegelapan ini… berisik.Nadia merasa dirinya terombang-ambing di sebuah ruang tanpa arah. Tidak ada atas, tidak ada bawah. Hanya ada denyut konstan—seperti gema detak jantung raksasa yang tidak sinkron. Setiap denyut itu membawa rasa nyeri yang ganjil. Rasa sakit yang tidak menyerang tubuh fisiknya, melainkan merobek ingatannya.Tiba-tiba, potongan-potongan visual yang bukan miliknya membanjiri kesadaran Nadia.Ruangan putih yang steril. Tabung kaca yang dingin. Sosok Kevin… yang jauh lebih muda. Kevin yang tampak terlalu tenang, terlalu patuh, seolah jiwanya sudah dikosongkan.“Ini bukan aku…” bisik Nadia, namun suaranya tenggelam dalam kebisingan frekuensi.Lalu, sebuah suara menembus kekacauan itu. Pecah, penuh tekanan, namun sangat familiar. —Nadia. Dengar gue.Kevin. Suara itu tidak masuk melalui telinga, melainkan bergema langsung dari dalam inti kesadarannya.“Aku di mana?” balas Nadia—atau s
Pagi datang tanpa membawa rasa lega.Nadia terbangun dengan kelopak mata yang sembab dan kepala yang terasa seberat timah, seolah tidur semalam hanyalah perpanjangan dari mimpi buruk yang nyata. Langit di balik jendela berwarna abu-abu kusam; mendung menggantung rendah seperti beban raksasa yang hanya tinggal menunggu waktu untuk jatuh menghantam bumi.Ia bangkit perlahan, menatap ponsel yang tergeletak bisu di atas meja. Tidak ada pesan baru. Justru kesunyian itulah yang membuat dadanya terasa semakin sesak, mencekik setiap oksigen yang mencoba masuk.Nadia menarik napas panjang, mencoba berdiri—namun tiba-tiba, dunianya bergeser.Bukan serangan yang deras. Bukan pula gelombang yang menyeluruh. Hanya sebuah getaran kecil yang sangat spesifik dalam kesadarannya. Kevin.Bukan rasa sakit yang ia rasakan dari Kevin. Bukan pula bahaya fisik. Melainkan sebuah… jarak. Perasaan seolah sesuatu yang terikat kuat mulai merenggang dan menjauh.Nadia membeku. “Kevin…” bisiknya lirih.Kevin berdir
Malam turun tanpa suara.Tidak ada hujan kali ini. Tidak ada angin yang berembus. Kota justru terasa terlalu tenang, jenis ketenangan yang tidak wajar, seperti napas yang tertahan terlalu lama di bawah air. Nadia duduk di tepi ranjang kosnya yang sempit. Lampu kamar sengaja ia matikan; hanya cahaya dari ponsel di genggamannya yang berpendar redup, menyinari wajahnya yang kuyu.Nama Kevin masih terpampang di layar.Mereka baru saja berpisah satu jam yang lalu. Pertemuan itu tidak diakhiri dengan pertengkaran hebat, pun tidak ada kata-kata perpisahan yang puitis. Justru kesunyian dan pengertian yang dipaksakan itulah yang terasa menyayat.Nadia menghela napas panjang, mengunci layar ponselnya, lalu memejamkan mata. Dan dunia… kembali mengetuk jiwanya.Namun kali ini, rasanya berbeda. Bukan lagi arus luas yang menghanyutkan, bukan pula gelombang kota yang menderu. Melainkan titik-titik kecil yang tajam—terlalu banyak, bergerak terlalu cepat.Ia bisa merasakan seorang anak kecil yang meng







