LOGINPagi datang tanpa peringatan.Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai apartemen Kevin, jatuh tepat di wajahnya. Ia mengerjap pelan, kepala terasa berat, tubuhnya seolah baru saja ditarik keluar dari laut dalam. Untuk beberapa detik, ia lupa di mana dirinya berada—sampai aroma kopi yang belum diminum semalam menyentuh inderanya.Dan suara napas pelan di dekatnya.Kevin menoleh.Nadia duduk di lantai, bersandar pada sisi sofa, jaketnya masih ia pakai. Kepalanya sedikit tertunduk, rambutnya menutupi sebagian wajah. Ia tertidur dalam posisi yang jelas tidak nyaman, seolah takut bergerak terlalu jauh.Kevin langsung bangkit terlalu cepat.Dunia berputar.Ia terpaksa berpegangan pada sandaran sofa, rahangnya mengeras menahan mual yang naik tiba-tiba. Denyut di kepalanya kembali, lebih tajam dari malam sebelumnya, seperti pengingat keras bahwa keputusan kemarin belum selesai menagih harga.“Nad…” suaranya serak.Nadia tersentak bangun. Matanya langsung fokus, seolah tubuhnya sudah siap se
Malam itu, Nadia tidak langsung pulang ke kos.Ia duduk lama di dalam kamar, lampu dimatikan, hanya cahaya dari jendela yang membelah ruangan menjadi dua warna—gelap dan abu-abu. Pesan Kevin masih terngiang di kepalanya, berputar seperti gema yang menolak berhenti.Mulai malam ini, apa pun yang terjadi sama gue… itu pilihan gue. Bukan sistem.Kalimat itu seharusnya membuat Nadia lega.Tapi yang ia rasakan justru sebaliknya.Dadanya terasa berat, bukan oleh takut kehilangan, melainkan oleh rasa bersalah yang perlahan merayap. Selama ini, ia selalu bertanya-tanya apakah kedekatannya dengan Kevin membuatnya terperangkap. Baru sekarang ia menyadari—Kevin juga sedang terjebak, dan memilih cara paling berbahaya untuk keluar.Nadia bangkit dari kasur, mengambil jaket, dan menatap bayangannya di cermin.“Aku nggak bisa cuma diam,” katanya pada diri sendiri.Begitu melangkah keluar kamar, sensasi itu datang lagi.Bukan sakit.Bukan pusing.Melainkan tarikan halus, seperti benang yang ditarik p
Kevin tidak langsung menuju kantor pusat Cathy Group.Ia menyetir tanpa tujuan selama hampir dua puluh menit, membiarkan kota berlalu di balik kaca mobil, mencoba menenangkan sesuatu di dadanya yang tidak mau diam sejak pagi. Pesan ayahnya masih terngiang jelas—singkat, dingin, dan penuh makna.Kita perlu bicara. Hari ini.Kalimat itu jarang berarti hal baik.Akhirnya Kevin berhenti di basement gedung Cathy Group. Mobilnya terparkir rapi di antara kendaraan lain yang harganya setara satu gedung kos Nadia. Ia turun, merapikan jaketnya, lalu melangkah masuk dengan wajah datar yang sudah terlatih sejak lama.Di lantai atas, ruang rapat utama sudah menunggu.Ayahnya duduk di ujung meja panjang, punggung tegak, tangan terlipat di atas meja. Beberapa orang penting perusahaan duduk di sisi kanan dan kiri, sementara Adrian berdiri santai di dekat layar besar, seperti biasa—terlalu tenang untuk situasi yang seharusnya serius.Kevin langsung duduk tanpa basa-basi.“Kita nggak punya banyak waktu
Pagi datang terlalu cepat bagi Nadia.Ia terbangun di apartemen Kevin dengan perasaan yang campur aduk—tubuhnya terasa jauh lebih stabil daripada hari-hari sebelumnya, tapi justru itu yang membuat dadanya berat. Ketenangan ini tidak gratis. Ia tahu itu. Dan semakin lama ia berada di dekat Kevin, semakin jelas pula kenyataan yang tak ingin ia terima: tubuhnya memilih sebelum pikirannya sempat memberi izin.Di dapur, Kevin sudah bangun lebih dulu. Ia berdiri di depan mesin kopi, kemeja hitamnya digulung sampai siku, wajahnya datar tapi matanya lelah. Bukan lelah fisik—ini kelelahan orang yang terlalu lama berjaga.“Kampus nelpon,” kata Kevin tanpa basa-basi saat Nadia masuk ruangan. “Dekan minta kamu hadir siang ini.”Nadia berhenti melangkah. “Hadir… buat apa?”“Penjelasan,” jawab Kevin pelan. “Tentang insiden kemarin. Tentang kondisi kamu. Dan—” Ia berhenti sejenak. “Tentang kenapa kamu sekarang nggak tinggal di kos.”Nadia menghela napas panjang, duduk di kursi tanpa benar-benar ingi
Nadia terbangun dengan perasaan yang anehnya… tenang.Bukan tenang yang kosong, bukan juga tenang karena lelah. Ini tenang yang terasa terjaga, seperti tubuhnya akhirnya berhenti berjaga sepanjang malam dan membiarkan dirinya bernapas tanpa waspada. Cahaya sore menyelinap lewat tirai tipis apartemen Kevin, menyentuh lantai marmer dengan warna keemasan yang hangat.Ia duduk di sofa, memeluk lututnya sendiri.Dan saat itulah Nadia menyadari sesuatu yang membuat dadanya mengencang pelan.Ia tidak merasa sendirian.Bukan karena Kevin ada di ruangan yang sama—ia jelas tidak ada. Tapi kehadirannya terasa jelas, stabil, seolah jarak fisik tidak lagi sepenuhnya relevan. Seperti ada garis tak kasatmata yang menghubungkan mereka, bukan mengekang, tapi… menahan.“Apa ini yang kamu maksud aman?” gumam Nadia lirih.Ia bangkit, berjalan pelan ke jendela besar. Dari lantai atas, kampus terlihat kecil dan jauh, dunia yang beberapa jam lalu masih terasa normal—sebelum pingsan, sebelum tatapan orang-or
Berita pingsannya Nadia menyebar jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan.Awalnya hanya bisik-bisik di grup kelas, lalu melebar ke grup fakultas, dan sebelum jam makan siang tiba, namanya sudah muncul di story beberapa mahasiswa yang kebetulan berada di sekitar UKS pagi tadi. Tidak ada yang jahat secara terang-terangan, tapi rasa ingin tahu publik sering kali lebih melelahkan daripada tuduhan langsung.“Koordinator ospek yang pacarnya Kevin Cathy itu kan?”“Katanya kecapekan, tapi kok sampai pingsan?”“Dari kemarin kelihatan pucat sih.”Nadia tahu semua itu tanpa harus membaca satu pun chat.Tubuhnya masih lemas saat ia duduk di ranjang UKS, selimut tipis menutupi kakinya. Kepalanya terasa ringan tapi kosong, seperti baru saja dilepaskan dari tekanan panjang yang tidak ia sadari sedang ia tahan.Kevin berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap Nadia, tangannya masuk ke saku jaket. Dari caranya berdiri saja, Nadia bisa merasakan satu hal yang jelas: Kevin sedang menahan diri denga







