Share

Bab 3

Penulis: Anju
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-22 22:15:56

Pagi hari keempat setelah “insiden payung”

Hujan masih deras. Gerbang kampus sudah banjir kecil di trotoar.

Kevin berdiri di tempat yang sama sejak jam 7.15.

Tanpa payung.

Baju putihnya basah kuyup, rambut menempel di dahi, tapi dia tetap berdiri tegak sambil senyum-senyum sendiri tiap ada mahasiswa lewat dan nyapa “Pagi, Vin!”.

Ray lewat naik Bentley, turunin kaca.

“Vin, lo gila?! Masuk mobil lah bego, lo sakit nanti!”

Kevin cuma angkat tangan. “Gue janji sama seseorang.”

Dito lewat naik ojek online, teriak dari kejauhan:

“Lo udah kayak patung pahlawan cinta bro, pulanglahhh!”

Tapi Kevin nggak bergeming.

Jam 7.42.

Nadia muncul di ujung jalan, kali ini bawa payung lipat murah warna biru tua. Dia lihat Kevin dari jauh, langsung melotot.

Ini orang beneran nggak punya otak apa?!

Dia percepat langkah, pura-pura nggak liat. Tapi pas nyaris lewat di samping Kevin, cowok itu tiba-tiba batuk-batuk pelan.

Nadia ngerem.

“Lo sakit?”

Kevin senyum lemah (tapi tetep ganteng banget meski bibirnya agak pucat).

“Belum. Cuma agak masuk angin.”

Nadia langsung kesel sendiri. “Lo nunggu aku ya?”

Kevin angguk pelan. “Iya. Gue bilang kan, tiap pagi.”

“Lo gila.”

“Mungkin.”

Nadia tarik napas panjang. Lalu… tanpa ngomong apa-apa, dia tarik tangan Kevin masuk ke bawah payung kecilnya.

Payungnya memang kecil banget. CUMA MUAT UNTUK SATU ORANG.

Jadi hasilnya: Nadia dan Kevin nempel ketat. Bahu Kevin nempel ke bahu Nadia. Lengan mereka saling senggol. Bau shampo Kevin (yang mahal itu) langsung nyelinap ke hidung Nadia.

Nadia langsung merah padahal hujan dingin.

“Lo… lo bisa minggir dikit nggak?!” Nadia berusaha dorong Kevin pelan.

Kevin malah nyengir. “Payungnya kecil, Nad. Kalau gue minggir, lo yang basah.”

Sepanjang jalan ke gedung fakultas (400 meter), mereka diam. Cuma suara hujan sama detak jantung Nadia yang kayak drum konser.

Pas sampai foyer gedung, Nadia langsung lepas tangan Kevin kayak tersengat listrik.

“Makasih ya,” kata Kevin lembut. “Besok gue bawa payung gede.”

Nadia nggak jawab. Dia buru-buru lari ke kelas, muka merah sampai telinga.

Malam harinya.

Kevin nggak bales chat grup sama sekali. Ray sama Dito panik.

Ray: @kevinacathy bro lo hidup?!

Dito: Dia demam 39 derajat katanya mbak di penthouse-nya. Dokter udah dateng.

Nadia lagi di kos, lagi makan mie instan, tiba-tiba inget kejadian pagi tadi.

Dia buka I* Kevin. Story terbaru: foto termometer 39,2 °C sama caption:

“Masuk angin level dewa karena nunggu orang yang nggak mau diguyur bareng.”

Nadia langsung panik.

Ini gara-gara gue?!

Dia buka chat yang masih tersimpan dari kemarin.

Ngetik… hapus… ngetik lagi…

Akhirnya jam 23.17 dia kirim:

Nadia:

Lo sakit beneran?

Kevin balas dalam 10 detik (padahal lagi demam tinggi):

Kevin:

Iya. Tapi seneng banget tadi pagi bisa bareng lo walau cuma 5 menit.

Worth it kok.

Nadia langsung lempar HP ke kasur.

“GILA INI ORANG NGOMONG APAAN SIH DEMAM TINGGI MASIH GOMBAL!!!”

Tapi 5 menit kemudian dia ngetik lagi:

Nadia:

Lo minum obat belum?

Kevin:

Belum. Susah banget telen kapsul sendirian.

Nadia:

Lo mau gue anterin obat apa?! Jangan ngarep!

Kevin:

Nggak ngarep kok. Cuma pengen denger suara lo sebelum tidur.

Nadia langsung telpon.

“HALO? LO BENERAN SAKIT APA NGGAK SIH?!” suara Nadia langsung tinggi.

Kevin di ujung sana suaranya parau banget, tapi masih ketawa kecil.

“Halo sayang… akhirnya lo telpon juga.”

“SIAPA YANG SAYANG. Lo minum obat sekarang juga!”

“Sendirian susah, Nad. Tangan gue lemes.”

Nadia tarik napas dalam-dalam.

“Lo tinggal di mana sih? Gue… gue anterin obat. TAPI CUMA OBAT. Abis itu gue pulang!”

Kevin senyum lemah di tempat tidur king size-nya.

“Serius?”

“SERIUS. Alamat lo mana?!”

Satu jam kemudian.

Pintu penthouse Kevin dibuka sama mbak ART yang bingung.

Nadia berdiri di depan pintu, basah kuyup karena payungnya ketutup angin, bawa kantong plastik Indimaret berisi paracetamol, vitamin C, sama bubur ayam.

“Ehm… ini buat pasien.”

Mbak ART langsung senyum lebar. “Mas Kevin di

kamar, Non. Dari tadi manggil-manggil nama Nona Nadia pas ngigau.”

Nadia muka merah lagi. “NGIGAU APA SIH?!”

Dia masuk kamar Kevin dengan langkah gugup.

Kevin lagi selonjoran di kasur, muka pucat tapi mata berbinar pas liat Nadia.

“Lo… lo beneran dateng.”

Nadia taruh kantong di meja. “Iya. Sekarang minum obat. Gue liatin.”

Kevin duduk perlahan, buka satu kancing baju tidur karena panas. Nadia buru-buru buang muka.

“Lo bisa cepet nggak?! Jangan buka-buka baju seenaknya!”

Kevin ketawa kecil, langsung batuk. “Maaf… panas.”

Nadia akhirnya nyodorin obat + air. Tangan mereka senggolan pas Kevin ambil gelas.

Detik itu dunia kayak berhenti.

Kevin tatap Nadia lama banget.

“Makasih ya, Nad. Lo baik banget.”

Nadia buru-buru berdiri. “Udah. Gue pulang.”

Tapi pas mau keluar pintu kamar, Kevin panggil pelan:

“Nad.”

“Apa lagi.”

“Besok… boleh bawa payung kecil lagi nggak? Gue suka deket-deket gitu sama lo.”

Nadia nggak jawab. Dia cuma nutup pintu kamar agak keras…

tapi senyum-senyum sendiri di koridor.

Di luar hujan masih deras.

Di dalam kamar, Kevin tidur sambil senyum lebar.

Di kosan sempitnya, Nadia buka HP, buka chat Kevin,

dan tanpa sadar ngetik:

Nadia:

Besok gue yang nunggu di gate jam 7.15.

Lo jangan macem-macem demam lagi.

Titik.

Lalu dia kirim, langsung matiin HP, teriak ke bantal:

“YA TUHAN AKU NGAPAIN SIH INI?!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 87

    Malam turun lebih cepat dari biasanya.Lampu-lampu taman kampus menyala satu per satu, namun cahaya kuningnya yang temaram tidak mampu mengusir rasa berat yang menggantung di udara. Nadia duduk di bangku kayu fakultas, lututnya ditarik rapat ke dada. Tatapannya kosong, tertuju pada kolam kecil yang airnya tampak mati, nyaris tak bergerak sedikit pun.Telapak tangannya masih terasa… berdenyut.Bukan rasa sakit fisik, bukan pula rasa panas. Melainkan seperti sisa gema dari sebuah energi yang seharusnya tidak ia miliki. Sensasi itu terus bergetar, seolah memperingatkannya bahwa ia baru saja melewati batas yang terlarang.Kevin berdiri beberapa langkah di belakangnya, bersandar pada batang pohon besar yang kokoh. Ia mencoba terlihat santai dengan menyilangkan tangan, namun napasnya belum sepenuhnya stabil. Pukulan terakhir yang ia lepaskan di gedung tadi ternyata menguras lebih banyak energi daripada yang ia perkirakan.“Kau oke?” tanya Kevin akhirnya. Suaranya rendah, memecah kesunyian y

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 86

    Kampus tidak pernah terasa setegang ini.Langit masih betah dengan mendungnya, namun udara terasa jauh lebih berat—seperti tekanan atmosfer sesaat sebelum badai besar meluluhlantakkan segalanya. Mahasiswa berlalu-lalang seperti biasa; tertawa, mengeluh soal tugas, atau memikirkan hal-hal sepele. Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa tepat di bawah permukaan rutinitas yang membosankan itu, sesuatu yang purba sedang merayap.Dan Nadia bisa merasakannya.Bukan seperti sinyal mekanis dari sistem Astraea yang lama. Bukan pula tarikan paksa yang menyakitkan. Ini lebih seperti… sebuah tekanan. Layaknya berat air yang menekan gendang telinga saat menyelam terlalu dalam.“Kevin,” bisik Nadia saat mereka melewati lorong fakultas yang mulai sepi. “Mereka sudah di sini.”Kevin tidak menoleh secara drastis, namun langkahnya otomatis melambat setengah detik—jarak yang cukup bagi pria itu untuk menyesuaikan posisi tubuhnya guna melindungi Nadia.“Berapa orang?” bisiknya hampir tak terdengar.Nadi

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 85

    Efeknya tidak datang seperti ledakan besar yang mengguncang bumi.Ia datang seperti rangkaian kesalahan kecil yang terus diabaikan—sampai semua orang tersadar bahwa fondasi realita telah bergeser, dan tidak ada jalan untuk kembali.Pagi itu, frekuensi berita nasional mendadak kacau. Di layar televisi, seorang presenter tersenyum ramah, membaca naskah dengan intonasi stabil—lalu tiba-tiba ia mematung. Matanya menatap kosong ke arah kamera, satu detik terlalu lama, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa.“Maaf,” ucapnya akhirnya sambil tertawa kecil yang terdengar ganjil. “Teksnya… hilang begitu saja.”Di belahan kota lain, sistem kendali lalu lintas Jakarta mendadak kehilangan logika. Lampu hijau menyala di semua arah selama tiga puluh detik penuh, menciptakan simfoni klakson dan derit rem yang memekakkan telinga, sebelum akhirnya seluruh sistem mati total. Di rumah sakit-rumah sakit besar, monitor pasien berhenti bersinkronisasi; bukan karena kerusakan perangkat, melainkan karena pola

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 84

    Gelap.Bukan jenis gelap yang menenangkan, bukan pula sunyi seperti tidur tanpa mimpi. Kegelapan ini… berisik.Nadia merasa dirinya terombang-ambing di sebuah ruang tanpa arah. Tidak ada atas, tidak ada bawah. Hanya ada denyut konstan—seperti gema detak jantung raksasa yang tidak sinkron. Setiap denyut itu membawa rasa nyeri yang ganjil. Rasa sakit yang tidak menyerang tubuh fisiknya, melainkan merobek ingatannya.Tiba-tiba, potongan-potongan visual yang bukan miliknya membanjiri kesadaran Nadia.Ruangan putih yang steril. Tabung kaca yang dingin. Sosok Kevin… yang jauh lebih muda. Kevin yang tampak terlalu tenang, terlalu patuh, seolah jiwanya sudah dikosongkan.“Ini bukan aku…” bisik Nadia, namun suaranya tenggelam dalam kebisingan frekuensi.Lalu, sebuah suara menembus kekacauan itu. Pecah, penuh tekanan, namun sangat familiar. —Nadia. Dengar gue.Kevin. Suara itu tidak masuk melalui telinga, melainkan bergema langsung dari dalam inti kesadarannya.“Aku di mana?” balas Nadia—atau s

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 83

    Pagi datang tanpa membawa rasa lega.Nadia terbangun dengan kelopak mata yang sembab dan kepala yang terasa seberat timah, seolah tidur semalam hanyalah perpanjangan dari mimpi buruk yang nyata. Langit di balik jendela berwarna abu-abu kusam; mendung menggantung rendah seperti beban raksasa yang hanya tinggal menunggu waktu untuk jatuh menghantam bumi.Ia bangkit perlahan, menatap ponsel yang tergeletak bisu di atas meja. Tidak ada pesan baru. Justru kesunyian itulah yang membuat dadanya terasa semakin sesak, mencekik setiap oksigen yang mencoba masuk.Nadia menarik napas panjang, mencoba berdiri—namun tiba-tiba, dunianya bergeser.Bukan serangan yang deras. Bukan pula gelombang yang menyeluruh. Hanya sebuah getaran kecil yang sangat spesifik dalam kesadarannya. Kevin.Bukan rasa sakit yang ia rasakan dari Kevin. Bukan pula bahaya fisik. Melainkan sebuah… jarak. Perasaan seolah sesuatu yang terikat kuat mulai merenggang dan menjauh.Nadia membeku. “Kevin…” bisiknya lirih.Kevin berdir

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 82

    Malam turun tanpa suara.Tidak ada hujan kali ini. Tidak ada angin yang berembus. Kota justru terasa terlalu tenang, jenis ketenangan yang tidak wajar, seperti napas yang tertahan terlalu lama di bawah air. Nadia duduk di tepi ranjang kosnya yang sempit. Lampu kamar sengaja ia matikan; hanya cahaya dari ponsel di genggamannya yang berpendar redup, menyinari wajahnya yang kuyu.Nama Kevin masih terpampang di layar.Mereka baru saja berpisah satu jam yang lalu. Pertemuan itu tidak diakhiri dengan pertengkaran hebat, pun tidak ada kata-kata perpisahan yang puitis. Justru kesunyian dan pengertian yang dipaksakan itulah yang terasa menyayat.Nadia menghela napas panjang, mengunci layar ponselnya, lalu memejamkan mata. Dan dunia… kembali mengetuk jiwanya.Namun kali ini, rasanya berbeda. Bukan lagi arus luas yang menghanyutkan, bukan pula gelombang kota yang menderu. Melainkan titik-titik kecil yang tajam—terlalu banyak, bergerak terlalu cepat.Ia bisa merasakan seorang anak kecil yang meng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status