Mag-log inPagi berikutnya, jam 7.10.
Nadia sudah berdiri di depan gate kampus. Payung kecil biru tua di tangan, tas ransel usang di punggung, dan jantung yang deg-degan nggak karuan. Gila. Gue beneran nungguin dia ya? Orang yang kemarin gue bilang “jangan ganggu aku lagi” kok sekarang gue yang dateng duluan? Dia mondar-mandir kecil di trotoar, sesekali buka HP, liat chat terakhirnya sendiri yang dikirim jam 1 malam karena nggak bisa tidur: Nadia: Besok gue yang nunggu di gate jam 7.15. Lo jangan macem-macem demam lagi. Titik. Kevin belum bales apa-apa. Mungkin masih tidur karena obat demam. Hujan rintik-rintik kecil. Nadia buka payungnya, pura-pura sibuk scroll HP sambil ngintip ke arah jalan raya. Jam 7.18. Mobil Porsche midnight blue Kevin muncul dari kejauhan. Supirnya turunin Kevin di depan gate, cowok itu langsung lari kecil sambil bawa… payung polos 15 ribu dari Indimaret, warna hijau neon yang norak banget. Nadia langsung ngakak kecil sendiri pas liat itu. Kevin berhenti tepat di depan Nadia, napas agak ngos-ngosan karena lari. “Pagi, Nad,” katanya sambil senyum lebar. Muka masih agak pucat sisa demam, tapi mata abu-abunya berbinar banget. “Lo beneran nungguin gue?” Nadia buru-buru buang muka, pura-pura cuek. “Nggak. Kebetulan lewat.” Kevin ketawa kecil. “Oh. Padahal gue udah beli payung 15 ribu sesuai janji.” Dia buka payung hijau neon itu, langsung angkat tinggi-tinggi di atas kepala mereka berdua. Payungnya gede, muat dua orang dengan longgar. Tapi Kevin sengaja berdiri agak deket, bahunya senggol bahu Nadia lagi. Sepanjang jalan ke gedung fakultas, mereka ngobrol… ngobrol beneran. “Beneran lo beli payung segini doang?” tanya Nadia sambil nyengir. “Iya. Gue takut lo bilang matre lagi,” jawab Kevin polos. “Gue bahkan bayar cash biar nggak keliatan kaya.” Nadia ngakak. “Lo emang bodoh.” “Tapi bodoh yang lo tungguin pagi ini,” balas Kevin cepet. Nadia langsung merah, buru-buru diam. Mereka masuk foyer gedung fakultas bareng, payung hijau neon masih di tangan Kevin. Banyak mata yang melotot liat mereka. Clarissa, Bella, Tasha, dan Lily lagi ngumpul di deket vending machine. Mulut mereka langsung menganga. “ITU SIAPA YANG BARENG KEVIN???” jerit Clarissa pelan. “Itu… itu cewek kantin kemarin kan?!” bisik Bella. Mereka langsung ambil HP, foto diam-diam. Kevin nggak peduli. Dia malah berhenti di depan kelas, balik badan ke Nadia. “Besok gue yang nunggu lagi ya?” Nadia angguk kecil. “Terserah.” Lalu dia masuk kelas duluan, muka merah sampe telinga. Kevin senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Sepanjang hari itu, kampus rame. Grup WA “UNE Freshy Hunt 2025” meledak: [Foto Kevin + Nadia bareng payung hijau neon] “INI SIAPA WOI” “CEWEK BEASISWA ITU YA TUHAN” “Clarissa pasti marah bangettt” “Kevin digoda Clarissa aja cuek, kok sama cewek biasa ini malah mesra??” Clarissa beneran marah. Dia langsung bikin grup baru: “Anti Nadia Squad” isi dia, Bella, Tasha, Lily. Clarissa: Kita harus cari tahu siapa cewek ini. Bella: Gue denger dia anak beasiswa, miskin banget katanya. Tasha: Pasti matre. Lily: Kita harus kasih pelajaran. Siang hari, kantin. Nadia lagi makan nasi kotak sendirian di pojok biasa. Tiba-tiba Clarissa cs dateng, duduk di meja Nadia tanpa diundang. “Hai… Nadia kan?” Clarissa senyum manis banget, tapi matanya kayak ular. Nadia angkat kepala. “Iya. Ada apa?” “Kamu deket sama Kevin ya sekarang?” tanya Bella langsung. Nadia nyengir sinis. “Kenapa? Lo semua pacarnya?” Clarissa ketawa kecil. “Bukan. Cuma ngingetin aja. Kevin tuh orangnya gampang bosen. Dia suka main-main sama cewek biasa buat sensasi. Abis itu dibuang.” Nadia nggak goyah. “Oh. Makasih infonya. Tapi gue nggak butuh.” Dia berdiri, ambil tray-nya, pindah meja. Clarissa cs melotot. Malamnya, Nadia cerita ke ibunya lewat telpon. “Mam, ada cowok yang… agak ngeselin tapi baik.” “Siapa Nak? Jangan-jangan anak orang kaya lagi yang mau mainin kamu.” Nadia diam. “Mungkin.” Di sisi lain, Kevin lagi di penthouse, lagi meeting sama Ray dan Dito. “Lo beneran serius sama Nadia?” tanya Ray. “Serius banget.” “Lo tau kan Clarissa cs lagi kesel?” kata Dito sambil makan keripik. “Mereka bisa jahat loh.” Kevin cuma senyum. “Gue nggak peduli.” Hari berikutnya, Kevin mulai “operasi taklukin Nadia level pro”. Pagi: nunggu di gate, bawa dua gelas kopi susu dari Starbucks — satu biasa, satu less sugar karena dia tau Nadia nggak suka manis banget. Siang: diam-diam taruh catatan kecil di loker Nadia: “Nasi kotak lo pasti dingin lagi. Nih gue beliin roti bakar keju dari kantin. Makan ya – Orang yang lo tungguin kemarin.” Sore: pas kelas kelompok Ekonomi Makro, Kevin sengaja pindah kelompok biar satu kelompok sama Nadia. “Sekarang kita satu kelompok ya, Nad,” katanya sambil nyengir. Nadia melotot. “Lo ngatur dosen?!” “Iya. Gue donasi buat lab baru.” Nadia cuma geleng-geleng kepala, tapi sudut bibirnya naik sedikit. Malam hari, chat mereka mulai panjang. Kevin: Lo udah makan malam belum? Nadia: Udah. Mie apa lagi. Kevin: Besok gue jemput ya, makan bareng. Nadia: Nggak usah. Kevin: Gue bawa mobil jelek aja, Avanza butut punya supir gue. Biar lo nggak malu. Nadia: …Lo emang nggak ada capenya ya? Kevin: Capek iya, tapi buat lo nggak. Nadia senyum-senyum sendiri di kos. Hari Sabtu, akhir pekan pertama. Kevin nekat. Kevin: Nad, besok minggu. Kosong kan? Nadia: Iya kenapa? Kevin: Gue jemput jam 9 pagi. Kita jalan. Nadia: Ke mana? Kevin: Rahasia. Pakai baju santai aja. Nadia bingung setengah mati. Akhirnya bales: Oke. Minggu pagi, jam 8.55. Bukan Porsche yang dateng ke depan kosan Nadia di pinggiran Jakarta Selatan. Tapi… Avanza silver tua tahun 2012, baret-baret kecil di bumper. Kevin turun dari kursi supir sendiri (dia yang nyetir), pakai kaos polos abu-abu, celana jeans sobek lutut, sepatu Converse usang. Nadia keluar kos, melotot. “Itu beneran mobil lo?” Kevin nyengir. “Pinjem punya Pak Ujang supir gue. Biar lo nyaman.” Nadia naik mobil, masih bingung. Mereka jalan ke… pasar tradisional deket situ. “Lo ngajak gue ke pasar?” tanya Nadia. “Iya. Lo kan biasa belanja di sini sama mama lo. Gue mau belajar.” Nadia ngakak. “Lo? Belanja di pasar? Lo pernah pegang uang 10 ribu nggak?” Kevin cuma senyum. Mereka turun. Kevin bawa keranjang anyaman, Nadia yang ngarahin. “Ambil tomat yang merah ya, jangan yang busuk.” Kevin ambil tomat, tapi salah ambil yang setengah busuk. Nadia ketawa ngakak. “Kamera mana? Gue rekam buat bukti Kevin Aprilio Cathy nggak bisa bedain tomat!” Kevin malah foto selfie bareng Nadia di depan tumpukan sayur. “Eh jangan!” Nadia coba tutup muka. “Tapi lo cantik banget pas ketawa gini.” Nadia langsung merah. Mereka belanja banyak: sayur, ikan, telor, sampe penjualnya bingung liat cowok ganteng banget kok belanja murah. Total belanja: 87 ribu. Kevin bayar pake uang cash dari dompet kulit yang jelas mahal, tapi dia pura-pura biasa aja. Abis itu mereka duduk di warung makan pinggir pasar, makan soto ayam 15 ribu per mangkok. Kevin makan lahap banget. “Enak ya?” tanya Nadia. “Enak banget. Lebih enak dari restoran bintang 5.” Nadia diam, liat Kevin yang lagi nyeruput kuah soto. Ini beneran Kevin Aprilio Cathy yang aset keluarganya triliunan? Sore harinya, Kevin anter Nadia pulang. Pas mobil berhenti di depan kosan, hujan deras tiba-tiba turun. Mereka berdua di dalam mobil, diam. Kevin matiin AC, buka sedikit kaca biar suara hujan masuk. “Nad.” “Iya?” “Gue suka banget hari ini.” Nadia diam. “Gue nggak bohong. Gue nggak pernah seneng gini sama siapa-siapa.” Nadia tatap Kevin. Matanya mulai basah. “Lo tau nggak, Kevin? Gue takut.” “Takut apa?” “Takut lo cuma lagi sensian. Takut besok lo bosen. Takut… gue jatuh cinta beneran, terus lo pergi.” Kevin pelan-pelan deketin tangannya, genggam tangan Nadia. “Gue nggak akan pergi. Gue janji.” Lalu dia deketin muka. Nadia nggak mundur. Jarak mereka tinggal 5 cm. Detik berikutnya… HP Nadia bunyi. Notif WA dari nomor baru: “Lo pikir lo pantas sama Kevin? Cewek miskin kayak lo cuma mainan. – C” Nadia langsung mundur, buka chat itu. Ada foto dia sama Kevin di pasar tadi, diedit jadi Nadia keliatan matre banget. Kevin liat, mukanya langsung gelap. “Clarissa.” Nadia tarik napas panjang. “Antar gue pulang sekarang.” “Nad—” “Sekarang, Kevin.” Kevin nurut. Sepanjang jalan pulang, Nadia diam. Pas sampai kosan, Nadia turun tanpa ngomong apa-apa. Kevin cuma bisa liat Nadia masuk kamar, nutup pintu keras. Malam itu, chat Kevin nggak dibales. Nadia lagi nangis di kosan. Ibu telpon. “Nak, kamu kenapa?” “Aku takut, Mam. Aku takut jatuh cinta sama orang yang nggak mungkin.” Di penthouse, Kevin lagi marah besar. Dia telpon Clarissa. “Lo ngapain kirim pesan ke Nadia?!” Clarissa ketawa di ujung sana. “Biar dia sadar diri aja, Vin. Dia nggak level sama kita.” “Lo nggak ngerti apa-apa, Clar. Gue suka Nadia. Beneran suka.” Clarissa diam. “Kalau lo ganggu dia lagi, gue bakal bikin lo nyesel seumur hidup.” Kevin matiin telpon. Lalu dia buka chat Nadia, ngetik panjang: Kevin: Nad, maaf. Ini salah gue. Gue yang bikin lo kena masalah. Tapi tolong… jangan pergi. Gue beneran sayang sama lo. Bukan main-main. Nadia baca pesan itu jam 2 malam. Dia nangis lagi. Tapi kali ini… dia bales: Nadia: Besok ketemu di kampus. Kita bicara.Kereta melaju membelah pagi yang pucat.Nadia duduk di dekat jendela, dahi menempel pada kaca yang dingin. Kota bergeser pelan di luar sana—gedung-gedung kusam, perumahan padat, hingga papan reklame yang warnanya mulai pudar. Semuanya terasa jauh, seolah ia sedang menonton potongan film tentang hidup orang lain. Ransel di pangkuannya ia peluk erat-erat, bukan karena isinya yang berat, tapi karena benda itu adalah satu-satunya hal yang masih memberinya rasa nyata di tengah dunia yang mulai terasa semu.Begitu ia menjauh dari Kevin, tubuhnya memang terasa lebih ringan secara fisik. Tekanan atmosfer yang biasanya menghimpit paru-parunya seolah menguap.Namun, ringan itu menipu.Detak jantungnya mulai kehilangan ritme. Kadang berdegup terlalu cepat hingga ia sesak napas, kadang melambat seolah lupa cara berdetak. Di sela-sela itu, ada jeda sunyi yang panjang dalam kesadarannya—jenis kesunyian hampa yang membuatnya takut akan dirinya sendiri.“Aku baik-baik saja,” bisiknya, lebih kepada me
Pagi datang tanpa membawa kehangatan.Cahaya matahari yang pucat menyelinap lewat celah tirai kosan, jatuh tepat di wajah Kevin yang masih terlelap di atas kasur. Napasnya tidak lagi terengah, tapi terlalu dangkal—seperti tubuh yang hanya beristirahat karena dipaksa oleh kelelahan ekstrem, bukan karena ketenangan.Nadia duduk di kursi belajar, punggungnya tegak kaku dengan bahu yang tegang. Ia sudah terjaga sejak subuh. Bukan karena mimpi buruk, melainkan karena sebuah pikiran yang terus berputar di kepalanya, menolak untuk berhenti hingga ia mengambil keputusan.Nadia menatap Kevin cukup lama. Ia menghafal setiap detail: helai rambutnya yang berantakan, garis rahangnya yang tegas, hingga bekas luka kecil di alis yang dulu sering ia anggap sebagai bumbu ketampanan Kevin.Kalau aku terus berada di sini...Dadanya mengencang, rasa sesak yang hampir membuatnya sulit bernapas.Dia akan terus menjadi perisai. Dia akan hancur demi melindungiku dari badai yang aku bawa sendiri.Nadia menundu
Hujan turun malam itu tanpa aba-aba.Bukan badai yang menderu, melainkan rintik panjang yang konsisten, membuat atmosfer kampus terasa kian dingin dan sunyi. Nadia duduk di dalam mobil Kevin, jari-jarinya saling bertautan dengan gelisah di atas pangkuan. Wiper bergerak ritmis, menyapu kaca depan berulang-ulang, seolah sedang berusaha membersihkan sesuatu yang tak kasat mata yang terus menghalangi pandangan mereka.Kevin menyetir dengan satu tangan. Tangan satunya lagi… gemetar hebat.Nadia telah memperhatikannya sejak lima menit yang lalu, dan dadanya terasa kian sesak melihat pemandangan itu.“Kevin,” ucapnya akhirnya. Pelan, namun penuh penekanan. “Berhenti.”Kevin tidak menjawab. Fokusnya seolah terkunci pada aspal basah di depan.“Nepi, Kevin!” ulang Nadia, kali ini ia memutar tubuhnya, menatap Kevin dengan tatapan menuntut.Mobil melambat secara bertahap, lalu menepi dengan kasar di bawah temaram lampu jalan yang berkedip. Mesin tetap menyala, mengeluarkan dengung halus yang kont
Malam turun lebih cepat dari biasanya.Lampu-lampu taman kampus menyala satu per satu, namun cahaya kuningnya yang temaram tidak mampu mengusir rasa berat yang menggantung di udara. Nadia duduk di bangku kayu fakultas, lututnya ditarik rapat ke dada. Tatapannya kosong, tertuju pada kolam kecil yang airnya tampak mati, nyaris tak bergerak sedikit pun.Telapak tangannya masih terasa… berdenyut.Bukan rasa sakit fisik, bukan pula rasa panas. Melainkan seperti sisa gema dari sebuah energi yang seharusnya tidak ia miliki. Sensasi itu terus bergetar, seolah memperingatkannya bahwa ia baru saja melewati batas yang terlarang.Kevin berdiri beberapa langkah di belakangnya, bersandar pada batang pohon besar yang kokoh. Ia mencoba terlihat santai dengan menyilangkan tangan, namun napasnya belum sepenuhnya stabil. Pukulan terakhir yang ia lepaskan di gedung tadi ternyata menguras lebih banyak energi daripada yang ia perkirakan.“Kau oke?” tanya Kevin akhirnya. Suaranya rendah, memecah kesunyian y
Kampus tidak pernah terasa setegang ini.Langit masih betah dengan mendungnya, namun udara terasa jauh lebih berat—seperti tekanan atmosfer sesaat sebelum badai besar meluluhlantakkan segalanya. Mahasiswa berlalu-lalang seperti biasa; tertawa, mengeluh soal tugas, atau memikirkan hal-hal sepele. Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa tepat di bawah permukaan rutinitas yang membosankan itu, sesuatu yang purba sedang merayap.Dan Nadia bisa merasakannya.Bukan seperti sinyal mekanis dari sistem Astraea yang lama. Bukan pula tarikan paksa yang menyakitkan. Ini lebih seperti… sebuah tekanan. Layaknya berat air yang menekan gendang telinga saat menyelam terlalu dalam.“Kevin,” bisik Nadia saat mereka melewati lorong fakultas yang mulai sepi. “Mereka sudah di sini.”Kevin tidak menoleh secara drastis, namun langkahnya otomatis melambat setengah detik—jarak yang cukup bagi pria itu untuk menyesuaikan posisi tubuhnya guna melindungi Nadia.“Berapa orang?” bisiknya hampir tak terdengar.Nadi
Efeknya tidak datang seperti ledakan besar yang mengguncang bumi.Ia datang seperti rangkaian kesalahan kecil yang terus diabaikan—sampai semua orang tersadar bahwa fondasi realita telah bergeser, dan tidak ada jalan untuk kembali.Pagi itu, frekuensi berita nasional mendadak kacau. Di layar televisi, seorang presenter tersenyum ramah, membaca naskah dengan intonasi stabil—lalu tiba-tiba ia mematung. Matanya menatap kosong ke arah kamera, satu detik terlalu lama, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa.“Maaf,” ucapnya akhirnya sambil tertawa kecil yang terdengar ganjil. “Teksnya… hilang begitu saja.”Di belahan kota lain, sistem kendali lalu lintas Jakarta mendadak kehilangan logika. Lampu hijau menyala di semua arah selama tiga puluh detik penuh, menciptakan simfoni klakson dan derit rem yang memekakkan telinga, sebelum akhirnya seluruh sistem mati total. Di rumah sakit-rumah sakit besar, monitor pasien berhenti bersinkronisasi; bukan karena kerusakan perangkat, melainkan karena pola







