แชร์

Bab 80

ผู้เขียน: Anju
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-11 17:11:35

Pagi tiba dengan langit yang terlalu benderang.

Bukan jenis cerah yang menenangkan, melainkan binar yang terasa keliru seperti senyum lebar yang dipaksakan di tengah suasana berkabung. Di balik jendela kosnya, Nadia berdiri mematung.

Tirai yang terbuka separuh menyingkap pemandangan jalanan yang mulai berdenyut oleh orang-orang yang menjalani hidup tanpa tahu apa pun.

Nadia memejamkan mata. Dan dunia… menyambutnya.

Bukan lewat suara, bukan pula lewat bayangan. Melainkan melalui rasa.

Ia merasakan aliran kota layaknya arus listrik raksasa: kecemasan yang menggantung di halte bus, percikan amarah di balik kemudi mobil, hingga harapan tipis seorang ibu yang menggenggam erat tangan anaknya di zebra cross. Semuanya tumpah ruah, menekan kesadarannya seperti gelombang pasang yang tak terbendung.

Nadia terhuyung. Jemarinya mencengkeram ambang jendela hingga buku jarinya memutih. “Jangan… sekarang,” bisiknya parau.

Terlambat. Sesuatu mulai bergerak. Bukan menyerang dari luar ke dalam—melainka
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 80

    Pagi tiba dengan langit yang terlalu benderang.Bukan jenis cerah yang menenangkan, melainkan binar yang terasa keliru seperti senyum lebar yang dipaksakan di tengah suasana berkabung. Di balik jendela kosnya, Nadia berdiri mematung. Tirai yang terbuka separuh menyingkap pemandangan jalanan yang mulai berdenyut oleh orang-orang yang menjalani hidup tanpa tahu apa pun.Nadia memejamkan mata. Dan dunia… menyambutnya.Bukan lewat suara, bukan pula lewat bayangan. Melainkan melalui rasa.Ia merasakan aliran kota layaknya arus listrik raksasa: kecemasan yang menggantung di halte bus, percikan amarah di balik kemudi mobil, hingga harapan tipis seorang ibu yang menggenggam erat tangan anaknya di zebra cross. Semuanya tumpah ruah, menekan kesadarannya seperti gelombang pasang yang tak terbendung.Nadia terhuyung. Jemarinya mencengkeram ambang jendela hingga buku jarinya memutih. “Jangan… sekarang,” bisiknya parau.Terlambat. Sesuatu mulai bergerak. Bukan menyerang dari luar ke dalam—melainka

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 79

    Lampu-lampu di ruang latihan Astraea kembali ke intensitas normal, tapi rasa normal itu tidak pernah benar-benar kembali ke tubuh Nadia.Ia duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding dingin, lutut ditarik ke dada. Napasnya sudah teratur, tapi jantungnya masih berdetak dengan ritme yang asing—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja hampir runtuh.Elara muncul dari balik pintu samping. Tidak terburu-buru. Tidak panik. Wajahnya datar seperti biasa, tapi langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya.“Kamu dengar dia,” kata Elara, bukan bertanya.Nadia tidak langsung menjawab. Ia menatap lantai putih di depannya, garis tipis yang tadi menjadi pusat latihan kini terlihat seperti batas yang gagal menjalankan fungsinya.“Iya,” jawab Nadia akhirnya. “Dan dia… nggak bohong.”Elara berhenti dua langkah dari Nadia. “Kamu tidak punya dasar untuk memastikan itu.”Nadia mengangkat kepala. Tatapannya lelah, tapi jernih.“Aku punya,” katanya pelan. “Karena dia nggak memaksa.”Elara menghela

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 78

    Kevin baru sadar betapa sunyinya tempat itu ketika pintu besi di belakangnya tertutup rapat.Bukan sunyi biasa.Sunyi yang disengaja.Gudang tua di pinggiran kota itu tampak seperti bangunan terlantar dari luar, tapi begitu masuk, sistem keamanannya langsung terasa. Tidak ada kamera mencolok, tidak ada penjaga berseragam—justru itu yang membuatnya berbahaya.“Lo telat.”Suara itu datang dari sudut ruangan.Kevin menoleh.Seorang pria duduk di atas peti kayu, tubuhnya kurus, rambutnya mulai memutih meski usianya belum genap empat puluh. Jaketnya lusuh, tapi matanya tajam—terlalu tajam untuk seseorang yang sudah lama “hilang” dari radar.“Raka,” gumam Kevin.Pria itu tersenyum miring. “Masih inget nama gue. Berarti lo belum sepenuhnya jadi milik mereka.”Kevin melangkah mendekat, berhenti dua meter dari Raka. “Lo kabur tujuh tahun lalu.”“Bukan kabur,” jawab Raka santai. “Dilepas. Karena gue rusak.”Kevin mengernyit. “Rusak gimana?”Raka berdiri perlahan. “Gue bangun… tapi anchor gue ma

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 77

    Ruangan itu gelap.Bukan gelap karena tidak ada cahaya—melainkan karena cahaya sengaja dipatahkan. Lampu-lampu di langit-langit menyala setengah daya, cukup untuk melihat bentuk, tapi tidak cukup untuk memberi rasa aman.Seorang pemuda duduk di kursi logam di tengah ruangan.Tangannya tidak diikat.Kakinya bebas bergerak.Tapi ia tidak pergi.Matanya terbuka perlahan, pupilnya beradaptasi dengan cahaya pucat. Napasnya teratur, terlalu tenang untuk seseorang yang baru sadar.“Subjek A-17 aktif,” suara perempuan terdengar dari balik kaca satu arah. “Sinkronisasi berhasil dilewati.”Pemuda itu tersenyum kecil.“Jadi,” katanya pelan, suaranya serak tapi stabil, “ini dunia setelah bangun.”Tidak ada jawaban.Ia menunduk, menatap kedua telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya bergerak perlahan, seolah menguji realitas. Lalu ia tertawa lirih.“Aku bisa ngerasain kalian,” katanya. “Napas kalian. Detak jantung kalian.”Salah satu monitor di luar ruangan berkedip tidak stabil.“Respons emosional

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 76

    Pintu ruangan itu terbuka tanpa suara.Nadia melangkah keluar lebih dulu, wajahnya tenang, langkahnya stabil terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja menandatangani kesepakatan tak tertulis dengan kekuatan yang tidak ia pahami sepenuhnya.Kevin langsung berdiri tegak begitu melihatnya.“Nad.”Satu kata itu cukup untuk membuat pertahanan Nadia sedikit retak.Ia menoleh. Tatapan mereka bertemu di lorong putih yang dingin, dan selama satu detik dunia kembali terasa normal seperti tidak ada sistem, tidak ada anchor, tidak ada pilihan mustahil.Kevin menghampirinya cepat, tapi berhenti tepat satu langkah sebelum menyentuh.“Lo oke?” tanyanya rendah.Nadia mengangguk. “Masih.”Jawaban itu jujur. Dan justru karena itu menakutkan.Kevin menatap wajah Nadia lebih lama dari biasanya, seolah mencari retakan, tanda, apa pun yang tidak ia kenali. Tapi yang ia lihat hanyalah ketenangan baru—bukan ketenangan yang damai, melainkan ketenangan orang yang sudah menerima sesuatu yang tidak bisa dito

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 75

    Ruangan itu terasa lebih dingin setelah Nadia mengucapkan kalimat terakhirnya.“Ajari aku… atau menjauhlah.”Tidak ada yang langsung menjawab.Perempuan paruh baya itu—yang sejak tadi memegang kendali percakapan—menatap Nadia seolah sedang menilai sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar keberanian. Tatapannya bukan marah, bukan terancam. Lebih seperti… penasaran yang berbahaya.“Kamu tahu,” katanya akhirnya, suaranya tenang tapi penuh bobot, “kebanyakan anchor bahkan tidak sempat bicara seperti itu.”Pria muda di sebelahnya menyentuh tablet, mematikan diagram di layar. Cahaya redup kembali mendominasi ruangan.“Mereka biasanya runtuh lebih dulu,” lanjutnya. “Atau diselamatkan sebelum sadar apa yang terjadi.”Nadia tetap berdiri. Tangannya sedikit gemetar, tapi punggungnya tegak.“Kalau aku berdiri di sini,” katanya, “berarti aku bukan kebanyakan anchor.”Perempuan itu tersenyum tipis. “Benar.”Ia berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mengelilingi meja. Sepatunya tidak berbunyi—r

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status