MasukAeza menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia buru-buru turun dari ranjang, memungut pakaiannya. Dia kembali mengenakan pakaiannya. Akan tetapi karena lingerie tersebut sangat seksi, dia meraih kemeja Seven lalu memakainya ke tubuhnya.
"A-aku membatalkan rencana ini. Aku tidak bisa, Seven," ucap Aeza dengan mata berkaca-kaca sambil mengancing kemeja hitam milik Seven yang sudah ia pakai di tubuhnya, "Papaku mencintaiku, menjagaku, dan melindungiku. Aku tidak mau melakukan ini. Karna ini sama saja aku melempar kotoran ke wajah Papaku," lanjutnya sambil menangis. "Baiklah, Nyonya. Kuhargai keputusan Nyonya," jawab Seven, menghela napas lega lalu menganggukkan kepala. Setelah mengenakan kemeja tersebut, Aeza langsung keluar dari kamarnya. Dia berlari cepat untuk menemui suaminya. Seven sendiri, dia mengenakan celananya lalu buru-buru keluar dari kamar tersebut. Namun, dia terlebih dahulu ke kamarnya yang ada di bangunan belakang rumah ini, untuk mengambil baju. *** Ceklek' Aeza membuka pintu ruang kerja suaminya secara paksa–tanpa mengetuk terlebih dahulu, memperlihatkan suaminya yang tengah bekerja, bersama dengan seorang perempuan yang tak lain adalah sekretaris sang suami. "Ck, Aeza." Wajah Lucas kaget, akan tetapi ekspresi itu seketika lenyap saat melihat Aeza lah yang membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, "lain kali ketuk pintu sebelum masuk ke sini. Tidak punya sopan!" "Mas Lucas," cicit Aeza parau, air matanya sudah membasahi pipi. Dia bergegas menghampiri suaminya lalu menjatuhkan diri–duduk di lantai sambil menempelkan kening ke lutut Lucas. Aeza sama sekali tidak peduli pada raut marah suaminya. Hatinya saat kacau dan dia ingin suaminya memahaminya. "Maafkan aku, Mas." "Maaf?" Lucas mengerutkan kening, menatap aneh pada Aeza. Tak lama, Seven dan kepercayaan pribadi Lucas datang secara bersamaan ke ruangan itu. Keduanya masuk tanpa mengetuk pintu karena pintu ruangan Lucas sedang terbuka lebar. "Seven, apa yang terjadi pada istriku?" tanya Lucas saat Seven sudah berada tak jauh darinya. "Ah, Tuan, itu …-" Seven mengedipkan mata berulang kali, tak tahu harus mengatakan apa. Lucas mengerutkan kening, menatap lekat pada Seven. Lalu dia beralih menatap istrinya, mengamati tubuh Aeza yang ternyata mengenakan kemeja hitam. Jelas itu bukan kemejanya karena dia tidak punya kemeja hitam, dia kurang suka warna hitam. Ini kemeja Seven? 'Apa mereka sudah berhasil tidur bersama? Kenapa hatiku panas melihat tubuh Aeza mengenakan kemeja Seven? Seharusnya ini menjadi pertanda baik untukku, karena ini bukti kalau Seven dan Aeza sudah bercinta.' batin Lucas, mencoba menetralkan rasa panas dan marah yang bergejolak di hatinya. "Mas, a-aku tidak bisa melakukan rencanamu, Mas. A-aku benar-benar tidak sanggup," cicit Aeza dengan nada gemetar. Dia sesenggukan, menangis sambil mendongak–memohon pada suaminya. "Apa?!" Mata Lucas melebar, terlihat marah, "jadi kau dan Seven belum melakukannya?!" teriak Lucas marah. "A-aku benar-benar tidak bisa, Mas. Aku merasa bersalah dan berdosa, Mas!" tangis Aeza, terus memperlihatkan mata yang memancar kesedihan pada suaminya. Dia berharap Lucas iba padanya lalu menghentikan rencana gila ini. "Ck!" Lucas berdecak kesal, "itu berarti kau tidak mencintaiku. Kau memang sungguh ingin bercerai denganku yah, Aeza? Oke, baiklah," dingin Lucas, melayangkan tatapan tajam pada Aeza. "Aku sama sekali tidak ingin bercerai dengan Mas Lucas." Aeza menggelengkan kepala secara lemah. "Jika memang begitu, kau pasti bersedia melakukannya," kesal Lucas. "Mas, tapi ini salah. Aku akan melakukan apapun agar kita tetap bersama. Kecuali mempertaruhkan martabatku sebagi perempuan, istri, dan seorang putri. Aku mencintai Mas Lucas, aku salau ingin bersamamu. Tapi … Papaku … dia segalanya untukku, Mas. Papaku membesarkanku seorang diri, dia mengajarkanku nilai cinta dan moral, dia selalu menegaskan padaku jika perempuan itu sangat berharga, dia melindungiku, dia membuatku menjunjung tinggi sebuah kehormatan dan martabat. Jadi …-" Aeza menggelengkan kepala, "aku tidak bisa, Mas. Aku tidak bisa melukai Papaku dengan cara mengkhianati didikannya." Semua orang di dalam ruangan itu terdiam mendengar ucapan Aeza. Diam-diam Seven senyum tipis, menatap Aeza dengan manik berbinar-binar. Entah kenapa, ada perasaan bangga yang menyelinap masuk dalam hatinya saat mendengar ucapan Aeza. "Berarti kau lebih mencintai Papamu dibandingkan aku, Sayang?" ucap Lucas tiba-tiba dengan nada pelan, terkesan sedih dan kecewa. Aeza menggeleng lemah. "Aku mencintai Mas Lucas, dan itu berbeda dengan cinta yang kupunya untuk Papa. Tolong, Mas, tolong jangan paksa aku melakukan rencana gila ini. Hiks … a-aku benar-benar tidak sanggup. Suamiku itu Mas Lucas, bukan Seven. Jadi aku merasa berkhianat ji-jika harus melakukan 'itu dengan Seven. A-aku merasa berdosa bila harus melakukan 'itu dengan pria yang bukan suamiku. Pliss …." Aera terus memohon, menjatuhkan kepala ke lutut Lucas dan menangis sejadi-jadinya di sana. Lucas langsung memalingkan wajah, menampilkan ekspresi datar yang kentara jelas terlihat. Tidak bisa dibiarkan! Jika Aeza tak hamil dalam satu tahun ini, maka dia bisa kehilangan semuanya. "Andai saja aku tidak seperti ini, mungkin aku tidak akan memaksamu melakukan ini, Sayang," ucap Lucas datar, menyimpan kekecewaan mendalam. Aeza seketika menundukkan kepala saat mendengar ucapan suaminya. Hatinya menjadi perih, merasa bersalah karena lagi-lagi suaminya mengungkit masalah kecelakaan. "Tuan, izinkan saya berbicara," ucap Cleo Moris secara tiba-tiba. Dia adalah kepercayaan Lucas. Meskipun masih satu tahun bekerja dengan Lucas, akan tetapi Cleo sangat setia dan selalu berhasil membantu Lucas. "Humm." Lucas berdehem singkat sebagai jawaban. "Bagiamana jika Tuan menceraikan Nyonya lalu setelah itu Nyonya menikah dengan Seven?" usul Cleo, sontak membuat semua orang di ruangan tersebut menatap terkejut padanya."Aku akan memilikimu sepenuhnya, Nyonya. Aku … akan merebutmu dari Tuan Lucas," ucap Seven tegas tetapi setelah itu memperlihatkan senyum lembut pada Aeza. Namun, sekalipun senyuman itu terlihat manis, tetapi Aeza merinding dan ketakutan melihatnya. Seperti ada maksud tertentu dari senyuman Seven. "Se-Seven, kamu … berkhianat pada suamiku?" Aeza buru-buru beringsut ke kepala ranjang saat Seven mendekat dan mengikis jarak dengannya. "Bukan." Seven menjawab cepat, "lebih tepatnya mempertahankanmu sebagai istriku, Nyonya. Selamanya!" lanjut Seven. Setelah berada dekat dengan Aeza, Seven meraih dagu perempuan itu–menahannya supaya Aeza tidak memalingkan wajah darinya. "Se-Seven, itu saja kamu berkhianat," pekik Aeza. Jantung mulai berdebar kencang dan tubuh gemetar karena ketakutan. Pria ini terang-terangan berkhianat pada suami Aeza! "Dibandingkan majikan, Istri lebih utama." Seven berkata serak, mendekatkan wajah ke arah Aeza, "apa yang kulakukan padamu adalah bentuk kes
"Apa kau gila?!" marah Lucas. "A-apa?" Aeza melebarkan mata, menatap shock pada Cleo. "Tuan, dengarkan penjelasan saya." Cleo berkata cepat, "maksud saya, jika Tuan menceraikan Nyonya, maka Nyonya bisa menikah dengan Seven dan Nyonya bisa melakukan hubungan suami istri dengan Seven tanpa harus merasa berdosa dan berkhianat pada suaminya. Nyonya tidak melanggar pemahamannya pada ikatan suami istri dan tidak menyalahi apapun. Nanti setelah Nyonya hamil, Nyonya bisa bercerai dengan Seven lalu setelah itu kembali pada Tuan." "Ck, aku menghindari perceraian dan kau menjadikan perceraian sebagai solusinya. Benar-benar kau ini!" kesal Lucas pada Cleo. "Tuan, menurutku saran dari Cleo ada benarnya," ucap sekretaris Lucas, tersenyum tipis pada Lucas, "Nyonya sangat menjunjung tinggi sebuah ikatan dan jelas dia tidak akan terima kalau harus melakukan itu dengan pria yang bukan suaminya. Jadi lebih baik Nyonya menikah terlebih dahulu dengan Seven. Untungnya … anak yang Nyonya kandun
Aeza menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia buru-buru turun dari ranjang, memungut pakaiannya. Dia kembali mengenakan pakaiannya. Akan tetapi karena lingerie tersebut sangat seksi, dia meraih kemeja Seven lalu memakainya ke tubuhnya. "A-aku membatalkan rencana ini. Aku tidak bisa, Seven," ucap Aeza dengan mata berkaca-kaca sambil mengancing kemeja hitam milik Seven yang sudah ia pakai di tubuhnya, "Papaku mencintaiku, menjagaku, dan melindungiku. Aku tidak mau melakukan ini. Karna ini sama saja aku melempar kotoran ke wajah Papaku," lanjutnya sambil menangis. "Baiklah, Nyonya. Kuhargai keputusan Nyonya," jawab Seven, menghela napas lega lalu menganggukkan kepala. Setelah mengenakan kemeja tersebut, Aeza langsung keluar dari kamarnya. Dia berlari cepat untuk menemui suaminya. Seven sendiri, dia mengenakan celananya lalu buru-buru keluar dari kamar tersebut. Namun, dia terlebih dahulu ke kamarnya yang ada di bangunan belakang rumah ini, untuk mengambil baju. *** Ceklek'
"Melakukan hubungan suami istri, seperti rencana suami Nyonya." Seven berkata pelan, senyum tipis pada Aeza yang terlihat semakin gugup, "atau kita batalkan saja? Sepertinya Nyonya memang benar-benar tidak ingin melanjutkan," lanjut Seven sambil menatap selimut yang menutupi tubuh Aeza. "A-aku bersedia." Aeza melepas selimut. Ah, entah kenapa tatapan Seven terasa berbahaya, mengintimidasi, dan cukup menakutkan. "Kalau kita batalkan, bagiamana dengan biaya berobat adikmu? Kasihan." Seven senyum tipis. "Nyonya sangat baik," ucapnya sambil berdiri dari ranjang. Dia melepas arloji lalu beralih melepas kemeja hitam yang membungkus tubuhnya secara bersemangat. Tubuh indah Aeza yang hanya berbalut lingerie seksi, membuat Seven cukup tak sabar untuk menyentuh perempuan ini. Ah, Seven benar-benar tidak bisa menolak tubuh ini, malah keraguannya pada ide gila majikannya hilang seketika setelah melihat tubuh seksi sang nyonya yang hanya mengenakan lingerie. "Nyonya bisa tutup mata." "U
"Sepertinya Nyonya terlalu mencintainya," ucap Seven dengan nada yang terkesan marah. Aeza menangkap suara marah itu, membuatnya mengerutkan kening–menatap lekat dan penuh selidik pada Seven. Bukan cuma suaranya, Aeza juga menyadari adanya kemarahan pada pancaran mata pria ini. Namun, kenapa Seven marah? Apa karena … tindakan Aeza ini terkesan seperti wanita rendahan jadi pria ini muak melihatnya? Dia menjijikkan? "Umm … namamu Seven kan?" tanya Aeza dengan nada pelan, mencoba mengabaikan ekspresi marah Seven. Seven menganggukkan kepala, lalu tanpa disuruh dia duduk di pinggir ranjang. Pria berwajah hancur tersebut menghadap Aeza, memandang Aeza dengan intens dan lekat. Itu membuat Aeza sangat kikuk. "Melihat wajah sembab Nyonya, kurasa Nyonya sehabis menangis. Apa Nyonya menyesali keputusan Nyonya untuk mengikuti rencana suami Nyonya?" tanya Seven kembali, tetapi kali ini suaranya terasa lebih lembut dan hangat. Aeza menggembungkan pipi, menatap campur aduk pada Seven
"Mas!" Aeza melebarkan mata, menatap tak percaya pada suaminya. "Kita sudah sepakat, Sayang." Lucas berkata sambil menatap lelah pada Aeza yang menurutnya plin-plan. Tadi setuju, sekarang kembali menolak. "Tapi tidak malam ini juga, Mas." Aeza menunjukkan ekspresi protes. Dia memang akhrinya setuju, tetapi kenapa harus di hari ini? Sungguh, Aeza belum siap. Bahkan dia masih gemetar hanya karena menyetujui ide gila suaminya. Apalagi jika nanti malam dia benar-benar menyerahkan tubuhnya pada pria lain, jantung Aeza mungkin bisa copot dari tempatnya. "Lebih cepat lebih baik, Aeza." Lucas berucap tegas, "semakin cepat kau hamil, maka itu samakin baik. Waktu kita hanya satu tahun. Itu waktu singkat, mengingat kehamilan bukan kehendak manusia. Kita hanya bisa berusaha agar kau secepatnya hamil." Wajah Aeza kembali dipenuhi kesedihan, dia menolah ke arah Seven–bodyguard pilihannya sendiri yang akan tidur dengannya. Bisakah dia membiarkan tubuhnya dijama oleh pria ini? Tuhan, mem







