Mag-log in"Melakukan hubungan suami istri, seperti rencana suami Nyonya." Seven berkata pelan, senyum tipis pada Aeza yang terlihat semakin gugup, "atau kita batalkan saja? Sepertinya Nyonya memang benar-benar tidak ingin melanjutkan," lanjut Seven sambil menatap selimut yang menutupi tubuh Aeza.
"A-aku bersedia." Aeza melepas selimut. Ah, entah kenapa tatapan Seven terasa berbahaya, mengintimidasi, dan cukup menakutkan. "Kalau kita batalkan, bagiamana dengan biaya berobat adikmu? Kasihan." Seven senyum tipis. "Nyonya sangat baik," ucapnya sambil berdiri dari ranjang. Dia melepas arloji lalu beralih melepas kemeja hitam yang membungkus tubuhnya secara bersemangat. Tubuh indah Aeza yang hanya berbalut lingerie seksi, membuat Seven cukup tak sabar untuk menyentuh perempuan ini. Ah, Seven benar-benar tidak bisa menolak tubuh ini, malah keraguannya pada ide gila majikannya hilang seketika setelah melihat tubuh seksi sang nyonya yang hanya mengenakan lingerie. "Nyonya bisa tutup mata." "Untuk apa?" tanya Aeza dengan suara sedikit gemetar. Seven sudah melepas kemejanya, memperlihatkan perut sispek yang seksi dan hot. Ditambah pundak lebar dan dada bidang pria ini, itu membuat Aeza merinding disko dan berkeringat dingin. 'Badannya sangat terawat. Pasti dia rajin berolahraga. Wow!' batin Aeza, tanpa sadar terus menatap perut Seven yang terlihat seperti roti sobek. "Wajahku buruk rupa, Nyonya. Mungkin Nyonya tidak akan nyaman memandangnya," ucap Seven tiba-tiba. Aeza terlonjak kaget, refleks menoleh dan kembali terkejut karena Seven sudah berada tepat di depannya. Astaga, bahkan jarak mereka sangat dekat. Itu membuat Aeza panas dingin. "Se-Seven …." Aeza mencicit pelan, gugup dan deg degkan sebab Seven berjarak sangat dekat dengannya. "Tutup mata Nyonya," bisik Seven pelan, menarik selimut lalu menjauhkannya. Setelah itu, dia perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Aeza. Aeza menganggukkan kepala, menutup mata seperti yang Seven katakan. Dia menutup mata bukan karena wajah buruk Seven, melainkan karena rasa gugup yang menyelimuti tubuhnya. Malam ini … dia akan menyerahkan tubuhnya pada pria yang bukan suaminya. "Kita mulai, Nyonya?" Seven berbisik pelan, tepat di sebuah daun telinga Aeza. "I-iya," gugup Aeza, menganggukkan kepala dengan mata masih tertutup rapat. Seven senyum tipis, mengulurkan tangan untuk mengusap pucuk kepala Aeza. "Kuharap Nyonya tidak menyesal setelah melakukan ini dengan saya," ucapnya dengan nada serak dan berat, suara yang seksi akan tetapi berhasil membuat bulu kuduk Aeza meremang–takut bercampur gugup. Namun, demi suaminya yang ia cintai, Aeza tak bisa mundur! Aeza merapatkan bibir ketika mulai merasakan sentuhan Seven. Tangan pria itu mulai menyentuh kulit lehernya, lalu tak lama terasa benda kenyal yang menjelajahi leher jenjangnya. Aeza mencengkeram sprei, semakin gelisah dan takut. Kegugupannya semakin bertambah ketika Seven membaringkan tubuhnya di atas ranjang. "Nyonya, aku akan melepas seluruh pakaianmu." Seven berkata serak, suara seksinya berhasil membuat jantung Aeza berdebar kencang dan tak karuan. "Ya. La-lakukan saja. Lebih cepat lebih baik," jawab Aeza dengan nada pelan, tetap menutup mata karena menahan malu. Dia benar-benar melakukan 'itu dengan pria yang bukan suaminya. "Sepertinya Nyonya sudah tidak sabar." Seven senyum tipis, memandang wajah cantik Aeza yang terlihat merah. Terlebih pada bagian pipi. Ah, mengherankan baginya. Karena wanita se cantik ini diperbolehkan oleh suaminya untuk ia nikmati. Tak ada yang kurang dari perempuan menggemaskan ini. Aeza bukan hanya cantik, tetapi setia, penuh cinta, ceria, dan manis. Mungkin hanya terlalu lugu dan naif. Belum benar-benar matang. Namun, andai saja dia yang menjadi suami perempuan ini, Seven tidak akan peduli pada sikap Aeza yang belum sempurna dewasa. Malah dia akan sangat menikmatinya! Sayang sekali nyonya cantik beraroma buah melon ini bukan istrinya! "Nyonya, tubuhmu sangat indah," ucap Seven setelah melepas pakaian Aeza. Dia terdiam sejenak sambil mengamati tubuh indah Aeza. Mendengar hal itu, pipi Aeza terasa semakin panas–terbakar. "Ce-cepat, lakukan saja, Seven. Jangan membuang-buang waktu," pekik Aeza dengan nada ketus, menutupi perasaan malu dan berdebar-debar. "Ah, baiklah, Nyonya." Seven menganggukkan kepala secara patuh. "Karena Nyonya mendesak, maka aku akan langsung ke inti permainan panas ini." Seven dan Aeza sudah sama-sama tanpa sehelai benang. Seven sudah bersiap-siap melakukan penyatuan. Dia cukup antusias dan tak sabar karena tubuh Aeza sangat menggodanya. Sekalipun ada perasaan tak enak dan bersalah karena perempuan ini bukan istrinya. Namun, Seven juga terpaksa dan dia tidak bisa mundur. Adiknya butuh biaya untuk operasi kanker! "Tu-tunggu, Seven." Tiba-tiba saja Aeza membuka mata, seketika membelalak shock saat melihat 'milik' Seven yang …- "Aaaa!" Aeza refleks menjerit, buru-buru meraih bantal lalu melemparnya ke arah Seven. "Me-menjauh!" pekik Aeza histeris sambil menjauhkan pandangan dari Seven dan 'benda mengerikan milik pria itu.Sudah satu bulan berlalu sejak Anaya melahirkan. Keadaannya sudah jauh lebih baik dan bayinya tubuh cepat, gembul dan sehat. Hari ini kelurga kakaknya datang untuk makan malam keluarga. Bukan hanya keluarga Moriz, keluarga Thomas juga datang. Tak lupa kakek nenek suaminya. Intinya rumah ini sangat ramai, dan semuanya adalah orang-orang baik. "Apa jadi ibu merepotkan, Dek?" tanya Elma, menatap Anaya secara lekat—di mana Anaya sedang mengganti celana bayinya, di kamar Anaya dan Dominic. Anaya menoleh pada kakaknya yang dengan mengelus perutnya yang besar. Dia senyum tipis lalu menggelengkan kepala. "Enggak, Kak. Soalnya Mas Dominic selalu membantuku. Mommy dan daddy juga tak pernah diam saat aku kewalahan mengurus Seven." "Kurasa apapun akan terasa ringan jika kita berada di antara orang-orang yang mencintai, peduli, menghargai, dan bertanggung jawab, Kak," tambah Anaya, meraih putranya yang sudah selesai ia ganti celananya, "dan aku yakin sekali, Kakak juga akan sama seper
---Beberapa Bulan kemudian--- Anaya menatap bayi mungil miliknya dengan penuh kebahagiaan. Air matanya jatuh, senang dan terharu secara bersamaan. Buah hatinya sudah lahir, membawa kebahagiaan mendalam dan cinta yang besar. "Dari tadi kau terus mengamati bayinya." Seorang pria bersuara, nadanya datar dan terkesan kesal. Anaya mendongak pelan, menatap suaminya dengan senyum lembut. "Aku masih tidak percaya kalau aku sudah jadi Mama dan Mas sudah jadi Papa. Bayi kita … sangat tampan dan sehat, Mas. Aku sangat kagum padanya." "Apa pria tampan ini kalah dengan bayi yang baru lahir itu, Heh?" sindir Dominic, melirik bayinya dengan ekspresi berang lalu menatap penuh harap pada Anaya. Cukup Anaya mengakui ketampanannya, maka Dominic akan luluh. "Ouh, jelas cucuku yang paling tampan," jawab Alaric yang duduk di sofa, segera bangkit lalu menghampiri Anaya. "Ana, boleh Daddy gendong cucu Daddy?" tanya Alaric lembut. Sebenarnya dia sudah mengendong cucunya ini, akan tetapi dia me
"Kalian pacaran?" tanya Anaya, menaik-turunkan alis. Pembicaraan mereka mulai terasa santai dan menyenangkan, tak lagi tegang dan penuh kesedihan. Gea menggelengkan kepala. "Kami tidak pacaran, murni hubungan antara bos dan asisten. Tuan bilang dia sulit mempercayai seseorang dan dia mengaku dia sudah menaruh kepercayaan padaku. Oleh karena itu dia memilihku sebagai calon istrinya." "Dan kamu mau?" Gea menganggukkan kepala. "A-aku suka pada Tuan Darren. Lagipula di kantor, perempuan single mana yang tak suka pada Tuan Darren?" "Cieee …." Anaya nenggoda Gea, membuat perempuan itu senyum malu-malu dengan pipi yang terlihat merah. Anaya kembali ingin menggoda akan tetapi tiba-tiba saja seorang maid datang. "Nyonya muda dan Nona Gea, kalian berdua dipanggil oleh Nyonya Tuan untuk minum teh bersama," lapor maid tersebut. "O-oh. Sampai lupa kalau kita ke sini untuk minum teh bersama. Ayo, Gea," ucap Anaya, berdiri lebih dulu tetapi mempersilahkan Gea untuk lebih dulu pergi. Nam
"Hai." "Hai." Anaya menyapa canggung seorang perempuan yang tak lain adalah calon istri sepupu suaminya. Bukan hanya Anaya, perempuan itu juga terlihat canggung—senyum kikuk pada Anaya. Seperti janji Dominic sebelumnya pada Anaya, Dominic benar-benar mempertemukan Anaya dengan calon istri Darren. Mereka bertemu di kediaman Theodora, sekalian untuk mengajak calon istri Darren lebih dekat dengan keluarga Theodora. Saat ini Dominic tak ada, begitupun dengan Darren. Keduanya ada kesibukan. Anaya dan Gea Namora—calon istri Darren, benar-benar berdua di tempat ini. Kedua perempuan ini sebenarnya harus ke taman untuk minum teh bersama kakek-nenek Dominic dan Darren. Akan tetapi karena keduanya sama-sama canggung, mereka masih duduk di ruang tamu dan terus menyapa dengan kikuk. "Apa kabarmu?" tanya Gea lebih dulu, lagi-lagi senyum kikuk dan canggung luar biasa pada Anaya. Maklum! Dulu mereka sangat dekat, lalu karena perpisahan mereka berakhir tak pernah bertemu. "Baik." Anay
"Diri sendiri saja dicemburui. Aneh!" gumam Dominic sambil melirik kesal pada daddynya, berjalan ke sofa lalu duduk di sebelah istrinya. Alaric memilih tak menjawab, hanya menatap sinis pada putranya. Cih, putranya tak paham dan tak merasakan seperti apa jadi dirinya, jadi percuma dia jelaskan. Seven itu … ah, sudahlah! Alaric harus melupakannya! "Sayang, nanti malam kita ke rumah Aunty Alisha dan Uncle Asher yah. Soalnya Kak Darren akan bertunangan dengan kekasih diam-diamnya," ucap Aeza. "Wah." Anaya menampilkan ekspresi wajah senang. Lalu dia menganggukkan kepala penuh semangat. Aih, dia jadi penasaran siapa perempuan yang berhasil mendapatkan hati sepupu suaminya tersebut. "Oke, Mommy."***Seperti yang mommy mertuanya katakan, malam ini Anaya dan keluarga suaminya datang ke pesta pertunangan Darren. Karena keluarga Moriz dan Lex diundang, di pesta ini Anaya bisa bertemu dengan kakaknya, Rain, Ellan, dan juga Gita. Sambil menunggu tunangan Darren datang, Anaya berkumpul denga
"Kak, kamu nggak apa-apa?" tanya Anaya, di mana saat ini dia ke rumah sakit—di temani oleh suaminya, setelah mendapat kabar dari Elma kalau Elma sedang di rumah sakit. Tadi, Elma sudah bersama mereka di taman. Namun, Elma tiba-tiba izin pergi ke toko bunga untuk menemui Rain. Kata Elma, Rain terus mengirim pesan dengan isi 'P' padanya. Oleh karena itu Elma ingin memastikan kenapa Rain terus mengirimnya pesan begitu, di mana saat Elma tanya apa maksud dari Rain tersebut, Rain selalu menjawab P'. Di taman, Anaya dan Dominic terus menunggu. Hingga tiba-tiba saja Elma mengirimi pesan kalau dia di rumah sakit. Oleh karena itu Anaya menyusul kakaknya ke sana. Dia khawatir Elma kenapa-napa. "Aku tidak kenapa-napa, Anaya." Elma menjawab lembut, senyum tipis pada Anaya. Anaya menghela napas cukup panjang, lega karena kakaknya terlihat baik-baik saja. Setelah itu, dia duduk di sebelah Elma. "Trus kenapa Kakak di rumah sakit?" tanya Anaya kemudian. "Larisa pendarahan," jawab Elma. "Hah?"







