MasukSelamat membaca, MyRe. (✿^‿^)
"Dominic, apa lagi yang kamu tunggu?! Istrimu sedang demam, harus cepat-cepat istirahat," ucap Aeza secara tegas. "Ya, Mom," jawab Dominic, menganggukkan kepala dan segera membawa Anaya ke dalam mobil. "Kami duluan yah, Larisa," ucap Aeza sopan, setelah itu menggandeng lengan suamuaminya–berjalan beriringan menuju mobil. Larisa diam dengan ekspresi murung, menatap punggung Dominic yang tengah membantu Anaya masuk dalam mobil. 'Pasti Dominic dipaksa oleh orang tuanya untuk menggendong Anaya. Yah, pasti karena orang tuanya,' batin Larisa, kini menoleh ke arah adik sepupunya. "Alka, tolong bantu Kakak ke sana," ucap Larisa, meminta adik sepupunya supaya membantunya berjalan ke arah Dominic. "Baik, Kak." Alka menganggukkan kepala, bersedia membawa kakak sepupunya menemui Dominic. "Dominic, tunggu!" pekik Larisa, berjalan lebih cepat demi mengejar Dominic yang berniat masuk ke mobil. Bug' Karena terburu-buru, Larisa terjatuh cukup kasar–membuat lututnya yang terluka kian p
"Memangnya aku tidak pantas yah?" gumam Anaya tiba-tiba. "Humm?" Dominic mengerutkan kening sata mendengar kalimat itu. Anaya tiba-tiba senyum tipis, "suapan terakhir." "Tidak!" Dominic menolak, "tadi kau … maksudmu apa?" "Maksdunya Mas itu orang hebat dan berkuasa, dan aku cukup tahu diri, kok, untuk tidak jatuh cinta pada Mas. Jadi santai saja," ujar Anaya dengan nada santai. "Stupid!" kesal Dominic. *** Minggu ini Anaya memutuskan untuk libur kerja dan memilih membantu mama meretuanya berkebun. Sedangkan suaminya, pergi entah ke mana. Biasanya Anaya selalu bersemangat setiap kali diajak berkebun oleh mma mertuanya. Akan tetapi kali ini dia … kurang semangat. "Kenapa, Sayang?" tanya Aeza, memperhatikan Anaya yang memijat kening. "Kamu sakit?" Anaya menggelengkan kepala sambil senyum canggung. Anaya tidak biasa mendapatkan perhatian, jadi rasanya sangta canggung dan mendebarkan saat mama mertuanya memperhatikannya. "Ada apa?" Alaric yang juga ikut berkebun, membantu
'Wajah doang yang galak, sama badan doang yang besar. Tapi makan masih saja harus disuapin,' batin Anaya, senyum kaku pada Dominic lalu segera menyuapi suaminya tersebut. Padahal Anaya hanya bercanda saat menawarkan makan disuap olehnya pada Dominic, ternyata Dominic malah mau. "Jangan menikah dengan Rain, hujan, badia, atau apapun itu," ucap Dominic setelah menelan makanan dari suapan pertama yang Anaya berikan padanya. "Tergantung Mas Dominic." Anaya menjawab santai, "kalau aku diceraikan, yah aku akan menikah …-" "Jadi benar kau berharap menjadi istri Rain?" potong Dominic cepat. "Enggak." Anaya menggelengkan kepala, "Mas Dominic ada rencana yah ingin menceraikanku?" "Menurutmu?!" dingin Dominic. Dia memperlihatkan wajah marah akan tetapi tetap menerima suapan dari Anaya. "Bisa jadi," jawab Anaya. "Jangan harap!" ketus Dominic, segera bangkit dari sofa lalu berjalan ke kamar. Dia marah dan dia tidak ingin makan lagi. "Mas, nasinya belum habis," ucap Anaya, menatap c
Merasa situasi sangat mencekam, Rain segera meminum air di gelas yang ia tawarkan pada Anaya. Dia meminumnya secara buru-buru, panik karena Dominic menatap tajam padanya. Sedangkan Anaya, dia segera meraih gelas dari suaminya lalu minum secara perlahan. "Aku dan Anaya sahabat," ucap Rain panik saat ayahnya menatapnya dengan penuh peringatan dan ancaman. "Sungguh, Ayah." "Menurutku kedekatan Anaya dan Rain itu hal yang bagus," ucap Alaric secara santai, "jika semisal Dominic kembali pada mantan kekasihnya. Aku sendiri yang akan mengurus perceraian Anaya dengan Dominic. Setelah itu Dominic kuusir dari keluarga Theodora dan … Rain akan menikah dengan Anaya." Uhuk' uhuk' Anaya kembali terbatuk-batuk, shock dan horor dengan perkataan ayah mertuanya. Sekalipun marah karena perkataan ayahnya, Dominic tetap peduli pada istrinya. Dia segera memijat tengkuk Anaya yang kembali batuk-batuk–lagi-lagi tersedak. "Rain, kau mau bukan menjaga menantuku semisal Dominic kembali pada mantannya?"
"Jangan sembarangan memeluk orang," ucap Rain, setelah berhasil menjauhkan Larisa dari Dominic. Setelah itu, Rain menatap Anaya dengan ekspresi wajah cemas, "An, kau tidak kenapa-napa, Kak?" "Enggak." Anaya menjawab sambil menggaruk pipi, masih cukup kaget dengan kejadian barusan–Larisa tiba-tiba berlari ke arah suaminya dan berniat memeluknya, lalu tiba-tiba Rain muncu. Rain seketika meletakkan tangan di dada, merasa lega. "Ah, syu …-" Mata Rain tiba-tiba melotot, panik seketika saat menyadari tatapan tajam Dominic, "Tuan, jangan salah paham. Aku dan Anaya hanya sahabat. I-iya kan, An?" "Iya." Anaya menganggukkan kepala, melirik ke arah Dominic yang tampak dingin. Anaya segera merapatkan tubuhnya pada Dominic, memeluk lengan suaminya tersebut secara spontan. Mungkin karena ada Larisa di sini, jadi Anaya … takut! Takut perempuan itu memeluk suaminya. "Kami sahabat doang, Mas," ucap Anaya pada suaminya. Dominic menatap tangan Anaya yang melilit lengannya. Smirk tipis mu
'Larisa.' batin Elma, menatap kaget pada sosok yang masih duduk di lantai tersebut. Larisa menatap makanan yang bercecer di lantai, setelah itu segera bangkit sambil menatap kesal pada Elma. "Kamu! Lihat apa yang kamu lakukan?" "Saya minta maaf," ucap Elma, tetap bersikap tenang. Mungkin perempuan ini tak mengenalnya, tapi, Elma sangat mengenal perempuan ini. Awal dia bekerja di sini, masih jadi karyawan biasanya, Larisa beberapa kali datang ke perusahaan ini–menemui Dominic. Mereka sepasang kekasih yang kisahnya cukup legendaris dan pernikahannya ditunggu banyak orang-orang. Namun, ternyata hubungan antara Dominic dan Larisa kandas! 'Tapi … sepertinya Tuan Dominic masih cinta pada Larisa.' batin Elma. "Kamu … karyawan di sini?" tanya Larisa, menatap jengkel pada Elma. Elma menganggukkan kepala secara pelan. "Saya sekretaris pribadi Tuan Dominic," ucapnya. "Ouh, kebetulan sekali." Wajah Larisa langsung berseri-seri. Jika sekretaris Dominic ada di sini, berarti Dominic juga







