تسجيل الدخولSemoga suka dengan 3 bab kita hari ini, MyRe. Jumpa besok lagi yah ... IG:@deasta18
"Kau menungguku?" tanya Dominic sambil menatap intens ke arah Anaya yang masih mengenakan dress pengantin. Anaya sejujurnya tidak menunggu pria ini. Dia sudah sangat lelah dan ingin sekali membaringkan tubuhnya. Hanya saja, kamar ini terlalu estetik, luas, dan bagus. Ranjangnya besar dengan sprei yang lembut dan nyaman. Anaya jadi segan untuk tidur di sini. Makanya dia tetap bertahan sekalipun matanya sudah berat. Namun, Anaya di sini menganggukkan kepala–membenarkan ucapan Dominic kalau dia sedang menunggu pria ini. Dominic menyunggingkan smirk tipis saat Anaya menganggukkan kepala. Perempuan ini menunggunya? Itu manis. "Sepertinya kita akan mulai dengan mandi bersama," ucap Dominic tiba-tiba, membuat mata Anaya yang sudah berat seketika melebar. Pundaak Anaya yang bungkuk dan jatuh akibat lelah, lambung tegap setelah mendengar kata 'kita mulai dengan mandi bersama. Oh, God! Maksud pria ini apa? Memulai apa? "Man-mandi bersama?" beo Anaya, mendapat anggukan singkat dari
"I-iya, Tuan," jawab Anaya seadanya. Dominic mencoba menutupi keanehan dan perasaan tak senang yang menelusup di hati. Dia membuka pintu lalu masuk ke kamar Anaya. Dominic menurunkan dan mendudukkan Anaya di pinggir ranjang single milik perempuan ini. Dominic sejenak terdiam, menatap seluruh penjuru kamar calon istrinya dengan tatapan tak suka. Kamar perempuan ini sangat bersih dan tertata rapi. Aroma di kamar ini juga wangi, aroma manis seperti aroma Anaya. Hanya saja, untuk seorang putri dari pemilik rumah mewah ini, kamar ini terlalu sempit dan sederhana. "Kamarmu sempit sekali, seperti kamar maid," komentar Dominic, "kamar maid di rumahku jauh lebih luas dari kamarmu," tambahnya, ikut duduk di sebelah Anaya. Dia bersedekap di dada sambil terus mengamati kamar sempit Anaya. "Ya, tak apa-apa, Tuan. Terpenting ada kamar," jawab Anaya seadanya. "Kau sebut ini kamar?" Anaya seketika menatap aneh pada Dominic. "I-iya lah. Memangnya apa lagi, Tuan?" Dominic tak mengatakan ap
Sebuah mobil mewah keluar dari kediaman Yodian. Namun, mobil tersebut berhenti tepat di depan mereka, membuat Anaya dan Rain saling bersitatap–bertanya-tanya siapa orang di dalam mobil mewah tersebut. "Tu-Tuan Dominic," gumam Rain gugup ketika Dominic keluar dari mobil tersebut. Dia buru-buru membungkuk, memberikan salam hormat pada tuan muda Theodora tersebut. Anaya mengamati Rain yang membungkuk pada Dominic, lalu Anaya segera ikut membungkuk dengan kaku dan gugup karena tak tahu harus melakukan apa. Namun, saat Anaya ingin membungkuk, tiba-tiba saja tangan Dominic terulur ke arah kepalanya. Tangan pria itu menempel ke kening Anaya, menahan kepala Anaya supaya tidak menunduk atupun membungkuk. Anaya pada akhirnya menegakkan tubuh, menatap kaku campur takut pada Dominic. Dari wajahnya, pria ini sepertinya marah. Anaya rasa dialah penyebab pria ini marah. "Keluargaku sudah lama datang, tetapi kau …-" Dominic bersuara, melayangkan tatapan tajam pada Anaya. Dia menggantung
"Kenapa?" Dominic mengerutkan kening, cukup heran pada reaksi orang tua Anaya yang terlihat kaget dan aneh ketika Dominic bertanya tentang Anaya. "Anaya juga putri kalian, bukan?" Luke lagi-lagi bersitatap dengan Tifany. Setelah itu, dia senyum cukup lebar–kikuk dan gugup. "Anaya … dari semalam dia tidak di rumah. Anak itu memang lebih bandel dari Kakak dan Adiknya. Jiwa bebasnya masih belum bisa ia kendalikan," ucapnya mantap, kembali menampilkan senyuman untuk meyakinkan Dominic dan keluarganya. Kenapa Dominic tiba-tiba bertanya tentang Anaya? Apa jangan-jangan Anaya lah yang ingin Dominic lamar? Rasanya tidak mungkin! Anaya telah mencemarkan nama baik Dominic melalui novelnya, sangat tak mungkin kalau Dominic malah menginginkan Anaya. Seharusnya Dominic membencinya. "Sebelum ke sini, aku sudah menginformasikan hal ini pada Anaya. Dia mengatakan kalau dia di sini dan akan menunggu," ucap Dominic, nadanya kesal–kemarahannya perlahan menguar. Dominic merasa dipermainkan! "Lalu kau
"Putriku, Elma, memang luar biasa hebat." Luke memuji putri sulungnya. Wajahnya berseri-seri dan penuh kebahagiaan. Bagaimana tidak? Pagi ini, keluarga Theodora datang untuk melamar putrinya. Ah, Luke merasa sangat beruntung punya putri seperti Elma. Dia pikir pencapaian tertinggi putrinya adalah dengan menjadi sekretaris di perusahaan King'Theo. Namun, ternyata ada yang lebih dari itu, yakni menjadi nyonya Theodora. "Aku akui." Alaric bersuara rendah, "tapi jangan salah paham, bukan dia yang diinginkan oleh putraku," tambahnya. Luke langsung bersitatap dengan istrinya, merasa terkejut karena bukan Elma yang ingin Dominic lamar. Kemudian Luke menoleh ke arah putrinya yang masih duduk anggun dan memasang wajah tenang. Saat keluarga Theodora datang dan mengutarakan niat untuk melamar salah satu purrinya, Luke langsung menebak dan bahkan sangat yakin kalau putri pertamanya lah yang dilamar. Elma merupakan sekretaris Dominic, keduanya sering menghabiskan waktu dan mungkin tumbuh cinta
"Jadi kapan?" tanya Alaric lagi, menatap serius pada putranya. Dominic menatap sekilas pada Anaya lalu menatap daddy-nya dengan raut muka yang meyakinkan. "Besok." Mata Anaya langsung melebar, refleks mendongak dan menatap Dominic yang sedang merangkulnya. Mereka sudah duduk di sofa dan kebetulan Anaya duduk satu tempat dengan Dominic, di mana pria ini merangkul cukup erat pundaknya. Ekspresi wajah Anaya begitu terkejut, shock mendengar jawaban Dominic. Ya, tidak mungkin kali dia dan pria ini menikahnya besok?! Paling cepat seharusnya bulan depan! "Jangan bercanda!" tegas Alaric. "Aku serius, Dad." Dominic berkata serius. "Ck." Alaric berdecak pelan. Sedangkan Aeza menatap aneh dan curiga pada putranya. Hari ini dia terkejut dan senang karena Domonic membawa kekasihnya ke rumah. Dia juga senang karena Dominic memang berencana menikahi kekasihnya. Hanya saja … tidak mungkin besok! Tak ada persiapan sama sekali. Hal tersebut lah yang membuat Aeza merasa aneh dan curiga.







