LOGINJulian yang menyaksikan itu. Pria itu pun langsung mencairkan suasana dan mengalihkan topik pembicaraan. Ia tahu jika sang ibu memang kurang perhatian terhadap Jasmine. Mungkin gadis itu bukan cucu kandungnya. "Eh, Mama. Kok nggak bilang kalau mau datang?" seru Julian. Lalu Nadine sendiri juga menyambut kedatangan sang ibu mertua dengan memepersilakan wanita itu untuk ikut sarapan bersama. "Mama, kita sarapan dulu, yuk! Pasti Mama belum sarapan, kan? Ayo kita makan!" ajak Nadine saambil menyiapakan kursi untuk ibu mertuanya. "Mama sudah sarapan. Mama ke sini cuma ingin ketemu sama cucu-cucu Mama dan ngasih oleh-oleh buat mereka. Kemarin kan Mama dari Batam. Nih Mama beliin kalian oleh-oleh dari sana!" ucap Nyonya Ratih sembari memberikan bebrapa paperbag untuk anak dan cucunya. Nadine langsung menerimanya dengan senag. Ada lima paperbag dengan warna yang sama kecuali satu paperbag yang ukurannya lebih kecil dari lainnya. "Wah! Mama repot-repot aja beliin kita. Makasih ya, Ma!" j
Di sisi lain, Julian meminta anak laki-lakinya untuk menjaga dan mengawasi adik-adiknya. Di sini lah tanggung jawab Mario sebagai seorang kakak sangat diperlukan. "Mario, selama Mama dan Papa pergi, kamu jaga adik-adikmu. Karena Papa nggak bisa memantau mereka setiap jam. Kamu tahu Papa dan Mama sedang mengurus bisnis keluarga kita. Nanti jika kamu sudah lulus kuliah maka kamu yang akan menggantikan Papa," kata sang Papa kepada Mario. Lanjut ia berbicara pada dua anak perempuannya. "Emma, Jasmine! Ingat, ya. Selama Papa pergi. Kalian harus nurut apa kata Kakak kalian. Jangan bandel dan kalian harus selalu izin kalau mau pergi ke mana pun!" seru Julian sambil menatap dua putrinya secara bergantian. Emma dan Jasmine menganggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba Mario menyahuti. "Ingat kata Papa tadi. Jangan salahkan Kakak kalau Kakak marahin kalian. Karena akhir-akhir ini kalian tuh susah dibilangin!" Perkataan Mario seketika membuat Jasmine dan Emma bereaksi. "Apa sih, Kakak. Kita
Jasmine tumbuh menjadi anak yang cantik dan ceria. Ia tumbuh bersama anak-anak Nadine dan Julian. Mario dan Emma adalah anak kandung mereka. Emma adaah adik kandung Mario, sedangkan Jasmins adalah adik angkatnya. Mario tahu jika Jasmine bukanlah adik kandungnya namun ia sangat manyayangi Jasmine seperti ia menyayangi adiknya, Emma. Sejak usia Jasmine 5 tahun sampai ia kelas 12 SMA. Gadis itu tumbuh di lingkungan keluarga yang begitu menyayanginya. Jasmine dan anak-anak Nadine tumbuh bersama-sama. Sekarang Mario sudah kuliah semester dua, sedangkan Jasmine ia masih duduk di bangku kelas 12 dan Emma di kelas 10 SMA. Mario sangat protektif terhadap adik-adiknya. Pemuda itu selalu memantau ponsel mereka dan ia selalu menjadi garda terdepan untuk adik-adik perempuannya. Pagi ini seperti biasa, Mario akan mengantar kedua adiknya pergi ke sekolah sebelum dirinya ngampus. Namun sebelum itu mereka sarapan pagi bersama sebelum beraktivitas masing-masing. Si dua gadis anak kesayangan Nadine
"Pantesan aku cari nggak ada. Ternyata kamu di sini! Kenapa keluar?" jawab Julian sekaligus bertanya."Emmm aku lapar, kamu masih tidur dan aku nggak tega bengunin! Ya udah aku pergi sendiri!" jawab Nadine dengan ekspresi gugup karena pengasuh Mario dan pelayannya pasti sedang membicarakan dirinya dan sang suami."Ohhh ya bangunin dong! Sudah aku bilang kan jangan pergi sendirian, kamu harus istirahat!" sahut Julian lagi. Sementara itu Mario langsung menghampiri kedua orang tuanya. Bocah itu sengaja menengahi mereka berdua sambil gelendotan pada kaki sang Papa.Julian yang tahu itu. Ia langsung menggendong sang anak sambil mencium pipinya yang chubby. Ia uyel-uyel bocah itu dengan gemas. Mario sendiri terlihat bahagia, ia tertawa terbahak-bahak saat Julian mengangkat tubuh mungilnya ke atas. Tawa dan canda keluarga kecil itu membuat pangasuh dan pelayan ikut bahagia. Mereka mendoakan untuk kebahagiaan Julian dan istrinya dan berharap mereka segera dikarunia anak lagi.********Bebera
"Nah iya, makanya Mario di sini aja sama Mbak, ya! Kita tunggu Mama sama Papa selesai!" kata pengasuhnya. Akhirnya Mario mau mengerti dan bocah itu pun berhenti merengek. Para pelayan dan pengasuhnya mengajak Mario bermain lebih lama lagi agar bocah itu lupa mencari Mama Papanya. Para pelayan dan pengasuh sudah kongklikong dengan Julian. Hal ini dilakukan agar keharmonisan rumah tangga Julian dan Nadine tetap terjaga. Hampir tiga jam, akhirnya Nadine keluar dari kamarnya. Wanita itu tampak memakai baju tidur dengan rambut yang digulung asal. Sesekali ia menggerakkan lehernya yang terasa pegal dan kaku. Wanita itu turun ke lantai bawah untuk mencari makanan. Perutnya terasa lapar setelah mengarungi lautan percintaan yang luas bersama sang suami tercinta. "Ya ampun pegel banget, tulang-tulangku rasanya remuk!" rintih wanita itu sambil memijit pundaknya sendiri. Saat ia hendak pergi ke dapur. Tiba-tiba dari arah samping muncul sang anak yang berlari ke arahnya. "Mama...!" Nadin
Pada akhrnya Nadine tidak bisa melepaskan dirinya. Jebakan Julian telah berhasil mengantarkan sang istri padanya. Tangan Nadine menggenggam erat disertai lenguhan manja dari bibir wanita itu. Ia tak bisa berbohong jika semua ini membuatnya sangat terlena. Padahal ia masih kesal dengan sikap sumainya. "Kamu jahat, Mas!" desah Nadine disela-sela dirinya menikmati sentuhan yang nikmatnya tiada tara itu. "Aku minta maaf, sungguh aku sangat menyesal!" jawab Julian tanpa mengehentikan penyatuan mereka. "Tapi kamu udah bikin aku kecewa!" jawab Nadine lagi. "Aku memang egois, waktu itu nggak berpikir jernih, aku hanya terlalu khawatir padamu, aku takut terjadi sesuatu padamu!" jawab Julian. ia menghentikan gerakannya sejenak. Mereka saling menatap. Nadine tampak menggigit bibir bawahnya dan tanpa sadar ia melingkarkan kedua kakinya pada pinggul sang suami seolah sedang mengunci pria itu agar tidak lepas darinya. "Kamu terlalu berburuk sangka, di sana ada Ana yang sedang berjuang antara
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok







