LOGIN"Jasmine, jangan teruskan!" desah Mario saat gadis itu makin menggila. "Aku udah nggak tahan lagi, jangan lama-lama lagi, gatal banget rasanya!" desis gadis itu sembari menggerakkan pinggulnya memutar di atas pangkuan Mario. Bibir mereka terus terpaut dan keduanya sudah berada di fase hasrat yang paling tinggi. Gairah itu makin membara dan tak terkendali. Mario sendiri yang berusaha untuk menahan hasrat dirinya, akhirnya ia menyerah ketika Jasmine menyerahka diri untuknya. Gadis itu adalah pujaan hatinya dan tak mungkin ia merelakan tubuh Jasmine dinikmati olah pria lainnya. Apalagi Jasmine sendiri yang membuka celana sang kakak. "Jasmine, sebenarnya aku tak mau melakukan ini. Tapi kamu terus memaksa, sayang!" seru Mario ketika kulit mereka mulai bersentuhan. Gesekan mulai terasa pada area yang sama-sama basah itu. Jasmine sendiri yang memulainya dengan duduk di atas pangkuan Mario yang sudah menegang. "Ahhh...emmppttt!" Suara manja itu lolos dari bibir mungil Jasmine. Ia sendiri
Yongki membalikkan badannya dan pemuda itu sangat terkejut saat melihat kedatangan Merio di sana. Tanpa basa-basi dan menunggu Yongki bersuara, Mario langsung melayangakan bogem mentah ke wajah pemuda itu. Seketika Yongki jatuh tersungkur dan Mario tak memberikan kesempatan pemuda itu untuk kabur. Ia kembali mendaratkan pukulan yang bertubi-tubi pada tubuh pemuda itu. Ia tak akan pernah memaafkan siapa pun yang berani menyentuh Jasmine. "Brengsek kau bajingan! Apa yang sudah kau lakukan pada adikku, keparat!" kata Mario sambil terus menghajar wajah Yongki. Pemuda itu tak bisa lagi menghindari serangan yang bertubi-tubi dari Mario. Sampai akhirnya Yongki tak sadarkan diri. Wajahnya babak belur dan pemuh luka lebam karena pukulan dari tangan Mario. Setelah tahu Yongki tak bisa lagi melawannya, Mario segera membawa Jasmine yang saat itu berada di atas ranjang dengan posisi yang sangat sensual. Gadis itu benar-benar sudah dipengaruhi oleh obat perangsang sehingga membuatnya tak sadark
Jasmine meminum jusnya tinggal separuh. Gadis itu memang sangat haus. Lalu Yongki mengajak gadis itu untuk beristirahat sejenak dengan alasan menunggu kedua orang tuanya datang. Gadis itu pun menurut tanpa ciriga. "Duduklah! Kamu bisa santai-santai dulu sambil nunggu Mamaku datang," kata Yongki yang juga ikut duduk di sofa. Jasmine tersenyum dan sedikit canggung karena baru kali pertama dirinya dikenalkan dengan orang tua Yongki, cowok terkeren di sekolahnya. Di jalan, Mario fokus untuk segera sampai di tempat Yongki. Kurang lima kilometer lagi ia sudah sampai. "Jasmine, kenapa kamu nggak mau dengerin ucapanku! Hah, dasar keras kepala!" umpat Mario dengan mengeratkan giginya. Sesekali ia memukul setir mobilnya saat teringat bagaiman Jasmine yang tak mau mendengarnya. Jasmine sendiri setelah beberapa menit meminum jus itu. Entah kenapa kepalanya menjadi pusing, pandangan matanya jadi kabur dan ia berat untuk berdiri. "Aduh kepalaku!" rintih gadis itu sambil memegangi kepalanya y
Emma geleng-geleng kepalanya saat mendengar jawaban Nyonya Ratih. Gadis itu tak habis pikir jika Nyonya Ratih akan bicara demikian. Sementara itu, Jasmine masih berusaha merebut ponselnya dari teman-temannya. Gadis itu menjadi kesal karena teman-temannya sudah sangat keterlaluan. "Balikin HP-ku! Kalian jahat banget sih!" teriak Jasmine yang terlihat kelelahan mengejar teman-temannya. Gadis itu tampak kelelahan sambil memegangi perutnya. Di saat yang bersamaan seorang pria datang menghampiri Jasmine sambil mengulurkan tangannya. "Bangunlah!" kata laki-laki itu kepada Jasmine. Gadis itu mendongak sambil melihat siapa yang mengulurkan tagan padanya. Jasmine melihat wajah pemuda yang sangat dikenalinya. "Kak Yongki!" katanya dengan wajah yang berbinar. Ya, pemuda itu adalah Yongki. Pemuda itu datang membantu Jasmine. Jasmine berdiri sambil meraih tangan Yongki. Lalu, Yongki meminta agar ponsel Jasmine dikembalikan. Tak lama, ponsel Jasmine dikembalikan dan gadis itu mendapatkan k
Emma yang semula ada di dalam, gadis itu terkejut saat melihat Mario yang pergi terburu-buru. "Kakak mau ke mana buru-buru?" Gadis itu berlari mengikuti kepergian Mario. Mario sendiri buru-buru karena ia harus menyelamatkan adiknya. Ia memiliki firasat buruk tentang Jasmine. "Kakak! Kakak mau ke mana?" tanya Emma saat Mario membukan pintu mobil. Mario menoleh dan pria itu langsung memarahi adik bungsunya. "Kamu! Berani sekali kamu bohongi kakak!" jawab Mario dengan emosi. "Maksud kakak apa?" tanya Emma bingung karena tiba-tiba saja Mario memarahinya. "Hah! Aku tidak punya waktu banyak. Jasmine sedang dalam bahaya, ngerti!" kata Mario yang langsung masuk ke dalam mobilnya. BRAAKKK Suara pintu mobil ditutup dengan keras. Lalu Mario segera menghidupkan mesin mobilnya dan segera melajukan mobilnya ke jalan raya. Emma langsung berpikir apa mungkin yang dikatakan sang Kakak benar jika Jasmine sedang dalam bahaya. "Kak Jasmine dalam bahaya? Kok Kak Mario tahu?" batin Emma lebih bi
Mario menoleh tanpa berucap. Pemuda itu disindir oleh adik bungsunya sendiri. Ia hanya menatap kedua gadis itu. Bibirnya diam tapi ia tahu pasti ada sesuatu di balik kepergian Jasmine kali ini. Emma pun berkata pada sang Kakak dan membujuk Mario agar pemuda itu mengizinkan Jasmine pergi. "Aduh kakak, biarin aja lah kak Jasmine pergi. Toh, kak Jasmine pergi sama teman-teman ceweknya!" kata Emma merayu. Mario pun buka suara soal pakaian Jasmine yang menurutnya terlalu berlebihan. "Iya kakak tahu, kamu nggak lihat bajunya? Itu di atas lutut, kayak nggak ada baju yang lain saja!" protes Mario sammbil menunjuk ke arah Jasmine. Emma menoleh ke arah Jasmine. "Ya elah, aku juga sering pakai baju yang panjangnya segitu. Nggak apa-apa tuh, yang penting kita bisa jaga diri. Lagian ya kita perginya rame-rame. Cewek-cewek semua lagi. Masa kakak nggak percaya sama adek sendiri? Kalau kakak mau gabung ya udah gabung aja sama mereka biar tahu gimana dunia cewek itu!" kata Emma. Kali ini Mario m
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok







