LOGINSetelah memastikan Ana sudah tidur. Pria itu beranjak keluar rumah. Tanpa sengaja Carlota melihat kepergian majikannya yang belok ke arah rumah Soraya, tetangga baru itu. "Pak Julian pergi ke rumah tetangga baru itu? Mau ngapain ya?" gumam Carlota. "Apa aku kudu lapor Nyonya? Ah, enggak lah! Biarin aja. Ngapain lapor ke Nyonya. Keenakan dia dikasih berita gratis. Aku berdoa mudah-mudahan Pak Julian selingkuh. Biar kapok tuh perempuan nggak seenak jidat dia!" gumam Carlota yang tiba-tiba berpikir mendukung Julian pergi ke rumah tetangga baru itu malam-malam. Sepertinya perempuan itu sudah lelah menghadapi sikap Ana. Ia berharap Ana dan Julian segera berpisah. Sementara itu, hanya beberapa langkah saja, Julian sudah tiba di depan rumah Soraya. Sesuai petunjuk Soraya, Julian membuka gembok pagar itu dengan nomor pin sehingga dengan mudah Julian bisa masuk ke dalam pagar yang sudah dikunci. Julian lalu masuk ke rumah mewah itu. Soraya tinggal sendirian sehingga membuat Julian kasihan
Ana langsung membeku kala melihat wajah Soraya. Bisa-bisanya perempuan itu berada bersama suaminya. Itu artinya Soraya adalah tetangga barunya."Kau!" kata Ana dengan wajah penuh amarah. Di sisi lain, Soraya justru tersenyum ramah pada wanita itu."Halo, Nyonya! Apa kabar? Senang sekali bisa bertemu dengan Anda lagi. Wah, ternyata kita tetanggaan ya, ini sangat kebetulan!" balas Soraya tanpa beban dan tentunya ia sengaja bicara seperti itu menandakan bahwa dirinya tidak ada masalah dengan Ana.Tetapi bagi Ana ini adalah sebuah kehancuran. Apalagi ia tahu jika perempuan yang sedang bersama Julian di malam itu adalah Soraya.Soraya langsung menghampiri suaminya. Ia tarik tangan Julian agar menjauhi Soraya."Sini kamu, Mas! Jangan dekat-dekat sama dia!" ucap Ana dengan menarik kasar tangan Julian.Julian merasa tidak suka diperlakukan seperti itu di depan orang banyak. Pria itu segera menepis tangan istrinya."Kamu kenapa sih, An? Datang-datang main tarik saja!" ucap Julian dengan sediki
Ana yang sudah tahu bagaimana kejadian malam itu. Wanita itu segera pulang ke rumah untuk mengkonfirmasi jawaban Julian. Namun, ketika ia pulang justru Ana tidak mendapati keberadaan sang suami."Mas! Mas Julian! Di mana kamu, Mas?" panggil Ana berkali-kali. Tapi tak ada jawaban dari Julian sama sekali. Justru asisten rumah tangga mereka yang datang menjawab."Bu Ana, Pak Julian belum pulang, Bu!" kata Carlota. Wanita yang dulu pernah menjadi asisten rumah tangga Nadine. Wanita itu masih dipercaya bekerja sebagai pelayan di rumah Julian. Selain karena Carlota adalah wanita yang pekerja keras. Wanita itu juga sudah dikenal baik oleh Julian dan Ana meskipun ia sempat kecewa dengan pernikahan majikannya."Belum pulang?" sahut Ana sambil melirik sinis ke arah perempuan yang dulu sangat penurut dengan Nadine.Carlota cukup takut melihat ekspresi wajah Ana yang menurutnya lebih antagonis daripada dulu saat masih menjadi asisten pribadi Nadine. Kini, wanita itu menunjukkan topeng aslinya set
Wajah Julian memerah, malu dan gugup. Ia pun segera mencairkan suasana dengan berbasa-basi."Bu Soraya ada-ada saja. Pinter juga melawak. By the way, Bu Soraya tinggal bersama siapa?" tanya Julian."Sendiri!" jawab Soraya sambil melihat para tukang mengangkut barang-barangnya ke dalam rumah."Sendiri? Di rumah segede ini?" sahut Julian. Ia tahu bagaimana kondisi rumah di sampingnya itu. Rumah itu termasuk bangunan yang besar dan mewah dengan dua lantai. Bisa ditempati oleh keluarga besar."Iya. Kenapa? Apa Pak Julian mau menemani saya tinggal di sini?"Lagi-lagi jawaban Soraya membuat wajah Julian kembali merah merona. Sungguh, pria itu benar-benar salah tingkah dengan ucapan wanita itu."Emmmmm...Emmmm!"Melihat ekspresi wajah Julian yang bingung. Sontak membuat Soraya tertawa kecil. Wanita itu ingin sekali tertawa melihat wajah Julian yang salah tingkah."Ya ampun, Pak. Anda sangat lucu sekali!" Soraya terus tertawa dan tidak bisa berhenti. Hal itu membuat Julian juga ikut tertawa k
Benar saja, tetangga baru itu adalah Nadine sendiri. Iya, wanita itu tanpa sengaja membeli rumah yang terletak di samping rumah Julian. Entah ini kebetulan atau disengaja. Tapi sepertinya tujuan Nadine akan semakin mudah untuk merebut suaminya dari tangan Ana. Soraya alias Nadine juga tidak tahu jika ia akan bertetangga dengan Julian. Hingga akhirnya wanita itu tersadar saat ia melihat kondisi sekeliling rumah barunya. Tanpa sengaja ia melihat beberapa orang laki-laki yang sedang berkumpul dan terlihat bisik-bisik. Yang lebih mengejutkan lagi adalah ia melihat ada wajah Julian di sana. "Mas Julian!" ucapnya lirih. Ia tidak menyangka bahwa Julian berada di sana. Julian sendiri juga nampak salah tingkah. Ia akan bertetangga dengan Soraya. Wanita yang memiliki suara mirip dengan suara Nadine. "Itu beneran Bu Soraya. Ya salam!" gumam Julian. Tak bisa dipungkiri wajah pria itu memerah karena malu. Sementara para pria tetangga Julian. Mereka penasaran ingin berkenalan dengan tetangga
"Benar sekali, Pak. Entahlah saya sendiri juga tidak tahu kenapa saya merasa bahwa istri pertama Anda masih hidup," ucap Nadine lagi. Julian makin berharap jika ucapan Soraya itu akan terjadi dengan nyata. Namun, ia sadar itu sangat tidak mungkin lantaran sampai sekarang jasad sang istri tidak pernah ada. Julian yang awalnya optimis, akhirnya ia kembali pesimis. "Ah! Bu Soraya. Saya rasa itu tidak mungkin. Saya sendiri tidak ingin berharap lebih. Meskipun saya tidak ikhlas dengan kepergiannya, tapi semua ini sudah takdir!" jawab Julian dengan nada pasrah. Nadine menyadari ucapan suaminya itu. Bagaimana pun juga hal ini memang tidak mudah bagi Julian menerima kematian dirinya dalam keadaan seperti itu. "Ya, saya mengerti perasaan Pak Julian. Tapi, bukankah takdir bisa diubah dengan doa-doa. Siapa tahu apa yang saya katakan ini adalah sebuah doa untuk Anda dan istri Anda agar bisa bersama. Bukan begitu, Pak Julian?" Mendengar itu, Julian langsung mengaminkannya. Tak terasa, chatta
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men
“Diafff kamfu!” teriak Nadine lagi. Kali ini Juki berusaha untuk tidak tertawa meskipun ia ingin sekali tertawa mendengar jawaban wanita itu. Konyol, ini sangat konyol. Bagaimana nanti jika dirinya jadi hidup serumah dengan wanita itu, pasti hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan. “Iya, iya, maafk
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada







