LOGINBenar saja, Jasmine langsung berkacak pinggang ketika Mario menyebut dokter cantik yang ada di klinik dekat rumah mereka. Diketahui klinik itu baru dibuka dan pemiliknya seorang dokter yang masih muda dan cantik. Ternyata jurus Mario berhasil juga. Jasmine langsung berubah sikap lebih lembut dari sebelumnya. "Okeh baiklah, aku akan melakukan apa yang Kakak minta," kata Jasmine. Mario langsung tersenyum sumringah. Pemuda itu pun bersiap-siapa dengan tidur terlentang agar Jasmine dengan mudah mengobati pipinya. "Nah, gitu dong! Itu baru namanya istri yang salihah!" sahut Mario sebelum ia merebahkan tubuhnya. Jasmine memutar bola matanya dan bersiap untuk melakukan permintaan sang suami. Mario sudah tidur terlentang. Ia memejamkan matanya dan menunggu Jasmine untuk melakukan perintahnya. Namun Jasmine, gadis itu tampak ilfeel ketika melihat wajah suaminya yang mirip seperti badut. Akhirnya gadis itu tertawa kecil karena Mario terlihat begitu lucu. "Ya ampun ini ucul banget. Kayaknya
Jasmine sangat terkejut. Gadis itu langsung melihat kondisi pipi suaminya dan memastikan luka itu tidak berbahaya. "Ya Tuhan, kenapa wajahmu jadi merah gitu, Kak? Kayak kena bogem preman tahu, nggak!" tanya Jasmine sambil melototi wajah Mario yang nampak aneh karena warnanya begitu merah dang menghitam. Entah shade eye shadow nomor berapa yang dipakai Mario untuk mengubah warna pipinya menjadi merah menyala. "Bogem preman! Kamu sendiri yang kasih bogem kakak kok nyalahin preman!" sahut Mario. Jasmine langsung meralat kata-katanya. "Oh maksudku kok warnanya sampai gitu. Apa tadi gara-gara aku terlalu keras nampar kamu? Aku menyesal, maafkan aku. Aku nggak tahu bakal jadi seperti ini!" seru Jasmine memelas. Ia berusaha untuk meunyentuh wajah pemuda itu namun Mario langsung menghindarinya. "Jangan disentuh!" tolak pemuda itu sambil duduk dan memegangi wajahnya. "Kenapa? Sakit ya rasanya?" kata Jasmine dengan ekspresi khawatir. "Bukan cuma sakit, meskipun sakitnya tidak terlalu saki
"Ya kalau itu Mama nggak jamin, soalnya Mario tuh persis kayak kamu. Suka nggak tahan kalau dekat-dekat. Bawaannya mau nyosor aja!" sahut Mama Nadine. Papa Julian langsung menoleh dan tersenum malu. "Memangnya dulu Papa gitu, ya?" sahut Papa Julian sambil mencubit pipi istrinya."Dih! Pura-pura lupa! Dasar laki-laki tuh, ya. Nggak bisa dikit aja nahan itunya. Kesenggol dikit, bangun. Nggak disenggol juga bangun. Heran! Perasaan Mama nggak ngapa-ngapain loh!" kata Mama Nadine dengan ekspresi sinis. Papa Julian pun tak mau kalah dan membalsanya."Mama memang nggak nyenggol tapi Mama demen pakai BH sama cangcut doang! Gimana nggak bangun ini tugu monas. Mama bikin tegang mulu!" Jawaban Papa Julian seketika membuat Mama Nadine mencubit lengan pria yang sudah memberinya dua anak itu."Ihhh, apa sih, Papa! Mama gitu kan gerah, lagian udah biasa Mama kalau di dalam rumah itu cuma pakai gituan doang, kata Pak Ustadz itu malah bagus dan berpahala besar, kok Papa yang marah. Harsunya Papa tuh
Mario mengangkat dagu gadis itu. "Jadi kamu sudah tahu?" tanya Mario heran, sebab dari mana gadis itu tahu padahal ia membertahukan kabar itu pada sang Papa lewat ponsel. "Hmmm!" Jasmine mengangguk lagi. "Papa sendiri yang ngomong tadi," sambung Jasmine. Mario kembali bertanya-tanya. "Tadi? Kapan?" sahut Mario dengan tatapan menyeidik. "Ya tadi pas kamu teleponan sama Mama!" "Oh, ya?" Mario semakin penasaran. Lantas gadis itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dari semula ia yang cuma video call dengan sang Mama hingga akhirnya ia berbicara dengan sang Papa dan tahu semuanya. "Gitu ceritanya. Lagian kamu ngomong apa sih sama Mama? Kok Mama bisa kaget gitu. Pasti Mama kamu bilangin juga, ya?" seru Jasmine menebak. Mario tersenyum dan tidak bisa berbohong lagi. "Ya, gimana lagi. Papa udah tahu jadi nggak mungkin lah aku bohong sama Mama. Biar adil ya aku kasih tahu aja sekalian!" jawab Mario. "Tuh, kan! Kakak pasti bikin masalah mulu. Kasihan kan Mama, pasti Mama kecewa
Di sisi lain, Jasmine masih belum menyadari jika Mario sudah masuk ke kamar mandi berukuran tidak terlalu luas itu. Gadis itu tampak memejamkan matanya untuk menenangkan segala penat hari ini. Sedangkan Mario, pemuda itu diam-diam berada di belakang kepala Jasmine yang sedang terpejam. Mario melihat sang istri yang tengah santai berendam di dalam bak berisi air yang penuh itu. Lantas, pemuda itu berjongkok sambil berbisik di telinga sang istri. "Bolehkah aku ikut mandi di sini?" Sontak Jasmine terperanjat dan langsung mengangkat kepalanya. Ia menoleh dan apa yang dilihatnya spontan membuatnya menjerit kaget. "Huaaaaa!" Karena tak ingin suara Jasmine terdengar dari luar, seketika satu tangan Mario membungkam mulut istrinya agar tetap tenang dan tangan satunya mengunci leher Jasmine. Mereka berada begitu dekat. "Emmmppttt!" "Ssstt! Tenang, Sayang. Jangan takut! Aku ke sini cuma ingin menemanimu mandi. Lagipula aku juga belum mandi. Jadi apa salahnya kita mandi bersama, hmm!" bi
Papa Julian terkejut ketika tubuh Mama Nadine mendadak terhempas. Bukan cuma Papa Julian saja yang terkejut namun Jasmine dan Mario juga tak kalah terkejutnya. "Mama!" teriak Papa Julian sambil menghampiri istrinya. "Mama! Mama kenapa, Pa?" seru Jasmine di mana video call itu masih terhubung namun ia masih tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana. Sepertinya Papa Julian meletakkan ponselnya begitu saja. Di sisi lain Mario merasa jika sang Mama kenapa-kenapa. Ia khawatir terjadi sesuatu yang serius pada sang wanita itu. "Mama!" pekik pemuda itu sambil mengusap rambutnya kasar. Sedangkan Papa Julian langsung memeluk istrinya yang tiba-tibs lemas. Ponsel yang semula digenggamnya tiba-tiba lepas dan tergeletak di atas kursi. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Papa Julian sambil menepuk ringan pipi sang istri, ia juga menyenyuh kening wanita itu, khawatir jika sang istri sakit tiba-tiba. "Aku nggak apa-apa, Pa. Aku cuma pusing saja. Anakmu si Mario....!" Belum sampai
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok
“Diafff kamfu!” teriak Nadine lagi. Kali ini Juki berusaha untuk tidak tertawa meskipun ia ingin sekali tertawa mendengar jawaban wanita itu. Konyol, ini sangat konyol. Bagaimana nanti jika dirinya jadi hidup serumah dengan wanita itu, pasti hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan. “Iya, iya, maafk
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada







