Share

Bab 2

Author: Hero
Dita tidak percaya dengan omonganku. Baginya, aku adalah gadis penurut, patuh, tidak pernah marah dan melawan. Apalagi sampai kabur dari pernikahan.

Namun, kalau aku tidak menjadi gadis penurut, siapa yang akan menyayangiku?

Sejak kecil, kakakku selalu bersinar begitu terang. Semua orang berlomba-lomba untuk mendekatinya.

Sementara itu, aku berusaha untuk mendapatkan perhatian. Selama patuh dan taat, barulah aku bisa membuat Rendra dan orang tuaku melihat ke arahku.

Namun, aku tidak ingin menjadi gadis penurut lagi.

…

Keesokan harinya, Rendra membawaku untuk melihat rumah yang akan kami renovasi untuk pernikahan.

Aku hendak duduk di kursi sebelah pengemudi, tetapi dia menarikku kembali.

"Dasar pelupa. Ini tempat duduk khusus Nina."

Kebetulan kakakku hendak masuk. Rendra langsung membuka pintu sebelah pengemudi untuknya.

"Nina juga ingin membeli rumah, jadi kita bisa melihat bersama."

Aku duduk di kursi belakang tanpa melontarkan sepatah kata pun. "Um."

Rumah itu adalah sebuah vila kecil yang berdiri sendiri. Melihat kamar pernikahan itu, mata kakakku langsung berbinar.

"Cahaya di ruangan ini sangat bagus, kelembapannya juga cukup ideal. Strain bakteri yang kukembangkan untuk penelitian sangat cocok ditempatkan di sini!"

Rendra berdiri di sebelahnya.

"Kalau kamu suka, kamar ini akan dikosongkan untukmu. Biar kamu bisa datang menginap kapan saja."

"Nanti aku minta desainer terbaik dari perusahaan untuk merenovasinya sesuai keinginanmu."

Aku berdiri di depan pintu.

Saat membeli rumah ini, mulai dari memilih lokasi hingga menentukan desain dan renovasi, Rendra tidak pernah ikut campur.

Dia selalu berkata, "Namanya juga rumah, yang penting bisa ditinggal saja."

Namun sekarang, dia justru berdiri berdampingan kakakku di depan jendela. Mereka membicarakan bagaimana akan mendesain ruangan ini.

Mereka terlihat seperti pasangan baru yang akan menginjak ke dunia pernikahan.

Kakakku menoleh dan melihatku dengan ekspresi jahil. "Maya, kamu tidak keberatan kalau aku tinggal di kamar ini, 'kan?"

Aku menatap Rendra. "Apa kamu tahu kalau ini kamar yang disiapkan untuk pernikahan?"

Tatapan Rendra tampak tenang.

"Kamar pernikahan cuma sebutan saja, beda dengan strain bakteri yang harus memilih kondisi lingkungan. Kamu tinggal pilih kamar lain yang tersisa."

Aku perlahan membuka kepalan tanganku yang dikepal erat hingga telapak tangan terluka.

"Kamu 'kan kakakku, tinggal saja sesukamu."

Rendra mengusap kepalaku. "Maya memang anak yang penurut."

Selesai melihat rumah, pihak butik pengantin menelepon Rendra. Tiga gaun yang akan kukenakan di hari pernikahan sudah selesai dibuat.

Nina merangkul lenganku dengan akrab. "Dek Maya, biar aku yang bantu lihat dan kasih pendapat."

Nina benar-benar terlihat seperti kakak yang sangat menyayangi dan peduli pada adiknya. Namun, saat aku sedang mencoba gaun, Nina tiba-tiba menerima sebuah panggilan dan wajahnya langsung menjadi muram.

"Gaun yang seharusnya kupakai untuk menghadiri sebuah jamuan penting ternyata bermasalah. Sekarang aku tidak bisa menemukan gaun yang cocok dalam waktu sesingkat ini...."

Rendra mengedarkan pandangan ke seluruh butik.

"Pilih saja gaun yang ada di sini."

Namun, dia merasa tidak ada satu pun yang cocok. Pada akhirnya, pandangannya tertuju pada gaun yang kukenakan untuk jamuan syukuran.

"Kulit Nina lebih putih, jadi bagus dan sangat cocok untuknya. Kebetulan kamu bisa kasih gaun ini buat kakakmu."

Pelayan butik itu tanpa sadar membelaku, "Pak, Nona Maya sudah datang lebih dari tiga puluh kali demi gaun ini. Dia bahkan menggambar sendiri desainnya dan meminta setiap detailnya dibuat secara khusus."

"Lagian... mana ada pengantin yang memakai bekas gaun orang lain?"

Rendra melirikku tanpa ragu.

Bagi Rendra, ini mungkin tidak menjadi masalah. Nina membutuhkannya, jadi aku harus memberikannya. Aku memegang dadaku, sebenarnya tidak begitu sedih lagi.

Aku melepaskan gaun itu dan menyerahkannya kepada Nina. "Tidak apa-apa. Kakak pasti akan terlihat sangat cantik saat memakainya."

Rendra sempat terkejut sesaat, tetapi tatapannya segera kembali lembut. "Nina memang anak paling penurut. Ayo, aku temani kamu memilih gaun yang lebih bagus lagi."

Namun, pandangannya terus terpaku pada Nina yang sudah memakai gaun. Dia bahkan berjongkok untuk membantu Nina merapikan setiap lipatan gaun.

Aku juga pernah membayangkan adegan seperti ini.

Aku sudah datang ke tempat ini lebih dari tiga puluh kali, tetapi Rendra hanya pernah menemaniku sekali.

Saat ini, seorang pelayan tersenyum sambil mengatakan bahwa suami yang membantu merapikan gaun istrinya akan terlihat sangat romantis.

Namun, Rendra hanya berkata tanpa mendongak, "Itu namanya manja, bukan romantis. Bukankah kerjaan seperti ini seharusnya dilakukan pelayan butik?"

Melihat punggung Rendra yang berjongkok di depan Nina, akhirnya aku merasakan konsekuensi yang harus kubayar untuk sebuah khayalan.

Sejak kecil, semua orang memang lebih menyukai kakakku. Termasuk orang tuaku dan Rendra.

Namun, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk menyukai Rendra.

Saat orang tuaku menjewer telingaku sambil memarahiku karena bodoh, hanya Rendra yang akan menyelipkan sebutir permen stroberi ke tanganku.

"Meski agak bodoh, kamu tetap terlihat imut kok."

Sejak itu, aku diam-diam menyukai Rendra.

Sampai akhirnya Rendra menyatakan cintanya kepada kakakku, sementara kakakku mengatakan bahwa dirinya ingin mengejar karier. Rendra yang patah hati akhirnya menyatakan cinta kepadaku.

Jelas aku tahu bahwa dia hanya melampiaskan kekesalannya, tetapi aku tetap menerimanya. Sebenarnya aku lebih menyukai seni, tapi aku tetap menjadi asistennya.

Aku bahkan belajar seperti kakakku. Aku berusaha memahami data-data rumit dan bahan-bahan yang sulit dipahami demi membantunya.

Namun, aku tidak akan pernah bisa menjadi kakakku. Sementara, Rendra tidak akan pernah menyukaiku.

Ponselku tiba-tiba bergetar.

[Studio keramiknya sudah disiapkan, kapan kamu pergi ke sana?]

Nina sudah selesai memakai gaun.

Rendra pun mengambil sebuah gaun hitam dan menyerahkannya kepadaku. "Maya, cepat pilih gaunnya. Nina masih ada urusan, jangan sampai tunda waktunya."

"Ini lumayan bagus. Sederhana, elegan dan cocok denganmu."

Lagi-lagi warna hitam yang paling kubenci.

Aku menundukkan kepala dan membalas pesan itu.

[Kalau begitu, di hari pernikahanku saja. Aku sudah bilang akan kabur dari pernikahan.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 10

    Setahun kemudian, kami mengadakan sebuah pernikahan yang kecil dan sederhana di Kota Batam.Aku bahkan tidak mengundang orang tuaku. Aku tidak tahu dan juga tidak ingin tahu apakah mereka mengetahuinya.Satu jam sebelum pernikahan dimulai, ponselku bergetar. Itu adalah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Tidak ada nama pengirimnya, tapi ada satu kalimat.[Kudengar kamu akan menikah hari ini. Semoga kamu bahagia.]Aku tidak membalasnya.Tepat saat pesan itu terkirim, Rendra sedang duduk sendirian di apartemen yang kosong.Cahaya di layar ponsel menerangi wajahnya. Pesan yang bertuliskan "semoga kamu bisa bahagia" itu sudah dibaca, tetapi tidak mendapatkan balasan.Melihat layar percakapan yang tidak kunjung mendapat jawaban itu, dia tiba-tiba tersenyum. Matanya pun memerah.Dulu, aku pernah tinggal di apartemen ini.Di dalam lemari masih tergantung satu hoodie yang tidak kubawa. Dia tidak pernah membuangnya.Tidak tahu apa yang sebenarnya dia tunggu. Mungkin sedang menungguku pulang u

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 9

    "Lalu, bagaimana kamu memperlakukanku?""Kamu menganggap semua perasaanku selama ini sebagai apa? Sebagai cadangan yang terpilih karena tidak ada pilihan yang lebih baik? Sebagai pengganti yang sedikit mirip dengannya atau sebagai alasan supaya kamu tetap bisa berada di sebelah kakakku?"Wajah Rendra seketika memucat."Aku juga berpikir kalau aku tidak akan menyukaimu, tapi aku tidak tahu...."Sebelum dia sempat selesai berbicara, aku langsung menyela perkataannya, "Kamu kira dirimu tidak akan menyukaiku.""Tapi, kamu tidak pernah bertanya padaku, apa aku suka diperlakukan seperti itu.""Kamu tidak pernah berpikir, apa gadis yang selalu kamu tempatkan di urutan kedua itu akan merasa sakit hati."Rendra membuka mulutnya, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun."Kamu pulang saja, Rendra.""Sekarang aku sangat serius, aku ingin memulai hubungan baru. Aku ingin menjadi orang pertama yang dia pilih."Rendra berdiri cukup lama di tempat semula, sampai adiknya Tomi mendongak dan melihatnya

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 8

    Gerakan di tanganku berhenti sejenak, aku mengangkat kepala dan melihatnya."Apa maksudmu?""Rendra."Dia bersandar di kusen pintu dan berkata dengan nada datar, "Di hari pernikahan kalian, aku menyatakan cintaku kepadanya di depan pintu hotel. Aku bilang diriku sudah menyesal dan ingin kembali bersamanya."Matanya menatap lurus ke arahku. "Tapi, dia menolakku."Aku sontak tercengang."Kemudian, dia mencarimu selama sebulan.""Dia pergi ke semua tempat yang mungkin akan kamu kunjungi. Sampai akhirnya, dia menemukan tempat ini."Kakakku berdiri tegak dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Ada sedikit kekacauan di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya."Akhirnya kamu menang dariku, apa kamu merasa senang?"Tanah liat di atas roda tembikar perlahan-lahan berhenti berputar. Aku kembali menginjak pedal hingga roda berputar lagi."Biasa saja."Kakakku memiringkan kepalanya. "Kenapa?"Aku menundukkan kepala dan melihat tanah liat di tanganku. Suaraku terdengar sangat datar. "Sel

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 7

    Rendra berdiri di barisan paling depan, dia terlihat lebih kurus dari yang kuingat. Tatapannya tertuju pada bunga yang kugenggam, kemudian beralih ke arah Tomi sebelum akhirnya kembali melihat wajahku.Di belakangnya ada orang tuaku. Wajah Ibuku terlihat sangat buruk, bibirnya mengatup dengan erat. Ayahku mengerutkan kening tanpa mengatakan sepatah kata pun.Suasana tiba-tiba menjadi hening.Ibuku yang pertama kali memecahkan keheningan. "Maya! Kamu kabur di hari pernikahan, bukankah kamu sengaja mempermalukan Rendra dan keluarga kita?"Terdengar suara Rendra yang sangat rendah. "Siapa pria ini?"Sebelum aku menjawab, ibuku sudah berbicara terlebih dahulu, "Jangan-jangan kamu punya selingkuhan? Pantas saja kamu kabur dari pernikahanmu. Ya sudahlah kalau kamu tidak pintar, tapi kenapa kelakuanmu juga begitu buruk?"Aku masih berdiri di tempat semula sambil menggenggam buket bunga itu.Tomi melirikku, kemudian melirik mereka. Dia berkata dengan nada tenang, "Aku ke belakang untuk meneman

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 6

    Udara pagi di Kota Batam dipenuhi aroma tanah basah yang lembap dan dingin. Di halaman rumah Dita, aku memasang roda tembikar. Segumpal tanah liat perlahan mulai terbentuk di telapak tanganku.Dita sedang merebus air di dalam rumah, dia menjulurkan kepalanya dan melirik ke arahku."Baru belajar beberapa hari, tapi kemampuanmu membuat bentuk dari tanah liat sudah lebih bagus dariku."Tanpa mengangkat kepala, sudut bibirku sedikit terangkat. Kerajinan tembikar adalah sesuatu yang sangat aneh.Kita harus meletakkan tangan di posisi yang paling tepat, kemudian memberikan tekanan secara merata. Akan tetapi, kita tidak boleh terlalu kuat dan juga tidak boleh terlalu ringan.Tanah liat berputar di atas roda. Begitu kehilangan sedikit keseimbangan, bentuknya akan miring dan semua usaha akan menjadi sia-sia.Aku suka perasaan ketika semuanya berada dalam kendaliku.Tidak seperti manusia.Sejak kecil, aku lebih mahir dalam hal-hal yang berhubungan dengan seni. Namun, aku agak keras kepala dan me

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 5

    Setelah melihat sekeliling aula utama, Rendra juga mencari di setiap sudut satu per satu. Kemudian, dia berjalan ke depan pintu ruang rias dan mendorong pintunya.Tidak ada seorang pun di dalam ruang rias.Rendra menelepon ponselku, tapi panggilannya diakhiri setelah nada bit ketiga.Dia meneleponku lagi, tapi ponselku sudah dimatikan.Ekspresi wajahnya akhirnya berubah. Kebingungan itu perlahan berubah menjadi rasa kehilangan arah yang belum pernah ada sebelumnya.Tanpa disadari, ayah dan ibuku juga sudah tiba. Begitu masuk, ibuku sudah mulai mencari sambil berteriak, "Di mana Maya? Belum datang, ya?"Ayahku mengerutkan alisnya dan berkata dengan suara rendah, "Sejak kecil, anak ini memang tidak bisa diandalkan. Di momen seperti ini, dia masih saja membuat masalah."Ibuku juga ikut mengomel, "Benar sekali! Ya sudahlah kalau memang tidak pintar, tapi sampai pernikahannya sendiri pun tidak diurus. Tunggu dia sampai, aku bakal kasih pelajaran."Rendra tidak mengatakan apa pun.Dia berbal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status