Share

Ternyata Aku Layak Dicintai
Ternyata Aku Layak Dicintai
Author: Hero

Bab 1

Author: Hero
Setiap musim panas, ketika semangka sudah dipotong, Rendra selalu menyajikan potongan pertama untuk kakakku. Kakakku selalu memilih bagian paling tengah, daging yang merah, manis dan tanpa biji. Rendra akan menyajikan potongan yang tersisa, bagian yang dekat dengan kulit dan penuh biji untukku.

"Bagian ini juga sudah matang, tapi tidak terlalu manis. Kamu makan seadanya dulu."

Ketika membeli mobil baru, kakakku juga menjadi orang pertama yang diberi kesempatan untuk memilih tempat duduk. Kakakku memilih kursi sebelah pengemudi karena lebih nyaman dan tidak mudah pusing.

Setelah itu, Rendra menunjuk kursi belakang dan berkata kepadaku, "Dua kursi di belakang memang agak sempit, kamu bebas pilih yang mana saja."

Ternyata urusan cinta pun begitu.

Sebenarnya Rendra menyukai kakakku, tapi kakakku memilih mengejar karier, impian dan cita-citanya.

Rendra yang ditinggalkan kakakku pun dilanda keputusasaan. Tak lama kemudian, dia justru berbalik dan menyatakan cintanya kepadaku.

Di dalam hati Rendra, kakakku selalu menjadi pilihan pertama.

Melihat bros hitam itu, aku tiba-tiba mengulurkan tangan dan mendorongnya kembali. "Kak, kamu ambil dua-duanya saja. Aku tidak mau."

Aku tidak ingin memilih barang yang tersisa lagi.

...

Rendra menghela napas dengan ekspresi tak berdaya. "Maya, hadiah tambahannya tidak cocok dengan kakakmu."

Aku menatapnya dengan tatapan serius. "Lalu, kenapa cocok denganku?"

Setelah tertegun sejenak, Rendra pun menatapku sambil tersenyum.

"Saat kalian berdiri berdampingan waktu masih kecil, bukankah semua orang selalu bilang kalau kamu seperti pelayan kakakmu yang hitam dan kurus?"

"Berlian merah muda yang mencolok tidak cocok denganmu. Warna hitam lebih bagus, sederhana dan cocok dengan siapa pun."

Pelayan?

Aku dan kakakku adalah saudara kembar, tetapi aku jelas kalah jauh darinya.

Waktu kami masih sekolah, kakakku selalu mengambil peringkat pertama, sementara aku hanya mampu bertahan di peringkat menengah meski begadang sampai mata memerah.

Ibu pernah menunjuk dahiku sambil menghela napas. "Padahal kalian keluar dari rahim yang sama, kenapa kamu bisa sebodoh ini? Lupakan saja, setidaknya ada satu yang pintar di keluarga ini."

Aku selalu berjalan di belakang kakakku, mengambil tasnya dan mengupas kulit apel untuknya ....

Selama sepuluh tahun, aku dipanggil sebagai pelayan. Aku sudah berkali-kali memberi tahu Rendra bahwa aku tidak menyukai julukan itu. Setiap kalinya Rendra selalu menjawab dengan serius kalau dia tidak akan menyebutnya lagi. Namun setiap kali kakakku ada, sebutan itu tetap saja keluar dari mulutnya dengan mudah.

Aku menatap Rendra dengan tatapan tenang. "Rendra, kita putus saja."

Rendra menatapku sambil tersenyum seolah sedang membujuk seorang anak kecil, "Sudahlah. Kalau kamu tidak suka bros itu, tinggal pilih hadiah lain. Apa perlu sampai mengatakan hal seperti itu karena marah?"

"Sekarang kita pergi ke mal. Pilih saja apa pun sampai kamu benar-benar puas, gimana?"

Kakakku mendorong kalung berlian merah muda itu ke hadapanku.

"Maya, ambil saja kalung ini. Sebentar lagi kamu akan menikah dan jadi dewasa, jangan bersikap kekanak-kanakan lagi."

Namun, Rendra segera menghentikannya. "Aku sengaja memilih kalung itu untukmu. Maya tidak cocok memakai kalung seperti itu, jadi sia-sia kalau diberikan kepadanya."

Rupanya, barang yang katanya boleh kupilih pun sebenarnya sudah dipilih secara khusus untuk orang lain.

Rendra merangkul bahuku dan mengajakku pergi.

Baru saja kami tiba di lantai satu mal, Nina malah mengatakan bahwa dia ingin melihat parfum edisi terbaru.

Rendra langsung mengangguk. "Kalau begitu, kita temani Nina belanja dulu, baru kemudian mencari hadiahmu. Lagian, kamu juga tidak terburu-buru."

Lagi-lagi aku diperlakukan seperti ini.

Kakakku menghabiskan waktu cukup lama untuk mencoba barang-barang di konter. Pada akhirnya, dia menyukai dua aroma parfum dan jatuh dalam kondisi dilema.

Melihat kebingungan kakakku, Rendra pun berkata, "Beli saja dua-duanya. Kamu pilih satu yang ingin dipakai lebih dulu, biar yang satunya diberikan kepada Maya. Kalau sudah bosan, kamu tinggal tukar dengan Maya."

Selesai membayar tagihan, Rendra pun menyerahkan salah satu parfum kepadaku.

"Sekarang kamu tidak perlu repot-repot memilih hadiahmu lagi. Selera kakakmu sangat bagus, sekarang kamu pasti senang, 'kan?"

Aku tidak mengambilnya. Melihat parfum itu, aku tiba-tiba merasa konyol. Bukankah aku datang ke sini untuk memilih hadiahku sendiri?

"Setelah pulang nanti, aku akan mengambil semua barangku dari apartemenmu. Ke depannya, aku tidak akan datang lagi."

Tangan Rendra terhenti di udara. Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah menjadi serius. "Maya, jangan bikin onar."

Di malam itu juga, Rendra memanggil kedua orang tuaku. Begitu masuk ke rumah, ibuku langsung menunjuk pelipisku. "Kamu kenapa lagi sampai tiba-tiba mau putus?"

"Coba pikir baik-baik, apa yang membuatmu cocok dengan Rendra? Wajahmu biasa saja dan juga bodoh! Kalau bukan kakakmu sibuk mengejar kariernya, emang kamu punya kesempatan?"

Pelipisku sangat sakit hingga berdenyut-denyut. Aku sudah terlalu sering mendengar kata-kata seperti ini. Setiap katanya pun terdengar familiar.

Aku bodoh. Aku jelek. Aku tidak sepintar kakakku.

Saat ini, Rendra berdiri di depanku. Dia tersenyum sambil menenangkan suasana, "Paman, Bibi, jangan berkata begitu. Maya sangat baik dan cocok denganku."

Ibuku langsung menatap Rendra dengan wajah penuh kepuasan. "Lihatlah, Rendra saja membelamu. Ke mana lagi kamu bisa menemukan pria sebaik ini?"

"Kalau kamu benar-benar putus dengannya, jangan anggap aku sebagai ibumu lagi."

Benar sekali, dia memang pria yang sangat baik. Aku seharusnya bersyukur.

Aku mengendus pelan. "Oke."

Semua orang langsung mengembuskan napas lega, seolah-olah anak yang nakal akhirnya sadar dan kembali patuh. Aku berjalan masuk ke kamarku.

Saat menelepon temanku, air mataku tanpa sadar mengalir keluar.

"Dita, apa tempatmu masih menerima orang untuk belajar membuat keramik?"

Terdengar suara Dita yang hati-hati. "Bukankah kamu akan menikah? Keluargamu mengizinkanmu datang ke sini, 'kah?"

Melihat langit yang gelap gulita di luar jendela, aku tiba-tiba tersenyum. "Dita, bagaimana kalau seminggu lagi aku kabur dari pernikahanku?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 10

    Setahun kemudian, kami mengadakan sebuah pernikahan yang kecil dan sederhana di Kota Batam.Aku bahkan tidak mengundang orang tuaku. Aku tidak tahu dan juga tidak ingin tahu apakah mereka mengetahuinya.Satu jam sebelum pernikahan dimulai, ponselku bergetar. Itu adalah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Tidak ada nama pengirimnya, tapi ada satu kalimat.[Kudengar kamu akan menikah hari ini. Semoga kamu bahagia.]Aku tidak membalasnya.Tepat saat pesan itu terkirim, Rendra sedang duduk sendirian di apartemen yang kosong.Cahaya di layar ponsel menerangi wajahnya. Pesan yang bertuliskan "semoga kamu bisa bahagia" itu sudah dibaca, tetapi tidak mendapatkan balasan.Melihat layar percakapan yang tidak kunjung mendapat jawaban itu, dia tiba-tiba tersenyum. Matanya pun memerah.Dulu, aku pernah tinggal di apartemen ini.Di dalam lemari masih tergantung satu hoodie yang tidak kubawa. Dia tidak pernah membuangnya.Tidak tahu apa yang sebenarnya dia tunggu. Mungkin sedang menungguku pulang u

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 9

    "Lalu, bagaimana kamu memperlakukanku?""Kamu menganggap semua perasaanku selama ini sebagai apa? Sebagai cadangan yang terpilih karena tidak ada pilihan yang lebih baik? Sebagai pengganti yang sedikit mirip dengannya atau sebagai alasan supaya kamu tetap bisa berada di sebelah kakakku?"Wajah Rendra seketika memucat."Aku juga berpikir kalau aku tidak akan menyukaimu, tapi aku tidak tahu...."Sebelum dia sempat selesai berbicara, aku langsung menyela perkataannya, "Kamu kira dirimu tidak akan menyukaiku.""Tapi, kamu tidak pernah bertanya padaku, apa aku suka diperlakukan seperti itu.""Kamu tidak pernah berpikir, apa gadis yang selalu kamu tempatkan di urutan kedua itu akan merasa sakit hati."Rendra membuka mulutnya, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun."Kamu pulang saja, Rendra.""Sekarang aku sangat serius, aku ingin memulai hubungan baru. Aku ingin menjadi orang pertama yang dia pilih."Rendra berdiri cukup lama di tempat semula, sampai adiknya Tomi mendongak dan melihatnya

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 8

    Gerakan di tanganku berhenti sejenak, aku mengangkat kepala dan melihatnya."Apa maksudmu?""Rendra."Dia bersandar di kusen pintu dan berkata dengan nada datar, "Di hari pernikahan kalian, aku menyatakan cintaku kepadanya di depan pintu hotel. Aku bilang diriku sudah menyesal dan ingin kembali bersamanya."Matanya menatap lurus ke arahku. "Tapi, dia menolakku."Aku sontak tercengang."Kemudian, dia mencarimu selama sebulan.""Dia pergi ke semua tempat yang mungkin akan kamu kunjungi. Sampai akhirnya, dia menemukan tempat ini."Kakakku berdiri tegak dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Ada sedikit kekacauan di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya."Akhirnya kamu menang dariku, apa kamu merasa senang?"Tanah liat di atas roda tembikar perlahan-lahan berhenti berputar. Aku kembali menginjak pedal hingga roda berputar lagi."Biasa saja."Kakakku memiringkan kepalanya. "Kenapa?"Aku menundukkan kepala dan melihat tanah liat di tanganku. Suaraku terdengar sangat datar. "Sel

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 7

    Rendra berdiri di barisan paling depan, dia terlihat lebih kurus dari yang kuingat. Tatapannya tertuju pada bunga yang kugenggam, kemudian beralih ke arah Tomi sebelum akhirnya kembali melihat wajahku.Di belakangnya ada orang tuaku. Wajah Ibuku terlihat sangat buruk, bibirnya mengatup dengan erat. Ayahku mengerutkan kening tanpa mengatakan sepatah kata pun.Suasana tiba-tiba menjadi hening.Ibuku yang pertama kali memecahkan keheningan. "Maya! Kamu kabur di hari pernikahan, bukankah kamu sengaja mempermalukan Rendra dan keluarga kita?"Terdengar suara Rendra yang sangat rendah. "Siapa pria ini?"Sebelum aku menjawab, ibuku sudah berbicara terlebih dahulu, "Jangan-jangan kamu punya selingkuhan? Pantas saja kamu kabur dari pernikahanmu. Ya sudahlah kalau kamu tidak pintar, tapi kenapa kelakuanmu juga begitu buruk?"Aku masih berdiri di tempat semula sambil menggenggam buket bunga itu.Tomi melirikku, kemudian melirik mereka. Dia berkata dengan nada tenang, "Aku ke belakang untuk meneman

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 6

    Udara pagi di Kota Batam dipenuhi aroma tanah basah yang lembap dan dingin. Di halaman rumah Dita, aku memasang roda tembikar. Segumpal tanah liat perlahan mulai terbentuk di telapak tanganku.Dita sedang merebus air di dalam rumah, dia menjulurkan kepalanya dan melirik ke arahku."Baru belajar beberapa hari, tapi kemampuanmu membuat bentuk dari tanah liat sudah lebih bagus dariku."Tanpa mengangkat kepala, sudut bibirku sedikit terangkat. Kerajinan tembikar adalah sesuatu yang sangat aneh.Kita harus meletakkan tangan di posisi yang paling tepat, kemudian memberikan tekanan secara merata. Akan tetapi, kita tidak boleh terlalu kuat dan juga tidak boleh terlalu ringan.Tanah liat berputar di atas roda. Begitu kehilangan sedikit keseimbangan, bentuknya akan miring dan semua usaha akan menjadi sia-sia.Aku suka perasaan ketika semuanya berada dalam kendaliku.Tidak seperti manusia.Sejak kecil, aku lebih mahir dalam hal-hal yang berhubungan dengan seni. Namun, aku agak keras kepala dan me

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 5

    Setelah melihat sekeliling aula utama, Rendra juga mencari di setiap sudut satu per satu. Kemudian, dia berjalan ke depan pintu ruang rias dan mendorong pintunya.Tidak ada seorang pun di dalam ruang rias.Rendra menelepon ponselku, tapi panggilannya diakhiri setelah nada bit ketiga.Dia meneleponku lagi, tapi ponselku sudah dimatikan.Ekspresi wajahnya akhirnya berubah. Kebingungan itu perlahan berubah menjadi rasa kehilangan arah yang belum pernah ada sebelumnya.Tanpa disadari, ayah dan ibuku juga sudah tiba. Begitu masuk, ibuku sudah mulai mencari sambil berteriak, "Di mana Maya? Belum datang, ya?"Ayahku mengerutkan alisnya dan berkata dengan suara rendah, "Sejak kecil, anak ini memang tidak bisa diandalkan. Di momen seperti ini, dia masih saja membuat masalah."Ibuku juga ikut mengomel, "Benar sekali! Ya sudahlah kalau memang tidak pintar, tapi sampai pernikahannya sendiri pun tidak diurus. Tunggu dia sampai, aku bakal kasih pelajaran."Rendra tidak mengatakan apa pun.Dia berbal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status