Share

Bab 3

Author: Hero
Ketika kami dipanggil ayah dan ibu untuk makan malam di rumah, barulah aku teringat bahwa hari ini adalah ulang tahunku dan kakakku.

Kue ulang tahunnya dibeli oleh Rendra.

"Ulang tahun kalian berdua di hari yang sama. Kuenya juga cukup beli satu saja, jauh lebih praktis."

Kuenya terlihat sangat cantik, tapi ada potongan mangga yang terlihat di bagian tengah.

Nina suka makan mangga, sedangkan aku alergi mangga. Namun, tidak ada seorang pun yang merasa aneh.

Rendra sibuk menancapkan lilin di atas kue, kemudian memakaikan topi ulang tahun untuk kakakku.

"Nina, kamu berdoa dulu."

Melihat kue mangga, topi ulang tahun di kepala Nina dan senyuman lembut di wajah Rendra, aku akhirnya membuka mulut, "Rendra."

"Dulu kamu selalu menyiapkan hadiah apa pun untuk kami berdua, tapi sekarang justru cuma ada satu kue ulang tahun?"

"Lalu, kenapa aku selalu menjadi orang terakhir yang memilih?"

Suasana di ruang tamu menjadi sunyi. Rendra mengerutkan alisnya.

"Bukankah kamu selalu diperlakukan seperti ini? Kenapa kamu malah bersikap aneh hari ini?" ujar ibuku sambil menatapku.

"Dia itu kakakmu. Lagian, dia jauh lebih unggul darimu dalam segala aspek. Tentu saja, dia yang harus didahulukan. Kalau kamu bisa sehebat kakakmu, aku juga akan membiarkanmu meniup lilin dulu!"

Tiba-tiba, aku tidak tahu harus berkata apa lagi.

Nina mulai berdoa. Semua anggota keluargaku pun mengelilinginya sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Namun, saat tiba giliranku, lilin sudah hampir terbakar habis.

Rendra meliriknya sekilas sambil berbicara, "Tidak ada lilin cadangan. Lagian, berdoa itu cuma formalitas. Maya bisa berdoa di tahun depan."

Aku selalu diperlakukan begitu selama 20 tahun.

Setiap tahunnya aku harus menunggu giliran tahun depan. Namun, aku tidak pernah mendapatkan giliran itu. Anak yang kurang unggul memang tidak pantas untuk dicintai, 'kah?

Aku melihat mereka membagikan kue dengan tatapan tenang, sementara pikiranku sudah melayang jauh.

Tak lama kemudian, pembicaraan mereka tanpa sadar beralih ke soal pernikahan.

Tiba-tiba, ibuku bertanya padaku, "Gimana persiapan acara pernikahannya?"

Sebelum aku sempat menjawab, ibuku sudah menoleh ke arah Rendra. "Ngomong-ngomong, Rendra. Kebanyakan tamu dari pihakmu bakal berasal dari kalangan bisnis."

"Kebetulan produk penelitian terbaru Nina bisa dipromosikan di pernikahan kalian."

Tanpa berpikir, Rendra langsung tersenyum sambil mengangguk. "Boleh banget. Kalau begitu, sesi di mana pembawa acara menceritakan kisah cinta kita dibatalkan saja, biar Nina bisa naik ke panggung untuk memperkenalkan produknya."

Nina tersenyum sambil berujar, "Sebenarnya tidak perlu dibatalkan. Aku cukup mengatakan beberapa patah kata saja, jangan sampai mengganggu pernikahan Maya."

Rendra menatapnya dengan serius. "Bagaimana bisa seperti itu? Kalau mau memperkenalkannya, tentu butuh waktu yang lama. Kamu tenang saja, biar aku yang mengatur semuanya."

Mereka bertiga berdiskusi dengan penuh semangat. Di mana kios pamerannya akan ditempatkan, kapan naik ke panggung dan perlukah menyiapkan banner promosi.

Padahal, itu adalah acara pernikahanku. Namun, mereka akan mengubahnya menjadi tempat promosi produk.

Dari awal sampai akhir, tidak ada seorang pun yang menanyakan pendapatku.

Untungnya, pernikahan ini pun akan segera dibatalkan.

Aku merasa sesak hingga sulit bernapas, jadi memilih mengurung diri di kamar.

Rendra dan orang tuaku tetap berada di ruang tamu.

Itu adalah siaran langsung lomba tingkat nasional yang diikuti oleh kakakku. Malam ini, pemenangnya akan diumumkan.

Semua orang menatap layar dengan ekspresi tegang, seolah-olah tidak berani bernapas terlalu kuat.

Sementara itu, aku membereskan barang-barangku di rumah lama milik orang tuaku.

Sebenarnya tidak ada banyak barang yang ingin kubawa. Aku hanya mengambil sebuah buku gambar yang tersimpan di dalam laci. Di dalamnya terdapat lukisan yang kugambar saat masih kecil.

Nina memenangkan juara pertama.

Tiba-tiba, terdengar sorak-sorai dari luar kamar. Aku mendengar suara tawa, tepuk tangan dan teriakan.

Tak lama kemudian, terdengar keluhan Nina yang penuh dengan nada manja, "Tapi, upacara penghargaannya bertepatan dengan hari pernikahan Maya, jadinya kalian tidak bisa datang menemaniku."

Di momen sepenting itu, aku harus pergi sendirian. Sayang sekali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 10

    Setahun kemudian, kami mengadakan sebuah pernikahan yang kecil dan sederhana di Kota Batam.Aku bahkan tidak mengundang orang tuaku. Aku tidak tahu dan juga tidak ingin tahu apakah mereka mengetahuinya.Satu jam sebelum pernikahan dimulai, ponselku bergetar. Itu adalah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Tidak ada nama pengirimnya, tapi ada satu kalimat.[Kudengar kamu akan menikah hari ini. Semoga kamu bahagia.]Aku tidak membalasnya.Tepat saat pesan itu terkirim, Rendra sedang duduk sendirian di apartemen yang kosong.Cahaya di layar ponsel menerangi wajahnya. Pesan yang bertuliskan "semoga kamu bisa bahagia" itu sudah dibaca, tetapi tidak mendapatkan balasan.Melihat layar percakapan yang tidak kunjung mendapat jawaban itu, dia tiba-tiba tersenyum. Matanya pun memerah.Dulu, aku pernah tinggal di apartemen ini.Di dalam lemari masih tergantung satu hoodie yang tidak kubawa. Dia tidak pernah membuangnya.Tidak tahu apa yang sebenarnya dia tunggu. Mungkin sedang menungguku pulang u

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 9

    "Lalu, bagaimana kamu memperlakukanku?""Kamu menganggap semua perasaanku selama ini sebagai apa? Sebagai cadangan yang terpilih karena tidak ada pilihan yang lebih baik? Sebagai pengganti yang sedikit mirip dengannya atau sebagai alasan supaya kamu tetap bisa berada di sebelah kakakku?"Wajah Rendra seketika memucat."Aku juga berpikir kalau aku tidak akan menyukaimu, tapi aku tidak tahu...."Sebelum dia sempat selesai berbicara, aku langsung menyela perkataannya, "Kamu kira dirimu tidak akan menyukaiku.""Tapi, kamu tidak pernah bertanya padaku, apa aku suka diperlakukan seperti itu.""Kamu tidak pernah berpikir, apa gadis yang selalu kamu tempatkan di urutan kedua itu akan merasa sakit hati."Rendra membuka mulutnya, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun."Kamu pulang saja, Rendra.""Sekarang aku sangat serius, aku ingin memulai hubungan baru. Aku ingin menjadi orang pertama yang dia pilih."Rendra berdiri cukup lama di tempat semula, sampai adiknya Tomi mendongak dan melihatnya

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 8

    Gerakan di tanganku berhenti sejenak, aku mengangkat kepala dan melihatnya."Apa maksudmu?""Rendra."Dia bersandar di kusen pintu dan berkata dengan nada datar, "Di hari pernikahan kalian, aku menyatakan cintaku kepadanya di depan pintu hotel. Aku bilang diriku sudah menyesal dan ingin kembali bersamanya."Matanya menatap lurus ke arahku. "Tapi, dia menolakku."Aku sontak tercengang."Kemudian, dia mencarimu selama sebulan.""Dia pergi ke semua tempat yang mungkin akan kamu kunjungi. Sampai akhirnya, dia menemukan tempat ini."Kakakku berdiri tegak dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Ada sedikit kekacauan di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya."Akhirnya kamu menang dariku, apa kamu merasa senang?"Tanah liat di atas roda tembikar perlahan-lahan berhenti berputar. Aku kembali menginjak pedal hingga roda berputar lagi."Biasa saja."Kakakku memiringkan kepalanya. "Kenapa?"Aku menundukkan kepala dan melihat tanah liat di tanganku. Suaraku terdengar sangat datar. "Sel

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 7

    Rendra berdiri di barisan paling depan, dia terlihat lebih kurus dari yang kuingat. Tatapannya tertuju pada bunga yang kugenggam, kemudian beralih ke arah Tomi sebelum akhirnya kembali melihat wajahku.Di belakangnya ada orang tuaku. Wajah Ibuku terlihat sangat buruk, bibirnya mengatup dengan erat. Ayahku mengerutkan kening tanpa mengatakan sepatah kata pun.Suasana tiba-tiba menjadi hening.Ibuku yang pertama kali memecahkan keheningan. "Maya! Kamu kabur di hari pernikahan, bukankah kamu sengaja mempermalukan Rendra dan keluarga kita?"Terdengar suara Rendra yang sangat rendah. "Siapa pria ini?"Sebelum aku menjawab, ibuku sudah berbicara terlebih dahulu, "Jangan-jangan kamu punya selingkuhan? Pantas saja kamu kabur dari pernikahanmu. Ya sudahlah kalau kamu tidak pintar, tapi kenapa kelakuanmu juga begitu buruk?"Aku masih berdiri di tempat semula sambil menggenggam buket bunga itu.Tomi melirikku, kemudian melirik mereka. Dia berkata dengan nada tenang, "Aku ke belakang untuk meneman

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 6

    Udara pagi di Kota Batam dipenuhi aroma tanah basah yang lembap dan dingin. Di halaman rumah Dita, aku memasang roda tembikar. Segumpal tanah liat perlahan mulai terbentuk di telapak tanganku.Dita sedang merebus air di dalam rumah, dia menjulurkan kepalanya dan melirik ke arahku."Baru belajar beberapa hari, tapi kemampuanmu membuat bentuk dari tanah liat sudah lebih bagus dariku."Tanpa mengangkat kepala, sudut bibirku sedikit terangkat. Kerajinan tembikar adalah sesuatu yang sangat aneh.Kita harus meletakkan tangan di posisi yang paling tepat, kemudian memberikan tekanan secara merata. Akan tetapi, kita tidak boleh terlalu kuat dan juga tidak boleh terlalu ringan.Tanah liat berputar di atas roda. Begitu kehilangan sedikit keseimbangan, bentuknya akan miring dan semua usaha akan menjadi sia-sia.Aku suka perasaan ketika semuanya berada dalam kendaliku.Tidak seperti manusia.Sejak kecil, aku lebih mahir dalam hal-hal yang berhubungan dengan seni. Namun, aku agak keras kepala dan me

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 5

    Setelah melihat sekeliling aula utama, Rendra juga mencari di setiap sudut satu per satu. Kemudian, dia berjalan ke depan pintu ruang rias dan mendorong pintunya.Tidak ada seorang pun di dalam ruang rias.Rendra menelepon ponselku, tapi panggilannya diakhiri setelah nada bit ketiga.Dia meneleponku lagi, tapi ponselku sudah dimatikan.Ekspresi wajahnya akhirnya berubah. Kebingungan itu perlahan berubah menjadi rasa kehilangan arah yang belum pernah ada sebelumnya.Tanpa disadari, ayah dan ibuku juga sudah tiba. Begitu masuk, ibuku sudah mulai mencari sambil berteriak, "Di mana Maya? Belum datang, ya?"Ayahku mengerutkan alisnya dan berkata dengan suara rendah, "Sejak kecil, anak ini memang tidak bisa diandalkan. Di momen seperti ini, dia masih saja membuat masalah."Ibuku juga ikut mengomel, "Benar sekali! Ya sudahlah kalau memang tidak pintar, tapi sampai pernikahannya sendiri pun tidak diurus. Tunggu dia sampai, aku bakal kasih pelajaran."Rendra tidak mengatakan apa pun.Dia berbal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status