Share

Bab 4

Author: Hero
Ruang tamu sunyi selama beberapa detik. Tak lama kemudian, terdengar suara Rendra. "Aku tidak akan biarkan kamu sendirian."

Pintu kamarku pun diketuk. Rendra berdiri di depan pintu dan berbicara dengan nada membujuk, "Maya, upacara penghargaan Nina hanya sekali seumur hidup. Ini benar-benar sangat penting."

"Bagaimana kalau pernikahan kita diundur ke malam hari?"

Aku merasa sangat konyol.

Bukankah pernikahan seharusnya hanya sekali seumur hidup?

Seorang pelayan bergumam, "Mana ada pernikahan yang digelar malam hari? Biasanya yang menikah di malam hari itu cuma orang yang menikah untuk kedua kalinya."

Ibuku langsung memasang ekspresi tegas dan memarahinya, "Jangan asal ngomong! Kamu masih muda, jangan percaya takhayul!"

Rendra berujar sambil melihatku dengan tatapan lembut dan tegas, "Maya, bagaimana menurutmu? Kamu 'kan paling pengertian."

Aku menatapnya.

Lantas, aku teringat masa kecil.

Saat itu, aku akhirnya berhasil memenangkan sebuah penghargaan dalam lomba menggambar. Aku dengan senang menunggu orang tuaku datang untuk melihatku menerima penghargaan.

Namun, mereka mengatakan bahwa lomba pidato kakakku lebih penting, jadi harus segera pergi ke sana.

Melihat kemalanganku, Rendra pun datang membujukku, "Tenang saja, aku bakal datang melihatmu menerima penghargaan."

Ujung-ujungnya, dia juga pergi ke lomba pidato kakakku.

Aku berdiri sendirian di atas panggung. Di bawah panggung adalah orang tua dari anak-anak lain dan tepuk tangan untuk anak-anak lain.

Sampai sekarang, aku masih sendirian.

"Oke, aku tidak keberatan. Kita adakan di malam saja."

Lagian, pernikahan tanpa tokoh utamanya bisa digelarkan kapan saja.

Begitu mendapatkan jawabanku, mereka mulai merayakannya. Suara tawaan di ruang tamu pun terdengar tanpa henti. Saat semuanya selesai, Rendra sudah mabuk.

Katanya, orang mabuk selalu melontarkan isi hatinya. Aku menatap mata Rendra yang tampak linglung.

Aku tiba-tiba bertanya, "Rendra, kamu menantikan pernikahan kita, 'kah?"

Dia tidak menjawab.

Angin berembus melewati kami, sehingga terasa dingin.

"Kalau begitu, kenapa kamu menyatakan cinta kepadaku dan memilih bersamaku?"

Aku tahu dia melakukannya karena sedang melampiaskan kekesalannya. Namun, aku ingin mendengar langsung dari mulutnya.

Suaranya membawa nada polos karena mabuk. "Seumur hidup ini, aku mengejar yang terbaik, tapi hanya berhasil mendapatkan yang biasa-biasa saja. Sekarang, ini sudah pilihan yang terbaik."

"Lagian, kamu adiknya. Selama berada di sebelahmu, aku masih bisa melihatnya…."

Angin yang berembus membuat mataku terasa perih. Ternyata kenyataan jauh lebih kejam daripada yang kubayangkan selama ini.

…

Di hari pernikahan.

Langit bahkan belum terang, semua anggota keluargaku sudah sibuk, tapi bukan untuk pernikahanku.

Semua orang sibuk memilih pakaian, berdandan dan membahas jalur perjalanan untuk menghadiri upacara penghargaan kakakku.

Setelah berpakaian rapi, aku berjalan keluar dari kamar. "Aku tidak ikut ke upacara penghargaan, masih ada urusan yang perlu dipersiapkan untuk pernikahan."

Rendra menjawab tanpa mengangkat kepala. Dia sedang memeriksa barang-barang kakakku dan memastikan tidak ada yang tertinggal. "Oke. Kamu pergi dulu, jangan sampai membuat tamu merasa tidak dihargai."

Aku membawa sebuah tas yang sangat kecil dan berjalan keluar dari rumah.

Kemudian, aku pergi ke bandara.

Begitu mobil dihidupkan, aku melihat mobil Rendra dari kaca spion.

Semua anggota keluargaku naik ke mobil dengan wajah penuh bahagia. Mereka berangkat menuju tempat upacara penghargaan kakakku.

Upacara penghargaan itu berlangsung selama empat jam.

Empat jam kemudian, aku pun tiba di Kota Batam.

Ponselku bergetar. Itu pesan dari Rendra.

[Maya, pernikahan kita juga digelar di malam hari. Acara seperti menjemput pengantin dan menyuguhkan teh untuk orang tua ditiadakan dulu. Aku sepertinya tiba agak malam.]

[Ada beberapa hal yang harus diurus Nina dan dia belum bisa menanganinya sendiri. Kamu pergi ke hotel dulu, ya.]

Aku melihat pesan itu dalam waktu yang lama. Tak lama kemudian, aku memblokir nomornya dan mengunci layar ponsel.

Dita menghampiriku dan memelukku sebentar. "Ayo."

…

Pada saat bersamaan, upacara penghargaan akhirnya selesai.

Rendra dan yang lainnya bergegas menuju lokasi pernikahan.

Begitu tiba, mereka menyadari bahwa lokasi pernikahan sudah kacau balau.

Seorang teman menarik lengan Rendra. "Bukankah kamu bilang pengantin wanita akan datang lebih dulu? Kenapa sampai sekarang belum kelihatan?"

Rendra tercengang. Melihat pengantin pria sudah tiba, perencana acara buru-buru menghampirinya. "Pak Rendra, ponsel pengantin wanita sudah tidak aktif. Kami sama sekali tidak bisa menghubunginya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 10

    Setahun kemudian, kami mengadakan sebuah pernikahan yang kecil dan sederhana di Kota Batam.Aku bahkan tidak mengundang orang tuaku. Aku tidak tahu dan juga tidak ingin tahu apakah mereka mengetahuinya.Satu jam sebelum pernikahan dimulai, ponselku bergetar. Itu adalah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Tidak ada nama pengirimnya, tapi ada satu kalimat.[Kudengar kamu akan menikah hari ini. Semoga kamu bahagia.]Aku tidak membalasnya.Tepat saat pesan itu terkirim, Rendra sedang duduk sendirian di apartemen yang kosong.Cahaya di layar ponsel menerangi wajahnya. Pesan yang bertuliskan "semoga kamu bisa bahagia" itu sudah dibaca, tetapi tidak mendapatkan balasan.Melihat layar percakapan yang tidak kunjung mendapat jawaban itu, dia tiba-tiba tersenyum. Matanya pun memerah.Dulu, aku pernah tinggal di apartemen ini.Di dalam lemari masih tergantung satu hoodie yang tidak kubawa. Dia tidak pernah membuangnya.Tidak tahu apa yang sebenarnya dia tunggu. Mungkin sedang menungguku pulang u

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 9

    "Lalu, bagaimana kamu memperlakukanku?""Kamu menganggap semua perasaanku selama ini sebagai apa? Sebagai cadangan yang terpilih karena tidak ada pilihan yang lebih baik? Sebagai pengganti yang sedikit mirip dengannya atau sebagai alasan supaya kamu tetap bisa berada di sebelah kakakku?"Wajah Rendra seketika memucat."Aku juga berpikir kalau aku tidak akan menyukaimu, tapi aku tidak tahu...."Sebelum dia sempat selesai berbicara, aku langsung menyela perkataannya, "Kamu kira dirimu tidak akan menyukaiku.""Tapi, kamu tidak pernah bertanya padaku, apa aku suka diperlakukan seperti itu.""Kamu tidak pernah berpikir, apa gadis yang selalu kamu tempatkan di urutan kedua itu akan merasa sakit hati."Rendra membuka mulutnya, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun."Kamu pulang saja, Rendra.""Sekarang aku sangat serius, aku ingin memulai hubungan baru. Aku ingin menjadi orang pertama yang dia pilih."Rendra berdiri cukup lama di tempat semula, sampai adiknya Tomi mendongak dan melihatnya

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 8

    Gerakan di tanganku berhenti sejenak, aku mengangkat kepala dan melihatnya."Apa maksudmu?""Rendra."Dia bersandar di kusen pintu dan berkata dengan nada datar, "Di hari pernikahan kalian, aku menyatakan cintaku kepadanya di depan pintu hotel. Aku bilang diriku sudah menyesal dan ingin kembali bersamanya."Matanya menatap lurus ke arahku. "Tapi, dia menolakku."Aku sontak tercengang."Kemudian, dia mencarimu selama sebulan.""Dia pergi ke semua tempat yang mungkin akan kamu kunjungi. Sampai akhirnya, dia menemukan tempat ini."Kakakku berdiri tegak dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Ada sedikit kekacauan di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya."Akhirnya kamu menang dariku, apa kamu merasa senang?"Tanah liat di atas roda tembikar perlahan-lahan berhenti berputar. Aku kembali menginjak pedal hingga roda berputar lagi."Biasa saja."Kakakku memiringkan kepalanya. "Kenapa?"Aku menundukkan kepala dan melihat tanah liat di tanganku. Suaraku terdengar sangat datar. "Sel

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 7

    Rendra berdiri di barisan paling depan, dia terlihat lebih kurus dari yang kuingat. Tatapannya tertuju pada bunga yang kugenggam, kemudian beralih ke arah Tomi sebelum akhirnya kembali melihat wajahku.Di belakangnya ada orang tuaku. Wajah Ibuku terlihat sangat buruk, bibirnya mengatup dengan erat. Ayahku mengerutkan kening tanpa mengatakan sepatah kata pun.Suasana tiba-tiba menjadi hening.Ibuku yang pertama kali memecahkan keheningan. "Maya! Kamu kabur di hari pernikahan, bukankah kamu sengaja mempermalukan Rendra dan keluarga kita?"Terdengar suara Rendra yang sangat rendah. "Siapa pria ini?"Sebelum aku menjawab, ibuku sudah berbicara terlebih dahulu, "Jangan-jangan kamu punya selingkuhan? Pantas saja kamu kabur dari pernikahanmu. Ya sudahlah kalau kamu tidak pintar, tapi kenapa kelakuanmu juga begitu buruk?"Aku masih berdiri di tempat semula sambil menggenggam buket bunga itu.Tomi melirikku, kemudian melirik mereka. Dia berkata dengan nada tenang, "Aku ke belakang untuk meneman

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 6

    Udara pagi di Kota Batam dipenuhi aroma tanah basah yang lembap dan dingin. Di halaman rumah Dita, aku memasang roda tembikar. Segumpal tanah liat perlahan mulai terbentuk di telapak tanganku.Dita sedang merebus air di dalam rumah, dia menjulurkan kepalanya dan melirik ke arahku."Baru belajar beberapa hari, tapi kemampuanmu membuat bentuk dari tanah liat sudah lebih bagus dariku."Tanpa mengangkat kepala, sudut bibirku sedikit terangkat. Kerajinan tembikar adalah sesuatu yang sangat aneh.Kita harus meletakkan tangan di posisi yang paling tepat, kemudian memberikan tekanan secara merata. Akan tetapi, kita tidak boleh terlalu kuat dan juga tidak boleh terlalu ringan.Tanah liat berputar di atas roda. Begitu kehilangan sedikit keseimbangan, bentuknya akan miring dan semua usaha akan menjadi sia-sia.Aku suka perasaan ketika semuanya berada dalam kendaliku.Tidak seperti manusia.Sejak kecil, aku lebih mahir dalam hal-hal yang berhubungan dengan seni. Namun, aku agak keras kepala dan me

  • Ternyata Aku Layak Dicintai   Bab 5

    Setelah melihat sekeliling aula utama, Rendra juga mencari di setiap sudut satu per satu. Kemudian, dia berjalan ke depan pintu ruang rias dan mendorong pintunya.Tidak ada seorang pun di dalam ruang rias.Rendra menelepon ponselku, tapi panggilannya diakhiri setelah nada bit ketiga.Dia meneleponku lagi, tapi ponselku sudah dimatikan.Ekspresi wajahnya akhirnya berubah. Kebingungan itu perlahan berubah menjadi rasa kehilangan arah yang belum pernah ada sebelumnya.Tanpa disadari, ayah dan ibuku juga sudah tiba. Begitu masuk, ibuku sudah mulai mencari sambil berteriak, "Di mana Maya? Belum datang, ya?"Ayahku mengerutkan alisnya dan berkata dengan suara rendah, "Sejak kecil, anak ini memang tidak bisa diandalkan. Di momen seperti ini, dia masih saja membuat masalah."Ibuku juga ikut mengomel, "Benar sekali! Ya sudahlah kalau memang tidak pintar, tapi sampai pernikahannya sendiri pun tidak diurus. Tunggu dia sampai, aku bakal kasih pelajaran."Rendra tidak mengatakan apa pun.Dia berbal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status