Share

Aku yang Salah

Author: Cahaya Asa
last update Last Updated: 2023-07-20 20:33:49

Wanita dengan balutan gamis dan kerudung bertali itu masih menatap tajam pada sosok wanita yang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Menunggu penjelasan dari wanita itu.

"Bisakah kalian tinggalkan kami berdua dulu? Kami perlu bicara, Mas," ucap wanita itu.

Meski agak heran Tiara membiarkan saja suami dan sahabatnya keluar. Jika Damar tidak mau menjelaskan semuanya dia berharap wanita ini yang menggantikannya. Melihat kondisinya yang sudah sangat lemah Tiara yakin wanita ini tidak akan mampu untuk berbohong.

"Kamu yakin?" tanya Damar khawatir.

Tentu saja pria itu takut kalau terjadi perdebatan antara dua wanita itu. Mengingat saat ini Tiara sedang dikuasai oleh emosi. Sedangkan sosok satunya tidak bisa berbuat apa-apa dalam kondisi yang sangat lemah. Dia takut Tiara akan berbuat nekat yang bisa membuat wanita lainnya semakin ngedrop.

"Apa kamu juga tidak percaya sama aku, Mas?" tanya wanita tersebut.

Dengan berat hati Damar keluar diikuti oleh Dina di belakangnya. Sebelum pintu benar-benar tertutup Damar menatap kedua wanita yang sama-sama ia sayangi itu dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.

Kini tinggal dua wanita itu yang ada di dalam kamar rawat. Mendadak suasana menjadi hening. Hanya suara hembusan nafas masing-masing yang terdengar di telinga ditambah detak jantung keduanya yang saling berpacu. Namun tampaknya wanita yang terbaring itu jauh lebih tenang dibanding Tiara yang seperti Tengah menaiki wahana roller coaster.

Wanita itu tersenyum menatap Tiara yang masih berdiri kaku di sampingnya.

"Duduklah, Ra!" ucap wanita itu lembut.

Seperti terhipnotis mendengar perintah dari wanita itu, Tiara langsung duduk di kursi plastik yang ada di samping ranjang. Tatapannya masih belum teralihkan dari senyum tulus wanita yang terbaring itu.

"Sebelumnya terima kasih atas kedatanganmu, Ra. Meski pertemuan kita dengan cara seperti ini aku senang sekali akhirnya kita bisa bertemu. Mas Damar selalu menolak setiap kali aku meminta untuk dipertemukan denganmu."

Alunan suara lembut itu membuat Tiara yang tadinya emosi mendadak tak memiliki nyali. Sikap tenang dan santun dari wanita ini membuat Tiara segan untuk marah-marah padanya. Terlebih melihat wajahnya yang pucat itu.

Wanita itu kembali tersenyum menatap Tiara yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam. Padahal tadi saat bersama dengan Damar Tiara sudah seperti banteng yang tengah mengamuk.

"Oh iya kamu pasti belum tahu siapa aku, kan? Kenalkan namaku Lela Nurlela. Kamu bisa memanggilku Mbak Lela atau Kak Lela mungkin?" Lela berusaha untuk mencairkan suasana dengan mengajak Tiara bercanda.

Hingga detik ini Tiara masih belum buka suara. Dia memilih untuk diam dan mendengarkan setiap untaian kata yang keluar dari bibir wanita bernama Lela itu.

Dalam hati Tiara kesal karena wanita ini seperti mengulur-ulur waktu dan tidak segera mengatakan siapa jati dirinya yang sebenarnya.

"Apa hubunganmu dengan Mas Damar?" Akhirnya setelah sekian menit bungkam pertanyaan itu yang meluncur dari bibir Tiara.

Bukannya menjawab Lela justru kembali melempar pertanyaan. "Kalau aku mengatakan apa hubunganku dengan Mas Damar apa kamu akan pergi meninggalkannya?"

Tiara melotot. Kenapa Lela terkesan seperti ingin membuatnya pergi dari suaminya, ya?

"Apa maksudmu? Apa kamu mau menguasai Mas Damar sendirian sehingga menyuruhku untuk pergi dari hidupnya? Oh atau kamu seorang pelakor yang selama ini menghabiskan uang suamiku? Jadi struk belanja yang kutemukan itu semuanya untuk membelanjakanmu?" Tiara melontarkan pertanyaan bertubi-tubi. Ketika diberi kesempatan untuk bicara maka dia tak ingin menyia-nyiakannya.

"Tiara, kamu salah paham." Lela berusaha untuk mendudukkan dirinya.

Meskipun melihat Lela kesusahan tapi tak ada niat sedikitpun bagi Tiara untuk membantunya. Dia ingin melihat seberapa kuat wanita ini sampai-sampai membuat suaminya berani membohongi dirinya.

"Bagaimana kabar Putri kecil kalian? Apa dia sudah bisa berjalan?"

Lagi-lagi Tiara melotot. Dia tak menyangka wanita ini mengetahui semuanya tentang rumah tangganya. Bahkan tentang Putri kecilnya.

"Pasti dia sangat lucu dan cantik seperti kamu," puji Lela tulus.

Namun pujian itu justru membuat hati Tiara semakin panas.

"Mbak tolong, ya nggak usah berbelit-belit. Katakan, apa hubunganmu dengan Mas Damar?"

Lela tampak menghela nafas panjang. Dia mencoba untuk meraih tangan Tiara, menggenggamnya erat-erat.

"Sama sepertimu. Aku juga istri Mas Damar," ucap Lela seperti petir menyambar Tiara.

Mendadak tubuh Tiara kaku. Jantungnya berdetak kencang dengan bibir bergetar. Matanya sudah berembun dan siap untuk tumpah jika dia berkedip.

"Tidak. Ini tidak mungkin!" Meski sudah menduga, tapi Tiara tetap nggak sanggup mendengar pengakuan Lela.

Tiara langsung bangun dan berlari keluar mengabaikan ucapan Lela selanjutnya. Ketika pintu terbuka Damar dan Dina yang menunggu dengan was-was langsung berdiri.

"Dek! Kamu mau kemana? Dek! Tunggu!" teriak Damar berlari menyusul istrinya. Namun saat teringat Lela, lelaki itu berhenti dan memilih untuk kembali ke dalam ruangan.

"Din, tolong ikuti istriku!" mohon Damar pada Dina.

"Kenapa harus aku bukannya kamu suaminya? Apa kamu lebih berat wanita yang ada di dalam sana daripada Tiara istrimu?" Dina menatap tajam pada Damar yang terlihat kebingungan.

"Please, Din. Sekarang Bukan saatnya untuk mendebatku. Tolong ikut istriku aku takut dia kenapa-napa di jalan."

Sebenarnya Dina ingin menumpahkan sumpah serapahnya pada Damar tapi dia harus menahan diri karena mengikuti Tiara jauh lebih penting untuk saat ini.

"Kenapa kamu malah kembali ke sini, Mas? Kejar Tiara, jangan biarkan dia pergi!" ucap Lela dengan tatapan sendu.

"Tidak, La. Aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini," bantah Damar.

"Tapi Tiara lebih butuh kamu sekarang. Hatinya pasti terluka mengetahui fakta ini." Meski dalam hatinya juga merasakan sakit yang teramat dalam tapi Lela menyadari bahwa kini suaminya bukan miliknya sendiri. Ada wanita lain yang memiliki status dan posisi sama dengan dirinya di hati suaminya.

"Apa kamu sudah mengatakannya?" tanya Damar harap-harap cemas.

"Ya, aku sudah mengatakannya. Kupikir lebih baik dia tahu sekarang daripada nanti akan membuatnya lebih sakit."

"Semuanya?" tanya Damar.

Lela menggeleng. "Belum. Dia sudah terlanjur pergi sebelum aku menceritakan semuanya."

Damar menyugar rambutnya kasar. Selama ini dia tidak pernah ketahuan. Rahasianya tetap aman selama 2 tahun ini hingga Putri yang diharapkannya lahir ke dunia. Tentu saja dia belum menyiapkan jawaban untuk Tiara ketika dia tahu segalanya.

"Kamu nggak marah sama aku kan, Mas?" Lela menatap suaminya dengan tatapan takut.

Damar menggelengkan kepala. Semuanya sudah terjadi tidak ada yang perlu disalahkan karena memang faktanya seperti itu. Kalau ada orang yang harus disalahkan di sini adalah dirinya yang sudah membuat dua wanita harus merasakan sakit karena dirinya.

"Pergilah Mas. Susul Tiara dan jelaskan semuanya," pinta Lela.

"Tapi bagaimana denganmu?"

"Aku baik-baik saja. Ada dokter dan banyak perawat di sini. Kenapa harus takut?" Ucapan itu seolah menggambarkan kalau Lela baik-baik saja. Nyatanya jauh dalam lubuk hatinya, Lela merasakan luka menganga yang entah bisa sembuh atau tidak. Karena sebenarnya dia adalah wanita yang paling terluka di sini.

"Maaf," ucap Damar sembari mencium kening Lela lalu pergi meninggalkannya.

"Mengapa sesakit ini melihat dia pergi untuk wanita lain?" Lela memejamkan mata. Berharap besok dia tidak akan pernah bangun lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ternyata Suamiku Sudah Beristri    Bab 40

    Lima tahun berlalu secepat uap yang menghilang dari permukaan cangkir espresso. Di sudut jalan Braga yang tetap mempertahankan fasad kolonialnya, kedai kopi "Melati & Bara" kini menjadi bagian dari nyawa kota. Tidak ada papan nama neon yang mencolok, hanya sebuah plakat kayu kecil dengan ukiran bunga melati yang mulai ditumbuhi lumut tipis di pinggirannya.Damar berdiri di belakang meja kayu jati yang sudah halus karena gesekan ribuan tangan pelanggan. Ia sedang menata beberapa buku laporan keuangan, namun bukan laporan yang berisi angka-angka miliaran rupiah yang penuh manipulasi. Ini adalah catatan sederhana tentang biaya biji kopi, gaji empat karyawannya, dan donasi rutin untuk rehabilitasi lahan bekas tambang."Mas, lihat ini," Kiara masuk dari pintu samping yang menghubungkan kedai dengan rumah tinggal mereka. Ia membawa sebuah majalah ekonomi edisi terbaru.Di halaman tengah, terdapat artikel kecil tentang pembongkaran total lahan Sektor 9. Pemerintah akhirnya meng

  • Ternyata Suamiku Sudah Beristri    Bab 39

    Kunci melati perak itu tergeletak di atas meja dapur yang terbuat dari kayu pinus, berkilat pelan di bawah temaram lampu gantung. Bagi orang lain, itu hanyalah benda antik yang tak berharga, namun bagi Damar, kunci itu adalah jangkar terakhir yang menghubungkannya dengan badai di masa lalu.Pagi di Bandung selalu diawali dengan kabut tipis yang merayap di sela-sela pohon pinus, dan hari ini tidak ada bedanya. Damar menyesap kopi pahitnya, menatap kunci itu dengan dahi berkerut."Kau masih memikirkannya?" Kiara muncul dari kamar, mengenakan sweter rajut longgar. Ia mengambil posisi di seberang Damar, tangannya melingkar hangat pada cangkir tehnya."Kunci ini bukan untuk pintu yang ada di rumah ini, Kiara," gumam Damar. Ia memutar-mutar benda perak itu. "Ini kunci loker. Loker penyimpanan di Stasiun Hall. Aku mengenali lambang kecil di pangkalnya."Kiara terdiam sejenak. "Elena ingin kita menemukan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa dia bawa bersamanya saat dia 'menghila

  • Ternyata Suamiku Sudah Beristri    Bab 38

    Lantai kayu di kedai kopi kecil itu berderit setiap kali Damar melangkah, sebuah suara yang jauh lebih merdu di telinganya ketimbang denting lift marmer di gedung Global Group. Aroma kopi Gayo yang baru dipanggang memenuhi ruangan, mengusir sisa-sisa bau logam dan asam yang seolah telah mengerak di ingatannya selama berbulan-bulan.Di luar, hujan rintik-rintik membasahi jalanan aspal Bandung yang tenang. Tidak ada raungan sirine, tidak ada jip tua yang dipacu gila-gilaan. Hanya ada suara gesekan penghapus kaca dari mobil-mobil yang melintas santai."Mas, pesanan meja nomor empat sudah siap?" Suara Kiara memecah lamunannya.Damar menoleh. Istrinya berdiri di balik meja bar, mengenakan celemek kain berwarna cokelat tua. Rambutnya diikat asal, dan ada sedikit noda susu di pipinya. Ia tampak jauh lebih muda, seolah beban sepuluh tahun telah diangkat dari pundaknya dalam semalam."Tinggal menuangkan susunya," jawab Damar sambil meraih milk jug. Tangannya yang dulu gemetar

  • Ternyata Suamiku Sudah Beristri    Bab 37

    Fajar yang baru saja merekah tidak membawa kehangatan; cahaya pucatnya justru menelanjangi sisa-sisa debu kimia yang masih menggantung di udara. Damar berdiri di antara reruntuhan Sektor 9 dan moncong senjata hukum yang baru saja menunjukkan wajah aslinya. Komisaris Yudha, pria yang fotonya sering muncul di kolom pahlawan kepolisian, kini berdiri menyandar pada kap mobil patrolinya dengan santai. “Kontrak cadangan?” Damar mengulang kata itu, suaranya parau, tenggorokannya terasa seperti baru saja menelan serbuk gaca. Ia tidak melepaskan rangkulannya dari bahu Kiara yang masih bergetar. Yudha mengetukkan jari-jarinya di atas map hitam. “Ayahmu, Hardian, adalah visioner. Dia tahu bisnis limbah bukan hanya soal membuang racun, tapi soal membangun loyalitas. Aku adalah asuransi yang dia bayar selama dua puluh tahun agar kalian bisa tidur nyenyak di Global Group.” Damar tertawa pendek, suara yang lebih mirip sedak napas. “Tidur nyenyak? Ibuku dibunuh oleh si

  • Ternyata Suamiku Sudah Beristri    Bab 36

    Deru mesin jip tua itu membelah kesunyian jalanan pinggiran kota yang rusak parah. Lampu depan mobil sesekali menangkap bayangan papan penunjuk jalan yang berkarat: Kawasan Industri Terpadu Sektor 9 – Dilarang Masuk. Udara di dalam kabin terasa semakin berat, bukan hanya karena polusi, tapi karena ketegangan yang nyaris meledak di antara Damar dan Kiara. "Mas, remnya... kau terlalu cepat," Kiara mencengkeram pegangan di atas pintu, matanya terpaku pada jarum speedometer yang terus menanjak. "Kita tidak punya banyak waktu, Kiara," sahut Damar tanpa menoleh. Rahangnya mengeras. "Jika pesan itu benar, maka selama ini aku berduka untuk alasan yang salah. Ibuku... dia tidak meninggal karena sakit jantung biasa." "Tapi dokter itu—Dokter Aris—dia sudah menjadi orang kepercayaan keluarga kalian selama puluhan tahun. Kenapa dia harus berkhianat sekarang? Apa untungnya bagi dia?" Damar membanting setir menghindari lubang besar. "Hardian tidak punya tema

  • Ternyata Suamiku Sudah Beristri    Bab 35

    Lantai 40 Global Group biasanya bergetar oleh langkah kaki tegap Tuan Hardian yang membuat para staf menahan napas. Kini, keheningan yang berbeda merayap di sana—bukan keheningan karena takut, melainkan keheningan dari sebuah mesin besar yang sedang dibongkar paksa.Damar berdiri di depan jendela kaca besar, menyesap kopi pahitnya. Tidak ada lagi jas mahal yang kaku; ia hanya mengenakan kemeja biru navy dengan lengan digulung hingga siku. Di belakangnya, Kiara sedang sibuk dengan tumpukan berkas dari map hitam yang kini telah berpindah ke dalam tablet digital."Mas, audit Sektor 7 sudah keluar," suara Kiara memecah kesunyian. Ia berjalan mendekat, menyodorkan layar tablet. "Total kerugian lingkungan mencapai angka yang... gila. Tapi setidaknya, semua aliran dana itu sudah terlacak kembali ke rekening cangkang milik ayahmu."Damar menghela napas, uap kopi menerpa wajahnya. "Dan Reno? Dia masih bersikeras bahwa tanda tangannya dipalsukan?""Dia tidak hanya bersikeras,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status