Share

Bab 7

Penulis: Cahaya Asa
last update Terakhir Diperbarui: 2023-10-13 08:36:03

Tiara memasuki rumah yang selama ini ia tinggali bersama Damar. Lelaki yang selalu memperlakukan dirinya bak ratu sekaligus menorehkan luka mendalam karena memiliki wanita lain dalam hidupnya.

Menghela nafas panjang, Tiara memindai seluruh ruangan yang penuh kenangan. Tak terasa air mata mengalir membasahi pipi. Setiap sudut ruangan ini menyimpan banyak kenangan. Entah apa yang terjadi selanjutnya dalam hidup Tiara. Mampukah dia menjalani kehidupan rumah tangga seperti ini?

Sekali lagi Tiara menarik nafas panjang. Mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak-banyaknya agar sesak yang menghimpit dada perlahan memudar. Sentuhan lembut dari tangan mungil Ara membuat wanita itu tersadar. Dalam sedihnya, ia mengulas senyum untuk sang buah hati tercinta. Dia tak mau putri kecilnya yang masih kecil ikut merasakan kesedihan yang ia rasa.

"Ibu sudah pulang? Rumah ini sangat sepi tanpa Ibu," ucap Marni, ART yang mengurusi seluruh kebersihan rumah ini.

"Bibik, apa Bapak pernah pulang selama saya pergi?" tanya Tiara sembari menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa ruang tamu.

"Pulang sekali, Bu. Mau saya buatkan minum, Bu?" tawar Marni.

Tiara menggeleng. Sekuat apapun ia mencoba melupakan suaminya, tetap saja ia tak mampu menepis rasa sakit yang terus menggerogoti hatinya. Kekecewaan Tiara memang begitu besar. Namun rasa cintanya jauh lebih besar.

"Ibu ... terlihat kurang sehat. Apa perlu Bibik buatin ramuan kesehatan? Bibik punya resep turun temurun dari nenek moyang. Selama ini cukup ampuh untuk menghilangkan pegal-pegal, capek dan kurang bertenaga." Marni tersenyum simpul saat mengatakannya.

Tiara menatap sang ART sekilas lalu mengangguk. Nggak ada salahnya menerima tawarannya. Bisa jadi ramuan itu menjadi wasilah kesehatan untuknya. Tiara memang tidak sedang sakit secara fisik. Namun kecewa dan sakit hati rupanya cukup menguras energi sehingga tubuhnya terasa lemah dan mudah lelah.

Tiara memberikan Ara pada baby sitter yang baru saja datang setelah ia hubungi. Selama di apartemen Dina memang Tiara meliburkan baby sitter-nya untuk sementara. Dan kini setelah dia kembali, tentu dia membutuhkannya lagi. Ada banyak hal yang akan dia urus sehingga tidak memungkinkan untuk mengurus Ara sendirian. Terlebih bayi kecil itu sedang aktif-aktifnya bergerak.

"Ini, Bu ramuannya," ucap Marni sembari meletakkan secangkir minuman herbal buatan tangannya sendiri.

Aroma jahe bercampur sereh, kayu manis, dan secang menguar menciptakan rasa tenang. Sebelum meminum, Tiara menghirup aroma itu dalam-dalam sehingga paru-parunya terasa lebih longgar.

Perlahan ia menyesap minuman hangat itu hingga membasahi kerongkongan yang semula kering. Perpaduan rasa pedas, manis, dan asam dari perasan jeruk lemon membuat lidahnya terasa lebih nikmat.

Suara deru mobil berhenti di halaman. Dari suaranya saja Tiara susah tahu kalau itu mobil suamiya. Lelaki yang sudah membuat harapan dan impiannya hancur.

Derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar di rungu Tiara. Namun sedikitpun wanita satu anak itu tidak menoleh pada sumber suara karena dia tahu siapa yang baru saja datang.

"Sayang, akhirnya kamu pulang," ucap Damar sembari mempercepat langkahnya.

Pria itu segera memeluk tubuh sang istri ketika jarak mereka sudah tak terpisahkan lagi. Tubuh Tiara menegang saat bersentuhan dengan suaminya.

'Dulu dada ini memberiku rasa aman dan nyaman, tapi sekarang rasanya seperti hilang. Dulu detak jantung ini akan selalu menjadi kidung rindu pengantar tidurku. Namun kini kenapa rasanya begitu hambar. Dulu hatiku selalu dipenuhi oleh ledakan kembang api setiap kali kamu memelukku, tapi sekarang berubah menjadi bom waktu yang siap untuk meledakkan jalinan rumah tangga kita,' batin Tiara.

Dalam sekejap mata semuanya telah berubah. Tiara tak lagi tersenyum sembari merengek manja seperti dulu. Damar tersenyum kecut kala pelukannya tak mendapatkan respon sama sekali dari sang istri. Ingin bertanya apakah wanita yang dicintai itu merindukannya atau tidak tapi lidah Damar terasa kelu.

"Maafkan Mas, Dek. Mas benar-benar salah. Tapi tolong jangan hukum Mas dengan cara seperti ini. Mas tidak bisa hidup tanpamu. Karena kamu adalah separuh nafasku."

Jika dulu Tiara mendengarkan setiap kalimat romantis yang keluar dari mulut suaminya ini pasti dia akan berbunga-bunga. Jiwanya seolah melayang hingga langit ketujuh tapi ketika mengetahui ternyata ada wanita lain yang juga mendapatkan ucapan romantis dari lelaki yang mendekatnya ini rasanya Tiara ingin sekali memukuli dada bidang itu.

"Dek, bicaralah jangan seperti ini. Lebih baik kamu memaki-makiku daripada mendiamkanku seperti ini, Dek." Damar mengelus punggung sang istri lembut.

Tiara memberontak berusaha untuk melepaskan pelukan itu. Namun semakin ia mencoba untuk melepaskan diri, semakin kuat Damar mendekapnya. Lelaki itu seolah tak mau melepas samb istri sedetik pun karena khawatir akan pergi lagi dari kehidupannya.

Diperlakukan seperti itu Tiara merasa semakin sakit. Ia masih bisa merasakan kasih sayang suamiya begitu besar padanya. Namun sekali lagi kelebat bayangan wanita lain yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit membuat dirinya semakin sakit.

"Lepas, Mas!" Akhirnya lolos juga dua kata dari bibir Tiara.

"Tidak, Sayang. Mas merindukanmu. Tolong jangan pergi lagi."

Mendengar ucapan itu membuat Tiara serasa ingin muntah. Suaminya ini pandai sekali merayunya. Andai dia belum tahu kalau suaminya mendua, mungkin dirinya akan bersemu merah mendapatkan perlakuan seperti ini. Namun sekarang, semua tak lagi sama. Tubuhnya bereaksi sebaliknya sekarang.

Sekali lagi Tiara memberontak hingga mau tak mau pria yang sudah menjadi imamnya selama dua tahun belakangan ini melepasnya perlahan.

Damar mencoba untuk menatap mata sang istri. Sedangkan Tiara membuang muka karena tak ingin melihat wajah suaminya.

Tak ingin berlama-lama dengan suaminya, Tiara memilih bangkit meninggalkan lelaki itu. Namun sepertinya Damar juga tak ingin menyerah begitu saja. Lelaki bertubuh tegap itu mengikuti Tiara dari belakang hingga ketika sampai di depan kamar mereka, Tiara menutup pintu dari dalam lalu menguncinya.

Damar hanya bisa mendesah pasrah dengan sikap Tiara. Dirinya juga tak bisa menyalahkan sang istri atas sikap tak sopannya itu. Karena bagaimanapun dialah yang salah. Sejak awal dia tak berani jujur kalau Tiara bukanlah satu-satunya istri yang dimiliki.

Tiara bersandar di pintu sembari menutup mulutnya agar isakan tangisnya tidak terdengar dari luar. Meski Damar tidak berkata apa-apa tapi Tiara bisa merasakan kalau lelaki itu masih berdiri di depan pintu.

"Sayang, aku benar-benar minta maaf karena tidak berani jujur padamu. Kuakui aku lelaki pengecut yang tidak berani menghadapi kemarahanmu. Tapi percayalah, apa yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga kita jni adalah takdir." Damar berusaha menjelaskan dengan suara lirih karena takut ada orang lain yang mendengarkan.

"Aku tahu kamu pasti kecewa dan sakit hati. Tapi percayalah, Dek aku selalu berusaha untuk bersikap adil pada kalian berdua."

Bahu Tiara semakin terguncang. Tangisnya semakin pecah. Sekuat tenaga ia mencoba untuk tidak meloloskan isakannya agar tidak terdengar dari luar.

"Dek, tolong, buka pintunya. Mas akan jelaskan semuanya dari awal!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ternyata Suamiku Sudah Beristri    Bab 40

    Lima tahun berlalu secepat uap yang menghilang dari permukaan cangkir espresso. Di sudut jalan Braga yang tetap mempertahankan fasad kolonialnya, kedai kopi "Melati & Bara" kini menjadi bagian dari nyawa kota. Tidak ada papan nama neon yang mencolok, hanya sebuah plakat kayu kecil dengan ukiran bunga melati yang mulai ditumbuhi lumut tipis di pinggirannya.Damar berdiri di belakang meja kayu jati yang sudah halus karena gesekan ribuan tangan pelanggan. Ia sedang menata beberapa buku laporan keuangan, namun bukan laporan yang berisi angka-angka miliaran rupiah yang penuh manipulasi. Ini adalah catatan sederhana tentang biaya biji kopi, gaji empat karyawannya, dan donasi rutin untuk rehabilitasi lahan bekas tambang."Mas, lihat ini," Kiara masuk dari pintu samping yang menghubungkan kedai dengan rumah tinggal mereka. Ia membawa sebuah majalah ekonomi edisi terbaru.Di halaman tengah, terdapat artikel kecil tentang pembongkaran total lahan Sektor 9. Pemerintah akhirnya meng

  • Ternyata Suamiku Sudah Beristri    Bab 39

    Kunci melati perak itu tergeletak di atas meja dapur yang terbuat dari kayu pinus, berkilat pelan di bawah temaram lampu gantung. Bagi orang lain, itu hanyalah benda antik yang tak berharga, namun bagi Damar, kunci itu adalah jangkar terakhir yang menghubungkannya dengan badai di masa lalu.Pagi di Bandung selalu diawali dengan kabut tipis yang merayap di sela-sela pohon pinus, dan hari ini tidak ada bedanya. Damar menyesap kopi pahitnya, menatap kunci itu dengan dahi berkerut."Kau masih memikirkannya?" Kiara muncul dari kamar, mengenakan sweter rajut longgar. Ia mengambil posisi di seberang Damar, tangannya melingkar hangat pada cangkir tehnya."Kunci ini bukan untuk pintu yang ada di rumah ini, Kiara," gumam Damar. Ia memutar-mutar benda perak itu. "Ini kunci loker. Loker penyimpanan di Stasiun Hall. Aku mengenali lambang kecil di pangkalnya."Kiara terdiam sejenak. "Elena ingin kita menemukan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa dia bawa bersamanya saat dia 'menghila

  • Ternyata Suamiku Sudah Beristri    Bab 38

    Lantai kayu di kedai kopi kecil itu berderit setiap kali Damar melangkah, sebuah suara yang jauh lebih merdu di telinganya ketimbang denting lift marmer di gedung Global Group. Aroma kopi Gayo yang baru dipanggang memenuhi ruangan, mengusir sisa-sisa bau logam dan asam yang seolah telah mengerak di ingatannya selama berbulan-bulan.Di luar, hujan rintik-rintik membasahi jalanan aspal Bandung yang tenang. Tidak ada raungan sirine, tidak ada jip tua yang dipacu gila-gilaan. Hanya ada suara gesekan penghapus kaca dari mobil-mobil yang melintas santai."Mas, pesanan meja nomor empat sudah siap?" Suara Kiara memecah lamunannya.Damar menoleh. Istrinya berdiri di balik meja bar, mengenakan celemek kain berwarna cokelat tua. Rambutnya diikat asal, dan ada sedikit noda susu di pipinya. Ia tampak jauh lebih muda, seolah beban sepuluh tahun telah diangkat dari pundaknya dalam semalam."Tinggal menuangkan susunya," jawab Damar sambil meraih milk jug. Tangannya yang dulu gemetar

  • Ternyata Suamiku Sudah Beristri    Bab 37

    Fajar yang baru saja merekah tidak membawa kehangatan; cahaya pucatnya justru menelanjangi sisa-sisa debu kimia yang masih menggantung di udara. Damar berdiri di antara reruntuhan Sektor 9 dan moncong senjata hukum yang baru saja menunjukkan wajah aslinya. Komisaris Yudha, pria yang fotonya sering muncul di kolom pahlawan kepolisian, kini berdiri menyandar pada kap mobil patrolinya dengan santai. “Kontrak cadangan?” Damar mengulang kata itu, suaranya parau, tenggorokannya terasa seperti baru saja menelan serbuk gaca. Ia tidak melepaskan rangkulannya dari bahu Kiara yang masih bergetar. Yudha mengetukkan jari-jarinya di atas map hitam. “Ayahmu, Hardian, adalah visioner. Dia tahu bisnis limbah bukan hanya soal membuang racun, tapi soal membangun loyalitas. Aku adalah asuransi yang dia bayar selama dua puluh tahun agar kalian bisa tidur nyenyak di Global Group.” Damar tertawa pendek, suara yang lebih mirip sedak napas. “Tidur nyenyak? Ibuku dibunuh oleh si

  • Ternyata Suamiku Sudah Beristri    Bab 36

    Deru mesin jip tua itu membelah kesunyian jalanan pinggiran kota yang rusak parah. Lampu depan mobil sesekali menangkap bayangan papan penunjuk jalan yang berkarat: Kawasan Industri Terpadu Sektor 9 – Dilarang Masuk. Udara di dalam kabin terasa semakin berat, bukan hanya karena polusi, tapi karena ketegangan yang nyaris meledak di antara Damar dan Kiara. "Mas, remnya... kau terlalu cepat," Kiara mencengkeram pegangan di atas pintu, matanya terpaku pada jarum speedometer yang terus menanjak. "Kita tidak punya banyak waktu, Kiara," sahut Damar tanpa menoleh. Rahangnya mengeras. "Jika pesan itu benar, maka selama ini aku berduka untuk alasan yang salah. Ibuku... dia tidak meninggal karena sakit jantung biasa." "Tapi dokter itu—Dokter Aris—dia sudah menjadi orang kepercayaan keluarga kalian selama puluhan tahun. Kenapa dia harus berkhianat sekarang? Apa untungnya bagi dia?" Damar membanting setir menghindari lubang besar. "Hardian tidak punya tema

  • Ternyata Suamiku Sudah Beristri    Bab 35

    Lantai 40 Global Group biasanya bergetar oleh langkah kaki tegap Tuan Hardian yang membuat para staf menahan napas. Kini, keheningan yang berbeda merayap di sana—bukan keheningan karena takut, melainkan keheningan dari sebuah mesin besar yang sedang dibongkar paksa.Damar berdiri di depan jendela kaca besar, menyesap kopi pahitnya. Tidak ada lagi jas mahal yang kaku; ia hanya mengenakan kemeja biru navy dengan lengan digulung hingga siku. Di belakangnya, Kiara sedang sibuk dengan tumpukan berkas dari map hitam yang kini telah berpindah ke dalam tablet digital."Mas, audit Sektor 7 sudah keluar," suara Kiara memecah kesunyian. Ia berjalan mendekat, menyodorkan layar tablet. "Total kerugian lingkungan mencapai angka yang... gila. Tapi setidaknya, semua aliran dana itu sudah terlacak kembali ke rekening cangkang milik ayahmu."Damar menghela napas, uap kopi menerpa wajahnya. "Dan Reno? Dia masih bersikeras bahwa tanda tangannya dipalsukan?""Dia tidak hanya bersikeras,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status